Ficool

Chapter 13 - Bab 12:

Portal cahaya di hadapan Hidder tidak memberikan rasa hangat yang menenangkan, melainkan sebuah tarikan dingin yang seolah mengisap sumsum tulangnya. Saat pandangannya kembali stabil, ia tidak lagi mencium aroma kayu terbakar dari wilayah Ancient Treant. Sebaliknya, udara di sekitarnya mendadak menjadi apek, dingin, dan dipenuhi oleh bau lembap khas bebatuan yang sudah ribuan tahun tidak tersentuh cahaya matahari.

Hidder berdiri di sebuah persimpangan koridor batu yang luas. Dinding-dindingnya terbuat dari obsidian hitam yang mengilat, memantulkan bayangan dirinya dan Bastet dalam bentuk yang terdistorsi. Di atas kepala mereka, sebuah notifikasi sistem muncul dengan warna biru pucat, seolah mengejek kesunyian tempat itu.

[Quest Lantai 3 Tutorial: Labirin Kehendak]

Detail: Pilihlah jalan yang benar antara kiri atau kanan. Selesaikan labirin ini untuk naik ke Lantai 4 Tutorial.

Notes: Hati-hati, monster di tempat ini tidak mengenal rasa kenyang.

Kondisi Kegagalan: Mati atau kehilangan arah.

Batas Waktu: Tiada.

"Tiada batas waktu?" Bastet bergumam, telinga hewaninya bergerak-gerak gelisah. Ia mengendus udara dengan hidung yang berkerut. "Tempat ini... baunya aneh. Terlalu banyak sisa-sisa energi yang membusuk."

Hidder tidak langsung menjawab. Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan. Dengan Stamina 9,000, detak jantungnya kini terasa sangat stabil dan kuat, seolah-olah ia bisa berlari sejauh ribuan kilometer tanpa perlu berhenti untuk menarik napas. Namun, ia tidak membiarkan rasa kuat itu membuatnya ceroboh. Ia memejamkan mata sejenak, mengaktifkan persepsinya yang telah melonjak tajam.

[Perception 35 diaktifkan]

Dunia di mata Hidder berubah. Ia tidak lagi hanya melihat koridor batu hitam. Ia mulai merasakan getaran halus di udara. Ia bisa merasakan aliran mana yang berputar-putar di dinding labirin, dan yang lebih penting, ia merasakan keberadaan makhluk-makhluk yang bersembunyi di balik kegelapan—jumlahnya ratusan, dan mereka sedang menunggu.

"Ayo bergerak," ucap Hidder singkat. Suaranya kini terdengar lebih berwibawa, efek dari Charisma -7 yang mulai menghilangkan tekanan aura mengerikan yang dulu selalu menyelimutinya.

Di sisi lain labirin yang sama, sekitar satu kilometer dari posisi Hidder, seorang pria bernama Raka tertawa lebar. Ia baru saja menebas seekor Shadow Crawler—monster berbentuk serangga tanpa mata yang kulitnya sekeras cermin.

"Gila! Monster ini memberikan EXP yang sangat besar!" Raka berteriak kepada dua temannya yang berdiri di belakangnya. "Aku baru saja naik ke level 5 hanya dalam waktu tiga puluh menit! Jika kita tetap di sini selama beberapa hari, kita bisa keluar dari tutorial ini dengan level 15 atau bahkan 20!"

"Tapi Raka, bukankah kita harus segera menemukan jalan keluar?" salah satu temannya bertanya dengan ragu. "Quest ini tidak punya batas waktu, bukankah itu mencurigakan?"

"Bodoh!" Raka memaki sambil meludah ke lantai obsidian. "Justru karena tidak ada batas waktu, perusahaan game ini memberikan kita kesempatan untuk grinding! Lihat catatan di dinding ini."

Raka menunjuk ke sebuah coretan di dinding yang dibuat oleh pemain atau ras terdahulu.

'Kekuatan ini luar biasa... Aku meminta lebih banyak musuh, dan Menara memberikannya. Aku merasa seperti Dewa.'

"Lihat? Bahkan orang sebelum kita menyadari betapa hebatnya tempat ini untuk mencari kekuatan," ujar Raka dengan mata yang berkilat serakah. "Ayo, cari monster lagi. Semakin banyak yang kita bunuh, semakin kuat kita saat masuk ke Tower of Greed yang sesungguhnya!"

Mereka tidak menyadari satu hal. Setiap kali Raka membunuh seekor Shadow Crawler, monster yang respawn di kegelapan berikutnya memiliki ukuran yang sedikit lebih besar, dengan cakar yang sedikit lebih tajam, dan aura yang jauh lebih pekat. Tower tidak hanya memberikan mereka mangsa; Tower sedang memberi makan keserakahan mereka hingga mereka terlalu berat untuk melarikan diri.

Hidder dan Bastet sampai di persimpangan pertama. Di sana, terdapat sebuah meja batu kecil dengan secarik kertas usang di atasnya. Hidder mengambil kertas itu.

'Jalan ke kiri memberikan harta, jalan ke kanan memberikan pengetahuan. Tapi bagi mereka yang tidak pernah puas, kedua jalan itu hanya akan berakhir pada liang kubur yang sama.'

"Bastet, apa kau merasakan sesuatu?" tanya Hidder sambil membuang kertas itu.

"Monster-monster itu..." Bastet berbisik, wajahnya pucat. "Mereka berubah, Hidder. Energi yang tadi kurasakan mulai memadat. Mereka tidak lagi hanya sekadar serangga... mereka mulai meniru pola energi kita."

Hidder melirik indikator staminanya.

Stamina: 8,950/9,000

Penggunaan persepsi secara terus-menerus mulai menguras energinya, meski dalam skala yang sangat kecil bagi kapasitasnya yang sekarang. Tiba-tiba, telinga Hidder menangkap suara jeritan dari arah koridor yang jauh di sebelah kiri mereka. Itu adalah suara manusia. Jeritan itu tidak berlangsung lama, hanya sebuah teriakan singkat yang diikuti oleh suara tulang yang remuk dengan cara yang sangat menjijikkan.

Hidder segera bergerak ke arah suara itu dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.

[Agility 31 - Sprint Aktif]

Dalam hitungan detik, ia sampai di sebuah aula besar. Di sana, ia melihat pemandangan yang mengerikan. Pria bernama Raka tadi kini tidak lagi tertawa. Tubuhnya tergantung di udara, dicengkeram oleh seekor Stalker of the Abyss—evolusi dari monster yang sebelumnya ia bantai untuk EXP. Monster itu kini setinggi tiga meter, dengan kulit yang tidak lagi mengilat, melainkan menyerap cahaya di sekitarnya.

Teman-teman Raka sudah menjadi onggokan daging di lantai. Raka sendiri masih bernapas, matanya melotot menatap Hidder, memohon pertolongan yang tidak akan pernah datang.

"Kenapa... levelnya... tidak masuk akal..." Raka merintih sebelum monster itu menutup rahangnya yang besar di atas kepala pria itu.

Krak.

Hidder berdiri diam, melihat monster itu mulai mengalihkan perhatian padanya. Monster itu kini memiliki level yang jauh melampaui level rata-rata pemain di lantai 3. Inilah jebakan Tower. Mereka yang mencari kekuatan dengan membunuh monster tanpa henti di sini sebenarnya sedang menciptakan algojo mereka sendiri.

"Keserakahan memang mematikan," gumam Hidder. Ia menarik Dagger-nya. Bilahnya berkilat meski di dalam kegelapan yang pekat.

Monster itu menerjang dengan kecepatan yang luar biasa, namun bagi Hidder yang memiliki Dexterity 33 dan Perception 35, gerakan itu terasa seperti gerakan lambat di dalam air. Hidder hanya bergeser sedikit ke samping, membiarkan monster itu lewat, lalu dengan satu gerakan yang efisien, ia menyayunkan belatinya ke arah sendi kaki makhluk itu.

Srak!

Potongan daging hitam terjatuh. Hidder tidak merasa perlu menggunakan Flash Step. Kekuatan fisiknya yang baru sudah cukup untuk menangani ini. Namun, ia menyadari sesuatu. Begitu ia melukai monster itu, dari lubang ventilasi di langit-langit, tiga monster serupa mulai merayap turun. Mereka berevolusi lebih cepat dari yang ia duga.

"Kita tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi," ucap Hidder kepada Bastet yang baru saja menyusulnya. "Semakin banyak kita membunuh, semakin cepat tempat ini menyesuaikan kekuatannya untuk menghancurkan kita."

"Lalu bagaimana dengan jalan keluarnya?" tanya Bastet panik.

Hidder melihat ke arah dinding-dinding obsidian. Dengan persepsinya, ia menyadari bahwa cahaya yang memantul di dinding bukan sekadar pantulan. Itu adalah kode arah. Catatan-catatan kuno yang ia temukan sebelumnya bukan hanya berisi keluhan keserakahan, tapi juga peringatan tentang bagaimana jalan keluar hanya akan muncul bagi mereka yang berjalan dengan niat minimalis—hanya membunuh saat perlu, dan bergerak maju tanpa tergoda oleh angka EXP.

Hidder memungut sebuah buku harian kecil di dekat mayat Raka. Ia membuka halaman terakhirnya.

'Tower ini tahu apa yang paling kita inginkan. Ia memberikan kita kemenangan palsu agar kita tidak pernah ingin keluar. Jika kau membaca ini, larilah. Jangan ambil EXP lagi. Larilah sebelum kau menjadi bagian dari dinding ini.'

Hidder menutup buku itu dan menatap ke arah koridor yang gelap di sebelah kanan. Ia mulai memahami pola pikir Administrasi Tower. Mereka tidak memaksa siapapun untuk mati. Mereka hanya menyediakan prasmanan kekuatan yang beracun, dan membiarkan para pemain yang haus akan status untuk meracuni diri mereka sendiri.

"Jangan serang kecuali mereka menghalangi jalan kita secara langsung," perintah Hidder.

Mereka mulai berlari. Setiap kali seekor monster muncul, Hidder hanya menggunakan gerakan defensif untuk menjatuhkan atau menghindar, tanpa memberikan serangan mematikan yang akan memicu respawn monster yang lebih kuat.

Stamina: 8,700/9,000

Lantai 3 Tutorial ini adalah ujian mental pertama bagi Hidder. Di dunia "game" asalnya, pemain didorong untuk menjadi sekuat mungkin. Namun di realitas Tower ini, menjadi terlalu kuat di waktu yang salah justru adalah hukuman mati.

"Hidder, lihat! Di sana ada cahaya!" Bastet menunjuk ke sebuah pintu besar di ujung labirin yang mulai terbuka saat mereka mendekat. Pintu itu hanya akan terbuka bagi mereka yang berhasil mencapai titik akhir dengan peningkatan level minimal di lantai tersebut.

Hidder menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di kegelapan labirin, ia bisa mendengar suara ribuan monster yang terus tumbuh dan berevolusi, menunggu pemain serakah berikutnya yang mengira mereka sedang menguasai permainan, padahal mereka sedang digiring menuju kebinasaan.

"Ini bukan game," bisik Hidder pada dirinya sendiri saat ia melangkah melewati pintu menuju lantai berikutnya. "Ini adalah seleksi bagi mereka yang tahu kapan harus berhenti."

More Chapters