Ficool

Chapter 30 - Bab 30 rumah

Keesokan harinya...

Cahaya matahari bersinar menembus jendela jendela markas terpantul ke punggung raida yang sedang duduk, melihat sebuah foto dirinya dengan lily di tangannya,

"Raida kau sudah bangun" suara amel terdengar dari luar

Raida melirik pintu lalu memasukan foto itu ke cincin penyimpanannya

Ia membuka pintu lalu keluar dari kamarnya

"Ayo kita sarapan terlebih dahulu" kata amel

Raida hanya mengangguk pelan. Wajahnya sudah kembali tenang dengan senyum kecil, seolah tidak ada apa pun yang mengganggu pikirannya barusan.

Mereka berjalan berdampingan menuju tempat makan

"HEI, KALAIN BERDUA CEPATLAH SEBELUM KAMI MENGHABISKAN SEMUANYA" ujar Zeks

Raida sedikit mengernyit mendengar teriakan itu. "Ada-ada saja…" gumamnya pelan

Amel menahan tawa kecil. "Kalau kita benar benar terlambat, dia bisa saja melakukannya"

Mereka mempercepat langkah

Begitu sampai di ruang makan, suasana sudah cukup ramai. Zeks duduk dengan santai sambil memegang sendok, wajahnya terlihat sangat puas. Di sebelahnya, Sarah menggelengkan kepala pelan, sementara Rey sibuk dengan makanannya tanpa terlalu peduli

"Kalian lama sekali, aku hampir menghabiskan semuanya" ujar Zeks

Raida menarik kursi tanpa tergesa, lalu duduk dengan tenang "Sayangnya 'hampir' itu tidak pernah cukup buatmu" balasnya

Zeks menyeringai. "Kalau begitu kau harus berterima kasih. Aku masih menyisakan sedikit"

"Sedikit menurut versimu itu biasanya hanya remah" sela Sarah sambil melirik tajam

Amel duduk di samping Raida, lalu mengambil piring. "Tenang saja, aku sudah menyiapkan cadangan"

Zeks langsung menoleh. "Kau menyembunyikan makanan?!"

"Bukan menyembunyikan tapi mengantisipasi" Balas Amel

Rey akhirnya angkat bicara tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya. "Kalau tidak begitu kau pasti menghabiskan semuanya"

Zeks mengangkat bahu. "Itu namanya seleksi alam, lagi pula kau juga sama"

Raida menghela napas pelan, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

Raida mulai makan

Zeks melirik ke lengan Raida "ehem... Ada yang dapat gelang baru nih"

"Gelang ini ku dapat dari amel" balas raida

"Kemarin kalian berdua kemana saja, sampai larut malam, katanya hanya membeli barang" ujar rey

Raida dan amel saling pandang

"Hanya mampir ke beberapa tempat" balas Amel

Zeks langsung menyeringai lebar "Beberapa tempat? Kedengarannya mencurigakan"

"Kalian pergi berdua sampai larut malam, pasti terjadi sesuatu yang menarik di antara kalian, ayo ceritakan pada kami" ujar Sarah

Amel langsung menatap Sarah dengan ekspresi datar, tapi ada kilau tipis di matanya "Sejak kapan kau jadi seperti Zeks?"

Zeks menepuk meja pelan. "Hei, aku merasa tersaingi"

Sarah mengangkat bahu santai "Aku hanya penasaran. Itu wajar, kan?"

Semua mata kembali ke Raida dan Amel

Raida berhenti makan sebentar, lalu bersandar sedikit di kursinya "Tidak ada yang menarik" katanya tenang

Zeks langsung mendecak "Kau terlalu sering mengatakan itu untuk sesuatu yang jelas tidak biasa"

Raida menghela nafas "ngomong ngomong kalian beberapa hari ini terus saja menginap di sini, orang tua kalian pasti khawatir malam ini pulanglah"

"Aah, kau selalu saja mengalihkan pembicaraan" balas Rey

Zeks langsung tertawa kecil "Dia benar. Setiap kali terpojok, kau pasti ganti topik"

Amel menahan senyum, tapi tidak ikut menyela

Rey akhirnya meletakkan sendoknya "…Tapi dia tidak sepenuhnya salah"

Zeks berhenti tertawa "Hah?"

Rey melirik ke arah jendela sebentar sebelum melanjutkan

"Kita memang sudah beberapa hari di sini"

Suasana sedikit berubah

Sarah menghela napas pelan "Orang tuaku sudah mengirim pesan sejak kemarin"

Zeks mendecak pelan "Yang sama denganku"

Raida tidak mengatakan apa-apa, hanya menunggu

Amel akhirnya berbicara, suaranya lebih lembut dari sebelumnya "Malam ini… pulang saja"

Tidak ada paksaan dalam nada suaranya, hanya… kepastian

Zeks menggaruk belakang kepalanya "Padahal di sini lebih seru"

"Bukan soal seru atau tidak" jawab Amel

Rey mengangguk pelan "Kita juga punya kehidupan di luar ini"

Raida menatap mereka sebentar, lalu berkata singkat "Markas ini tidak akan ke mana-mana"

Zeks mendesah panjang, lalu menyandarkan tubuhnya "Baiklah… malam ini aku pulang"

Sarah mengangguk "Aku juga"

Rey hanya mengangguk tanpa berkata apa apa

Beberapa saat kemudia mereka selesai makan dan akan pergi ke sekolah

Mereka berdiri hampir bersamaan.

Suara kursi bergeser pelan memenuhi ruangan, menggantikan percakapan yang perlahan mereda. Satu per satu mulai merapikan seragam mereka

Raida membetulkan lengan bajunya, lalu tanpa sadar melirik gelang di pergelangan tangannya sejenak. Hanya sebentar… sebelum ia kembali seperti biasa

Amel yang berdiri di sampingnya memperhatikan itu, tapi tidak mengatakan apa pun

"Baiklah, ayo sebelum kita benar-benar terlambat," ujar Rey sambil mengambil tasnya

Zeks menguap lebar "Sekolah lagi… aku sudah terlalu nyaman di sini"

Sarah menatapnya datar "Kau nyaman karena tidak melakukan apa-apa"

"Itu bagian terbaiknya" balas Zeks santai

Mereka mulai berjalan keluar dari ruang makan menuju pintu utama markas

Amel berjalan sedikit lebih dekat ke Raida 'Kau tidak mengatakan apa-apa lagi soal semalam" ucapnya pelan

Raida menatap ke depan "Tidak perlu"

Amel mengangkat alis tipis "Tidak perlu… atau tidak mau?"

Raida terdiam beberapa detik. "…Kalau aku mengatakannya, yang lain akan terus bertanya"

Amel tersenyum kecil 'Jadi kau memilih diam"

Raida meliriknya sekilas "Untuk hal tertentu… iya"

Mereka pun keluar dari markas

Beberapa jam telah berlalu dan cahaya jingga dari langin sore terpantul dari jendela, pintu terbuka Raida masuk ke markas sendirian

Lalu ia melihat sekitar "memang terasa sepi saat mereka tak ada" ujar raida

Raida melihat gelang di tangannya lalu tersenyum "lagi pula mereka punya kehidupan"

Raida masuk ke ruangan fey

"Bagaimana kabarmu hari ini, apa energimu sudah pulih, atau kau hanya ingin bermalas malasan" kata Raida

"Kenapa sepi sekali?, kemana mereka" ujar Fey

"Mereka pulang ke rumah mereka masing masing" balas Raida

"Lalu kau, apa kau tidak pulang ke rumah mu?" ujar Fey lagi

Raida terdiam sejenak di ambang pintu.

Pertanyaan itu sederhana… tapi cukup membuatnya berhenti

Ia melangkah masuk lebih jauh ke dalam ruangan, lalu bersandar santai di dekat dinding

"Untuk sekarang tidak... Tenang saja aju sudah bicara pada ibuku tak perlu khawatir, lagi pula aku sering menyempatkan diri untuk pulang, selama identitasku tidak di ketahui semua akan baik baik saja" balas Raida

Fey menatap Raida beberapa saat, seolah menimbang jawaban itu "…Jadi kau masih punya tempat untuk kembali" ucapnya pelan.

Raida mengangguk ringan "Ada"

Ia tidak terlihat ragu kali ini

Fey menyipitkan mata, lalu tiba-tiba tersenyum tipis

"Bagus… berarti kalau kau tiba-tiba menghilang, masih ada yang akan mencarimu"

"Kita sudahi saja pembicaraan ini, kau mau makan apa, ku buatkan" ujar Raida

"Apapun yang kau buat" balas Fey

Raida langsung menghela napas kecil "Jawaban yang paling tidak membantu"

Fey menyeringai santai "Aku tidak pilih-pilih. Itu bentuk kepercayaan"

Raida dan Fey keluar ruangan dan pergi ke dapur

Raida berjalan lebih dulu ke arah dapur, sementara Fey mengikuti di belakang dengan langkah santai

"Tempat ini benar-benar terlalu tenang tanpa mereka" gumam Fey sambil melihat sekitar

"Biasanya kau juga mengeluh kalau terlalu ramai" balas Raida tanpa menoleh

"Setidaknya kalau ramai, aku bisa pura-pura sibuk" jawab Fey ringan

Raida membuka lemari dan mulai mengecek bahan yang ada "Kau itu hanya suka alasan"

Fey tersenyum tipis "Dan kau terlalu jujur untuk orang yang sering menyimpan banyak hal"

Raida berhenti sebentar, lalu mengambil telur dari rak pendingin "Kalau semuanya diucapkan, itu justru lebih berisik dari Zeks"

Fey langsung tertawa pelan "Itu standar yang cukup tinggi"

Raida mulai menyalakan kompor "Tidak sulit untuk melampauinya"

Fey duduk di kursi dekat dapur, mengamati "Ngomong-ngomong, tadi kau bilang mereka sudah pulang semua?"

"Iya"

"Dan kau tidak ikut merasa… kosong?"

Raida tidak langsung menjawab. Tangannya tetap sibuk di depan kompor, suara telur yang mulai matang mengisi jeda

"Ada bedanya antara sepi dan kosong" katanya akhirnya

Fey menyandarkan dagu di tangannya "Penjelasan yang terdengar seperti jawaban orang yang sudah terbiasa sendiri"

Raida menoleh sekilas "Mungkin memang begitu"

Fey hendak berkata lagi, tapi tiba tiba

"RAIDA!!"

Teriak Zeks yang tiba tiba muncul dari balik pintu dengan wajah santai, tangan melambai seolah tidak terjadi apa-apa.

"Wah, ternyata masih hidup di sini"

Raida menatapnya datar "Kau belum pulang"

Zeks masuk tanpa izin, langsung duduk di meja "Aku lupa ambil jaket"

Fey menghela napas "Kebetulan sekali"

Zeks melirik makanan di wajan "Eh, itu buat siapa?"

Fey langsung menunjuk dirinya "Aku"

Zeks mengangguk serius "Kalau begitu aku bantu cicip dulu"

Raida langsung mengambil sendok kayu dan menunjuknya "Tidak"

Zeks mengangkat tangan "Santai, santai. Aku hanya memastikan kualitas makanan"

Fey tertawa kecil "Kau selalu punya alasan untuk hal yang sama"

Zeks bersandar di kursi "Itu namanya profesional"

Raida kembali fokus memasak "Profesional dalam mengganggu"

Zeks tersenyum puas "Terima kasih"

Suasana dapur yang tadi tenang langsung berubah jadi sedikit lebih hidup. Bahkan Fey terlihat lebih santai dari sebelumnya.

Beberapa menit kemudian, Raida meletakkan dua piring di meja.

Zeks langsung bersinar "Nah ini baru yang aku cari"

Fey melihat makanannya, lalu menatap Raida "Kau benar-benar bisa memasak sesuatu yang tidak terlihat berbahaya"

Raida duduk "Kau terlalu sering meragukan hidupmu sendiri"

Zeks sudah mulai makan "Ini enak. Aku revisi pendapatku, Raida bisa jadi koki darurat"

"Darurat?" Raida mengulang

"Ya. Kalau dunia runtuh, kau masih bisa bertahan sebagai tukang makan orang lain"

Fey hampir tersedak tertawa.

Raida hanya menatapnya tanpa ekspresi "Kau datang ke sini hanya untuk makan?"

Zeks mengangguk tanpa malu "Dan mengambil jaket"

"Jaketmu di luar"

Zeks berhenti "Oh"

Fey menunjuk ke arah pintu "Pergi sekarang sebelum kau menghabiskan semua stok dapur"

Zeks berdiri sambil masih mengunyah "Baiklah, baiklah. Aku pergi"

Sebelum keluar, ia menoleh lagi "Eh Raida"

"Apa"

"Apa kau sudah mengemas barang parang mu untuk wisata kelas kita" ujar Zeks

Raida berhenti sejenak, sendok di tangannya juga ikut diam di udara

"…Belum" jawabnya datar

Zeks langsung menyeringai lebar "Aku sudah tahu jawabannya akan seperti itu"

Fey di kursi sebelah menghela napas kecil. "Kau ini benar-benar tidak pernah berubah, ya?"

Zeks mengangkat bahu "Justru itu yang bikin hidup menarik"

Raida menatapnya sekilas "Wisata itu bukan medan perang. Tidak perlu 'mengemas seperti akan bertahan hidup', aku hanya akan membawa barang barang yang ku beli dengan Amel kemarin"

Zeks berhenti di ambang pintu, lalu menoleh pelan "…Barang-barang yang kalian beli itu masih masuk kategori 'wisata' kan?" tanyanya curiga

Raida menatapnya datar. "Itu hanya pakaian dan kebutuhan biasa."

Fey langsung menimpali dari kursi, "Kalau menurut Raida, 'kebutuhan biasa' bisa berarti apa saja"

Zeks menyeringai "Berarti aku harus waspada."

Raida menghela napas kecil "Kau terlalu banyak berpikir untuk orang yang bilang hidup itu menarik"

Zeks menunjuk dirinya sendiri "Itu karena aku menjaga keseimbangan dunia"

"Dengan makan dan mengganggu?" tanya Fey santai

"Benar" jawab Zeks tanpa ragu

Raida sudah kembali menata makanan di piringnya "Kalau begitu dunia sudah lama kacau"

Zeks tertawa pelan "Tapi masih berjalan, kan?"

Raida tidak membalas. Hanya melirik sekilas ke arah jendela dapur cahaya sore mulai masuk tipis tipis

Zeks akhirnya melangkah keluar sambil melambaikan tangan "Jangan lupa ya. Wisata itu sebentar lagi"

Fey bersandar lagi di kursinya "Dia itu seperti alarm berjalan"

Raida duduk kembali, tenang seperti biasa. "Setidaknya dia tidak terlambat"

Fey tersenyum kecil "Dan kau… biasanya justru baru mulai bersiap di saat terakhir"

Raida meliriknya singkat "Kali ini tidak"

Fey mengangkat alis "Yakin?"

Raida kembali makan

"…Iya"

More Chapters