ke esokan harinya...
Meski tak seramai sebelumnya, jalanan tokyo masih saja samrai dengan pejalan kaki,
Udara musim dingin terasa cukup menusuk, namun matahari pagi membuat suasana sedikit lebih hangat
Hari itu menjadi hari terakhir mereka di jepang
Beberapa murid membeli oleh oleh terakhir, dan beberapa masih berkeliling dan berfoto foto
Rey berjalan sambil memasukan lengannya di saku "kenapa liburan ini terasa begitu cepat?"
"Memang begitulah, yang menyenangkan selalu berakhir begitu cepat" ujar Zeks sambil memakan cemilan
Sarah merebut cemilan Zeks "mau sampai kapan kau makan, dari kemarin kau memakan semua yang kau temukan, kau bisa sakit perut nanti"
"Aku janji ini yang terakhir, jadi tolong kebalikan" ucap Zeks melas
Pffft!
Zeks langsung menoleh ke Rey "Sialan kau tertawa ya"
"Tidak... Mungkin kau yang salah dengar"
Amel tersenyum melihat tingkah mereka, sambil membawa bonekanya
"Padahal masih awal tahun, mereka sudah ribut saja" kata Raida
"Itulah mereka, mereka selalu begitu kapanpun dan dimanapun" balas sarah
Raida tersenyum, namun tiba tiba raut wajahnya berubah menjadi datar dan penuh waspada
Raida menghentikan langkahnya
Mereka ikut berhenti
"Ada apa mengapa kau berhenti?" ujar Amel
"Amel... Maaf nanti kalian pulang indonesia tampa diriku" ujar
"Hah... Kenapa?" ujar Rey
"...Ada sesuatu yang harus ku urus" balasnya
Raida langsung melesat ke udara
"Dia langsung pergi..." ujar Sarah
"Semoga saja bukan masalah besar, tapi entah kenapa firasatku tidak enak" kata Amel
suatu pegunungan di rusia
Trion berdiri di tepi tebing
"Apa yang kalian rencanakan kali ini" kata Raida yang berdiri di belakangnya
Trion langsung menyerang Raida dengan pedangnya
Raida berhasil menghindar, namun Trion langsung menyerang lagi, kali ini Raida tidak menghindari serangan namun menangkis dengan pedangnya
"Karena kau telah membunuh teman teman ku, aku akan membuatmu menerima bayarannya" ujar Trion
Mereka melompat mundur beberapa langkah
"Jadi kau datang kemari untuk balas dendam" ujar Raida
"Menurutmu apa lagi, setelah mengurusmu aku akan membuat teman teman mu merasakan hal yang sama dengan mereka" ujar Trion
Mendengar itu Raida menjadi sedikit kesal
Angin dingin pegunungan Rusia berhembus keras
Salju tipis beterbangan di antara mereka
Tatapan Trion dipenuhi amarah
"...Jangan membawa mereka ke dalam urusan ini" ujar Raida
Trion menggenggam pedangnya lebih erat "Kenapa? Bukankah kau melakukan hal yang sama pada mereka?!"
BRRSHH!!
Trion langsung melesat, Pedangnya mengarah lurus ke leher Raida
CLANG!!
Raida menahan tebasan itu dengan satu tangan pada gagang pedangnya
Gelombang angin langsung menghantam area sekitar
"KAU MEMBUNUH MEREKA!" teriak Trion
Raida menatapnya dingin
"...Mereka menyerang lebih dulu"
CLANG! CLANG! CLANG!!
Serangan Trion semakin brutal
Setiap ayunan terasa lebih seperti luapan amarah daripada teknik
Raida terus menangkis tanpa banyak bergerak
DUARRR!!
Raida menangkis lebih keras, tubuh Trion terpental puluhan meter menghantam salju
BOOM!!
Batu tebing pecah sebagian
Trion langsung berdiri lagi sambil terengah
"...Kau bahkan belum serius"
Raida berdiri diam, tatapannya tajam "kau benar benar membuatku kesal, padahal aku pernah memberimu kesempatan kali ini aku akan membunuh mu"
Angin pegunungan semakin menggila
Salju berputar di udara seperti badai kecil di antara mereka
Tatapan Trion sempat berubah sesaat, namun hanya sesaat Lalu amarah kembali memenuhi wajahnya
"Hah..." Trion mengangkat pedangnya lagi sambil mengatur napas "Akhirnya keluar juga sisi monstermu itu"
Raida melangkah perlahan, Satu langkah lalu satu lagi
Tekanan aneh mulai menyebar di udara permukaan salju di sekitar retak tanpa disentuh
"Aku sudah memberimu kesempatan" ujar Raida
"Dan kau datang lagi dan mengancam mereka" ujar Raida
Trion menggertakkan gigi
DUARR!!
Trion langsung melesat lagi, pedangnya dipenuhi energi
Ia menebas berkali kali dengan brutal
CLANG!!
CLANG!!
CLANG!!
Percikan cahaya memenuhi udara, Raida masih menangkis
Trion melompat tinggi
"MATI KAU!!"
BOOOOM!!
Tebasan besar menghantam tanah, separuh tebing langsung hancur salju beterbangan ke segala arah
Namun
Kosong
"...Apa?" mata Trion membesar
Raida sudah berdiri tepat di belakangnya
"Kau terlalu lambat"
BRAKK!!
Raida menghantam perut Trion dengan siku
"GHAAKK!!"
Tubuh Trion langsung terpental menembus bebatuan gunung
DUARR!!
DUARR!!
DUARR!!
Beberapa tebing runtuh beruntun
Trion terbatuk darah saat akhirnya berhenti di antara reruntuhan salju
Tangannya gemetar
"...Monster..." gumamnya pelan
Langkah kaki terdengar
Krak
Krak
Krak
Raida berjalan mendekat perlahan
Aura dinginnya terasa jauh lebih mengerikan dibanding suhu pegunungan
"Kau datang sendiri kemari dan mengancam teman temanku" ujar Raida
Raida berhenti beberapa meter di depannya
"...Dan sekarang kau berharap aku membiarkanmu hidup?"
Trion mencoba berdiri sambil menopang tubuhnya dengan pedang
Meski begitu, Trion tetap tertawa kecil
"Heh..."
Ia mengusap darah di sudut bibirnya "Kalau memang mau membunuhku..."
Tatapannya tajam "...lakukan saja"
Raida mengangkat pedangnya perlahan, energi hitam tipis mulai menyelimuti bilahnya angin sekitar berhenti dunia terasa mendadak hening
Namun tepat saat Raida hendak bergerak sebuah suara terdengar
PROK!
PROK!
PROK
Suara tepuk tangan pelan menggema di atas tebing
"Wah..."
Suara itu terdengar santai "Aku baru datang dan kalian sudah hampir saling bunuh?"
Raida langsung berhenti tatapannya berubah tajam
Seseorang berdiri di atas batu tinggi sambil tersenyum kecil
Rambut bergerak diterpa angin dingin
Varrel
Sebuah pedang langsung menembus tubuh Trion
Khuk!!
Trion batuk darah "dasar penghianat, hei Raida walaupun kita musuh tolong bunuh lah dia, dia adalah dalang dari perang waktu itu, dan dialah yang membunuh Lily" ujar Trion
Raida kaget "...Apa"
Tubuh Trion menghilang menjadi butiran cahaya
Raida langsung melesat dan menyerang Varrel
Boom!!
Varrel menghindar
"Katakan padaku apa benar yang di katanya, dan siapa kau sebenarnya" Kata Raida dengan penuh amarah urat urat di wajahnya terlihat jelas
Varrel tertawa "hahaha, memang benar aku lah yang membunuhnya, tapi jahat sekali kau Raida karena telah melupakanmu"
Raida menyerang lagi karena marah
Boom!!
"Perhatikan lah sekali lagi, bagaimana bisa kau melupakan wajah ini, wajah sahabat masa kecilmu yang telah kau bunuh" ujar Varrel
Setelah Raida memperhatikan cukup lama ia pun terkejut, dan bingung
"Ti... Tidak mungkin, bagaimana bisa Varrel sudah tiada, bagaimana kau memiliki wajahnya" ujar Raida
Varrel tiba tiba saja sudah berada di belakang Raida "kau seharusnya tau kan, alam semesta itu luas dan penuh misteri"
"apa bagaimana bi..." sebelum menyelesaikan kata katanya Raida terpental sangat jauh karena serangan Varrel
Boom!!
Raida menghantam tebing, lalu tiba tiba Varrel muncul kembali dan menendang perut Raida
Khuk!!
Ia batuk darah terjatuh ke tanah
"Sial jawab pertanyaan ku, siapa kau sebenarnya" kata Raida yang tersungkur
Varrel membungkuk "Sudah ku bilang bukan, aku adalah sahabat masa kecil mu Varrel, dan aku kembali untuk memperingatkan mu, akan ada armada penuh mengarah ke bumi"
Setelah mengatakan itu Varrel menghilang
"Sial" ujar Raida lalu pingsan
Di jepang Amel yang sedang mempersiapkan diri untuk kembali merasa tak enak hati
"Hei ada apa...?" tanya Sarah
"Aku hanya kawatir kenapa dia tiba tiba saja pergi tadi"
Sarah memegang pundak Amel "tenang saja jamnya tidak bereaksi, berarti semuanya masih aman"
Amel mengangguk dan melanjutkan mempersiapkan diri
Sore hari tiba di rusia Raida yang masih tersungkur di rusia mulai bangkit, lalu langsung melesat pergi dengan tubuh lemas, saat sudah sampai di indonesia ia langsung menghantam tanah dengan keras di depan markas
Boom!!
Fey langsung keluar "apa yang terjadi suara itu"
Fey kaget melihat kondisi Raida sekarang lalu menghampirinya "hei... Apa yang terjadi"
"Minggir" ujar Raida berjalan memasuki markas
"Hei... jangan keras kepala katakan apa yang sebenarnya terjadi" ujar Fey yang kawatir
"Pergi... Untuk sekarang jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri" ujar Raida
Ia pun memasuki markas, lalu masuk ke sepuah ruangan yang tampak seperti ruang kendali
Raida duduk di depan pengendali dan mencoba menghubungi seseorang dengan salah satu alat di sana
"Akhirnya kau menghubungiku, kau tau aku sangat menghawatirkanmu" ujar seseorang yang tampak seperti Zef
"...Zef?" ujar Raida suaranya tampah lemas dan lelah, dan seperti ada yang bertahan
"Ada apa dengan mu, kenapa suaramu seperti itu, apa kau teringat dengan Lily?" kata Zef
"Nebros mengirim anak buahnya dan mengancam perang, armada sedang menuju kemari" Ujar Raida
"Apa... Aku akan segera mengirim beberapa armada kesana"
"Tidak tunggu, tolong kirimkan saja Armadaku, kirimkan sada Divisi 1 kemari" ujar Raida
"Apa... Jangan anggap remeh semua ini" balas Zef
"Tenang saja, kali ini aku akan membukanya"
"Baiklah aku akan mengirim divisi 1 kesana" ujar Zef
"Terima kasih" ujar Raida lalu mematikan alat komunikasinya lalu tertunduk di sana
