Portal cahaya dari Lantai 4 tidak membawa mereka ke sebuah ruangan tertutup, melainkan melemparkan mereka ke sebuah ketinggian yang pusing. Saat penglihatan Hidder kembali fokus, ia menyadari bahwa ia tengah berdiri di atas sebuah podium batu obsidian yang melayang ribuan meter di atas tanah. Di bawahnya, sebuah arena koloseum raksasa terbentang luas, begitu masif hingga ujungnya menghilang ditelan kabut keemasan.
Langit di Lantai 5 Tutorial ini tidak lagi gelap. Seluruh cakrawala berwarna emas metalik, dipenuhi oleh teks sistem yang berjalan cepat seperti aliran kode yang tidak pernah berhenti. Di sekeliling mereka, ribuan podium serupa melayang, masing-masing membawa kelompok pemain dari berbagai ras yang berhasil selamat dari labirin Lantai 3. Hidder merasakan berat dari senjata barunya, Obsidian Sovereign, yang tersampir di punggungnya. Pedang hitam itu terasa berdenyut, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri yang haus akan darah pertama di arena ini.
"Ini adalah Arena Seleksi," bisik Elowen dengan nada getir. Tangannya yang memegang Staff of Flowing Mana bergetar pelan. "Aku pernah mendengar legenda tentang ini di duniaku. Ini bukan lagi tempat untuk belajar atau berlatih. Ini adalah tempat untuk dibuang."
Bastet tidak bicara. Ia merendahkan tubuhnya, insting predatornya berteriak kencang hingga telinganya bergerak-gerak gelisah. Armor kulit Wind-Walker yang dikenakannya berderit saat ia bersiap untuk melompat kapan saja. Di seberang mereka, pada podium-podium lain, ribuan pemain tampak panik. Ada yang menangis, ada yang saling berpelukan, dan ada pula yang menggenggam senjata mereka dengan tangan yang gemetar hebat.
Tiba-tiba, sebuah suara yang agung, tenang, dan sangat manusiawi bergema dari segala penjuru langit. Suara ini berbeda dengan suara sistem yang selama ini terdengar seperti mesin tanpa jiwa.
"Para pencari keajaiban... selamat datang di penyaringan terakhir."
Suara itu membuat ribuan pemain di arena terdiam seketika. Atmosfer di sana mendadak menjadi sangat berat, seolah-olah gravitasi telah meningkat berkali-kali lipat.
"Hanya sepuluh persen dari kalian yang diizinkan untuk melangkah lebih jauh. Menara ini tidak butuh jumlah, ia butuh kualitas. Buktikan bahwa kalian memiliki hak untuk menjadi serakah di hadapan dunia."
Seketika, teks sistem di langit berubah menjadi warna merah darah yang mengerikan.
Quest Final Tutorial: Seleksi Abyssal
Detail: Bertahanlah dari gelombang Abyssal Knight hingga akhir.
Catatan: Kelompok yang masih berdiri saat fajar menyingsing akan dinyatakan lulus.
Peringatan: Kematian di sini adalah permanen.
Dari tengah arena yang kosong, tanah bebatuan itu retak dengan suara gemuruh. Ratusan, kemudian ribuan makhluk berbaju zirah hitam legam muncul dari dalam tanah seperti bangkit dari liang lahat. Mereka adalah Abyssal Knight—monster tanpa tubuh di dalam zirah setinggi dua meter, masing-masing memegang pedang besar yang mengeluarkan uap hitam pekat.
"Mereka datang!" teriak seorang pemain dari podium sebelah.
Pertempuran pecah dalam sekejap. Podium-podium melayang itu perlahan turun ke lantai arena, menyatukan ribuan pemain dalam satu medan tempur yang sangat kacau. Suara dentingan logam, teriakan kesakitan, dan ledakan sihir mulai memenuhi udara.
"Elowen, perisai! Bastet, jangan terlalu jauh dari jangkauan sihir!" perintah Hidder dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Ia menghunus Obsidian Sovereign. Pedang hitam itu mengeluarkan suara mendenging yang tajam saat membelah udara, seolah memprotes karena terlalu lama disimpan. Seekor Abyssal Knight menerjang Hidder dengan serangan vertikal yang mampu membelah batu besar. Hidder tidak menghindar. Ia justru maju selangkah dan mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas dalam satu gerakan kuat yang didorong oleh statistik kekuatannya yang luar biasa.
Benturan logam itu menciptakan gelombang kejut yang menghempaskan pemain-pemain di sekitarnya. Zirah monster itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi serpihan besi hitam di bawah kekuatan fisik Hidder. Hidder tidak berhenti di situ. Ia bergerak seperti badai hitam, menebas apa pun yang menghalangi jalannya dengan efisiensi yang menakutkan.
Di belakangnya, Elowen merapalkan mantra dengan kecepatan yang mengagumkan, dibantu oleh stabilitas mana dari tongkat barunya. Cahaya biru menciptakan perisai transparan yang menangkis anak panah hitam dari kejauhan, sementara Bastet bergerak seperti bayangan di antara kaki-kaki raksasa zirah tersebut, memotong sendi-sendi mereka dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.
Namun, jumlah monster itu seolah tidak terbatas. Di tengah kekacauan itu, seorang pemain manusia dari kelompok lain berteriak saat melihat cara Hidder bertarung. "Lihat pria itu! Dia membantai mereka seperti memotong rumput! Bagaimana mungkin ada pemain yang memiliki kekuatan seperti itu di tutorial?"
Perhatian para pemain lain mulai tertuju pada tim Hidder. Mereka melihat seorang pria yang bertarung tanpa rasa takut, seolah-olah ia tidak peduli pada keselamatannya sendiri. Dan ketakutan mereka terkonfirmasi saat sebuah pedang besar dari monster yang menyelinap di belakang berhasil menembus pertahanan Hidder dan menebas bahu kirinya dengan sangat dalam.
"Hidder!" Bastet menjerit, hendak berlari menolong meskipun ia sendiri sedang terkepung.
Darah segar menyembur, membasahi tanah arena yang berdebu. Luka itu sangat parah, hampir memutus otot bahu Hidder hingga tulangnya terlihat. Para pemain di sekitar yang melihat kejadian itu meringis, banyak yang berpikir bahwa sang "pahlawan" baru saja menemui ajalnya di tengah harapan yang baru saja mereka bangun.
Namun, Hidder bahkan tidak mengerang. Wajahnya tetap datar seolah-olah luka itu hanya coretan tinta di kulitnya. Ia secara sadar mengaktifkan Regeneration S Rank.
Seketika, aura hijau yang sangat pekat dan murni menyelimuti tubuhnya. Di depan mata ribuan orang yang menonton dengan mulut ternganga, daging yang koyak itu merayap kembali satu sama lain. Pembuluh darah yang putus menyambung secara instan, dan kulit yang baru tumbuh menutupi bekas luka itu tanpa sisa hanya dalam waktu satu detik.
Hidder berdiri tegak kembali, memutar bahu kirinya yang baru saja pulih sepenuhnya untuk memastikan mobilitasnya. Ia menatap tiga Abyssal Knight yang mengepungnya, lalu menyeka noda darah di pipinya dengan punggung tangan.
"Hanya ini?" gumam Hidder. Suaranya rendah, namun di tengah keheningan syok yang melanda area sekitarnya, kata-katanya terdengar jelas. "Apa hanya segini kemampuan Abyssal Knight yang kalian banggakan?"
Ia mendengus pelan, sebuah ejekan dingin yang ditujukan langsung pada sistem atau siapa pun yang merancang permainan maut ini. "Tutorial ini benar-benar membosankan."
"Apa-apaan itu...?" gumam seorang pemain yang bersembunyi di balik tameng besar tidak jauh dari sana. "Dia baru saja terluka parah... dagingnya menyatu kembali seperti sihir tingkat tinggi. Dia bukan manusia, dia monster!"
Elowen yang berada di dekatnya pun sempat terpaku sesaat. Meskipun ia yang membantu ritual tersebut, melihat 1,500 Recovery per detik bekerja secara langsung adalah pemandangan yang melampaui segala teori sihir yang pernah ia pelajari di dunianya. Regenerasi itu terlalu cepat, terlalu efisien, dan terlalu mengerikan untuk disaksikan.
"Jangan hanya menonton! Fokus pada musuh di depan kalian jika kalian ingin tetap hidup!" suara Hidder menggelegar, menyadarkan rekan timnya dan pemain lain yang terperangah.
Pertempuran berlanjut selama berjam-jam yang melelahkan. Arena itu kini dipenuhi oleh tumpukan zirah hitam dan mayat para pemain yang gagal bertahan. Hidder berdiri di puncak tumpukan monster, tubuhnya mandi darah. Setiap kali ada serangan yang berhasil menyerempet atau melukainya, luka itu akan hilang dalam hitungan detik sebelum sempat mengeluarkan banyak darah. Keberadaannya di medan tempur memberikan horor psikologis bagi pemain lain; mereka menyadari bahwa selama pria itu memiliki mana, dia tidak bisa dibunuh.
Saat monster terakhir di arena itu akhirnya hancur menjadi debu, cahaya matahari fajar mulai muncul di cakrawala emas yang dingin. Cahaya putih yang menyilaukan turun dari langit, mendarat tepat di pusat koloseum. Dari balik cahaya itu, muncul sesosok makhluk yang terlihat sangat suci. Ia mengenakan jubah putih bersih yang terbuat dari jalinan cahaya, wajahnya sempurna tanpa gender, dengan sepasang sayap cahaya yang terlipat di punggungnya. Inilah The Administrator.
Aura damai dan suci tiba-tiba menyebar, secara paksa menekan bau amis darah dan rasa trauma yang menyelimuti arena tersebut. Pemandangan ini terasa sangat munafik di mata Hidder.
"Selamat, para penyintas," suara itu terdengar begitu merdu hingga membuat beberapa pemain jatuh berlutut karena terpesona. "Kalian telah membuktikan bahwa kalian layak untuk melangkah ke Lantai 1."
Bastet, yang napasnya masih tersengal dan tubuhnya dipenuhi goresan luka kecil, melangkah maju dengan amarah yang meluap. "Layak? Kau menyebut pembantaian ini sebuah kelayakan?! Kalian menculik kami! Kalian membawa kami dari dunia kami hanya untuk menjadi tontonan di neraka ini! Kalian adalah iblis!"
Administrator itu menatap Bastet dengan pandangan yang penuh rasa kasihan, namun tetap terasa merendahkan. "Menculik? Oh, anak kecil yang malang. Menara ini tidak pernah menculik siapa pun secara paksa."
Ia mengangkat tangannya, dan tiba-tiba sebuah proyeksi memori kolektif muncul di udara, menampilkan momen-momen terakhir para pemain sebelum mereka masuk ke Tower. Di sana terlihat pemandangan yang mengejutkan: orang-orang yang sedang sekarat karena kemiskinan dan memohon kesempatan hidup, para penguasa yang menginginkan kekuatan untuk menindas saingannya, bahkan para tetua ras Bastet yang melakukan ritual kuno untuk memanggil "Berkat Menara" demi kemakmuran ras mereka sendiri.
"Menara ini hanyalah sebuah tawaran," lanjut Administrator dengan senyum tipis. "Pintunya terbuka bagi siapa saja yang memiliki Keserakahan di hatinya. Kalian semua melangkah masuk ke gerbang itu atas kemauan kalian sendiri saat kalian mendengar bisikan di dalam jiwa kalian: Segalanya ada di puncak."
Suasana arena menjadi sunyi senyap. Kebenaran itu menghantam mental para pemain lebih keras daripada senjata apa pun. Hidder terdiam, ia merenung dalam-dalam. Apakah ia di sini juga karena bagian dari dirinya merindukan sesuatu yang lebih dari kehidupan lamanya yang datar? Apakah ia juga digerakkan oleh keserakahan yang sama?
"Kalian menyebut kami jahat?" Administrator itu tertawa pelan, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang dingin. "Kami hanya menyediakan jalan. Kalian adalah pelanggan yang membayar dengan nyawa kalian sendiri. Jika kalian ingin menyalahkan seseorang, lihatlah ke dalam cermin. Salahkan hati kalian yang tidak pernah merasa cukup."
Penyaringan telah selesai. Lencana perak berbentuk menara muncul di dada Hidder, Bastet, dan Elowen secara otomatis.
Item Diperoleh: Lencana Penyintas Sejati
Cahaya putih mulai menelan tubuh mereka satu per satu. Hidder menatap kedua rekannya. Wajah Bastet tampak hancur karena kenyataan bahwa bangsanya sendiri yang telah "menjual" masa depan mereka pada menara ini. Elowen tertunduk lesu, menyadari ambisi dunianya sendiri yang membawanya ke sini.
Saat pemandangan koloseum mulai memudar, Hidder menggenggam erat Obsidian Sovereign. Jika keserakahan adalah motor dari tempat ini, maka ia akan menjadi yang paling serakah di antara mereka semua. Bukan untuk emas atau kekuasaan kosong, tapi untuk mendaki hingga ke puncak dan menghancurkan siapa pun yang merasa berhak mempermainkan takdir makhluk hidup.
"Ayo pergi," ucap Hidder pelan saat tubuhnya mulai berubah menjadi partikel cahaya. "Tutorial sudah berakhir. Permainan yang sebenarnya baru saja dimulai."
Mereka menghilang, meninggalkan ribuan mayat pemain lain yang kini menyadari bahwa mereka mati bukan karena kekejaman Tower, melainkan karena pilihan mereka sendiri yang tidak pernah puas.
