Ficool

SUAMI PALSU DARI DUNIA LAIN

Citra_Rahayu_0168
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
111
Views
Synopsis
Laras tak menyadari telah memadu kasih dengan jin yang menyerupai suaminya. Akhirnya ia hamil
VIEW MORE

Chapter 1 - KISAH SEMALAM

"Mas aku sangat lemas. Badanku seolah habis diremukkan," gumam Laras sambil meringkuk di pembaringan. Wajahnya tampak pucat pasi.

Raka tersenyum tipis, lalu menunduk dan mengecup kening Laras dengan lembut dan lama. "Baiklah, Sayang. Tidurlah lebih dulu. Aku masih ada urusan malam ini yang tidak dapat ditunda."

Laras menggigit bibir bawahnya, matanya setengah terpejam karena kepuasan yang masih tersisa. "Malam ini kau benar-benar sangat ganas, Kak. Aku bahkan tidak dapat menghitung berapa kali kita melakukannya. Apakah kau minum obat kuat? Tenagamu tiba-tiba luar biasa. Kau mengangkatku ke dinding, mendorongku di sofa, bahkan di lantai kamar mandi. Aku benar-benar pasrah."

Raka terkekeh pelan, suaranya rendah dan serak. Jarinya menyusuri leher Laras perlahan hingga ke tulang selangkanya. "Tidak ada obat apa pun, Sayang. Mungkin karena aku terlalu merindukan tubuhmu. Sudahlah, tidurlah! Besok aku ingin melihatmu bangun dengan senyum paling lebar karena puas."

"Tunggu sebentar!" Laras menarik kerah baju suaminya. "Cium bibirku, Kak, yang benar. Jangan hanya kening saja! Aku ingin seperti tadi malam, yang membuatku lupa bernapas."

Raka membungkuk dalam, mencium Laras dengan penuh nafsu, lidahnya bermain nakal. Kedua tangan meremas pinggul istrinya dengan lembut. Laras mendesah panjang di antara ciuman itu. Tubuhnya bergetar sebelum akhirnya tertidur pulas dengan senyum manis di bibirnya.

▪▪▪¤○°○¤▪▪▪

Pukul 7 pagi

"Sayang! Aku sudah pulang!" Suara Raka terdengar riang dari depan rumah.

Laras mengerjap-ngerjap, tubuhnya terasa berat, panas, dan nyeri, terutama pada pangkal paha. Lampu teras masih menyala terang, gorden masih tertutup rapat. Ia bangun dengan susah payah sambil mengaduh pelan.

'Tok tok tok!'

Raka lama menunggu, akhirnya menuju samping rumah dan mengetuk jendela.

'Tok tok tok!'

"Sayang! Bangunlah!"teriak Raka dari luar.

"Tunggu sebentar!"balas Laras dari dalam kamar.

Laras berjalan tertatih, lalu membuka jendela. "Mas, maaf. Aku baru bangun."

Raka berdiri di luar dengan seragam sekuriti sebuah perusahaan finance yang rapi, senyumnya lebar. "Kau biasanya tidak bangun sesiang ini. Apakah kau sakit? Wajahmu sangat pucat, Sayang."

Laras tersenyum malu-malu. Kenangan malam sebelumnya langsung membanjiri pikirannya. "Aku demam sedikit, Mas. Apakah kau tidak membawa kunci cadangan? Aku akan membukakan pintu depan, tetapi pelan-pelan saja, badanku masih sangat lemah."

"Kunci ketinggalan di rumah Ibu semalam saat mengantar obat sebelum berangkat kerja," jawab Raka dengan sorot mata khawatir.

Laras mengerutkan kening sejenak. Bukankah semalam Raka masuk menggunakan kunci itu? Namun ia segera menggeleng dalam hati. Ah, pasti ia sedang menggodaku. Pipinya memerah mengingat betapa liarnya "suaminya" semalam.

"Ayo ke depan, Mas. Aku akan membukakan pintunya," kata Laras sambil tersenyum genit.

Saat pintu depan terbuka, Raka langsung merangkul pinggang Laras dengan erat dan menarik tubuh istrinya ke dada. "Kok, jalanmu seperti itu. Apakah habis jatuh semalam? Kenapa kau tak menelpon? Aku pulang buat bisa antar ke dokter."

Laras tertawa kecil sambil bersandar manja di dada suaminya. "Sakit, sih, tetapi aku menyukainya. Kau sangat berbeda semalam, Mas. Sangat ganas, kuat, dan tidak pernah lelah. Aku sampai menangis meminta ampun, tetapi kau malah berkata 'baru permulaan'. Bau tubuhmu juga sangat harum, seperti kasturi bercampur asap dupa. Aku menjadi ketagihan."

Raka merasa heran dengan ucapan dan gelagat istrinya. Selain dilihat wajahnya pucat pasi, cara berjalan sang istri mengakang.

"Aku baru pulang pagi ini, Sayang. Kamu pasti mimpi basah, ya?"tanya Raka demi menyingkirkan rasa curiga.

Laras mengernyitkan dahi dan memcoba mencerna ucapan suaminya. Ia amati wajah dan tubuh Raka secara teliti.

Sama dengan yang semalam. Kenapa dia seperti tidak merasa? Batin Laras semakin penasaran.

Raka meraba kening Laras.

"Panas sekali," ucap Gito lalu merangkul sang istri untuk diajak masuk.

"Gak apa, Mas. Aku senang, kok."

"Sakit kok senang. Habis ini kita ke dokter."

"Aku kesiangan belum masak. Aku buatkan mie instan, ya?"

"Boleh kalo badan kamu masih kuat. Atau mampir ke warung sebelum ke dokter."

"Ya, deh."

"Sana, cuci muka dulu! Mas mau bikin kopi dulu, ngantuk."

Laras segera melangkah masuk kamar mandi, sedangkan Raka ke dapur menjerang air.

"Gak usah lama-lama di kamar mandi. Tambah sakit entar."

"Iya, Mas. Cuci muka doang ini."

Tak lama kemudian, Laras telah keluar dari toilet. Raka sedang mengaduk kopi saat sang istri memeluknya dari belakang. Tubuh Raka ikut menghangat tertempel badan Laras yang panas.

"Badan kamu panas banget, Sayang," ujar Raka sembari berbalik dan memeluk tubuh Laras. Sang istri merapatkan kepala ke dada Raka.

Bau keringatnya kok lain, ya? tanya Laras dalam hati sambil membuka kancing baju Raka lalu menciuminya kulit tubuh suaminya.

Kok aneh? Yang semalam bau kasturi gitu, ya, pikir Laras masih terbayang permainan mereka semalam yang begitu menggairahkan.

"Mas mau minum kopi dulu. Habis itu mandi. Tuh, Mas udah bikinin teh hangat untuk kamu."

"Makasih, ya, Mas."

Mereka mengurai pelukan. Laras duduk di kursi, sedangkan Raka berdiri. Mereka menikmati minuman hangat masing-masing. Kopi masih separo gelas, Raka segera beranjak ke kamar mandi. Ia tak ingin sang istri bertambah parah sakitnya.

Tak lama kemudian terdengar bunyi guyuran air dari dalam kamar mandi. Laras beranjak pelan ke kamar untuk mengambil baju sang suami. Area pangkal paha terasa nyeri buat berdiri apalagi berjalan.

Akhirnya, dengan langkah tertatih-tatih bisa mencapai kamar dan berhasil membawa sebuah kemeja lengan pendek dan celana jeans.

Laras kembali ke ruang makan dan duduk kembali. Ia melanjutkan meminum tehnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Raka telah keluar dengan badan lebih fresh. Bau sabun mandi menguar dari tubuh pria ini.

"Kok belum ganti baju, Sayang?" tanya Raka sambil duduk di samping sang istri. Ia lalu menyesap habis kopinya.

"Habisin teh dulu. Mumpung masih hangat. Aku ganti baju sekarang."

Laras segera bangkit dengan berpegangan pinggir kursi. Tampak ia meringis. Raka yang tak tega melihat istrinya kesakitan lalu menggendongnya. Sesampai kamar tubuh sang istri dibaringkan di atas pembaringan.

Nafsu kelakian Raka mendadak tersulut melihat ekspresi sang istri yang terlihat sangat menggairahkan.

"Dalam mimpi kamu, kita ngapain, Sayang?"tanya Raka sengaja memancing istrinya. Ia tersenyum miring. Tangannya turun perlahan ke pinggul Laras dan meremasnya dengan lebih dalam, jempolnya mengusap pelan. "Ceritakanlah, Sayang! Apa saja yang aku lakukan semalam hingga kau merasa ketagihan? Aku ingin mendengarnya lagi dari mulutmu yang manis ini."

Laras menggigit bibir bawahnya, suaranya menjadi rendah dan penuh godaan. "Kau mengangkatku seperti boneka. Mendorongku ke dinding sambil berbisik 'kau milikku sekarang'. Kemudian di sofa, kau membuatku duduk di pangkuanmu sambil bergerak pelan dan sangat dalam. Setelah itu di lantai kamar mandi, air shower menyala, kau berkata 'biar lebih basah dan enak'. Aku tidak sanggup berdiri lagi, Mas. Kau hanya tertawa dan berkata 'satu ronde lagi, Sayang.'"

Raka tertawa rendah di telinga Laras. Napasnya panas dan sengaja meniup daun telinganya. "Kalau begitu, kita harus mengulanginya lagi? Kali ini aku ingin yang lebih nakal. Apakah kau berani? Atau kau ingin aku mengajari cara baru yang akan membuatmu berteriak-teriak?"

Laras terkikik meskipun tubuhnya terasa semakin lemas. "Kau ini sangat mesum hari ini, Mas. Aku sedang sakit, tetapi kau malah terus menggodaku. Bau tubuhmu sekarang berbeda, ya? Semalam lebih harum dan menggoda."

Raka menunduk, mengangkat dagu Laras dengan satu jari, lalu menatap matanya dalam-dalam. "Mungkin karena semalam aku sedang dalam 'mode khusus' dalam mimpi. Apakah kau ingin merasakan lagi?"

Laras tersipu, tetapi matanya berkilat nakal. "Boleh, tetapi pelan-pelan ya, Mas. Badanku masih sangat lemah. Namun jika kau berjanji seperti semalam, aku siap saja. Kau telah membuatku ketagihan, tahu?"

"Pelan-pelan?" goda Raka sambil tertawa serak. Tangannya merayap ke bawah punggung Laras. "Semalam kau pasti meminta terlalu kencang. Bibirmu mengatakan capek, tetapi tubuhmu malah semakin melingkar erat."

Laras memukul pelan dada suaminya, tetapi tangannya tetap berada di sana. "Sst! Jangan selalu mengingatkan, aku malu. Tetapi, ya, aku menyukainya. Hari ini kau sangat berbeda, Mas. Lebih mesum, lebih perhatian, dan lebih kuat. Aku senang sekali."