Ficool

Chapter 41 - Bab 41 maaf

Debu di sekitar tebing tiba tiba meledak keluar, retakan batu perlahan terbuka di tengah reruntuhan, sebuah cahaya merah samar mulai terlihat

SHIIIIIINNNGGG!!!

Raida melangkah keluar dari kepulan debu, armor merahnya dipenuhi retakan kecil, sedikit darah mengalir dari sudut bibirnya, namun tatapannya masih dingin

Uriel di tangan kanan masih bersinar terang

Samael di tangan kiri terus mengeluarkan kabut hitam tipis

Varrel tersenyum kecil "...Nah begitu"

WHUSSH!!

Dalam sekejap ia menghilang

DUUUUMMMM!!!

Tinju hitam pekat langsung menghantam wajah Raida

CLAAANG!!

Uriel bergerak sendiri menahan serangan itu

Mata Varrel sedikit membesar "...Oh?"

Raida tidak bergerak sedikit pun, tatapannya tetap lurus "Kau selesai bermain?"

WHOOOMM!!

Raida melesat maju

DUUM!!

Tinju kirinya menghantam perut Varrel, tubuh Varrel tertekuk namun belum sempat bereaksi

SRAAAASHHH!!

Samael menebas dari samping

Varrel mundur cepat tetapi sebagian dadanya tetap tersayat darah hitam menyembur ke udara

senyum Varrel sedikit memudar "Hah..."

Raida mengangkat kedua pedangnya perlahan angin pegunungan mulai berubah tekanan di udara terasa semakin berat

Tatapan merahnya menyipit "Kau lemah"

Kalimat itu membuat ekspresi Varrel berubah, wajahnya sedikit menegang "...Apa?"

WHOOOOOOMMMM!!!

Ribuan tangan bayangan kembali muncul kali ini jauh lebih besar, lebih liar, mereka bergerak dari segala arah seperti badai hitam hidup

"Aku lemah?!" bentaknya

"Jangan bercanda!"

DUUUM!! DUUUM!! DUUUM!!

Langit dipenuhi serangan bertubi tubi, tangan bayangan menghantam gunung pepohonan runtuh, batu beterbangan

namun Raida tetap berdiri di udara, tatapannya tak berubah sedikit pun

WHUSSH!!

Ia menghilang

CLAAAAANGGG!!

Kilatan emas dan hitam langsung membelah langit

Uriel dan Samael bergerak sangat cepat.

SRAAAASHHH!!

Puluhan tangan hitam terpotong

DUUM!!

Raida muncul tepat di depan Varrel, Varrel refleks mengangkat tangan

CLAAANG!!

Tebasan Uriel tertahan, namun

CRAAAK!!

Samael menghantam bahunya, Varrel terdorong mundur

WHUSSH!!

Raida kembali muncul di samping

DUUM!!

Tinju ke wajah

WHUSSH!!

Muncul lagi di belakang

DUUM!!

Tendangan ke punggung.l

WHUSSH!!

Di atas.

DUUM!!

Siku menghantam kepala

Varrel mulai kehilangan ritme tubuhnya beberapa kali terpental menghantam tebing debu terus berjatuhan

"...Kenapa..." gumamnya pelan sambil berdarah

Raida berdiri beberapa meter di depannya

"Karena kau bertarung terus saja bercanda dan main main kau menjadi lengah"

WHUSSH!!

Varrel meraung marah energi hitam langsung meledak keluar ia melesat seperti peluru "KALAU BEGITU MATI SAJA!!"

BOOOOOOOMMMM!!!

Pukulan dan pedang bertabrakan percikan merah dan hitam menyebar

CLANG!! CLANG!! CLANG!!

Serangan bertubi tubi mengguncang udara, perlahan Varrel mulai kalah cepat nafasnya mulai terasa berat gerakannya mulai terbaca

Mata Amel membesar "...Apa Raida menang"

Fey mengangguk pelan 'Varrel mulai kehabisan tenaga"

Varrel kembali menyerang membabi buta

WHUSSH!!

Raida menghilang ,Varrel membeku

SHIIINGGG!!

Raida muncul tepat di belakangnya Uriel dan Samael menyilang

SRAAAAAASSSHHHH!!!

Waktu seperti berhenti tubuh Varrel membeku matanya membesar garis tebasan perlahan muncul di dadanya

CRAAAK...

Energi hitam di tubuhnya mulai retak "Raida berdiri diam membelakanginya"

"...Sudah selesai"

DUUUUMM...

Tubuh Varrel jatuh berlutut darah menetes perlahan, aura hitamnya mulai hancur seperti debu

Amel, Rey, Sarah, Zeks, Fey, dan para prajurit hanya bisa terdiam

Sunyi hanya ada suara angin malam

Varrel tertawa kecil dengan lemah

"...Haha..."

Raida perlahan berbalik tatapannya berubah rumit marah, bingung, sedih

"Bagaimana kau masih hidup, padahal aku menyaksikanmu tertabrak truk waktu itu dan aku juga melihat kau di makamkan, bagaimana kau bisa masih hidup?"

Varrel terdiam beberapa saat

Tubuhnya mulai berubah menjadi butiran cahaya kecil

Lalu ia tersenyum kecil

"Alam semesta itu luas dan penuh dengan misteri, berhati hatilah pada sosok yang membangkitkanku karena dia bisa melawan hidup dan mati, aku sendiri bahkan tidak benar benar mengerti bagaimana aku kembali hidup, yang aku tahu setelah kematian itu hanyalah rasa sakit, perjalanan panjang, dan penderitaan yang tidak pernah benar benar berhenti, aku melihat banyak dunia, bertahan hidup berkali kali di ambang kematian, lalu suatu hari aku melihatmu... kau bergabung dengan pasukan pelindung galaksi, awalnya aku benar benar senang melihatmu masih hidup dan menjadi seseorang yang hebat, tapi semakin lama aku melihat semakin muncul pertanyaan di kepalaku... kenapa hidupmu jauh lebih damai dariku, kenapa kau punya teman, keluarga, orang orang yang peduli, bahkan seseorang yang mencintaimu sementara aku hanya berjalan sendirian dan menderita"

Butiran cahaya mulai semakin banyak, wajah Varrel perlahan melemah

"Maaf... sebenarnya aku iri padamu, aku marah pada takdir, marah pada hidup, dan tanpa sadar aku mulai berpikir kalau mungkin... kau juga harus merasakan kehilangan dan rasa sakit seperti yang kurasakan, aku tahu itu salah, tapi kebencian itu tumbuh terlalu lama di dalam diriku... jadi tolong maafkan aku, Raida"

Raida membeku tangannya sedikit gemetar

"...Bodoh, apa kau pikir aku akan memaafkan mu dengan mudah, taman yang sudah ku anggap sebagai keluarga, kekasih yang sangat ku cintai, aku kehilangan mereka semua karena mu" Bentak Raida 

Varrel tersenyum kecil "aku tau perbuatanku tak bisa di maafkan, tapi sekali lagi tolong maafkan aku"

Tubuhnya perlahan berubah menjadi jutaan cahaya kecil

"Hidupmu bagus sekarang..."

Tatapannya melirik ke arah Amel.

"Jangan sia siakan"

Perlahan Varrel menghilang bersama angin malam

Raida hanya berdiri diam mengepalkan tangannya "kau pikir aku semudah itu bahagia dengan hidupku sekarang, kau benar benar bodoh seharusnya kau datang menemuiku saja"

Uriel dan Samael perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya

Amel perlahan melangkah mendekat, namun baru satu langkah

BZZZZTTT!!

Suara komunikasi dari armor para prajurit tiba tiba berbunyi, salah satu operator Divisi 1 langsung membesar matanya

"Komandan!!"

Raida tidak menoleh "Ada apa"

Operator melanjutkan "Pasukan musuh di orbit mulai bergerak mundur!"

Ratusan kapal perang hitam yang sebelumnya menyerang kini mulai menjauh perlahan dari atmosfer beberapa kapal bahkan membuka portal warp

Di salah satu kapal musuh suasana terasa tegang, seorang pria bertubuh tinggi berdiri di depan layar hologram merah

Salah satu bawahan menelan ludah

"Sinyal kehidupan tuan Varrel telah menghilang, kita mundur sekarang'

sosok di belakangnya memejamkan mata beberapa detik "...Jadi bahkan dia gagal" 

Salah satu bawahannya membesar matanya.

"Tapi kita Kita masih punya armada"

"Hei... apa kau anak baru kita tidak akan menang, dan juga perintah hanyalah ikut perang bersama Pria itu bukan mati bersamanya" ujarnya

Aura merah samar masih terlihat berdiri di tengah reruntuhan gunung

"...Monster itu ternyata lebih mengerikan dari perkiraan"

WHOOOOMMMM!!

Satu per satu kapal musuh mulai menghilang ke dalam portal

Di orbit Bumi, beberapa orang divisi 1 bersorak Karena kemenangan

Sorakan kecil mulai terdengar di berbagai kapal

Fey melihat Raida dari jauh "...Dia nggak merasa menang"

Sarah menghela napas pelan "Ya..."

Amel menggenggam tangannya sendiri tatapannya penuh khawatir

ia melangkah mendekat "Raida..."

Raida tetap diam beberapa detik lalu akhirnya berbicara pelan dengan tersenyum "...Maaf aku sedikit lelah"

Ke esokan paginya seluruh warga bumi telah di kembalikan ke tempat asalnya masing masing

Di sebuah hamparan rumput yang luas markas yang ternyata kapal luar angkasa Melayang cukup rendah

Raida berdiri membelakangi kapal luar angakasa itu, ia memeluk ibunya dan Amel, Sarah, Rey, Zeks, lalu para orang tua mereka melihat dari sisi lain

"...memang harus pergi lagi ya?" ujar ibu raida

Raida tersenyum "maaf... Aku sudah cukup lama meninggalkan tugas ku, banyak hal yang harus ku urus"

Amel mendekat "apa tidak bisa kau tinggal lebih lama?"

Raida terdiam beberapa detik, angin pagi berhembus pelan, menggoyangkan rumput hijau di sekitar mereka

Kapal luar angkasa melayang rendah di belakangnya, suara dengung mesinnya terdengar samar

"Bukankah aku sudah bilang Kalau aku memiliki banyak tugas yang harus ku urus" balasnya

Amel terdiam beberapa detik, tatapannya sedikit turun namun ia tetap mencoba tersenyum kecil meski jelas terlihat kecewa

"...Aku tahu tapi rasanya baru sebentar" ujarnya plan

Raida menghela napas kecil, lalu mengangkat tangan pelan mengusap kepala Amel seperti dulu

"Sebentar?" ia tersenyum kecil

"Aku sudah di sini lebih dari setahun, dan seperti yang ku bilang banyak tugas menungguku"

"Tunggu?" Ujar Zeks

"Kalau kau membawa kapal luar angkasanya di mana kami bisa berkumpul untuk di jadikan markas"

Raida sedikit menoleh ke arah Zeks, alisnya terangkat kecil seolah baru menangkap maksud pertanyaannya

"...Markas?" ulangnya pelan

Zeks mengangguk cepat "Iya, maksudku tempat kumpul gitu seperti biasanya" ujarnya sambil menunjuk kapal luar angkasa besar di belakang Raida

"masa mulai sekarang kami harus kumpul di rumah gitu"

Rey menyilangkan tangan sambil mengangguk kecil "Kalau dipikir pikir benar juga kan markas sebelumnya kau bawa, ternyata itu kapal luar angkasamu"

Tatapannya berhenti beberapa detik pada Amel lalu Rey, Sarah, Zeks, dan Fey

Ekspresinya perlahan melunak "...Kalian pasti akan menemukannya sendiri" ujarnya tenang

Zeks mengernyit "Hah?"

Raida tersenyum kecil sambil menoleh ke arah pegunungan di kejauhan "Selama tempat itu bisa untuk kalian berlatih... itu sudah cukup kan?

Sarah sedikit memiringkan kepala "Jadi... kita disuruh cari sendiri?"

Raida mengangguk kecil

"Kalian harus belajar berdiri sendiri" balasnya

"aku tidak akan selalu ada di Bumi"

Rey menghela napas panjang "Yah... masuk akal sih"

"Tapi setidaknya kasih petunjuk kek" gerutu Zeks

Raida tertawa kecil "...Gunung, tempat luas, jauh dari manusia, dan cukup aman kalau sewaktu waktu kalian meledakkan sesuatu saat latihan"

Zeks langsung menunjuk "NAH GITU KAN jelas"

Raida menghela nafas sambil menggeleng kepala

Suara komunikasi dari armor Raida kembali menyala

"Komandan"

Suara operator terdengar dari dalam alat komunikasi "Persiapan keberangkatan selesai, seluruh armada menunggu instruksi"

Raida terdiam beberapa detik "...Baik"

Ia mematikan komunikasi

Raida mendekat ke arah Fey "aku titip mereka, dan tolong bantuannya tentang kristal kehidupan dan kekuatan raja pertama"

"Tenang saja serahkan semunya padaku

Lalu menoleh lagi ke arah semua orang

Ekspresinya sedikit berubah lebih lembut

"...Aku benar benar harus pergi sekarang"

Ibu Raida perlahan memegang tangan anaknya

"Hati hati"

Raida tersenyum kecil

"...Iya"

Lalu tanpa aba aba Amel maju satu langkah

Dan memeluk Raida pelan

Semua orang langsung diam Amel menggenggam bagian pakaian Raida pelan

"...Jangan terlalu lama"

Suara Amel kecil nyaris seperti bisikan, beberapa detik Raida hanya diam lalu perlahan ia membalas pelukan itu "...Aku usahakan"

Zeks refleks mengalihkan wajah "Ehem... Apa ku harus pergi dulu"

"Diam" ujar Sarah pelan sambil menyikutnya

Rey hanya tertawa kecil sambil menggeleng

Beberapa detik kemudian Amel perlahan melepaskan pelukannya

Raida mundur satu langkah

WHUSSH...

Armor merah mulai menyelimuti tubuhnya perlahan

Tatapannya kembali berubah tegas namun kali ini jauh lebih hangat "...Kalau ada masalah"

Ia berhenti sejenak "Pecahkan dulu sendiri"

Zeks langsung protes "LAH?!"

Raida tersenyum tipis "...Kalau benar benar tidak bisa"

Tatapannya melirik mereka satu per satu "Panggil aku"

Raida menaiki kapal luar angkasanya, lalu kapal itu mulai baik lebih tinggi

Semua orang melampai lalu kapal luar angkasa melesat pergi

Amel tetap berdiri diam menatap langit cukup lama

Sampai titik merah itu perlahan menghilang di balik cahaya kapal

Sarah menghela napas kecil

"...Sepi lagi"

Zeks memasukkan tangan ke saku "Nah"

Tatapannya berpindah ke pegunungan di kejauhan "Sekarang"

Senyum kecil mulai muncul di wajahnya "...Kita cari markas baru nggak?"

Di luar orbit bumi Raida berjalan perlahan ke ruang kendali kapal lalu duduk di kursi "Niir bangunlah" ujar Raida 

Sebuah system perlahan bangkit "sudah lama tuan bagaimana kabar anda?, silahkan beri perintah"

"Aktifkan warp menuju markas" ujar Raida

"Baik" balas Niir

Beberapa saat kemudian kapal luar angkasa Raida melesat di ikuti kapal induk divisi satu dan menghilang di antara lautan bintang

More Chapters