Kegelapan di dalam Lonely Forest bukan sekadar ketiadaan cahaya; itu adalah kegelapan yang terasa hidup, seolah-olah pepohonan raksasa di sana sengaja menyerap setiap rona warna dari dunia untuk memperkuat kesan isolasi bagi para pemain yang terjebak di dalamnya. Udara lembap dan dingin memenuhi paru-paru Hidder saat ia mendarat dengan senyap di atas dahan pohon yang tertutup lumut tebal. Di punggung tangannya, simbol tikus emas masih bersinar redup, sebuah tanda yang di hutan ini setara dengan aroma darah segar bagi kawanan predator.
"Satu... dua... tiga..." Hidder menghitung dalam hati, napasnya diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan getaran sekecil pun pada dedaunan di sekitarnya.
Di bawah sana, kelima pemain yang tadi mengepungnya masih kebingungan. Mereka berdiri di titik di mana Hidder berada beberapa detik lalu, memegang senjata mereka dengan tangan yang gemetar. Ada campuran antara keserakahan yang meluap-luap dan ketakutan yang mulai merayap di mata mereka saat menyadari target mereka menghilang begitu saja. Mereka adalah prototipe pemain amatir; tipe orang yang hanya mengandalkan jumlah untuk menutupi ketidaktajaman individu.
"Ke mana dia pergi?!" salah satu dari mereka, seorang pria dengan tombak kayu, berteriak frustrasi ke arah kegelapan. "Dia baru saja berdiri di sini! Sial, rekor tercepat itu pasti karena dia punya skill teleportasi yang curang!"
Hidder menyeringai di balik topeng kayu konyolnya. Ia tidak membuang waktu. Dengan cepat ia mengaktifkan kemampuan berpindah tempatnya. Tubuhnya seolah membelah udara, muncul seketika di titik buta formasi mereka.
Hidder merasakan staminanya terkuras saat ia melakukan gerakan instan tersebut. Ia tidak berhenti. Ia segera memicu kemampuan mata kanannya untuk membedah titik lemah musuh. Setiap kali iris emasnya berputar untuk menganalisis dan beradaptasi dengan pola serangan baru, ia bisa merasakan energi fisiknya tersedot secara konsisten, seolah-olah matanya adalah mesin haus yang menuntut bayaran mahal untuk setiap informasi yang diberikan.
Dunia seolah melambat di mata kanan Hidder. Ia mendarat tepat di tengah-tengah mereka. Sebelum mereka sempat memutar tubuh, Hidder mengayunkan belati besi miliknya. Ia tidak mengincar area mematikan; membunuh di awal misi hanya akan membuang energi secara sia-sia. Ia mengincar tendon pergelangan kaki dan otot lengan mereka—titik yang akan melumpuhkan mobilitas mereka secara total.
SLASH! SLASH! SLASH!
Dalam tiga gerakan secepat kilat, tiga orang dari mereka jatuh tersungkur, memegangi kaki mereka yang bersimbah darah. Pekikan kesakitan memecah keheningan hutan.
Dua orang yang tersisa mencoba menyerang secara bersamaan karena panik. Si pembawa tombak menusukkan senjatanya ke arah dada Hidder, sementara seorang lagi mencoba memukul kepalanya dengan gada kayu. Hidder tidak menghindar jauh kali ini. Ia ingin menguji ketahanan tubuhnya di level baru ini sembari tetap waspada.
Hantaman gada kayu mengenai bahu kirinya dengan keras. Rasa sakit yang tumpul menjalar, dan Hidder merasakan HP-nya berkurang secara nyata. Serangan itu murni mengenai fisiknya tanpa ada pengurangan kekuatan sedikit pun. Ia mendesis pelan, namun tetap berdiri kokoh. Ia membiarkan serangan kedua dari tombak menggores lengannya, lalu serangan ketiga menghantam samping tubuhnya. Rasa perih mulai menumpuk, dan setiap kali ia menggunakan matanya untuk menahan rasa sakit dan menganalisis dampaknya, staminanya terus merosot dengan ritme yang stabil dan berat.
Namun, tepat saat pria bertombak itu mencoba melakukan serangan keempat, Hidder merasakan sebuah perubahan pada atmosfer di sekitar tubuhnya. Adaptasi yang ia bangun selama tiga serangan menyakitkan tadi akhirnya mencapai titik aktivasi.
Ketika tombak itu kembali meluncur, hantamannya tidak lagi terasa semematikan sebelumnya. Ada lapisan pertahanan tak kasat mata yang mulai meredam dampak serangan tersebut. Reduksi kekuatan musuh mulai bekerja, memberikan ruang bagi Hidder untuk melakukan serangan balik yang menentukan.
Dengan satu gerakan cepat, Hidder muncul tepat di belakang pria terakhir dan melumpuhkannya dalam sekejap. Kelima orang itu kini terkapar, tak berdaya, membiarkan poin mereka terserap habis oleh sistem menuju saldo Hidder.
"Masih sangat jauh dari target," gumam Hidder sembari menatap timer raksasa di langit hutan. Target dua puluh ribu poin adalah angka yang sengaja dibuat untuk memaksa manusia saling membantai.
Ia segera menghilang ke dalam rimbunnya semak-semak. Sepanjang perjalanannya, Hidder mulai merasakan tekanan dari lingkungan hutan yang realistis. Rasa haus menyerang tenggorokannya, dan perutnya mulai terasa kosong. Ia terpaksa mengandalkan analisis matanya untuk mencari buah-buahan liar yang aman dikonsumsi agar staminanya tetap terjaga di level aman.
Namun, saat ia sedang membersihkan sisa pertempuran dari senjatanya, Hidder merasakan sebuah sensasi dingin di tengkuknya. Bukan sensasi dari monster liar, melainkan sensasi sedang dikunci oleh predator yang jauh lebih cerdas. Ia segera memicu fungsi pelacakan pada matanya, dan peringatan sistem muncul di benaknya: ia sedang diburu oleh seseorang yang menggunakan item pelacak khusus.
Dari balik pohon ek raksasa, sesosok bayangan ramping muncul. Wanita itu mengenakan zirah kulit ringan berkualitas tinggi dengan aksesoris bertema kucing yang menghiasi rambut peraknya. Di bahunya tersampir busur besar dengan ukiran kuno yang memancarkan aura kuat, dan di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang yang berkilau tajam.
Di atas kepalanya, sebuah nama muncul: Bastet_99.
"Ketemu juga kau, tikus kecil," suara wanita itu terdengar jernih namun penuh dengan nada kepuasan seorang pemburu. "Memecahkan rekor labirin dalam waktu sesingkat itu... kau pikir topeng jelek itu bisa menyembunyikan aura poinmu dariku?"
Hidder mengamati perlengkapan wanita itu dengan saksama. Segala atribut yang dikenakannya menunjukkan bahwa ia bukan pemain sembarangan. Ia kemungkinan besar adalah seorang pemain yang sudah sangat mengenal mekanisme menara ini sejak awal.
"Item pelacak," gumam Hidder, matanya tertuju pada sebuah liontin kecil berbentuk mata kucing di leher wanita itu. "Kau seorang pemain berpengalaman yang memulai kembali, rupanya."
"Kau tidak perlu tahu siapa aku," jawab Bastet sambil menarik tali busurnya dengan gerakan yang sangat terlatih. "Yang aku tahu, kau adalah Tikus nomor satu. Menyerahlah, atau aku akan membuatmu menyesal telah menginjakkan kaki di hutan ini."
Tanpa peringatan, Bastet melepaskan anak panahnya. Itu bukan anak panah biasa; ia membelah udara dengan suara siulan yang tajam, dilapisi oleh energi biru yang berputar seperti bor. Hidder segera berpindah tempat untuk menghindar, namun anak panah itu seolah memiliki nyawa sendiri dan terus mengejar posisi barunya.
Hidder terpaksa mengaktifkan kemampuan analisis matanya kembali. Ia bisa merasakan staminanya terkuras drastis setiap kali matanya dipaksa membedah pola serangan sihir yang rumit ini. Ledakan terjadi tepat di sampingnya, melemparkannya beberapa meter. Karena ini adalah serangan pertama dari Bastet, Hidder menerima kerusakan penuh tanpa ada perlindungan sedikit pun. Rasa panas membakar kulit lengannya, dan napasnya mulai memburu.
Bastet tidak memberikan jeda. Ia segera menarik tiga anak panah cahaya sekaligus. Ia tahu bahwa Hidder adalah pemain yang gesit, jadi ia memilih untuk membombardir seluruh area di sekitar Hidder.
Hidder terengah-engah, matanya tetap terpaku pada pergerakan tangan Bastet. Ia menyadari satu hal krusial: untuk memicu kemampuan perlindungan matanya terhadap serangan wanita ini, ia harus bertahan melewati dua hantaman lagi. Namun, dengan senjata kuat milik Bastet, setiap hantaman adalah pertaruhan nyawa.
Setiap kali ia memantau pergerakan panah-panah itu, ia merasakan beban fisik yang semakin berat karena konsumsi energinya yang konsisten. Ia sengaja menahan ledakan kedua menggunakan lengannya yang sudah mulai gemetar. Rasa sakit yang tajam menghujam, namun ia tetap berdiri.
"Dua serangan lagi..." bisik Hidder di balik topengnya.
Bastet mulai merasa ada yang aneh. Mengapa lawannya ini tidak mencoba lari menjauh? Mengapa ia seolah-olah sengaja mendekat ke arah titik ledakan? Bastet menarik busurnya hingga maksimal, kali ini sebuah panah besar terbentuk dari energi murni yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Mati kau!"
Hidder mencengkeram belati besinya erat-erat. Ia tahu serangan ketiga ini akan sangat menyakitkan karena tubuhnya masih akan menerima dampak seratus persen. Namun, itulah harga yang harus ia bayar untuk memicu otoritas sejati dari mata yang ia miliki.
Di tengah hujan panah cahaya yang mulai turun, Hidder justru berlari lurus ke depan, menantang maut dengan perhitungan yang dingin.
Di balik topeng konyolnya, ia sedang menunggu momen di mana serangan keempat Bastet tidak akan lagi sanggup menembus pertahanannya, dan saat itulah ia akan menunjukkan siapa pemburu yang sebenarnya di hutan ini.
