Debu di sekitar tebing tiba tiba meledak keluar, retakan batu perlahan terbuka di tengah reruntuhan, sebuah cahaya merah samar mulai terlihat
SHIIIIIINNNGGG!!!
Raida melangkah keluar dari kepulan debu, armor merahnya dipenuhi retakan kecil, sedikit darah mengalir dari sudut bibirnya, namun tatapannya masih dingin
Uriel di tangan kanan masih bersinar terang
Samael di tangan kiri terus mengeluarkan kabut hitam tipis
Varrel tersenyum kecil "...Nah begitu"
WHUSSH!!
Dalam sekejap ia menghilang
DUUUUMMMM!!!
Tinju hitam pekat langsung menghantam wajah Raida
CLAAANG!!
Uriel bergerak sendiri menahan serangan itu
Mata Varrel sedikit membesar "...Oh?"
Raida tidak bergerak sedikit pun, tatapannya tetap lurus "Kau selesai bermain?"
WHOOOMM!!
Raida melesat maju
DUUM!!
Tinju kirinya menghantam perut Varrel, tubuh Varrel tertekuk namun belum sempat bereaksi
SRAAAASHHH!!
Samael menebas dari samping
Varrel mundur cepat tetapi sebagian dadanya tetap tersayat darah hitam menyembur ke udara
senyum Varrel sedikit memudar "Hah..."
Raida mengangkat kedua pedangnya perlahan angin pegunungan mulai berubah tekanan di udara terasa semakin berat
Tatapan merahnya menyipit "Kau lemah"
Kalimat itu membuat ekspresi Varrel berubah, wajahnya sedikit menegang "...Apa?"
WHOOOOOOMMMM!!!
Ribuan tangan bayangan kembali muncul kali ini jauh lebih besar, lebih liar, mereka bergerak dari segala arah seperti badai hitam hidup
"Aku lemah?!" bentaknya
"Jangan bercanda!"
DUUUM!! DUUUM!! DUUUM!!
Langit dipenuhi serangan bertubi tubi, tangan bayangan menghantam gunung pepohonan runtuh, batu beterbangan
namun Raida tetap berdiri di udara, tatapannya tak berubah sedikit pun
WHUSSH!!
Ia menghilang
CLAAAAANGGG!!
Kilatan emas dan hitam langsung membelah langit
Uriel dan Samael bergerak sangat cepat.
SRAAAASHHH!!
Puluhan tangan hitam terpotong
DUUM!!
Raida muncul tepat di depan Varrel, Varrel refleks mengangkat tangan
CLAAANG!!
Tebasan Uriel tertahan, namun
CRAAAK!!
Samael menghantam bahunya, Varrel terdorong mundur
WHUSSH!!
Raida kembali muncul di samping
DUUM!!
Tinju ke wajah
WHUSSH!!
Muncul lagi di belakang
DUUM!!
Tendangan ke punggung.l
WHUSSH!!
Di atas.
DUUM!!
Siku menghantam kepala
Varrel mulai kehilangan ritme tubuhnya beberapa kali terpental menghantam tebing debu terus berjatuhan
"...Kenapa..." gumamnya pelan sambil berdarah
Raida berdiri beberapa meter di depannya
"Karena kau bertarung terus saja bercanda dan main main kau menjadi lengah"
WHUSSH!!
Varrel meraung marah energi hitam langsung meledak keluar ia melesat seperti peluru "KALAU BEGITU MATI SAJA!!"
BOOOOOOOMMMM!!!
Pukulan dan pedang bertabrakan percikan merah dan hitam menyebar
CLANG!! CLANG!! CLANG!!
Serangan bertubi tubi mengguncang udara, perlahan Varrel mulai kalah cepat nafasnya mulai terasa berat gerakannya mulai terbaca
Mata Amel membesar "...Apa Raida menang"
Fey mengangguk pelan 'Varrel mulai kehabisan tenaga"
Varrel kembali menyerang membabi buta
WHUSSH!!
Raida menghilang ,Varrel membeku
SHIIINGGG!!
Raida muncul tepat di belakangnya Uriel dan Samael menyilang
SRAAAAAASSSHHHH!!!
Waktu seperti berhenti tubuh Varrel membeku matanya membesar garis tebasan perlahan muncul di dadanya
CRAAAK...
Energi hitam di tubuhnya mulai retak "Raida berdiri diam membelakanginya"
"...Sudah selesai"
DUUUUMM...
Tubuh Varrel jatuh berlutut darah menetes perlahan, aura hitamnya mulai hancur seperti debu
Amel, Rey, Sarah, Zeks, Fey, dan para prajurit hanya bisa terdiam
Sunyi hanya ada suara angin malam
Varrel tertawa kecil dengan lemah
"...Haha..."
Raida perlahan berbalik tatapannya berubah rumit marah, bingung, sedih
"Bagaimana kau masih hidup, padahal aku menyaksikanmu tertabrak truk waktu itu dan aku juga melihat kau di makamkan, bagaimana kau bisa masih hidup?"
Varrel terdiam beberapa saat
Tubuhnya mulai berubah menjadi butiran cahaya kecil
Lalu ia tersenyum kecil
"Alam semesta itu luas dan penuh dengan misteri, berhati hatilah pada sosok yang membangkitkanku karena dia bisa melawan hidup dan mati, aku sendiri bahkan tidak benar benar mengerti bagaimana aku kembali hidup, yang aku tahu setelah kematian itu hanyalah rasa sakit, perjalanan panjang, dan penderitaan yang tidak pernah benar benar berhenti, aku melihat banyak dunia, bertahan hidup berkali kali di ambang kematian, lalu suatu hari aku melihatmu... kau bergabung dengan pasukan pelindung galaksi, awalnya aku benar benar senang melihatmu masih hidup dan menjadi seseorang yang hebat, tapi semakin lama aku melihat semakin muncul pertanyaan di kepalaku... kenapa hidupmu jauh lebih damai dariku, kenapa kau punya teman, keluarga, orang orang yang peduli, bahkan seseorang yang mencintaimu sementara aku hanya berjalan sendirian dan menderita"
Butiran cahaya mulai semakin banyak, wajah Varrel perlahan melemah
"Maaf... sebenarnya aku iri padamu, aku marah pada takdir, marah pada hidup, dan tanpa sadar aku mulai berpikir kalau mungkin... kau juga harus merasakan kehilangan dan rasa sakit seperti yang kurasakan, aku tahu itu salah, tapi kebencian itu tumbuh terlalu lama di dalam diriku... jadi tolong maafkan aku, Raida"
Raida membeku tangannya sedikit gemetar
"...Bodoh, apa kau pikir aku akan memaafkan mu dengan mudah, taman yang sudah ku anggap sebagai keluarga, kekasih yang sangat ku cintai, aku kehilangan mereka semua karena mu" Bentak Raida
Varrel tersenyum kecil "aku tau perbuatanku tak bisa di maafkan, tapi sekali lagi tolong maafkan aku"
Tubuhnya perlahan berubah menjadi jutaan cahaya kecil
"Hidupmu bagus sekarang..."
Tatapannya melirik ke arah Amel.
"Jangan sia siakan"
Perlahan Varrel menghilang bersama angin malam
Raida hanya berdiri diam mengepalkan tangannya "kau pikir aku semudah itu bahagia dengan hidupku sekarang, kau benar benar bodoh seharusnya kau datang menemuiku saja"
Uriel dan Samael perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya
Amel perlahan melangkah mendekat, namun baru satu langkah
BZZZZTTT!!
Suara komunikasi dari armor para prajurit tiba tiba berbunyi, salah satu operator Divisi 1 langsung membesar matanya
"Komandan!!"
Raida tidak menoleh "Ada apa"
Operator melanjutkan "Pasukan musuh di orbit mulai bergerak mundur!"
Ratusan kapal perang hitam yang sebelumnya menyerang kini mulai menjauh perlahan dari atmosfer beberapa kapal bahkan membuka portal warp
Di salah satu kapal musuh suasana terasa tegang, seorang pria bertubuh tinggi berdiri di depan layar hologram merah
Salah satu bawahan menelan ludah
"Sinyal kehidupan tuan Varrel telah menghilang, kita mundur sekarang'
sosok di belakangnya memejamkan mata beberapa detik "...Jadi bahkan dia gagal"
Salah satu bawahannya membesar matanya.
"Tapi kita Kita masih punya armada"
"Hei... apa kau anak baru kita tidak akan menang, dan juga perintah hanyalah ikut perang bersama Pria itu bukan mati bersamanya" ujarnya
Aura merah samar masih terlihat berdiri di tengah reruntuhan gunung
"...Monster itu ternyata lebih mengerikan dari perkiraan"
WHOOOOMMMM!!
Satu per satu kapal musuh mulai menghilang ke dalam portal
Di orbit Bumi, beberapa orang divisi 1 bersorak Karena kemenangan
Sorakan kecil mulai terdengar di berbagai kapal
Fey melihat Raida dari jauh "...Dia nggak merasa menang"
Sarah menghela napas pelan "Ya..."
Amel menggenggam tangannya sendiri tatapannya penuh khawatir
ia melangkah mendekat "Raida..."
Raida tetap diam beberapa detik lalu akhirnya berbicara pelan dengan tersenyum "...Maaf aku sedikit lelah"
Ke esokan paginya seluruh warga bumi telah di kembalikan ke tempat asalnya masing masing
Di sebuah hamparan rumput yang luas markas yang ternyata kapal luar angkasa Melayang cukup rendah
Raida berdiri membelakangi kapal luar angakasa itu, ia memeluk ibunya dan Amel, Sarah, Rey, Zeks, lalu para orang tua mereka melihat dari sisi lain
"...memang harus pergi lagi ya?" ujar ibu raida
Raida tersenyum "maaf... Aku sudah cukup lama meninggalkan tugas ku, banyak hal yang harus ku urus"
Amel mendekat "apa tidak bisa kau tinggal lebih lama?"
Raida terdiam beberapa detik, angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan rumput hijau di sekitar mereka
Kapal luar angkasa melayang rendah di belakangnya, suara dengung mesinnya terdengar samar
"Bukankah aku sudah bilang Kalau aku memiliki banyak tugas yang harus ku urus" balasnya
Amel terdiam beberapa detik, tatapannya sedikit turun namun ia tetap mencoba tersenyum kecil meski jelas terlihat kecewa
"...Aku tahu tapi rasanya baru sebentar" ujarnya plan
Raida menghela napas kecil, lalu mengangkat tangan pelan mengusap kepala Amel seperti dulu
"Sebentar?" ia tersenyum kecil
"Aku sudah di sini lebih dari setahun, dan seperti yang ku bilang banyak tugas menungguku"
"Tunggu?" Ujar Zeks
"Kalau kau membawa kapal luar angkasanya di mana kami bisa berkumpul untuk di jadikan markas"
Raida sedikit menoleh ke arah Zeks, alisnya terangkat kecil seolah baru menangkap maksud pertanyaannya
"...Markas?" ulangnya pelan
Zeks mengangguk cepat "Iya, maksudku tempat kumpul gitu seperti biasanya" ujarnya sambil menunjuk kapal luar angkasa besar di belakang Raida
"masa mulai sekarang kami harus kumpul di rumah gitu"
Rey menyilangkan tangan sambil mengangguk kecil "Kalau dipikir pikir benar juga kan markas sebelumnya kau bawa, ternyata itu kapal luar angkasamu"
Tatapannya berhenti beberapa detik pada Amel lalu Rey, Sarah, Zeks, dan Fey
Ekspresinya perlahan melunak "...Kalian pasti akan menemukannya sendiri" ujarnya tenang
Zeks mengernyit "Hah?"
Raida tersenyum kecil sambil menoleh ke arah pegunungan di kejauhan "Selama tempat itu bisa untuk kalian berlatih... itu sudah cukup kan?
Sarah sedikit memiringkan kepala "Jadi... kita disuruh cari sendiri?"
Raida mengangguk kecil
"Kalian harus belajar berdiri sendiri" balasnya
"aku tidak akan selalu ada di Bumi"
Rey menghela napas panjang "Yah... masuk akal sih"
"Tapi setidaknya kasih petunjuk kek" gerutu Zeks
Raida tertawa kecil "...Gunung, tempat luas, jauh dari manusia, dan cukup aman kalau sewaktu waktu kalian meledakkan sesuatu saat latihan"
Zeks langsung menunjuk "NAH GITU KAN jelas"
Raida menghela nafas sambil menggeleng kepala
Suara komunikasi dari armor Raida kembali menyala
"Komandan"
Suara operator terdengar dari dalam alat komunikasi "Persiapan keberangkatan selesai, seluruh armada menunggu instruksi"
Raida terdiam beberapa detik "...Baik"
Ia mematikan komunikasi
Raida mendekat ke arah Fey "aku titip mereka, dan tolong bantuannya tentang kristal kehidupan dan kekuatan raja pertama"
"Tenang saja serahkan semunya padaku
Lalu menoleh lagi ke arah semua orang
Ekspresinya sedikit berubah lebih lembut
"...Aku benar benar harus pergi sekarang"
Ibu Raida perlahan memegang tangan anaknya
"Hati hati"
Raida tersenyum kecil
"...Iya"
Lalu tanpa aba aba Amel maju satu langkah
Dan memeluk Raida pelan
Semua orang langsung diam Amel menggenggam bagian pakaian Raida pelan
"...Jangan terlalu lama"
Suara Amel kecil nyaris seperti bisikan, beberapa detik Raida hanya diam lalu perlahan ia membalas pelukan itu "...Aku usahakan"
Zeks refleks mengalihkan wajah "Ehem... Apa ku harus pergi dulu"
"Diam" ujar Sarah pelan sambil menyikutnya
Rey hanya tertawa kecil sambil menggeleng
Beberapa detik kemudian Amel perlahan melepaskan pelukannya
Raida mundur satu langkah
WHUSSH...
Armor merah mulai menyelimuti tubuhnya perlahan
Tatapannya kembali berubah tegas namun kali ini jauh lebih hangat "...Kalau ada masalah"
Ia berhenti sejenak "Pecahkan dulu sendiri"
Zeks langsung protes "LAH?!"
Raida tersenyum tipis "...Kalau benar benar tidak bisa"
Tatapannya melirik mereka satu per satu "Panggil aku"
Raida menaiki kapal luar angkasanya, lalu kapal itu mulai baik lebih tinggi
Semua orang melampai lalu kapal luar angkasa melesat pergi
Amel tetap berdiri diam menatap langit cukup lama
Sampai titik merah itu perlahan menghilang di balik cahaya kapal
Sarah menghela napas kecil
"...Sepi lagi"
Zeks memasukkan tangan ke saku "Nah"
Tatapannya berpindah ke pegunungan di kejauhan "Sekarang"
Senyum kecil mulai muncul di wajahnya "...Kita cari markas baru nggak?"
Di luar orbit bumi Raida berjalan perlahan ke ruang kendali kapal lalu duduk di kursi "Niir bangunlah" ujar Raida
Sebuah system perlahan bangkit "sudah lama tuan bagaimana kabar anda?, silahkan beri perintah"
"Aktifkan warp menuju markas" ujar Raida
"Baik" balas Niir
Beberapa saat kemudian kapal luar angkasa Raida melesat di ikuti kapal induk divisi satu dan menghilang di antara lautan bintang
