Ke esokan harinya...
Pintu markas terbuka perlahan. Udara pagi yang masih dingin ikut masuk sesaat sebelum empat orang melangkah ke dalam
Amel berjalan paling depan, diikuti Sarah, Rey, dan Zeks. Masing-masing masih membawa tas kecil berisi barang-barang dari perjalanan mereka
"Kami kembali..." ujar Amel sambil meregangkan bahunya pelan
Di ruang utama, Fey yang sedang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihat mereka datang.Wajahnya tampak jauh dari kata tenang
"Pas sekali kalian di sini" ujar Zeks sambil mengangkat sebuah kantung belanja dengan senyum kecil "Lihat, kami bawa oleh-oleh buatmu"
Namun Fey sama sekali tidak terlihat tertarik
"Sekarang bukan waktunya untuk itu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan" katanya pelan namun serius
Amel mengernyit "Apa yang ingin kau tanyakan?"
Rey menoleh ke sekeliling ruangan, memperhatikan suasana markas yang terasa aneh
"Ngomong-ngomong..." ujarnya sambil
memasukkan tangan ke saku jaket "Di mana Raida? Apa dia belum kembali?"
Fey terdiam beberapa detik sebelum menghela napas panjang "Itulah yang ingin kutanyakan pada kalian... Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?"
Keempatnya saling berpandangan
"Kemarin dia tiba-tiba memisahkan diri dari kami, memangnya ada apa?" jawab Sarah bingung
Tatapan Fey perlahan mengarah ke ujung lorong markas, tepat ke arah sebuah ruangan tertutup
"Sebenarnya... kemarin malam dia kembali ke markas dalam kondisi luka parah" katanya
Semua langsung terdiam
"Luka... parah?" kata Amel pelan, wajahnya berubah pucat
Fey mengangguk
"Hampir di seluruh tubuhnya, dan sejak kembali, dia mengurung diri di ruangan itu. Sampai sekarang belum keluar sama sekali"
Ekspresi keterkejutan langsung terlihat di wajah mereka
"Itu tidak mungkin...Raida?" ujar Rey
"Apa maksudmu luka parah?" tanya Amel
cepat, nada suaranya mulai panik "siapa yang melakukan itu padanya?"
"Mau percaya atau tidak... kalian akan mengerti setelah melihatnya sendiri" ujar Fey
Suasana mendadak terasa jauh lebih berat
Tatapan mereka semua kini tertuju pada sebuah pintu logam besar di ujung lorong
Fey menyipitkan mata "...Sebenarnya ruangan apa itu?" tanyanya
Sarah hanya mengangkat bahu pelan "Entahlah, kami juga tidak pernah tahu, hanya Raida yang tahu kata sandinya"
"Dia bahkan tidak pernah membiarkan siapa pun masuk" tambah Rey pelan
Zeks menatap pintu itu cukup lama "Kalau sampai dia mengurung diri... berarti sesuatu yang benar-benar buruk terjadi"
Amel menggenggam erat tangannya sendiri
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berjalan menuju lorong
"Amel?" panggil Sarah
"Aku mau melihatnya" Langkahnya cepat
"Kalau memang dia terluka separah itu... aku tidak akan diam di sini" suara Amel mulai bergetar
Mereka semua akhirnya mengikuti dari belakang
Sesampainya di depan pintu besar itu, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian markas lain
Pintu logam hitam itu tampak dingin dan tertutup rapat
Tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam
Amel mengetuk pintu beberapa kali
"Raida?" panggilnya pelan
Tak ada jawaban
Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras "Raida... buka pintunya"
Tetap sunyi
Rey menyipitkan mata "jangan bilang dia pingsan di dalam..."
Zeks melangkah maju lalu mengetuk lebih keras
"OI! RAIDA! Kalau kau masih hidup jawab!"
Beberapa detik berlalu
Lalu tiba tiba seluruh markas bergetar
"Apa yang terjadi" apakah gempa?" kata Rey
Sarah berkeringat dingin saat melihat keluar jendela "teman teman... Lihatlah keluar jendela"
Mereka pun ikut melihat
"A... Apa yang terjadi bagaimana bisa markas ini melayang di udara" teriak Zeks karena terkejut
Dari luar markas terlihat seperti kapal luarangkasa yang di gunakan Raida waktu kembali ke bumi dulu
Beberapa detik kemudian...
Banyak kapal luarangkasa muncul di langit bumi dan ada yang ukurannya lebih besar dari milik Raida
"Sekarang apa yang sebenarnya terjadi banyak sekali kapal luarangkasa di luar sana" kata Fey
Pintu terbuka, lalu Raida keluar dari dalam sana
Semua langsung menoleh
Namun sosoknya membuat suasana berubah sunyi
Ia masih mengenakan pakaian hitam yang sama sejak kemarin, tetapi kini dipenuhi robekan dan bercak darah yang mulai mengering
Namun yang paling membuat mereka diam adalah tatapannya
Seolah sesuatu dalam dirinya telah berubah, atau hal yang tak pernah mereka lihat
"Raida!, apa yang sebenarnya terjadi?!" Amel langsung menghampirinya
Namun Raida melewati mereka semua, lalu bagian markas ada yang terbuka membuat seperti sebuah deck kapal luar angkasa,
"Jangan bilang kalau, markas ini sebenarnya adalah kapal luar angkasa" kata Rey
Diseluruh penjuru bumi semua orang di kejutkan dengan kemunculan kapal luar angkasa yang sangat banyak, beberapa penyiar langsung menyiarkan, beberapa streamer langsung streaming, dan ada yang merekam
Raida berdiri di tengah deck
Tiba tiba seseorang dengan armor merah dan helm merah muncul lalu berlutut
Angin dingin langsung menerpa begitu bagian luar markas terbuka sepenuhnya. Langit pagi yang seharusnya tenang kini dipenuhi bayangan raksasa kapal-kapal luar angkasa yang menggantung di atmosfer Bumi
Sarah terlihat mundur satu langkah, masih sulit mencerna keadaan "Raida... apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami..."
Namun Raida tetap diam, tatapannya lurus ke depan
Di hadapannya, sosok berarmor merah itu masih berlutut dengan kepala tertunduk. Armor logamnya tampak jauh lebih canggih dibanding teknologi apa pun yang pernah mereka lihat
Beberapa detik sunyi. Lalu sosok itu berdiri dan membuka helmnya dan menunjukan wajahnya seorang pria, dan ia berasal dari ras manusia Daniel
"Kak... seluruh armada telah tiba" Kata Daniel
Semua langsung membeku
Amel menoleh cepat ke arah langit yang dipenuhi kapal perang luar angkasa
"Tunggu... Jangan bilang semua kapal itu..." kata Amel
Bahkan Fey terlihat kehilangan kata-kata
Armor merah itu kembali bicara
"Lebih dari tiga juta unit armada tempur telah memasuki orbit planet ini. Seluruh divisi menunggu perintah Anda"
Sarah tanpa sadar mundur
"T... tiga juta?!"
"Efakuasi seluruh penduduk bumi sekarang"
kata Raida tegas
"Baik..." sosok itu menghilang
Dan setelah beberapa saat beberapa kapal luar angkasa turun
"SELURUH PENDUDUK BUMI, DENGARKAN BAIK BAIK KAMI DATANG KEMARI BUKAN SEBAGAI ANCAMAN, KAMI DATANG BERNIAT MEMBANTU KALIAN, IKUTI PROSEDUR KAMI UNTUK EVAKUASI, KARENA BUMI AKAN MENJADI TEMPAT MEDAN PERANG HARAP KALIAN MRNGERTI" ucap sebuah suara yang terdengar menggema di seluruh dunia
Suara pengumuman itu menggema ke seluruh penjuru dunia, Di kota-kota besar, jalanan langsung berubah kacau
Sebagian orang menatap langit dengan wajah pucat
Sebagian lagi merekam menggunakan ponsel
Di berbagai siaran berita dunia, layar penuh dengan gambar kapal luar angkasa yang memenuhi atmosfer
"Ini bukan CGI…"
"Kami mengulang sekali lagi, objek-objek ini nyata!"
"Militer dari berbagai negara sudah mulai siaga"
Beberapa streamer bahkan masih siaran dengan suara gemetar
"BRO INI GILA ADA KAPAL DI ATAS KOTA"
"Jangan bercanda… ini kiamat apa gimana?!"
Di sisi lain dunia, beberapa pemerintah mulai mengirim jet tempur untuk mendekat
Namun sebelum sempat terlalu jauh seluruh sistem pesawat mendadak mati, Mesin berhenti lalu sebuah suara terdengar di radio mereka
"KAMI TIDAK BERNIAT MENYERANG, KAMI HANYA AKAN MEMBANTU KALIAN, MOHON IKUTI PROSEDUR KAMI UNTUK EVAKUASI"
Di deck kapal luar angkasa Raida
Raida menekan beberapa tombol di jamnya dan sebuah armor berwarna merah mulai muncul di tubuhnya
"Kalian juga ikuti mereka untuk evakuasi, perang ini bukan hal yang bisa kalian tangani, walaupun kalian pernah mengalahkan komandan musuh" ucap Raida
Amel langsung melangkah maju
"Apa maksudmu kami ikut evakuasi?" tanyanta suaranya mulai bergetar
Tatapannya tak lepas dari armor merah yang telah menutupi tubuh Raida sepenuhnya
"...Karena kalian akan mati kalau tetap di sini" jawab Raida
Zeks mengernyit "Hei, sejak kapan kau bicara seperti itu?"
"Kita sudah melalui banyak hal bersama" katanya sambil melangkah maju
Sarah mengepalkan tangan "Kami juga petarung, Raida... Kami bukan orang biasa yang harus dilindungi terus"
Namun Raida menggeleng pelan "Tidak, kalian akan tetap ikut evakuasi"
Raida mengenakan helmnya lalu terbang pergi
