"Ada apa?" kata Raida.
Raida menatap Amel beberapa detik sebelum akhirnya bergeser sedikit memberi jalan
Amel masuk pelan ke dalam kamar lalu menutup pintu di belakangnya
Aroma sampo yang lembut masih terasa samar dari rambutnya yang belum sepenuhnya kering
"Ada apa?" tanya Raida sekali lagi sambil bersandar di dekat meja kecil
Amel berjalan mendekati jendela besar kamar itu lalu melihat keramaian Shibuya di bawah sana
"Aku mau keluar" jawabnya
Raida mengangkat alis tipis "Keluar?"
Amel mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. Pantulan cahaya neon kota terlihat samar di matanya
"Sarah pergi bersama, Mereka bilang ingin jalan berdua" kata Amel
Raida terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar "Kurasa itu memang normal untuk pasangan"
Sudut bibir Amel terangkat tipis. "Ya. Dan Rey memilih tetap di kamar"
Raida bisa langsung membayangkan ekspresi Rey yang malas bergerak setelah perjalanan panjang
"Dia bilang ingin bersantai dan tidur lebih cepat. Jadi…" kata Amel
Ia akhirnya menoleh ke arah Raida
"Aku tidak punya teman keluar"
Raida menatapnya beberapa saat "Jadi kau mencariku?"
"Bukankah itu sudah jelas?" balas Amel tenang
Hening singkat memenuhi kamar
Di luar jendela, lampu Shibuya terus bergerak tanpa henti. Suara kota terdengar samar hingga ke lantai atas hotel
Raida menghela napas kecil lalu mengambil jaket tipisnya yang tergeletak di kursi
"Mau ke mana?"
Amel tersenyum kecil melihat Raida yang langsung bersiap tanpa banyak tanya
"Entahlah. Jalan saja"
Amel berjalan mendekat ke pintu lebih dulu, sementara Raida mengambil kartu kamar dan ponselnya
Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kamar dan berjalan menyusuri lorong hotel yang tenang
Pintu lift terbuka perlahan
Saat mereka masuk, hanya ada beberapa orang lain di dalam lift. Cahaya lampu putih memantul lembut di dinding kaca lift
Amel berdiri di samping Raida sambil melipat tangan ringan
"Ngomong ngomong…" ucapnya pelan
"Hm?"
"Kau terlihat lebih tenang sekarang dibanding waktu di bus"
Raida terdiam sesaat
Mimpi tentang Varrel tadi masih teringat jelas di kepalanya. Suara rem truk… suara benturan… semuanya terasa terlalu nyata
Namun ia hanya menatap angka lantai yang terus turun
"Mungkin karena suasananya berbeda" jawabnya akhirnya
Amel memperhatikan wajah Raida beberapa detik sebelum mengangguk kecil
Lift berhenti di lobby
Ting
Pintu terbuka memperlihatkan suasana hotel yang jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Banyak tamu berlalu lalang sambil membawa tas belanja atau berbicara satu sama lain
Raida dan Amel berjalan keluar berdampingan menuju pintu utama hotel
Begitu pintu otomatis terbuka…
Udara malam Shibuya langsung menyambut mereka
Lampu billboard raksasa memenuhi langit kota. Jalanan dipenuhi orang orang yang terus bergerak ke berbagai arah, sementara suara musik dari toko toko terdengar bercampur dengan suara kendaraan
Amel melihat sekitar sambil menarik napas kecil
"Ramai sekali…"
Raida memasukkan kedua tangannya ke saku jaket "Kau baru sadar?"
"Aku sadar. Tapi melihat langsung tetap berbeda." ujar Amel
Mereka mulai berjalan mengikuti arus keramaian kota
Beberapa orang berlalu lalang dengan pakaian modis, beberapa turis sibuk mengambil foto, sementara layar besar di gedung sekitar terus menampilkan iklan berwarna warni yang bergerak cepat
Amel melirik sebuah toko dengan pajangan boneka besar di depan. "Itu lucu."
Raida mengikuti arah pandang Amel lalu terdiam beberapa detik
"Itu hanya boneka"
"Jadi menurutmu boneka itu tidak lucu" Kata Amel
"...setelah ku pikir memang sedikit lucu" ucap Raida dengan memalingkan wajahnya
Amel tertawa kecil
Mereka terus berjalan menyusuri jalanan Shibuya yang ramai
Lampu lampu kota memantul di kaca gedung tinggi di sekitar mereka, sementara suara langkah kaki dan percakapan orang orang terus bercampur tanpa henti
Amel berjalan sedikit di depan Raida sesekali melihat ke berbagai toko di kanan kiri jalan
"Jepang benar benar berbeda saat malam" gumamnya pelan
Raida melirik sekitar "Terlalu ramai menurutku"
"Padahal kau tidak terlihat terganggu"
Raida hanya mengangkat bahu ringan
Beberapa meter di depan mereka, layar raksasa menampilkan iklan berwarna terang yang terus berganti dengan cepat. Cahaya dari sana menerangi jalanan seperti siang hari
Amel berhenti sebentar di dekat pembatas trotoar
"Raida" panggil Amel
"Hm?" sahut Raida
"Ayo ke sana" kata Amel
Ia menunjuk sebuah jalan kecil yang dipenuhi kios makanan dan lampu gantung
Aroma makanan langsung terasa bahkan dari kejauhan
Raida memandang lorong itu beberapa detik. "Aku mulai mengerti kenapa Zeks ingin keluar malam ini"
"Ternyata kau juga tertarik makanan"
"Bukan tertarik. Hanya penasaran"
"Bedanya tipis"
Mereka masuk ke jalan kecil itu bersama kerumunan orang lain
Suasananya jauh lebih hangat dibanding jalan utama. Lampu kuning menggantung di atas kios kios kecil, sementara suara minyak yang sedang menggoreng terdengar dari berbagai arah
Amel berhenti di depan salah satu kios
"Takoyaki" ujarnya
Raida melihat papan menu sebentar "Kau mau mencoba?"
Amel mengangguk ringan "Dan kau akan membayar"
"Kenapa aku?" kata Raida
"Ayolah sesekali mentraktir tak apa kan" balas Amel
Raida menghela napas kecil sebelum akhirnya mengeluarkan dompetnya
Beberapa menit kemudian mereka berjalan lagi sambil membawa kotak takoyaki hangat
Amel meniup pelan makanannya sebelum menggigit sedikit
Matanya langsung sedikit melebar "Panas…"
Raida meliriknya sekilas. "Jelas panas, itu kan baru matang, makanlah dengan perlahan"
Amel menatapnya datar beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil sendiri
Raida memperhatikan itu diam diam
Ekspresi Amel malam itu terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya
Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah jembatan kecil pejalan kaki yang menghadap langsung ke persimpangan Shibuya
Keramaian terlihat jelas dari atas sana
Lampu kendaraan bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti
Amel berdiri di dekat pagar pembatas sambil memandang ke bawah
"Indah juga"
Raida berdiri di sampingnya tanpa bicara, lalu menoleh padanya
Ada saus yang belepotan di mulut Amel
Raida menghela nafas kecil
"Bukankah tadi aku bilang makan dengan perlahan" ucap Raida sambil mengeluarkan sapu tangan
"Lihat lah mulut mu belepotan karena saus" ucapnya lagi sambil mengelap saus di mulut Amel
Karena itu wajah Amel jadi memerah
Amel langsung memalingkan wajahnya cepat begitu Raida selesai mengelap sudut bibirnya
"Aku bisa melakukannya sendiri..."gumamnya pelan, suaranya jauh lebih kecil dibanding biasanya
Raida memberikan sapu tangannya
Amel menatap sapu tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya pelan
"...Terima kasih." ucapnya lirih
Raida hanya mengangguk kecil lalu kembali berdiri di samping pagar jembatan sambil melihat keramaian di bawah
Amel menggenggam sapu tangan itu sebentar
Masih ada sedikit hangat dari tangan Raida yang tertinggal di sana, membuat wajahnya kembali memanas tanpa alasan yang jelas
Ia cepat cepat memalingkan pandangan ke arah jalanan
Angin malam kembali berhembus pelan melewati jembatan kecil itu
Di bawah sana, lampu kendaraan terus bergerak tanpa henti seperti aliran cahaya yang tidak pernah tidur
Raida melirik Amel sekilas. Wajahnya memang sudah tidak semerah tadi… walau ia masih menggenggam sapu tangan itu erat erat
"Kau mau terus berdiri di sini?" tanya Raida akhirnya
Amel tersadar dari lamunannya "Hm?"
"Kalau tidak, ayo lanjut"
Amel mengangguk kecil lalu mulai berjalan di samping Raida meninggalkan jembatan itu
Mereka kembali masuk ke tengah keramaian Shibuya. Suara musik dari toko toko elektronik bercampur dengan suara langkah kaki orang orang yang memenuhi trotoar
Beberapa menit kemudian…
Amel tiba tiba berhenti di depan sebuah gedung besar penuh lampu neon
Raida ikut berhenti lalu melihat ke atas
Di dalam gedung itu terlihat deretan mesin arcade berwarna terang dari balik kaca
"...Game center?" gumam Raida
Mata Amel sedikit berbinar "Ayo masuk"
Raida menatapnya datar "Kau terlihat sangat bersemangat"
"Karena aku jarang melihat tempat seperti ini"
Tanpa menunggu jawaban lagi, Amel langsung berjalan masuk lebih dulu
Raida menghela napas kecil sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam
Begitu pintu terbuka, suara mesin arcade langsung memenuhi telinga mereka. Musik game, suara tombol, dan berbagai efek elektronik bercampur menjadi satu memenuhi ruangan beberapa lantai itu
Lampu warna warni berkedip di mana mana
Beberapa orang terlihat bermain game balapan, mesin musik, hingga crane game yang dipenuhi boneka
Amel melihat sekitar dengan penasaran "Ramai sekali…"
"Kau mengatakan hal yang sama sejak tadi" balas Raida santai
Amel mengabaikannya lalu berjalan mendekati salah satu crane game
Di dalam mesin itu terdapat boneka putih bulat dengan ekspresi malas
Amel menatap boneka itu beberapa detik
Raida yang berdiri di belakangnya langsung menyadari arah pandangannya
"...Kau mau itu?"
Amel langsung menjawab cepat "Tidak"
Raida terdiam sebentar "Kau buruk dalam berbohong"
Amel akhirnya memalingkan wajah sedikit "Aku hanya melihat"
Raida menghela napas kecil lalu memasukkan beberapa koin ke mesin
Amel langsung menoleh cepat. "Raida?"
"Kau bilang hanya melihat. Jadi diam saja" ujar Raida
Lengan mesin bergerak perlahan mengikuti arah kontrol
Amel berdiri di sampingnya sambil memperhatikan diam diam
Mesin itu bergerak…
Turun…
Menjepit boneka itu
Lalu gagal total
Boneka itu jatuh kembali ke tempat semula
Hening
Amel berkedip beberapa kali
Raida menatap mesin itu tanpa ekspresi
"..."
Sudut bibir Amel mulai bergerak pelan
Pffft
Amel langsung menahan tawanya dengan tangan
Raida melirik datar "Jangan tertawa"
"Aku tidak tertawa"
"aku jelas mendengar mu tertawa tadi"
Amel akhirnya benar benar tertawa kecil
Raida menghela napas panjang lalu kembali memasukkan koin lain
"Kau serius mencoba lagi?" tanya Amel
Raida menatap lurus ke mesin"Aku tidak suka kalah melawan mesin"
"Itu terdengar sangat kekanak kanakan"
"Diam"
Amel kembali tertawa pelan sambil berdiri di sampingnya
Dan tanpa mereka sadari…
sejak keluar dari hotel tadi, jarak di antara mereka perlahan mulai terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya
Amel masih berdiri di sampingnya sambil menahan senyum "Aku mulai kasihan pada mesin"
Raida tidak menjawab
Matanya tetap fokus pada boneka putih di dalam mesin
Lengan besi itu bergerak perlahan ke kanan… sedikit maju… lalu berhenti tepat di atas boneka
Raida menekan tombol
Clack
Lengan mesin turun perlahan
Amel ikut memperhatikan tanpa sadar
Penjepit itu berhasil mencengkeram bagian tengah boneka dengan lebih pas dibanding sebelumnya
Boneka itu terangkat
Amel sedikit membelalakkan mata "Oh?"
Raida tetap diam menatap mesin
Boneka itu bergoyang pelan di udara beberapa detik yang terasa sangat lama…
Lalu
Buk
Boneka itu jatuh tepat ke lubang hadiah
Suara kemenangan kecil dari mesin langsung terdengar
Amel berkedip beberapa kali seolah tidak percaya
Raida berdiri tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket lagi "Sudah kubilang"
Amel menatapnya "Kau benar benar serius sampai menang hanya demi boneka"
Raida mengambil boneka itu dari tempat hadiah lalu menatapnya sebentar
Boneka putih bulat itu memiliki ekspresi malas dengan mata setengah tertutup
Raida lalu mengulurkan boneka tersebut ke arah Amel
"Nih"
Amel sedikit terdiam "Untukku?"
"Bukankah dari tadi kau menginginkannya?" balas Raida
"Aku tidak bilang begitu" ujar Amel lagi
"Tapi wajahmu mengatakan iya"
Amel menatap boneka itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya pelan
"...Terima kasih"
Untuk sesaat senyum kecil terlihat jelas di wajahnya. Senyum yang jauh lebih lembut dibanding biasanya
Raida memperhatikannya diam diam
Lalu tanpa sadar… ia teringat sesuatu
Dulu, ia juga pernah memenangkan hadiah kecil untuk lily di festival di sebuah festival
Ingatan itu muncul begitu saja membuat ekspresi Raida sedikit berubah
Amel yang menyadarinya langsung memiringkan kepala kecil "Raida?"
Raida tersadar lalu menggeleng pelan "Bukan apa apa"
Amel menatapnya beberapa detik seolah tahu itu bukan jawaban sebenarnya… tapi ia tidak memaksa bertanya lagi
Sebagai gantinya, ia mengangkat boneka itu sedikit ke depan wajah Raida
"Lihatlah, boneka ini terlihat begitu malas seperti Rey dan Zeks bukan"
Raida menatap boneka itu beberapa detik…
Lalu tanpa sadar tertawa kecil
Lalu tanpa sadar tertawa kecil lagi
Amel ikut tersenyum melihatnya
Tak jauh dari mereka, beberapa lampu arcade terus berkedip terang memenuhi ruangan
