Ficool

Chapter 31 - Bab 31 tour ke jepang

Seorang anak kecil sedang berjalan sendirian, anak itu adalah Raida waktu ia masih kecil

"RAIDA!" teriak seorang anak kecil lain dari belakang

Ia langsung berlari dan merangkul "hei, kenapa kau sendirian"

Raida menoleh cepat saat tubuhnya dirangkul dari belakang. Wajahnya yang tadi kosong langsung berubah cerah

"Varrel!" serunya sambil tertawa kecil

Varrel melepas rangkulannya lalu berdiri di samping Raida dengan napas sedikit terengah karena berlari. Rambutnya berantakan, dan sebuah bola lusuh berada di bawah lengannya

"Aku mencarimu dari tadi kupikir kau sudah pulang" ucap Varrel

Raida menggeleng cepat "Belum! Aku jalan jalan sebentar"

"Sendirian lagi?" Varrel menyipitkan mata curiga

Raida tertawa kecil sambil menggaruk pipinya

Varrel menghela napas "Ayo main bola!"

Mata Raida langsung berbinar "Serius?!"

Varrel mengangkat bolanya tinggi-tinggi "Aku bahkan bawa ini"

Raida langsung melompat kecil penuh semangat "Ayo! Kali ini aku pasti menang!"

"Hah? Mimpi saja!" balas Varrel sambil tertawa

Mereka berdua mulai berlari menuju lapangan tanah kecil di dekat deretan rumah. Langit sore berwarna jingga lembut, sementara suara anak anak lain terdengar samar dari kejauhan

Sesampainya di lapangan, Varrel melempar bola itu ke arah Raida

Raida menangkapnya dengan kikuk lalu tersenyum lebar.

"Siap kalah?"

Varrel mundur beberapa langkah sambil menunjuk Raida penuh percaya diri "Harusnya aku yang bilang begitu"

Angin sore berhembus pelan melewati lapangan kecil itu

Untuk sesaat… mereka hanya saling berhadapan dan saling menatap

Raida kecil berdiri dengan senyum cerah khas anak yang penuh mimpi dan semangat, Matanya hidup, tanpa beban sedikit pun. Debu tanah menempel di lutut celananya, tapi ia terlihat begitu bahagia hanya karena ada seseorang yang menemaninya bermain

Sementara Varrel memasang wajah penuh tantangan, walau sudut bibirnya terus menahan tawa

"Kalau aku menang, kau harus traktir es kream" kata Raida sambil memegang bola di depan dadanya

Varrel langsung protes "Hah?! Kenapa jadi aku?!"

"Karena aku bakal menang"

Varrel menunjuk Raida cepat "Kalau aku menang, kau yang traktir!"

Raida tertawa keras "Oke!"

Lalu

BUGH!

Bola langsung ditendang Raida sekuat tenaga ke arah Varrel

"HEI! CURANG!" teriak Varrel sambil panik mengejar bola

Tawa kedua anak itu memenuhi lapangan kecil sore itu, terdengar ringan… seolah dunia mereka saat itu belum mengenal kehilangan apa pun

Beberapa saat kemudian…

Lapangan kecil itu sudah dipenuhi jejak kaki dan debu beterbangan. Nafas kedua anak itu mulai tidak teratur setelah terus berlari mengejar bola tanpa henti

"Akulah pemenangnya, sana beli es kream" ucap raida

Varrel langsung mendecih kecil "Iya iya… sombong sekali"

Varrel pergi untuk membeli es kream

Saat varrel sedikit jauh, Raida menyeringai lalu menendang bola ke arah Varrel, tapi tiba tiba bola itu melenjeng dan tak sengaja mengarah ke jalan lalu mengenai bagian depan truk yang sedang melaju, membuat supir kaget dan hilang kendali ke arah Varrel

"VARREL, AWAS MEMYINGKIR DARI SANA" teriak Raida

Varrel menoleh ke arah truk yang sedang hilang kendali

TIIIIIN!!!

BRAK!!!

Truk itu menabrak Varrel membuatnya terpental beberapa meter

"VARREL!" teriak Raida lalu berlari ke arah Varrel

Varrel terbaring lemah di tanah, darah terus mengalir keluar matanya sayu, tampa tanda kehidupan

"Ada yang tertabrak" ucap seseorang 

Setelah beberapa saat beberapa orang langsung mengerumuni tubuh Varrel

Raida membeku melihat tubuh Varrel yang tak bernyawa, nafasnya tak beraturan

"Raida" suara seorang wanita

HAH HAH HAH !!!

Nafasnya, masih tak beraturan pengelihatannya menjadi gelap

"Raida, Raida, hei!" suara itu terdengar lagi

Raida membuka matanya

"Raida!, bangun kita sudah sampai" ucap Amel

Raida melihat sekeliling ternyata tertidur di bus dan semua itu hanya mimpi

"Kenapa tiba tiba aku teringat kejadian itu?" Gumam Raida

"Kejadian apa?" tanya Amel

Raida menggeleng "bukan apa apa, hanya mimpi" 

"Kalau begitu cepat, kita sudah sampai di kuota" ucap Amel 

Mereka pun keluar dari bus

Di luar sudah ada sarah, zeks, rey dan teman teman sekelas yang sedang menunggu

Amel berdiri di depan rombongan sambil memegang sebuah map tipis

 Angin sore Jepang berhembus pelan, menggoyangkan rambutnya sementara lampu lampu kota mulai menyala di sekitar area parkir bus

Di belakang mereka, gedung gedung tinggi Shibuya terlihat ramai dipenuhi layar besar yang terus bergerak menampilkan iklan berwarna warni

Suara kendaraan dan percakapan orang orang bercampur menjadi satu, membuat suasana terasa hidup

Raida berdiri tak jauh dari Amel. Tatapannya sempat terarah ke keramaian jalan beberapa detik sebelum akhirnya kembali tenang seperti biasa

"Baik, semuanya dengarkan sebentar!" suara Amel terdengar cukup jelas di tengah keramaian

Percakapan para siswa perlahan mereda

Amel membuka map di tangannya

"Mulai hari ini sampai beberapa hari ke depan kita akan menjalani tour di Jepang. Dan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya… kalian bebas pergi ke mana pun"

Beberapa siswa langsung bersorak pelan

"Tapi, kalian tetap harus memperhatikan jadwal berkumpul. Kalau sampai tertinggal, kami tidak akan mencarikan kalian ke seluruh kota" lanjut Amel sambil menatap mereka satu per satu

Zeks langsung mengangkat tangan "Kalau tersesat gimana?"

Sarah menatapnya datar "Kau baru turun lima menit sudah berpikir soal tersesat?"

"tak ada salahnya untuk antisipasi." balas Zeks

Rey menghela napas kecil

Amel menahan senyum tipis lalu melanjutkan.

"Hari ini tujuan pertama kita adalah Shibuya Tapi sebelum itu, kita akan pergi ke hotel dulu untuk menyimpan barang"

Beberapa siswa langsung terdengar lega

"Setelah sampai hotel, kalian bebas keluar sampai malam. Kalian bisa jalan jalan, belanja, makan, atau pergi ke tempat yang kalian mau"

Amel lalu menunjuk halaman di mapnya

"Besok pagi kita akan berkumpul jam delapan di lobby hotel. Setelah itu jadwalnya kita pergi ke Asakusa dan beberapa tempat"

"Kalau malam ini?" tanya salah satu siswa

"Malam ini bebas. Tapi jam sepuluh malam semua harus sudah kembali ke hotel"

"Kalau telat?" tanya Zeks lagi.

Amel menatapnya tanpa ekspresi "dilarang masuk ke hotel"

Beberapa siswa langsung tertawa

Zeks membeku beberapa detik "…Kejam sekali"

"Itu khusus untukmu" balas Sarah cepat

Tawa kecil kembali terdengar

Raida memperhatikan suasana itu diam diam. Untuk sesaat, ekspresinya terlihat jauh lebih ringan dibanding sebelumnya

Amel menutup mapnya pelan "Baiklah, kalau semuanya sudah paham kita langsung berangkat ke hotel"

Rombongan mulai bergerak mengikuti arahan menuju kendaraan lain yang sudah menunggu

Saat berjalan, Zeks langsung mendekati Raida sambil memasukkan satu tangannya ke saku jaketnya dan satu lagi menarik koper

"Raida"

"Hm?" sahut Raida

"Kita keliling Shibuya malam ini, kan?"

"Mungkin" balasnya

Zeks menyeringai lebar "Bagus. Aku dengar tempat itu penuh makanan"

"Itu yang pertama kali kau pikirkan?" tanya Rey dari belakang

"Prioritas hidup setiap orang berbeda"

Sarah menggeleng pelan mendengar itu

Sementara mereka berjalan, Raida melirik langit Jepang yang mulai berubah gelap

Lampu kota mulai menyala semakin terang

Keramaian… suara orang orang… dan tawa teman temannya di sekitar membuat mimpi buruk tadi perlahan terasa semakin jauh

Beberapa saat kemudian…

Pintu hotel terbuka otomatis saat rombongan masuk ke lobby yang luas dan terang. Cahaya lampu gantung memantul di lantai marmer, sementara suara koper yang diseret memenuhi ruangan

Beberapa siswa langsung melihat sekitar dengan kagum

"Gila… hotelnya besar juga" gumam salah satu siswa

"Kalau begini aku jadi malas keluar" ujar Zeks sambil melihat sofa lobby yang empuk

"Itu karena kau memang dasarnya malas" balas Sarah tanpa menoleh

Amel berjalan ke depan dekat meja resepsionis sambil membawa beberapa kartu kamar "Baik, dengarkan sebentar. Aku akan membagikan kamar"

Suasana langsung sedikit lebih tenang

Amel mulai menyebut nama satu per satu "Sarah dengan aku"

Sarah mengangguk ringan sambil menerima kartu kamar

"Rey dengan Zeks"

"Akhirnya ada yang senasib denganku" ujar Rey datar

Zeks langsung menyeringai lebar. "Tenang saja, aku kan sahabat terbaikmu"

Amel melanjutkan pembagian kamar lainnya sebelum akhirnya berhenti sebentar

"Raida…"

Raida yang berdiri tak jauh dari jendela lobby mengangkat pandangan

"Kau sendiri"

"Hah?! Kenapa dia sendiri?!"

"Karena tidak ada lagi yang bisa di pasangkan dan juga kalau sekamar denganmu mungkin dia tidak akan tahan"balas Sarah cepat

Amel menyerahkan satu kartu kamar pada Raida

"Kamar lantai paling atas"

Raida menerima kartu itu pelan "Terima kasih"

Amel mengangguk kecil sebelum kembali melanjutkan pembagian kamar yang tersisa

Tak lama kemudian, rombongan mulai berpencar menuju lift masing masing sambil membawa koper mereka

Zeks berjalan sambil mengeluh pelan "Kenapa kamar Raida sendiri sementara aku harus sekamar dengan Rey…"

Rey melirik datar "Aku juga ingin menanyakan hal yang sama"

"Itu karena kalian berdua terlalu berisik" sahut Sarah santai

Pintu lift terbuka

Mereka masuk bersama beberapa siswa lain

Raida berdiri di dekat belakang lift dengan tenang sambil memegang kartu kamarnya. Matanya sesekali melihat angka lantai yang terus bergerak naik

Ting

Lift berhenti di lantai atas

Raida keluar lebih dulu, diikuti Amel dan Sarah di belakangnya

Lorong hotel terlihat tenang dengan lampu kekuningan yang lembut. Karpet merah gelap membentang panjang sepanjang koridor

Raida melihat nomor kamarnya 312

Tepat di sebelahnya… 311

Amel memperhatikan nomor itu lalu tersenyum kecil. "Kebetulan sekali"

Sarah melirik dua pintu kamar yang berdampingan itu bergantian sebelum akhirnya menatap Amel dengan senyum tipis penuh arti

Amel langsung menyadarinya "Jangan mulai"

"Aku belum mengatakan apa apa" balas Sarah santai

Raida hanya menghela napas kecil sambil membuka pintu kamarnya

Suara pintu terbuka pelan memperlihatkan kamar yang luas dan rapi. Cahaya kota Shibuya langsung terlihat dari jendela besar di sisi ruangan

Raida masuk lalu meletakkan kopernya di dekat tempat tidur

Sementara itu di luar…

Amel masih berdiri di depan pintu kamarnya sambil membuka kartu akses

Sarah melirik ke arah kamar Raida yang belum tertutup sepenuhnya

"Kau sengaja memilih kamar itu?" ujar sarah

Amel membuka pintu kamarnya perlahan. "Tidak"

"maksud mu tidak keberatan." ujar sarah lagi

Amel diam beberapa detik sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar

"ayo masuk dan berkemas" jawabnya singkat

Sarah tersenyum kecil seolah sudah mengerti maksud sebenarnya

Di dalam kamar...

Raida berdiri di dekat jendela sambil memandang pemandangan malam kota Jepang

Lampu neon berwarna warni memenuhi jalanan di bawah sana

Keramaian kota terlihat seperti lautan cahaya yang terus bergerak tanpa henti

Beberapa menit kemudian...

Raida terdiam cukup lama sebelum akhirnya terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamarnya

Tok tok

Raida menoleh

"Raida?" suara Amel terdengar dari luar

Raida berjalan mendekat lalu membuka pintu

Amel berdiri di depan pintu dengan pakaian yang sudah lebih santai dibanding sebelumnya. Rambutnya sedikit basah, sepertinya baru selesai merapikan diri setelah perjalanan panjang

More Chapters