Udara di dalam aula bundar itu terasa semakin berat, seolah-olah oksigen telah diperas habis oleh kehadiran entitas raksasa yang baru saja bangkit. Golem Batu Kuno itu bukan sekadar tumpukan granit tak bernyawa; setiap inci tubuhnya memancarkan aura penindasan yang hanya bisa dihasilkan oleh sihir purba Menara. Hidder berdiri di tengah aula, debu-debu reruntuhan mulai menempel di kulitnya yang basah oleh keringat dingin. Ia menatap ke atas, pada sosok setinggi tiga meter yang kini sepenuhnya terjaga.
[Peringatan: Penjaga Altar - Golem Batu Kuno (LV. 5) Telah Bangkit!]
Notifikasi merah itu berkedip di tepian penglihatannya, seakan-akan berteriak bahwa kematian sedang menghitung mundur. Sebagai seorang veteran yang pernah mencapai puncak Tower of Greed, Hidder tahu betul apa arti perbedaan empat level di tahap awal permainan. Di dunia lama, ia mungkin bisa menghancurkan makhluk ini hanya dengan satu jentikan jari. Namun sekarang, dengan Strength 5 dan Constitution 4, satu hantaman telak dari kepalan tangan batu itu akan mengubah tubuhnya menjadi pasta merah yang tak berbekas.
Golem itu mengeluarkan suara parau, sebuah geraman mekanis yang berasal dari gesekan batu-batu masif di dalam rongga dadanya. Tanpa peringatan, ia mengangkat lengan kanannya yang sebesar batang pohon ek dan menghantamkan kepalan tangannya ke lantai.
DUM!
Lantai marmer itu retak seketika. Gelombang kejut merambat melalui permukaan batu, menghantam telapak kaki Hidder. Ia melompat ke samping tepat pada waktunya, melakukan gulingan taktis untuk menyerap momentum.
[Peringatan Stamina: Aktivitas Intens Terdeteksi!]
Stamina: 1,180 / 1,200
Hidder merasakan sensasi kesemutan yang menjalar dari kaki hingga ke punggungnya. Getaran itu bukan sekadar efek suara; di dunia nyata ini, setiap hantaman memiliki massa yang nyata. Paru-parunya mulai bekerja lebih keras, menghirup debu batu yang menyesakkan. Ia bangkit dengan cepat, mencengkeram erat belati karatan yang baru saja ia dapatkan dari peti rahasia. Belati itu terasa ringan, terlalu ringan untuk menghadapi monster berbaju zirah alami seperti ini.
"Fokus, Dera. Ini bukan soal angka, ini soal pola," bisiknya pada diri sendiri.
Ia mulai berlari mengitari Golem tersebut. Strategi klasiknya adalah memancing serangan agar monster itu menciptakan celah. Menggunakan Agility 11, Hidder bergerak dalam pola melingkar, matanya yang tajam mencari retakan atau sendi yang bisa ditembus. Saat Golem kembali mengayunkan tangannya dalam gerakan menyapu, Hidder merunduk rendah, membiarkan angin dari serangan itu mengacak-acak rambutnya. Ia menerjang maju, menusukkan belatinya ke arah sendi pergelangan kaki Golem.
KLANG!
Suara logam beradu dengan batu yang tak tergoyahkan menggema di aula. Tangan Hidder bergetar hebat akibat recoil. Belati itu bahkan tidak meninggalkan goresan sedalam satu sentimeter pun.
Stamina: 1,120 / 1,200
Golem itu bereaksi lebih cepat dari dugaannya. Ia tidak hanya lambat dan kaku; sihir yang menggerakkannya memberikan percepatan pada setiap akhir ayunan. Monster itu memutar tubuhnya, menggunakan berat badannya untuk menciptakan serangan putar. Hidder terpaksa melakukan lompatan mundur yang eksplosif, mendarat dengan napas yang mulai tersengal.
"Sial, konsumsi staminanya..." Hidder melirik bar statistiknya. Setiap gerakan menghindar di dunia nyata ini mengonsumsi energi fisik yang jauh lebih besar daripada sekadar menekan tombol shift di keyboard. Otot-ototnya mulai terasa panas, tanda bahwa ia telah melampaui batas aktivitas fisik harian manusianya.
Pertarungan berlanjut selama beberapa menit yang menyiksa. Hidder terus menari di ambang kematian. Ia meloncat melewati reruntuhan, berguling di bawah kaki Golem, dan berlari menaiki dinding untuk menghindari hantaman area. Setiap detiknya adalah pertaruhan nyawa. Stamina-nya terus merosot tajam seiring dengan meningkatnya intensitas serangan Golem.
900... 750... 600...
Pandangannya mulai sedikit mengabur karena keringat yang masuk ke mata. Rasa perih itu nyata. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, menghantam tulang rusuknya seolah ingin keluar. Ini adalah perbedaan paling mendasar antara game dan realitas; di sini, kelelahan mental dan fisik adalah musuh yang sama bahayanya dengan monster di depan matanya.
Golem itu tiba-tiba berhenti sejenak, energinya terkumpul di kepalan tangan yang ia angkat tinggi-tinggi. Hidder tahu apa yang akan terjadi. Ini adalah persiapan untuk Ground Slam tingkat lanjut.
400... 300... 200...
Stamina Hidder kini menyentuh angka kritis. Jika ia tidak menyelesaikan ini sekarang, ia akan jatuh pingsan karena kelelahan sebelum Golem itu menyentuhnya. Ia memosisikan dirinya tepat di depan pintu raksasa altar yang dingin, membelakangi ukiran wajah dewa yang misterius.
"Ayo, dasar bongkahan batu bodoh! Pukul aku!" Hidder berteriak, memprovokasi kecerdasan buatan monster tersebut.
Golem itu meraung dan menghantamkan kedua tangannya ke lantai secara bersamaan. Ledakan energi dan serpihan batu melesat ke segala arah. Hidder tidak menghindar ke samping. Sebaliknya, ia melompat tepat ke atas kepalan tangan Golem yang sedang menghantam lantai. Menggunakan momentum ledakan tersebut, ia melentingkan tubuhnya tinggi ke udara.
Ia berada di posisi "di atas angin", melayang tepat di depan pintu raksasa altar yang dingin. Namun, di titik itulah kilas balik mengerikan menghantam kesadarannya.
Ingatan itu.
Di dalam game, pada titik koordinat yang sama, pintu ini bukan sekadar gerbang. Ia adalah mekanisme pertahanan terakhir. Dera teringat saat avatarnya hancur menjadi abu karena terkena laser destruktif yang ditembakkan dari lubang mata pintu ini. Itu adalah trauma yang terkubur dalam ingatannya. Sekarang, ia melihat pola cahaya merah mulai mengumpul di lubang mata pintu altar, tepat beberapa sentimeter dari wajahnya yang masih melayang di udara.
Pada saat yang sama, Golem itu tidak membiarkannya lolos. Kedua tangan batu raksasanya bergerak menyamping, terbuka lebar seperti rahang raksasa, lalu mengayun cepat ke arah tengah.
Hidder terjebak dalam death trap yang sempurna.
Di depan wajahnya adalah laser pemusnah yang siap menembak, dan di kiri-kanannya, dua tangan granit seberat berton-ton siap menepuknya seperti seekor nyamuk yang malang. Gravitasi terasa lambat. Stamina-nya kini berada di angka 120, otot kakinya terlalu kaku untuk melakukan gerakan udara tambahan. Ia tidak bisa turun, tidak bisa naik, dan tidak bisa menghindar.
Apakah aku akan mati di sini? Menjadi bubur di tangan monster level 5?
Ketakutan itu nyata. Rasa dingin menjalar di tulang belakangnya saat ia melihat kilatan laser merah itu semakin terang. Namun, tepat saat tangan Golem tinggal beberapa inci dari tubuhnya, sebuah fenomena yang tidak pernah terjadi di versi game mana pun muncul.
Bukannya ledakan panas yang menghancurkan, lubang mata pada pintu itu justru memancarkan frekuensi yang aneh. Sebuah resonansi yang terasa akrab, seolah-olah ada sesuatu di dalam sana yang mengenali jiwa Hidder—sebuah sisa-sisa ikatan dari masa lalu ketika ia adalah pemilik sah dari apa yang ada di balik pintu ini.
Syuuuut!
Alih-alih didorong keluar oleh laser, Hidder justru merasakan tarikan vakum yang sangat kuat dari arah lubang tersebut. Tubuhnya terasa menjadi ringan, molekulnya seolah-olah bergeser untuk melewati material padat pintu altar.
DHUARRR!
Suara kedua tangan Golem yang beradu di posisi Hidder sebelumnya menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan sebagian langit-langit aula. Debu menutupi segalanya. Namun, Hidder sudah tidak ada di sana.
Ia jatuh tersungkur di atas lantai marmer ruangan altar yang sunyi. Udara di sini berbeda; sangat tenang, berbau harum seperti dupa kuno, dan dipenuhi oleh partikel energi emas yang melayang lambat. Hidder terengah-engah, wajahnya menempel di lantai yang dingin. Ia bisa merasakan detak jantungnya sendiri yang masih menggila.
"Aku... aku hidup?" bisiknya dengan suara serak.
Ia bangkit perlahan dengan sisa tenaganya. Di tengah ruangan yang luas itu, di atas sebuah pilar cahaya yang tidak berasal dari sumber mana pun, melayang sebuah bola mata kristal. Benda itu berdenyut pelan, mengeluarkan cahaya keemasan yang seirama dengan napas Hidder.
The Eyes of Ancient Forgotten God.
Hidder mendekat dengan langkah gemetar. Saat ia berada dalam jarak satu jengkauan, kristal itu tidak menunggu untuk disentuh. Ia pecah menjadi ribuan partikel cahaya yang tajam dan langsung menerjang mata kanan Hidder.
"AAAAAAGHHH!"
Jeritan Hidder menggema di ruangan yang sunyi itu. Ia jatuh berlutut, menekan mata kanannya dengan kedua tangan. Rasa sakitnya tak terlukiskan—seperti ada besi cair yang dituangkan langsung ke dalam rongga matanya, membakar saraf dan menghubungkan dirinya dengan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar data game.
Di tengah kegelapan dan rasa sakit itu, sebuah suara sistem yang megah—berbeda dari suara sistem standar—bergema di pikirannya.
[Peringatan: Otoritas Terdeteksi!]
[Mengkoneksikan kembali 'The Eyes of Ancient Forgotten God' dengan Pemilik Aslinya...]
[Menganalisis Kompatibilitas Jiwa... 100% Terverifikasi.]
[Proses Sinkronisasi Dimulai...]
[Ancient Item Berhasil Dipulihkan!]
Rasa sakit itu tiba-tiba menghilang, digantikan oleh sensasi dingin yang sangat menyegarkan, seolah-olah ada mata air murni yang mengalir di dalam kepalanya. Hidder menurunkan tangannya dan perlahan membuka mata.
Mata kirinya masih melihat ruangan altar dengan normal. Namun, mata kanannya melihat dunia dalam dimensi yang berbeda. Iris mata kanannya kini berwarna emas dengan lingkaran konsentris yang berputar lambat, memancarkan cahaya redup yang mistis.
Ia melihat ke arah pintu yang tertutup. Di mata kanannya, pintu itu menjadi transparan, menyingkapkan struktur energinya. Lebih dari itu, ia bisa melihat Golem di luar yang masih memukul pintu dengan marah. Namun, Golem itu tidak lagi tampak seperti ancaman yang tak terkalahkan.
[Golem Batu Kuno - LV. 5]
[Tipe: Konstruksi Sihir]
[Titik Lemah Terdeteksi: Retakan Mikro di Punggung Bawah (300% Damage)]
[Prediksi Gerakan: ground slam dalam 3.2 detik]
Hidder berdiri tegak. Stamina-nya yang tadi sisa sedikit tiba-tiba terisi kembali oleh energi murni dari item tersebut. Ia merasakan aliran kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya.
[Title: The Fortune Eyes Telah Aktif (Versi Terbatas - Rank F)]
[Efek: Mengurangi damage musuh sebesar 15% pada 3 serangan Keatas.]
Hidder menyeringai. Sebuah seringai dingin dari seorang pemain yang baru saja mendapatkan kembali senjatanya yang paling mematikan. Belati karatan di tangannya kini tampak memiliki garis-garis emas yang menunjukkan jalur serangan paling efisien.
"Maaf membuatmu menunggu lama," gumam Hidder, matanya terfokus pada pintu yang mulai retak akibat pukulan Golem. "Tapi sekarang, giliranku yang akan menghancurkanmu."
Ia tidak lagi merasa seperti mangsa Level 1 yang malang. Di bawah pengawasan Mata Dewa yang Terlupakan, Hidder telah melampaui batas realitas manusia biasa. Ia berjalan menuju pintu altar yang kini perlahan terbuka secara otomatis, siap untuk memberikan "pelajaran" kepada penjaga altar yang telah membuatnya hampir mati.
Tutorial Lantai 1 masih berlangsung, namun bagi Hidder, labirin ini bukan lagi tempat untuk bertahan hidup—ini adalah tempat pembantaian.
