Ficool

Chapter 32 - Bab 32 tour ke jepang

"Ada apa?" kata Raida.

Raida menatap Amel beberapa detik sebelum akhirnya bergeser sedikit memberi jalan

Amel masuk pelan ke dalam kamar lalu menutup pintu di belakangnya 

Aroma sampo yang lembut masih terasa samar dari rambutnya yang belum sepenuhnya kering

"Ada apa?" tanya Raida sekali lagi sambil bersandar di dekat meja kecil

Amel berjalan mendekati jendela besar kamar itu lalu melihat keramaian Shibuya di bawah sana

"Aku mau keluar" jawabnya

Raida mengangkat alis tipis "Keluar?"

Amel mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. Pantulan cahaya neon kota terlihat samar di matanya

"Sarah pergi bersama, Mereka bilang ingin jalan berdua" kata Amel

Raida terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata datar "Kurasa itu memang normal untuk pasangan"

Sudut bibir Amel terangkat tipis. "Ya. Dan Rey memilih tetap di kamar"

Raida bisa langsung membayangkan ekspresi Rey yang malas bergerak setelah perjalanan panjang

"Dia bilang ingin bersantai dan tidur lebih cepat. Jadi…" kata Amel

Ia akhirnya menoleh ke arah Raida

"Aku tidak punya teman keluar"

Raida menatapnya beberapa saat "Jadi kau mencariku?"

"Bukankah itu sudah jelas?" balas Amel tenang

Hening singkat memenuhi kamar

Di luar jendela, lampu Shibuya terus bergerak tanpa henti. Suara kota terdengar samar hingga ke lantai atas hotel

Raida menghela napas kecil lalu mengambil jaket tipisnya yang tergeletak di kursi

"Mau ke mana?"

Amel tersenyum kecil melihat Raida yang langsung bersiap tanpa banyak tanya

"Entahlah. Jalan saja"

Amel berjalan mendekat ke pintu lebih dulu, sementara Raida mengambil kartu kamar dan ponselnya

Beberapa saat kemudian mereka keluar dari kamar dan berjalan menyusuri lorong hotel yang tenang

Pintu lift terbuka perlahan

Saat mereka masuk, hanya ada beberapa orang lain di dalam lift. Cahaya lampu putih memantul lembut di dinding kaca lift

Amel berdiri di samping Raida sambil melipat tangan ringan

"Ngomong ngomong…" ucapnya pelan

"Hm?"

"Kau terlihat lebih tenang sekarang dibanding waktu di bus"

Raida terdiam sesaat

Mimpi tentang Varrel tadi masih teringat jelas di kepalanya. Suara rem truk… suara benturan… semuanya terasa terlalu nyata

Namun ia hanya menatap angka lantai yang terus turun

"Mungkin karena suasananya berbeda" jawabnya akhirnya

Amel memperhatikan wajah Raida beberapa detik sebelum mengangguk kecil

Lift berhenti di lobby

Ting

Pintu terbuka memperlihatkan suasana hotel yang jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Banyak tamu berlalu lalang sambil membawa tas belanja atau berbicara satu sama lain

Raida dan Amel berjalan keluar berdampingan menuju pintu utama hotel

Begitu pintu otomatis terbuka…

Udara malam Shibuya langsung menyambut mereka

Lampu billboard raksasa memenuhi langit kota. Jalanan dipenuhi orang orang yang terus bergerak ke berbagai arah, sementara suara musik dari toko toko terdengar bercampur dengan suara kendaraan

Amel melihat sekitar sambil menarik napas kecil

"Ramai sekali…"

Raida memasukkan kedua tangannya ke saku jaket "Kau baru sadar?"

"Aku sadar. Tapi melihat langsung tetap berbeda." ujar Amel

Mereka mulai berjalan mengikuti arus keramaian kota

Beberapa orang berlalu lalang dengan pakaian modis, beberapa turis sibuk mengambil foto, sementara layar besar di gedung sekitar terus menampilkan iklan berwarna warni yang bergerak cepat

Amel melirik sebuah toko dengan pajangan boneka besar di depan. "Itu lucu."

Raida mengikuti arah pandang Amel lalu terdiam beberapa detik

"Itu hanya boneka"

"Jadi menurutmu boneka itu tidak lucu" Kata Amel

"...setelah ku pikir memang sedikit lucu" ucap Raida dengan memalingkan wajahnya

Amel tertawa kecil

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan Shibuya yang ramai

Lampu lampu kota memantul di kaca gedung tinggi di sekitar mereka, sementara suara langkah kaki dan percakapan orang orang terus bercampur tanpa henti

Amel berjalan sedikit di depan Raida sesekali melihat ke berbagai toko di kanan kiri jalan

"Jepang benar benar berbeda saat malam" gumamnya pelan

Raida melirik sekitar "Terlalu ramai menurutku"

"Padahal kau tidak terlihat terganggu"

Raida hanya mengangkat bahu ringan

Beberapa meter di depan mereka, layar raksasa menampilkan iklan berwarna terang yang terus berganti dengan cepat. Cahaya dari sana menerangi jalanan seperti siang hari

Amel berhenti sebentar di dekat pembatas trotoar

"Raida" panggil Amel

"Hm?" sahut Raida 

"Ayo ke sana" kata Amel

Ia menunjuk sebuah jalan kecil yang dipenuhi kios makanan dan lampu gantung

Aroma makanan langsung terasa bahkan dari kejauhan

Raida memandang lorong itu beberapa detik. "Aku mulai mengerti kenapa Zeks ingin keluar malam ini"

"Ternyata kau juga tertarik makanan"

"Bukan tertarik. Hanya penasaran"

"Bedanya tipis"

Mereka masuk ke jalan kecil itu bersama kerumunan orang lain

Suasananya jauh lebih hangat dibanding jalan utama. Lampu kuning menggantung di atas kios kios kecil, sementara suara minyak yang sedang menggoreng terdengar dari berbagai arah

Amel berhenti di depan salah satu kios 

"Takoyaki" ujarnya

Raida melihat papan menu sebentar "Kau mau mencoba?"

Amel mengangguk ringan "Dan kau akan membayar"

"Kenapa aku?" kata Raida

"Ayolah sesekali mentraktir tak apa kan" balas Amel

Raida menghela napas kecil sebelum akhirnya mengeluarkan dompetnya

Beberapa menit kemudian mereka berjalan lagi sambil membawa kotak takoyaki hangat

Amel meniup pelan makanannya sebelum menggigit sedikit

Matanya langsung sedikit melebar "Panas…"

Raida meliriknya sekilas. "Jelas panas, itu kan baru matang, makanlah dengan perlahan"

Amel menatapnya datar beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil sendiri

Raida memperhatikan itu diam diam

Ekspresi Amel malam itu terlihat jauh lebih santai dibanding biasanya

Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah jembatan kecil pejalan kaki yang menghadap langsung ke persimpangan Shibuya

Keramaian terlihat jelas dari atas sana

Lampu kendaraan bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti

Amel berdiri di dekat pagar pembatas sambil memandang ke bawah

"Indah juga"

Raida berdiri di sampingnya tanpa bicara, lalu menoleh padanya

Ada saus yang belepotan di mulut Amel

Raida menghela nafas kecil 

"Bukankah tadi aku bilang makan dengan perlahan" ucap Raida sambil mengeluarkan sapu tangan

"Lihat lah mulut mu belepotan karena saus" ucapnya lagi sambil mengelap saus di mulut Amel

Karena itu wajah Amel jadi memerah

Amel langsung memalingkan wajahnya cepat begitu Raida selesai mengelap sudut bibirnya

"Aku bisa melakukannya sendiri..."gumamnya pelan, suaranya jauh lebih kecil dibanding biasanya

Raida memberikan sapu tangannya

Amel menatap sapu tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya pelan

"...Terima kasih." ucapnya lirih

Raida hanya mengangguk kecil lalu kembali berdiri di samping pagar jembatan sambil melihat keramaian di bawah

Amel menggenggam sapu tangan itu sebentar

Masih ada sedikit hangat dari tangan Raida yang tertinggal di sana, membuat wajahnya kembali memanas tanpa alasan yang jelas

Ia cepat cepat memalingkan pandangan ke arah jalanan

Angin malam kembali berhembus pelan melewati jembatan kecil itu

Di bawah sana, lampu kendaraan terus bergerak tanpa henti seperti aliran cahaya yang tidak pernah tidur

Raida melirik Amel sekilas. Wajahnya memang sudah tidak semerah tadi… walau ia masih menggenggam sapu tangan itu erat erat

"Kau mau terus berdiri di sini?" tanya Raida akhirnya

Amel tersadar dari lamunannya "Hm?"

"Kalau tidak, ayo lanjut"

Amel mengangguk kecil lalu mulai berjalan di samping Raida meninggalkan jembatan itu

Mereka kembali masuk ke tengah keramaian Shibuya. Suara musik dari toko toko elektronik bercampur dengan suara langkah kaki orang orang yang memenuhi trotoar

Beberapa menit kemudian…

Amel tiba tiba berhenti di depan sebuah gedung besar penuh lampu neon

Raida ikut berhenti lalu melihat ke atas

Di dalam gedung itu terlihat deretan mesin arcade berwarna terang dari balik kaca

"...Game center?" gumam Raida

Mata Amel sedikit berbinar "Ayo masuk"

Raida menatapnya datar "Kau terlihat sangat bersemangat"

"Karena aku jarang melihat tempat seperti ini"

Tanpa menunggu jawaban lagi, Amel langsung berjalan masuk lebih dulu

Raida menghela napas kecil sebelum akhirnya ikut masuk ke dalam

Begitu pintu terbuka, suara mesin arcade langsung memenuhi telinga mereka. Musik game, suara tombol, dan berbagai efek elektronik bercampur menjadi satu memenuhi ruangan beberapa lantai itu

Lampu warna warni berkedip di mana mana

Beberapa orang terlihat bermain game balapan, mesin musik, hingga crane game yang dipenuhi boneka

Amel melihat sekitar dengan penasaran "Ramai sekali…"

"Kau mengatakan hal yang sama sejak tadi" balas Raida santai

Amel mengabaikannya lalu berjalan mendekati salah satu crane game

Di dalam mesin itu terdapat boneka putih bulat dengan ekspresi malas

Amel menatap boneka itu beberapa detik

Raida yang berdiri di belakangnya langsung menyadari arah pandangannya

"...Kau mau itu?"

Amel langsung menjawab cepat "Tidak"

Raida terdiam sebentar "Kau buruk dalam berbohong"

Amel akhirnya memalingkan wajah sedikit "Aku hanya melihat"

Raida menghela napas kecil lalu memasukkan beberapa koin ke mesin

Amel langsung menoleh cepat. "Raida?"

"Kau bilang hanya melihat. Jadi diam saja" ujar Raida

Lengan mesin bergerak perlahan mengikuti arah kontrol

Amel berdiri di sampingnya sambil memperhatikan diam diam

Mesin itu bergerak…

Turun…

Menjepit boneka itu

Lalu gagal total

Boneka itu jatuh kembali ke tempat semula

Hening

Amel berkedip beberapa kali

Raida menatap mesin itu tanpa ekspresi

"..."

Sudut bibir Amel mulai bergerak pelan

Pffft

Amel langsung menahan tawanya dengan tangan

Raida melirik datar "Jangan tertawa"

"Aku tidak tertawa"

"aku jelas mendengar mu tertawa tadi"

Amel akhirnya benar benar tertawa kecil

Raida menghela napas panjang lalu kembali memasukkan koin lain

"Kau serius mencoba lagi?" tanya Amel

Raida menatap lurus ke mesin"Aku tidak suka kalah melawan mesin"

"Itu terdengar sangat kekanak kanakan"

"Diam"

Amel kembali tertawa pelan sambil berdiri di sampingnya

Dan tanpa mereka sadari…

sejak keluar dari hotel tadi, jarak di antara mereka perlahan mulai terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya

Amel masih berdiri di sampingnya sambil menahan senyum "Aku mulai kasihan pada mesin"

Raida tidak menjawab

Matanya tetap fokus pada boneka putih di dalam mesin

Lengan besi itu bergerak perlahan ke kanan… sedikit maju… lalu berhenti tepat di atas boneka

Raida menekan tombol

Clack

Lengan mesin turun perlahan

Amel ikut memperhatikan tanpa sadar

Penjepit itu berhasil mencengkeram bagian tengah boneka dengan lebih pas dibanding sebelumnya

Boneka itu terangkat

Amel sedikit membelalakkan mata "Oh?"

Raida tetap diam menatap mesin

Boneka itu bergoyang pelan di udara beberapa detik yang terasa sangat lama…

Lalu

Buk

Boneka itu jatuh tepat ke lubang hadiah

Suara kemenangan kecil dari mesin langsung terdengar

Amel berkedip beberapa kali seolah tidak percaya

Raida berdiri tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket lagi "Sudah kubilang"

Amel menatapnya "Kau benar benar serius sampai menang hanya demi boneka"

Raida mengambil boneka itu dari tempat hadiah lalu menatapnya sebentar

Boneka putih bulat itu memiliki ekspresi malas dengan mata setengah tertutup

Raida lalu mengulurkan boneka tersebut ke arah Amel

"Nih"

Amel sedikit terdiam "Untukku?"

"Bukankah dari tadi kau menginginkannya?" balas Raida

"Aku tidak bilang begitu" ujar Amel lagi

"Tapi wajahmu mengatakan iya"

Amel menatap boneka itu beberapa detik sebelum akhirnya menerimanya pelan

"...Terima kasih"

Untuk sesaat senyum kecil terlihat jelas di wajahnya. Senyum yang jauh lebih lembut dibanding biasanya

Raida memperhatikannya diam diam

Lalu tanpa sadar… ia teringat sesuatu

Dulu, ia juga pernah memenangkan hadiah kecil untuk lily di festival di sebuah festival

Ingatan itu muncul begitu saja membuat ekspresi Raida sedikit berubah

Amel yang menyadarinya langsung memiringkan kepala kecil "Raida?"

Raida tersadar lalu menggeleng pelan "Bukan apa apa"

Amel menatapnya beberapa detik seolah tahu itu bukan jawaban sebenarnya… tapi ia tidak memaksa bertanya lagi

Sebagai gantinya, ia mengangkat boneka itu sedikit ke depan wajah Raida

"Lihatlah, boneka ini terlihat begitu malas seperti Rey dan Zeks bukan"

Raida menatap boneka itu beberapa detik…

Lalu tanpa sadar tertawa kecil

Lalu tanpa sadar tertawa kecil lagi

Amel ikut tersenyum melihatnya

Tak jauh dari mereka, beberapa lampu arcade terus berkedip terang memenuhi ruangan

More Chapters