"RAIDA" teriak Amel
Raida melesat pergi meninggalkan deck markas, tubuhnya berubah menjadi titik merah kecil yang perlahan menghilang di antara jutaan kapal perang yang memenuhi orbit Bumi.
Amel berdiri terpaku cukup lama, matanya masih menatap langit dengan campuran marah, bingung, dan takut yang belum pernah terlihat sebelumnya
"Dia menyuruh kita pergi begitu saja..." gumamnya pelan, suaranya terdengar jauh lebih kecil
Namun sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, beberapa kapal evakuasi mulai turun lebih dekat ke permukaan kota dengan gerakan lambat namun sangat stabil
Suara mesin raksasa menggema di udara, membuat jendela-jendela bangunan bergetar halus saat kapal-kapal itu berhenti melayang tepat di atas jalanan, stadion, lapangan terbuka, dan wilayah perkotaan besar
Pintu kapal terbuka perlahan, memperlihatkan lorong besar bercahaya putih kebiruan dengan ratusan prajurit berarmor berjaga rapi sambil membantu manusia masuk tanpa menunjukkan tanda permusuhan sedikit pun
Di berbagai penjuru dunia, proses evakuasi mulai berlangsung dalam skala yang belum pernah dibayangkan umat manusia sebelumnya
Kapal-kapal raksasa melayang di atas kota besar, desa terpencil, hingga wilayah pegunungan dan pulau-pulau kecil, memastikan tak ada satu pun manusia tertinggal
Jalanan yang awalnya dipenuhi kepanikan perlahan berubah menjadi antrean panjang manusia yang diarahkan menuju titik evakuasi
Di dekat setiap titik evakuasi, para prajurit berarmor mulai bergerak lebih aktif membantu manusia yang masih kebingungan
Beberapa dari mereka membawa kotak logam berukuran sedang dengan cahaya biru tipis di sisinya. Satu per satu, benda kecil seperti earpiece transparan mulai dibagikan kepada para penduduk
"Silakan gunakan alat ini. Komunikasi akan lebih mudah dilakukan," ujar seorang prajurit berarmor hitam
Anehnya, begitu alat kecil itu ditempelkan di dekat telinga, suara asing yang sebelumnya terdengar aneh langsung berubah menjadi bahasa masing-masing penduduk
Seorang pria tua di tengah kerumunan membelalakkan mata
"...Aku bisa mengerti mereka?"
Prajurit itu mengangguk pelan
"Perangkat penerjemah universal. Dengan ini, bahasa bukan lagi penghalang"
Di kota-kota besar seperti Tokyo, New York, Jakarta, London, hingga daerah terpencil sekalipun, alat penerjemah mulai dibagikan secara massal agar manusia dan pasukan luar angkasa dapat saling memahami tanpa kesulitan
Anak-anak yang semula menangis perlahan mulai tenang ketika beberapa prajurit membantu membawakan barang mereka, bahkan ada yang membungkuk sopan untuk menenangkan keluarga yang panik
"Kami tidak akan menyakiti kalian" kata seorang prajurit perempuan kepada seorang ibu muda yang memeluk anaknya erat
Suaranya terdengar lembut setelah diterjemahkan otomatis oleh perangkat kecil di telinga mereka
"Kami di sini untuk memastikan seluruh manusia selamat"
Di beberapa lokasi, layar hologram raksasa mulai muncul di udara, menampilkan petunjuk evakuasi dalam ratusan bahasa berbeda sekaligus
ZONA EVAKUASI AKTIF
HARAP TETAP TENANG DAN IKUTI PETUNJUK PASUKAN
SETIAP WARGA AKAN DIPASTIKAN MENDAPAT TEMPAT AMAN
Meski suasana masih dipenuhi ketakutan, perlahan proses evakuasi mulai bergerak jauh lebih teratur dibanding beberapa jam sebelumnya
Di berbagai negara, pasukan luar angkasa mulai membangun pusat transit sementara di dalam kapal-kapal raksasa mereka. Lorong logam luas yang awalnya terasa asing kini dipenuhi manusia dari berbagai negara, budaya, dan bahasa yang berjalan berdampingan
Setiap orang mendapat gelang tipis bercahaya biru di pergelangan tangan mereka
Gelang itu secara otomatis mencatat identitas, anggota keluarga, kondisi kesehatan, hingga lokasi evakuasi agar tidak ada seorang pun yang terpisah atau hilang
"Kalau keluarga kalian terpisah, jangan panik sistem kami akan menemukan mereka dalam waktu singkat" ujar seorang prajurit melalui pengeras suara yang otomatis diterjemahkan oleh alat di telinga semua orang
Di tengah proses evakuasi besar-besaran itu, Amel, Rey, Sarah, Zeks, dan Fey akhirnya ikut dipindahkan ke salah satu kapal induk evakuasi utama
Meski suasana jauh lebih tenang dibanding di Bumi, wajah Amel masih terlihat gelisah
Tatapannya terus tertuju ke jendela raksasa di kejauhan
Di kejauhan, Bumi terlihat perlahan mengecil, dikelilingi jutaan cahaya dari armada perang yang membentuk lapisan pertahanan raksasa
Meski suasana di dalam kapal jauh lebih aman, hati mereka semua justru terasa semakin berat
"Dia benar-benar pergi begitu saja..." gumam Amel pelan
Rey menyandarkan tubuh ke dinding logam sambil menghela napas panjang "Dan dia bahkan nggak menjelaskan apa pun"
"Seolah dia mau menghadapi sesuatu sendirian" ujar sarah
Zeks mendecakkan lidah pelan "Yang bikin aku takut... kalau sampai tiga juta kapal perang aja masih dianggap belum cukup sama dia"
Belum sempat pembicaraan berlanjut—l
"Sarah?!"
Sebuah suara terdengar dari arah lorong, sarah langsung menoleh cepat, matanya langsung membesar
"Ibu?!"
Seorang wanita paruh baya berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk Sarah erat
"Kamu nggak apa-apa?!" suaranya gemetar
Sarah mengangguk cepat "Aku tak apa..."
Di sisi lain
"REY!"
Seorang pria dewasa melambaikan tangan cepat dari kerumunan pengungsi
"Ayah!"
Rey langsung berjalan cepat menghampiri kedua orang tuanya
Ibunya langsung menarik wajah Rey dan memastikan tak ada luka serius "Kami kira sesuatu terjadi padamu!"
Rey tersenyum kecil meski terlihat lelah "Masih hidup kok"
Tak jauh dari sana
Zeks juga bertemu kedua orang tuanya yang terlihat jauh lebih tenang setelah melihat anak mereka benar-benar selamat
Sementara Amel
"...Amel?"
Ia membeku, suara itu sangat familiar perlahan ia menoleh
"Bu..."
Ibunya berdiri di sana dengan mata berkaca kaca
Tanpa berkata apa-apa, Amel langsung memeluknya erat
"Kamu bikin ibu khawatir..." bisiknya lirih
Ayah Amel yang berdiri di samping hanya menghela napas panjang lega
"Syukurlah..."
Di tengah suasana pertemuan itu
Fey tiba-tiba menoleh ke arah area duduk dekat jendela besar kapal
"...Itu..."
Semua ikut melihat, seorang wanita duduk sendirian di sana tatapannya tertuju lurus ke arah Bumi, wajahnya terlihat tenang namun jelas ada kecemasan besar yang ia sembunyikan
Amel langsung mengenalinya
"...bibi"
Mereka perlahan berjalan mendekat, wanita itu menoleh pelan begitu menyadari keberadaan mereka
"Oh... Kalian selamat" katanya pelan
Amel tersenyum kecil "Iya, Tante"
Namun beberapa detik kemudian, tatapan wanita itu bergerak ke belakang mereka seolah mencari seseorang
"...Raida mana?" tanyanya pelan
Suasana langsung terasa sedikit kaku
Amel refleks saling pandang dengan Rey, Sarah, dan Zeks
Mereka masih belum mengungkapkan kekuatan mereka dan siapa Raida sebernarnya
Apalagi dengan situasi sebesar ini,
Amel memaksakan senyum kecil "Eh... kami juga belum tahu, bibi Mungkin dia dievakuasi ke kapal lain..."
Rey langsung mengangguk cepat 'ya, situasinya tadi kacau banget. Kami juga sempat terpisah"
Ibu Raida itu terlihat sedikit lega "Begitu ya..."
Tatapannya kembali mengarah ke luar jendela.
"Semoga dia baik-baik saja..."
Ia tersenyum kecil "Anak itu kadang terlalu keras kepala"
Kapal kapal evakuasi mulai meninggalkan bumi, beberapa orang melihat melalui jendela kapal untuk melihat keadaan diluar
Di luar bumi semakin mengecil dan di penuhi banyak kapal luar angkasa
