beberapa saat kemudian...
mereka melihat sebuah kapal induk yang sangat besar menyamai bumi, dan ada beberapa kapal yang keluar masuk dari sana
"Waah... Gila apa itu" ujar Zeks
Tiba tiba suara pengumuman terdengar
"Kepada para penduduk bumi, harap semuanya tetap tenang kita akan segera memasuki kapal induk utama divisi 1"
Kapal kapal evakuasi mulai memasuki hanggar cahaya putih kebiruan memancar dari bagian dalam, ratusan kapal evakuasi terlihat masuk bersamaan tanpa sedikit pun tabrakan
Thummm
Getaran halus terasa saat kapal mendarat
Satu per satu ratusan kapal evakuasi lain ikut turun bersamaan di jalur masing-masing
Pintu kapal terbuka perlahan
Udara dingin bercampur aroma logam langsung terasa, lorong hanggar membentang sangat luas
Barisan prajurit Divisi 1 berdiri berjaga dengan disiplin tinggi
Di berbagai sisi, manusia mulai turun dari kapal masing-masing
Beberapa dari mereka masih bingung, masih takut, masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi
Amel berjalan pelan bersama Rey, Sarah, Zeks, Fey, dan keluarga mereka
Tatapannya terus bergerak mencari seseorang namun tiba-tiba
DUUMM!!
Suara berat menggema dari kejauhan lampu hanggar sedikit meredup, semua orang refleks menoleh
Di ujung hanggar sebuah platform besar perlahan turun dari atas
Dan seseorang berdiri di sana mengenakan armor merah
Seluruh prajurit Divisi 1 langsung berdiri tegak
Lalu secara bersamaan mereka memberi hormat
"HORMAT KEPADA KOMANDAN!"
Suasana langsung sunyi Amel membeku Rey langsung menegakkan tubuh Sarah reflek menutup mulutnya Zeks sampai melongo
"...Raida?" bisiknya
Ibu Raida perlahan berdiri matanya membesar "...Nak?"
Raida berjalan maju beberapa langkah tatapannya menyapu ribuan manusia di hanggar lalu suara beratnya menggema melalui pengeras suara besar
"Perhatian kepada seluruh warga Bumi. Saya meminta semuanya tetap tenang dan tetap bersama keluarga masing-masing selama proses evakuasi berlangsung"
"Perkenalkan. Nama saya Raida Khoirul Anwar. Saya adalah Komandan Divisi Satu dan Orang yang akan memimpin dan bertanggung jawab atas keselamatan umat manusia"
Kerumunan langsung dipenuhi bisik-bisik kecil
"Sekarang ini ada sebuah organisasi yang sedang mengicar bumi, dan keselamatan umat manusia, karena itu kami divisi 1 di kirim untuk membantu kalian mengatasi semua ini sampai ancaman berakhir"
Layar besar di belakangnya menampilkan jutaan kapal perang yang mengelilingi Bumi
"Lebih dari tiga juta kapal perang sedang mempertahankan orbit planet kalian. Namun saya meminta seluruh warga tetap berada di area aman karena ancaman belum sepenuhnya berakhir."
"Kami berjanji kepada seluruh manusia. Selama Divisi Satu masih berdiri, kami tidak akan membiarkan rumah kalian jatuh ke tangan orang orang itu"
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana
"Komandan itu manusia?"
"Itu orang Bumi?"
"Tunggu... dia bilang namanya Raida?"
Sementara itu Amel hanya berdiri diam, tatapannya tidak lepas dari Raida,marah,lega takut, semua bercampur jadi satu
Dan untuk pertama kalinya keluarga mereka melihat langsung siapa sebenarnya Raida
Beberapa saat kemudian Raida turun dari tempat itu dan berjalan ke kerumunan penduduk bumi
Ia berjalan perlahan ke arah ibunya, saat sudah di depan ibunya ia menunduk
"...Maaf karena selama ini merahasiakan semua ini" ujar Raida sambil menunduk ke ibunya
Ibu Raida terdiam sejenak lalu tersenyum lembut, memeluk anaknya
"Tak apa kau pasti punya alasan sendiri untuk merahasiakannya"
Ibu Raida melepaskan pelukan "lagi pula ibu sudah menduga dan curiga hal ini pasti akan terjadi"
Raida bingung dengan apa yang dikatakan ibunya "apa maksud ibu?"
Ibu Raida kembali tersenyum sambil memegang lengan anaknya "dulu malam sebelum kau lahir saat ibu dan ayah tidur ada sebuah kejadian aneh, tiba tiba saja seseorang tiba tiba saja muncul dengan cahaya yang sangat terang di samping kasur, cahaya itu masuk kedalam kandungan ibu, dan tampa di sadari pagi sudah tiba"
"Mungkin halusinasi ayah dan ibu saja" ujar Raida
"Pada awalnya ayah dan ibu memang menganggap itu hanya halusinasi, tapi setiap berjalannya waktu setelah kau lahir selalu muncul kejadian aneh di sekitarmu, dan sosok cahaya itu muncul lagi, dan pada hari kematian ayah mu sosok itu pun juga muncul lagi"
"Apa... Tapi kenapa aku tidak melihatnya?" ujar Raida bingung
"Walau kau tak melihatnya, tapi ibu melihatnya sosok itu berdiri jauh dari area pemakaman, dan juga waktu kau kembali dari belajarmu di luar negri, lalu kembali dengan keadaan aneh jadi sejak hari itu ibu mulai berpikir kalau anak ibu spesial dan sedang menghadapi sesuatu"
"Intuisimu benar benar tajam bu" kata Raida
"Hanya insting seorang ibu yang ingin anaknya baik baik saja" ujar ibu Raida
Raida menunduk lagi "tapi maafkan aku ibu, setelah ini aku akan pergi menghadapi mereka yang akan datang kemari merebut kedamaian bumi"
"Pergilah... Itu tugasmu kan, ibu tidak menghalangimu" kata ibu Raida dengan tersenyum namun sedikit khawatir
"...bu" ujar Raida
"Tapi... Kemlilah dengan selamat, kau pasti telah mengalami banyak kesulitan ibu bisa melihatnya dari wajahmu tapi ibu yakin kau bisa mengatasinya, pergilah lalu kembali dengan selamat" Lanjut ibu Raida
Raida mengangguk lalu berbalik dan berjalan pergi
"TUNGGU!" ujar Amel
Raida menoleh
"Biarkan kami juga ikut membantu" ujar Amel di belakangnya ada Sarah Rey dan Zeks
"Kalian..." ujar ibu Amel
"Kalian masih belum siap" kata Raida
"Kau selalu saja mengatakan itu, kali ini biarkan kami pergi untuk bertarung di sisimu" kata Rey
"Rey apa yang kau katakan kita hanya manusia biasa kita tidak bisa berbuat apa apa" ujar ayah Rey
"Paman, bibi, ayah, ibu, mungkin ada satuhal yang tak kalian ketahui tapi kami juga bagian dari semua ini kami juga memiliki kekuatan" ujar Zeks
"Nak apa maksudmu...?" ujar ibu Zeks
Raida menghela nafas
"Mau ku bilang berapa kali kalian masih belum siap" ujar Raida lalu menghilang
"Bisakah kalian menjelaskan sesuatu" ujar ayah Amel
Mereka terdiam sejenak
"...sebenarnya beberapa bulan, Monster dan Alien bermunculan di bumi" ujar Amel
"Apa... Jadi Montor dan Aline sudah bermunculan sejak lama" kata Ayah Zeks
Amel mengangguk "pada hari itu kami mendapati Alien tiba tiba saja muncul, untung Raida tiba tiba muncul membantu kami, dan pada hari itu juga dia memberi kami kekuatan, lalu kami melawan Monster dan Alien yang datang ke bumi"
"Tapi kenapa kami tidak tau semua ini" ujar Ibu Sarah
"Itu karena kekuatan Raida, dia memiliki kemampuan untuk menghapus ingatan" kata Zeks
Mereka terdiam sejenak
"...Lalu apa yang mereka incar kenapa mereka begitu menginginkan bumi" ujar Ibu Rey
"Itu kerena kristal kehidupan dan kekuatan raja pertama" kata Fey yang mendekati mereka
"Kau..." kata Ayah Amel
"Namaku adalah Fey, aku manusia dari zaman kuno, tenang saja tak perlu canggung, aku sama dengan mereka berempat Raida tak mengizinkan ku ikut" kata Fey
"Bisa kau jelaskan apa kedua benda itu dan apa yang sedang di hadapi Raida" ujar Ibu Raida
"Aku hanya tau sedikit Raida selalu saja merahasiakan semuanya, yang sedang dia hadapi adalah sebuah organisasi yang selalu mengincar inti kehidupan suatu planet, yaitu kristal kehidupan, terlebih lagi di dapati ada sebuah kekuatan besar yang tersenyum di bumi, yaitu kekuatan raja pertama dari pasukan pelindung galaksi, itu lah yang Raida pernah bilang" kata Fey
"Kalian sudah dengar bukan, jadi tolong izinkan kami pergi" ujar Amel yang menunduk lalu di ikuti Sarah Rey dan Zeks
"Tapi, Raida melarang kalian bukan dan musuh yang di hadapi sepertinya berbahaya" ujar Ibu Amel
"Ku mohon bu izinkan kami pergi, kami selalu melihat Raida dari belakang, tapi kali ini kami ingin membuktikan bahwa kami juga bisa bertarung di sisinya" ucap Amel penuh tekad
Suasana mendadak menjadi hening
Tak ada satu pun orang tua mereka yang langsung menjawab
Mereka semua saling berpandangan
Di kejauhan, suara mesin kapal induk masih terdengar samar, bercampur langkah para prajurit Divisi 1 yang terus bergerak menjaga area hanggar
Ibu Amel menatap putrinya cukup lama. Matanya jelas dipenuhi kekhawatiran
"...Kalau ibu melarangmu" katanya pelan
"apa kamu akan tetap pergi?"
Amel terdiam sejenak. Tangannya mengepal perlahan
"...Iya." Jawab Amel penuh dengan keyakinan
"Aku takut..." lanjut Amel lirih
"aku takut kehilangan dia"
"Aku selalu lihat dia pergi sendirian... Aku selalu melihat dia berdiri paling depan, selalu pura-pura kuat seolah semua beban itu cuma miliknya sendiri."
Rey menatap ke arah tempat Raida tadi pergi "Kita semua tahu Raida terlalu keras kepala"
Sarah tersenyum pahit "Dia selalu melindungi semua orang. Termasuk kami, tapi dia tidak pernah mau minta bantuan"
Ayah Rey menunduk cukup lama. Lalu menghela napas panjang "...Kalian benar benar serius?"
Rey mengangguk tanpa ragu "Kami bukan anak-anak lagi"
Ayah Zeks menatap anaknya beberapa detik "Lalu kalau kalian mati?"
Sarah melangkah maju "Kami mungkin takut"
"Tapi lebih takut lagi kalau harus hidup sambil menyesal karena tidak melakukan apa-apa"
Ibu Sarah perlahan memejamkan mata lalu tersenyum
"...Kalian benar-benar keras kepala"
"Belajar dari siapa coba?" gumam Zeks kecil
Ibunya langsung melotot "Masih sempat bercanda?"
Zeks terkekeh kecil gugup
Namun perlahan suasana mulai berubah
Ayah Amel melangkah mendekat lalu meletakkan tangannya di kepala Amel
"Kalau memang ini pilihanmu... Maka jangan pulang sebagai pecundang"
Mata Amel langsung membesar "Ayah..."
"Tapi dengan satu syarat... Kembalilah dengan keadaan hidup" ucap Ayah Amel
Ibu Amel langsung memeluk putrinya erat "Kamu harus janji"
Amel menggigit bibir, lalu mengangguk pelan "...Aku janji"
Ayah Rey menepuk bahu anaknya keras "Kalau kau memang mau jadi pahlawan... Jangan bikin malu keluarga"
Rey tersenyum kecil "Siap"
Ibu Sarah menarik Sarah ke pelukan "Kamu tetap anak ibu"
Sarah tersenyum kecil "Iya..."
Ayah Zeks menghela napas panjang lalu menjulurkan kepalan tangan
Zeks menyeringai lalu menjulurkan kepalan tangannya juga
"Jangan Mati" ucap Ayah Zeks
"Tenang saja" balasnya
BZZZZTT
Tiba-tiba suara alarm ringan terdengar. Beberapa prajurit Divisi 1 langsung bergerak cepat
Layar besar di hanggar berubah, tulisan merah muncul
AKTIVITAS WARP TERDETEKSI
ARMADA TAK DIKENAL MENDEKAT
Para prajurit mulai berlari, suara pengumuman terdengar menggema
"Seluruh personel Divisi 1 menuju posisi tempur. Seluruh warga sipil harap tetap tenang jangan ada yang Panik, kapal induk evakuasi akan dibawa menjauh dari area pertempuran"
Fey langsung menoleh "Sudah di mulai"
Rey mengepalkan tangan "Mereka datang"
Amel langsung menoleh ke arah pintu keluar "Kita harus pergi dari Sini"
Zeks menyeringai kecil "Yaudah, ayo kabur"
"KABUR?!" ujar ibu Zeks refleks
Fey menyilangkan tangan lalu menghela nafas "Karana aku sudah berjanji padanya untuk melindungi kalian aku akan ikut, tapi bagaimana cara kita keluar dari sini, jika lewat jalan utama kita tidak akan di biarkan lewat"
Mereka saling pandang sejenak
Lalu
Mereka langsung berlari menuju lorong keluar hanggar
"HEI! TUNGGU!" teriak salah satu prajurit Divisi 1
Namun mereka terus berlari, di sepanjang lorong suasana sudah berubah kacau, puluhan prajurit berlari menuju posisi masing-masing
Alarm merah berkedip di berbagai sisi, suara sistem terus terdengar
"SELURUH PERSONEL DIVISI 1 MENUJU POSISI TEMPUR"
Belum jauh mereka berlari dua prajurit berarmor merah tiba-tiba menghadang di depan lorong
"Area ini terbatas! Warga sipil dilarang lewat!"
Amel berhenti mendadak
Rey menelan ludah "...Sekarang gimana?"
Sarah menghela napas kecil "Maaf..."
Sarah mengelurakan cahaya yang sangat menyilaukan dari tangannya
Lalu perlahan sebuah armon mulai terpakai di tubuh mereka
Perajurit membeku "APA..."
Dengan gerakan cepat Rey menciptakan dorongan energi kecil ke lantai
DUUMM!
Asap tipis mengepul
Pandangan lorong sedikit tertutup
"CEPAT!" teriak Amel
Mereka langsung berlari melewati lorong lain
"KEJAR MEREKA!" teriak salah satu prajurit
Namun mereka sudah terlalu jauh. Beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai di area hanggar militer
Ratusan kapal tempur terlihat berjajar, teknisi dan prajurit berlari ke sana kemari. Layar merah terus berkedip
STATUS PERANG: AKTIF
Mata Zeks langsung membesar
Fey menunjuk salah satu kapal tempur berukuran sedang "Itu. Kita ambil yang itu"
"Tunggu... Kalian bisa nerbangin?" Ucap Rey
Fey mengangkat alis "Kalian lupa aku hidup ribuan tahun?"
Tanpa membuang waktu mereka langsung berlari menuju kapal
Seorang teknisi langsung berteriak
"HEY! KALIAN BUKAN PERSONEL"
SHHKKK!
Pintu kapal terbuka otomatis saat gelang identitas mereka terbaca
Semua membeku
AKSES DITERIMA
Teknisi itu melongo
"Apa yang...?"
Mereka langsung masuk Pintu kapal tertutup
WHUUUMMM
Mesin mulai menyala
Di sisi lain
Salah satu prajurit yang tadi mengejar mereka segera menghubungi pusat komando
"Laporan! Lima personel khusus meninggalkan area sipil dan mengambil kapal tempur tanpa izin!"
Beberapa detik hening
Lalu suara dingin terdengar dari komunikator
"...Nama mereka"
"Amel, Rey, Sarah, Zeks, dan Fey, Komandan!"
Sunyi beberapa detik prajurit itu menunggu tegang lalu suara Raida terdengar lagi Sedikit terdengar seperti sudah menduga
"...Biarkan mereka"
Prajurit itu membeku "K-Komandan?"
"Anggap saja kau tidak melihat apa-apa" ujar Raida
"...Baik, Komandan"
Komunikasi terputus di pusat komando
Raida berdiri diam menatap pertempuran yang sudah dimulai, kapal kapal luar angkasa saling menembak, beberapa orang dengan armor beradu pedang dan senjata yang mereka bawa
Salah satu operator terlihat bingung "Komandan... bukankah anda melarang mereka?"
Raida menghela napas pelan tatapannya tetap lurus ke luar angkasa
"...Mereka keras kepala"
Senyum tipis hampir tak terlihat muncul di wajahnya
"Mereka sudah memilih jalan yang penuh pertempuran, aku tidak akan menghalangi mereka lagi, biarkan mereka merasakan pertempuran pertama mereka"
Kapal tempur yang membawa Amel dan yang lain akhirnya melesat keluar dari hanggar menuju medan perang yang sudah menunggu di depan mereka
