Ficool

Chapter 36 - Bab 36 perang

Ke esokan harinya...

Pintu markas terbuka perlahan. Udara pagi yang masih dingin ikut masuk sesaat sebelum empat orang melangkah ke dalam

Amel berjalan paling depan, diikuti Sarah, Rey, dan Zeks. Masing-masing masih membawa tas kecil berisi barang-barang dari perjalanan mereka

"Kami kembali..." ujar Amel sambil meregangkan bahunya pelan

Di ruang utama, Fey yang sedang duduk di sofa langsung berdiri begitu melihat mereka datang.Wajahnya tampak jauh dari kata tenang

"Pas sekali kalian di sini" ujar Zeks sambil mengangkat sebuah kantung belanja dengan senyum kecil "Lihat, kami bawa oleh-oleh buatmu"

Namun Fey sama sekali tidak terlihat tertarik

"Sekarang bukan waktunya untuk itu, ada sesuatu yang ingin kutanyakan" katanya pelan namun serius

Amel mengernyit "Apa yang ingin kau tanyakan?"

Rey menoleh ke sekeliling ruangan, memperhatikan suasana markas yang terasa aneh

"Ngomong-ngomong..." ujarnya sambil

memasukkan tangan ke saku jaket "Di mana Raida? Apa dia belum kembali?"

Fey terdiam beberapa detik sebelum menghela napas panjang "Itulah yang ingin kutanyakan pada kalian... Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?"

Keempatnya saling berpandangan

"Kemarin dia tiba-tiba memisahkan diri dari kami, memangnya ada apa?" jawab Sarah bingung

Tatapan Fey perlahan mengarah ke ujung lorong markas, tepat ke arah sebuah ruangan tertutup

"Sebenarnya... kemarin malam dia kembali ke markas dalam kondisi luka parah" katanya

Semua langsung terdiam

"Luka... parah?" kata Amel pelan, wajahnya berubah pucat

Fey mengangguk

"Hampir di seluruh tubuhnya, dan sejak kembali, dia mengurung diri di ruangan itu. Sampai sekarang belum keluar sama sekali"

Ekspresi keterkejutan langsung terlihat di wajah mereka

"Itu tidak mungkin...Raida?" ujar Rey

"Apa maksudmu luka parah?" tanya Amel

cepat, nada suaranya mulai panik "siapa yang melakukan itu padanya?"

"Mau percaya atau tidak... kalian akan mengerti setelah melihatnya sendiri" ujar Fey

Suasana mendadak terasa jauh lebih berat

Tatapan mereka semua kini tertuju pada sebuah pintu logam besar di ujung lorong

Fey menyipitkan mata "...Sebenarnya ruangan apa itu?" tanyanya

Sarah hanya mengangkat bahu pelan "Entahlah, kami juga tidak pernah tahu, hanya Raida yang tahu kata sandinya"

"Dia bahkan tidak pernah membiarkan siapa pun masuk" tambah Rey pelan

Zeks menatap pintu itu cukup lama "Kalau sampai dia mengurung diri... berarti sesuatu yang benar-benar buruk terjadi"

Amel menggenggam erat tangannya sendiri

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung berjalan menuju lorong

"Amel?" panggil Sarah

"Aku mau melihatnya" Langkahnya cepat

"Kalau memang dia terluka separah itu... aku tidak akan diam di sini" suara Amel mulai bergetar

Mereka semua akhirnya mengikuti dari belakang

Sesampainya di depan pintu besar itu, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian markas lain

Pintu logam hitam itu tampak dingin dan tertutup rapat

Tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam

Amel mengetuk pintu beberapa kali

"Raida?" panggilnya pelan

Tak ada jawaban

Ia mencoba lagi, kali ini lebih keras "Raida... buka pintunya"

Tetap sunyi

Rey menyipitkan mata "jangan bilang dia pingsan di dalam..."

Zeks melangkah maju lalu mengetuk lebih keras

"OI! RAIDA! Kalau kau masih hidup jawab!"

Beberapa detik berlalu

Lalu tiba tiba seluruh markas bergetar

"Apa yang terjadi" apakah gempa?" kata Rey

Sarah berkeringat dingin saat melihat keluar jendela "teman teman... Lihatlah keluar jendela"

Mereka pun ikut melihat

"A... Apa yang terjadi bagaimana bisa markas ini melayang di udara" teriak Zeks karena terkejut

Dari luar markas terlihat seperti kapal luarangkasa yang di gunakan Raida waktu kembali ke bumi dulu

Beberapa detik kemudian...

Banyak kapal luarangkasa muncul di langit bumi dan ada yang ukurannya lebih besar dari milik Raida

"Sekarang apa yang sebenarnya terjadi banyak sekali kapal luarangkasa di luar sana" kata Fey

Pintu terbuka, lalu Raida keluar dari dalam sana

Semua langsung menoleh

Namun sosoknya membuat suasana berubah sunyi

Ia masih mengenakan pakaian hitam yang sama sejak kemarin, tetapi kini dipenuhi robekan dan bercak darah yang mulai mengering

Namun yang paling membuat mereka diam adalah tatapannya

Seolah sesuatu dalam dirinya telah berubah, atau hal yang tak pernah mereka lihat

"Raida!, apa yang sebenarnya terjadi?!" Amel langsung menghampirinya

Namun Raida melewati mereka semua, lalu bagian markas ada yang terbuka membuat seperti sebuah deck kapal luar angkasa,

"Jangan bilang kalau, markas ini sebenarnya adalah kapal luar angkasa" kata Rey

Diseluruh penjuru bumi semua orang di kejutkan dengan kemunculan kapal luar angkasa yang sangat banyak, beberapa penyiar langsung menyiarkan, beberapa streamer langsung streaming, dan ada yang merekam

Raida berdiri di tengah deck

Tiba tiba seseorang dengan armor merah dan helm merah muncul lalu berlutut

Angin dingin langsung menerpa begitu bagian luar markas terbuka sepenuhnya. Langit pagi yang seharusnya tenang kini dipenuhi bayangan raksasa kapal-kapal luar angkasa yang menggantung di atmosfer Bumi

Sarah terlihat mundur satu langkah, masih sulit mencerna keadaan "Raida... apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami..."

Namun Raida tetap diam, tatapannya lurus ke depan

Di hadapannya, sosok berarmor merah itu masih berlutut dengan kepala tertunduk. Armor logamnya tampak jauh lebih canggih dibanding teknologi apa pun yang pernah mereka lihat

Beberapa detik sunyi. Lalu sosok itu berdiri dan membuka helmnya dan menunjukan wajahnya seorang pria, dan ia berasal dari ras manusia Daniel

"Kak... seluruh armada telah tiba" Kata Daniel

Semua langsung membeku

Amel menoleh cepat ke arah langit yang dipenuhi kapal perang luar angkasa

"Tunggu... Jangan bilang semua kapal itu..." kata Amel

Bahkan Fey terlihat kehilangan kata-kata

Armor merah itu kembali bicara

"Lebih dari tiga juta unit armada tempur telah memasuki orbit planet ini. Seluruh divisi menunggu perintah Anda"

Sarah tanpa sadar mundur

"T... tiga juta?!"

"Efakuasi seluruh penduduk bumi sekarang"

kata Raida tegas

"Baik..." sosok itu menghilang

Dan setelah beberapa saat beberapa kapal luar angkasa turun

"SELURUH PENDUDUK BUMI, DENGARKAN BAIK BAIK KAMI DATANG KEMARI BUKAN SEBAGAI ANCAMAN, KAMI DATANG BERNIAT MEMBANTU KALIAN, IKUTI PROSEDUR KAMI UNTUK EVAKUASI, KARENA BUMI AKAN MENJADI TEMPAT MEDAN PERANG HARAP KALIAN MRNGERTI" ucap sebuah suara yang terdengar menggema di seluruh dunia

Suara pengumuman itu menggema ke seluruh penjuru dunia, Di kota-kota besar, jalanan langsung berubah kacau

Sebagian orang menatap langit dengan wajah pucat

Sebagian lagi merekam menggunakan ponsel

Di berbagai siaran berita dunia, layar penuh dengan gambar kapal luar angkasa yang memenuhi atmosfer

"Ini bukan CGI…"

"Kami mengulang sekali lagi, objek-objek ini nyata!"

"Militer dari berbagai negara sudah mulai siaga"

Beberapa streamer bahkan masih siaran dengan suara gemetar

"BRO INI GILA ADA KAPAL DI ATAS KOTA"

"Jangan bercanda… ini kiamat apa gimana?!"

Di sisi lain dunia, beberapa pemerintah mulai mengirim jet tempur untuk mendekat

Namun sebelum sempat terlalu jauh seluruh sistem pesawat mendadak mati, Mesin berhenti lalu sebuah suara terdengar di radio mereka

"KAMI TIDAK BERNIAT MENYERANG, KAMI HANYA AKAN MEMBANTU KALIAN, MOHON IKUTI PROSEDUR KAMI UNTUK EVAKUASI"

Di deck kapal luar angkasa Raida

Raida menekan beberapa tombol di jamnya dan sebuah armor berwarna merah mulai muncul di tubuhnya

"Kalian juga ikuti mereka untuk evakuasi, perang ini bukan hal yang bisa kalian tangani, walaupun kalian pernah mengalahkan komandan musuh" ucap Raida

Amel langsung melangkah maju

"Apa maksudmu kami ikut evakuasi?" tanyanta suaranya mulai bergetar

Tatapannya tak lepas dari armor merah yang telah menutupi tubuh Raida sepenuhnya

"...Karena kalian akan mati kalau tetap di sini" jawab Raida

Zeks mengernyit "Hei, sejak kapan kau bicara seperti itu?"

"Kita sudah melalui banyak hal bersama" katanya sambil melangkah maju

Sarah mengepalkan tangan "Kami juga petarung, Raida... Kami bukan orang biasa yang harus dilindungi terus"

Namun Raida menggeleng pelan "Tidak, kalian akan tetap ikut evakuasi"

Raida mengenakan helmnya lalu terbang pergi

More Chapters