Ficool

Chapter 3 - Bab 2:

Lantai batu di bawah kaki Hidder bergetar hebat. Suara gesekan masif antar dinding granit terdengar seperti rintihan raksasa yang terbangun dari tidur panjang. Labirin ini sedang bernapas.

03:00.

Angka digital merah berkedip di sudut pandangannya. Itu adalah waktu tersisa sebelum seluruh denah koridor di depan matanya bergeser secara acak. Dalam variasi Maze Lantai 1, waktu bukan sekadar angka; itu adalah batas antara hidup dan maut. Jika dia terjepit di antara dua dinding yang menyatu, stat Constitution 4 miliknya akan memastikan tubuhnya hancur menjadi serpihan daging dalam sekejap.

Hidder mulai berlari. Langkah kakinya ringan, hampir tak bersuara, hasil dari Agility 11 yang baru saja ia tingkatkan. Namun, keunggulan sejatinya bukan pada kakinya, melainkan pada Perception 15 yang kini bekerja secara aktif.

Dunia di mata Hidder kini terlihat berbeda. Ia tidak lagi melihat dinding-dinding ini sebagai penghalang mati. Ia bisa merasakan aliran udara tipis yang masuk melalui celah-celah kecil, mendeteksi perbedaan suhu yang menandakan adanya ruang terbuka di ujung lorong, dan menangkap frekuensi getaran rendah yang menunjukkan posisi mekanisme penggerak dinding.

"Tiga ratus meter ke depan, belok kanan, lalu lompat," gumamnya pada diri sendiri.

Ingatannya tentang peta legendaris ini mulai bersinkronisasi dengan realitas di depannya. Tiba-tiba, indra persepsinya menangkap sesuatu yang ganjil di lantai koridor yang ia lalui. Ada ubin yang sedikit lebih menonjol, hanya beberapa milimeter, namun di mata Hidder, itu terlihat seperti tanda bahaya yang menyala terang.

Pressure Plate.

Bagi pemain awam, ini adalah jebakan anak panah beracun yang harus dihindari. Namun bagi Hidder, ini adalah peluang.

Tanpa menghentikan larinya, ia sengaja menginjak ubin tersebut dengan ujung kakinya sambil melakukan putaran tubuh di udara.

TRTAK!

Tiga anak panah melesat dari dinding kiri dengan kecepatan tinggi. Hidder mendarat dengan posisi rendah, membiarkan anak panah itu lewat tepat di atas kepalanya dan menghantam dinding retak di seberang lorong.

DUM!

Dinding yang memang sudah rapuh itu runtuh, menyingkap sebuah ruang sempit yang tak terlihat di peta standar. Hidder segera menyelinap masuk. Di sana, sebuah peti kayu tua berdebu menunggu.

[Common Chest Terbuka]

[Anda Mendapatkan: Ramuan Stamina Rendah x1]

[Anda Mendapatkan: Belati Karatan x1]

Hidder segera menyampirkan belati itu di pinggangnya. Meskipun hanya memiliki damage fisik minimal, itu jauh lebih baik daripada bertarung dengan tangan kosong. Ia meneguk ramuan stamina itu sambil terus bergerak; ia tidak boleh membiarkan Stamina 1,200 miliknya menyentuh titik kritis sebelum mencapai zona inti.

Saat ia keluar dari jalur pintas tersebut, suara benturan logam dan teriakan manusia terdengar dari lorong sebelah.

"Sial! Dindingnya bergerak! Cepat hancurkan!"

"Tidak bisa! Senjataku patah!"

Hidder mengintip dari balik pilar. Tiga orang pemain—terlihat dari antarmuka yang mengambang di atas kepala mereka—sedang terjebak dalam kepanikan. Salah satu dari mereka, seorang pria berbadan besar, memiliki tanda LV. 2. Dia pasti baru saja membunuh beberapa tikus selokan atau kelelawar di sepanjang jalan. Mereka menyerang dinding labirin dengan membabi buta, sebuah tindakan sia-sia yang hanya akan menguras stamina mereka.

Hidder menarik napas dalam. Sesuai namanya, ia tetap berada dalam bayang-bayang. Ia tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan mereka. Di Tower of Greed, bantuan sering kali dibalas dengan pengkhianatan. Ia menggunakan kekacauan yang mereka buat sebagai pengalih perhatian, menyelinap di antara celah dinding yang mulai bergeser dengan perhitungan waktu yang presisi.

Sepuluh menit kemudian, suhu udara menurun drastis. Bau lembap batu berubah menjadi aroma magis yang pekat—bau ozon dan debu bintang.

Hidder berhenti di depan sebuah aula bundar yang luas. Di ujung aula itu berdiri sebuah pintu raksasa tanpa gagang. Di tengahnya terdapat ukiran wajah dewa yang matanya berlubang, menatap kosong ke arah siapa pun yang berani mendekat.

Ini adalah Altar Sang Dewa Terlupakan.

Pintu ini adalah ujian terakhir. Di masa lalu, pemain harus mengorbankan sejumlah besar Mana atau memiliki Spirit yang sangat tinggi untuk membukanya. Namun, Hidder tahu ada cara lain—sebuah easter egg yang hanya ditemukan oleh para pencari rahasia: gerakan ritmik yang meniru tarian pemujaan kuno.

Namun, tepat saat Hidder melangkah menuju pintu tersebut, tanah di bawahnya berguncang lebih hebat dari sebelumnya. Bongkahan batu dari langit-langit aula mulai berjatuhan dan menyatu di tengah ruangan, membentuk sesosok monster raksasa dengan mata merah menyala.

[Peringatan: Penjaga Altar - Golem Batu Kuno (LV. 5) Telah Bangkit!]

Golem itu meraung, suara gesekan batu pada tubuhnya memekakkan telinga. Dengan tinggi tiga meter dan tubuh yang terbuat dari granit padat, makhluk itu adalah tembok kematian bagi pemain Level 1.

Hidder mencengkeram gagang belati karatannya. Tatapannya menjadi sangat dingin. Ia ingat betul pola serangan Golem ini. Meskipun fisiknya lemah, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki monster itu: pengetahuan tentang setiap frame gerakannya.

"Level 5, ya?" Hidder menyeringai tipis, matanya berkilat penuh ambisi. "Mari kita lihat apakah kau bisa menangkap bayangan."

Lantai 1 Maze hampir berakhir, dan kunci kekuatannya kini hanya berjarak satu pertarungan maut di depan matanya.

More Chapters