Ficool

Chapter 11 - Bab 10:

Dunia terasa seperti berputar dalam poros yang salah bagi Hidder. Kesadarannya timbul tenggelam di antara kegelapan pekat dan kilasan api oranye yang masih membekas di retinanya. Suara deru api yang melahap Ancient Treant perlahan memudar, digantikan oleh suara seretan kasar yang berirama dan napas pendek seorang gadis yang terdengar sangat kelelahan.

Stamina: 105/2,700

Setiap kali tubuh Hidder menghantam akar pohon yang menonjol di tanah, angka staminanya berkedip merah—menurun satu atau dua poin karena guncangan tersebut memperparah pendarahan internalnya.

Stamina: 103/2,700

"Jangan... mati... dulu... Manusia sialan..." Bastet menggeram di antara gigi yang terkatup. Keringat membanjiri wajahnya, membuat rambutnya menempel di dahi. Tangannya yang kecil mencengkeram erat kerah jubah Hidder, menarik beban tubuh pria dewasa itu melintasi tanah yang masih panas.

Bastet tidak tahu mengapa dia melakukan ini. Logika predatornya berteriak agar dia mengambil Dagger di pinggang Hidder, menggorok leher pria itu, dan lari sejauh mungkin. Namun, setiap kali dia melihat ke arah hutan yang membara di belakang mereka, dia menyadari bahwa tanpanya, dia hanya akan menjadi mangsa bagi pemulung yang lebih kuat.

Setelah hampir satu jam menyeret Hidder melewati kabut asap yang menyesakkan, Bastet menemukan sebuah celah sempit di bawah formasi batuan besar yang tertutup oleh tanaman rambat layu. Ia menyentakkan tubuh Hidder ke dalam celah itu dengan sisa tenaganya, lalu ambruk di sampingnya.

Stamina Hidder: 85/2,700 (Kondisi Kritis: Dehidrasi & Kelelahan Ekstrem)

Hening sejenak. Hanya ada suara tetesan air dari langit-langit gua dan suara napas mereka yang tidak teratur. Bastet menoleh ke arah Hidder. Pria itu pucat pasi. Kulitnya terasa panas, tanda bahwa suhu tubuhnya belum turun setelah memaksakan panas gesekan pada belatinya tadi.

Bastet mengulurkan tangan, menyentuh gagang Dagger milik Hidder yang masih tersarung. Logam belati itu masih terasa hangat. Ia menariknya perlahan. Bilahnya pendek, namun berat dan memiliki keseimbangan yang sempurna. Bastet bisa melihat pola guratan halus pada logamnya—material yang jelas bukan dari dunia bawah biasa.

"Aku bisa melakukannya sekarang," gumam Bastet pada dirinya sendiri, menempelkan ujung belati itu ke tenggorokan Hidder yang berdenyut lemah. "Satu tekanan kecil, dan perjalananku bersamamu berakhir."

Mata Hidder terbuka sedikit, namun tidak ada fokus di sana. Ia sedang mengigau. "Api... belum... cukup..." bisiknya serak.

Bastet tertegun. Di ambang kematiannya, pria ini masih memikirkan pertempuran. Ia melihat ke arah pergelangan tangan Hidder yang dipenuhi bekas luka lama, lalu ke arah wajahnya yang keras. Ada sesuatu yang sangat aneh pada pria ini—sesuatu yang lebih dari sekadar "penculik" atau "manusia kuat".

"Kenapa kau tidak melepaskanku saat kau tahu kau akan pingsan?" tanya Bastet, meski ia tahu tidak akan mendapat jawaban.

Tiba-tiba, suara kepakan sayap terdengar dari luar gua.

Krak! Krak!

Itu adalah Ash Vulture—burung pemakan bangkai yang memiliki paruh tajam seperti silet. Mereka adalah pemulung yang tertarik pada bau daging setengah matang dan energi kehidupan yang merosot. Biasanya, mereka terlalu takut pada Hidder, tapi sekarang mereka bisa merasakan bahwa predator di dalam gua itu sudah tidak memiliki taring.

Bastet menggenggam Dagger Hidder dengan kedua tangannya. Ia tidak ahli menggunakan belati, tapi ia tidak punya pilihan. Jika burung-burung itu masuk, mereka akan mencabik Hidder terlebih dahulu sebelum beralih padanya.

"Tetaplah di sana, jangan mati dulu," desis Bastet pada Hidder yang tak sadar.

Salah satu Ash Vulture berukuran sebesar serigala mendarat di depan celah gua. Ia memiringkan kepalanya, mata kuningnya menatap tajam ke arah Bastet. Dengan pekikan melengking, burung itu menerjang masuk.

Bastet berteriak, mengayunkan belati Hidder dengan sembarangan. Namun, berat senjata itu dan ketajamannya yang luar biasa membuat gerakan sembarangan itu menjadi mematikan. Belati itu membelah udara dengan suara desingan rendah, memotong salah satu sayap burung tersebut.

Darah hitam muncrat ke wajah Bastet. Burung itu mundur sambil menjerit kesakitan, namun kawan-kawannya di luar mulai berkumpul.

Di belakangnya, Hidder mengerang. Status staminanya berkedip dalam visinya yang gelap.

Stamina: 60/2,700

Dalam ketidaksadarannya, sistem Hidder memberikan peringatan bahaya tingkat tinggi. Secara otomatis, tubuh Hidder mencoba menarik energi dari cadangan terdalamnya. Detak jantungnya meningkat secara abnormal.

"P-panas!" Bastet terkejut saat merasakan suhu tubuh Hidder melonjak drastis.

Ia teringat sesuatu. Di tas kecil miliknya yang sempat ia selamatkan, ada beberapa lembar daun Frost-nip. Ia segera mengunyah daun pahit itu hingga menjadi bubur, lalu menempelkannya ke dahi dan dada Hidder. Ini adalah pengobatan darurat untuk mendinginkan suhu tubuh akibat penggunaan elemen api yang berlebihan.

Perlahan, napas Hidder mulai stabil. Angka staminanya berhenti merosot dan mulai naik secara mikroskopis.

Stamina: 61... 62... 63...

Bastet duduk bersandar di dinding gua, masih memegang belati Hidder dengan tangan gemetar. Ia menatap ke luar gua, di mana burung-burung pemakan bangkai masih mengintai, menunggu api di dalam hutan padam sepenuhnya.

"Aku menyelamatkanmu sekali, Manusia," bisik Bastet sambil menyeka darah hitam dari pipinya. "Saat kau bangun nanti, kau akan berutang lebih dari sekadar nyawa padaku."

Malam mulai jatuh di atas hutan yang kini hanya menyisakan bara dan abu. Di dalam gua yang sempit itu, seorang tawanan dan penculiknya terjebak dalam sumpah darah yang tak terucapkan—sebuah aliansi yang lahir dari abu sang Forest Guardian.

More Chapters