Raida sedikit terkejut saat Amel menarik lengannya, tapi ia tidak menolak. Justru, untuk sesaat ia membiarkan dirinya terbawa langkah Amel yang lebih cepat dari sebelumnya.
"Hei… pelan sedikit" ucap raida, setengah tertawa
Amel menoleh dengan senyum yang masih tersisa. "Kalau pelan, nanti kau mulai berpikir tentang masalahmu lagi"
Raida mengangkat alis "Berpikir itu buruk?"
"Untuk hari ini… iya" jawab amel ringan
Raida hanya menghela napas kecil, tapi tidak membantah.
Mereka berjalan menyusuri jalan yang sedikit lebih ramai dari sebelumnya. Kali ini, Amel terlihat lebih hidup sesekali berhenti melihat sesuatu, lalu melanjutkan lagi
Tak lama, mereka sampai di sebuah deretan toko pakaian
"Di sini" kata Amel sambil menunjuk salah satu toko
Raida melirik ke dalam "Kita akan lama di sini?"
Amel menatapnya datar "Kalau kau mengeluh, aku akan benar-benar lama."
Raida langsung mengangkat tangan "Aku tidak mengatakan apa-apa."
Amel tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam.
Di dalam toko, suasana cukup ramai. Beberapa orang memilih pakaian, beberapa lagi mencoba di depan cermin.
Amel langsung menuju rak pakaian wanita mengambil beberapa baju dan memperhatikannya satu per satu.
Raida berdiri di dekat pintu, memperhatikan sekitar dengan tangan di saku.
Beberapa menit berlalu.
"Raida."
"Hmm?"
"Ke sini."
Raida berjalan mendekat.
Amel mengangkat dua pakaian. "Menurutmu yang mana?"
Raida melihat sekilas… lalu terdiam beberapa detik.
"…Yang kanan" jawabnya akhirnya.
"Kenapa?"
Raida mengangkat bahu. "Lebih cocok untukmu."
Amel menatapnya beberapa saat, seolah menilai keseriusannya. "…Baiklah."
Ia meletakkan salah satu pakaian dan membawa yang dipilih Raida.
Beberapa saat kemudian, Amel kembali memanggilnya. "Yang ini?"
Raida menghela napas pelan, tapi tetap mendekat.
"Kau serius ingin pendapatku untuk semuanya?"
Amel mengangguk tanpa ragu. "Iya."
Raida menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Kalau begitu… jangan salahkan aku kalau pilihanku aneh."
Amel sedikit menyipitkan mata. "Kita lihat saja."
Waktu berlalu lebih lama dari yang Raida perkirakan, Amel mencoba beberapa pakaian, sesekali keluar untuk menunjukkan hasilnya.
Raida, yang awalnya terlihat santai, mulai benar-benar memperhatikan.
"Bagaimana?" tanya Amel saat keluar dengan pakaian lain.
Raida menatapnya beberapa detik lebih lama dari sebelumnya. "…Bagus."
"Cuma bagus?"
Raida berpikir sejenak. "…Cocok."
Amel tersenyum kecil. "Itu lebih baik."
Di lain waktu
"Yang ini?"
Raida langsung menjawab, "Yang sebelumnya lebih baik."
Amel mengangguk. "Aku juga berpikir begitu."
Tanpa mereka sadari, suasana menjadi lebih ringan
Setelah cukup lama, Amel akhirnya selesai, Ia membawa beberapa pakaian ke kasir,Raida berdiri di sampingnya
"Kau benar… ini lama."
Amel meliriknya. "Dan kau tetap di sini."
Raida tersenyum tipis." kau sudah menemaniku mencari barang barang yang ku butuhkan, apa salahnya aku menemanimu sampai selesai"
Amel terdiam sejenak… lalu menoleh ke depan lagi.
"Terima kasih."
Raida tidak langsung menjawab. "…Tidak masalah, dan seharusnya aku yang berterima kasih" katanya pelan.
Setelah keluar dari toko, mereka kembali berjalan
Kali ini, tangan Amel tidak lagi menarik
Raida,tapi jarak di antara mereka tetap dekat,Matahari sudah mulai condong sedikit,menandakan waktu berjalan cukup cepat.
"Masih ada tempat lain?" tanya Raida.
Amel berpikir sebentar. "...iya"
"Tempat apa?"
Amel tidak langsung menjawab. "Kau akan tahu."
Raida sedikit curiga "Kenapa terdengar mencurigakan?"
Amel tersenyum tipis. "Tidak perlu khawatir."
Beberapa menit berjalan, mereka sampai di sebuah taman. Tempat itu tidak terlalu ramai hanya beberapa orang duduk santai, anak-anak bermain, dan angin yang bertiup pelan.
Raida melihat sekeliling. "…Taman?"
Amel mengangguk. "Duduk sebentar."
Mereka mencari bangku kosong, lalu duduk berdampingan.Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Hanya suara angin… dan kehidupan yang berjalan pelan di sekitar mereka.
Raida menyandarkan punggungnya. "…Ini tempat terakhir?"
Amel menggeleng pelan. "Bukan."
Raida menoleh. "Lalu?"
Amel menatap ke depan. "Ini hanya… jeda."
Raida tidak bertanya lagi.
Beberapa detik berlalu.
"Raida,"panggil Amel pelan.
"Ya?"
Amel ragu sejenak… lalu berkata, "Kalau suatu saat kau benar-benar pergi…"
Raida terdiam.
Amel melanjutkan, "…kau tidak akan melupakan kami, kan?"
Raida menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresinya sedikit berubah. "…Tidak, Aku tidak akan melupakan kalian" jawabnya pelan
Amel menunduk sedikit, seolah merasa lega,"Bagus."
Raida memperhatikan Amel, lalu berkata, "Dan kau juga jangan berubah."
Amel mengangkat wajahnya. "Apa maksudmu?"
Raida tersenyum tipis. "Seperti yang kau bilang… kau adalah dirimu sendiri."
Amel terdiam beberapa detik… lalu tersenyum. "Iya."
Angin kembali berhembus pelan. Tanpa disadari, waktu berjalan dengan tenang.
Langit mulai berubah warna. Jingga perlahan menyatu dengan biru yang semakin dalam, menciptakan suasana yang lebih tenang dari sebelumnya.
Raida masih duduk bersandar, tapi kini tatapannya tidak lagi kosong. Sesekali ia melirik ke arah Amel… yang tampak lebih diam dari biasanya.
"Jeda yang cukup lama" gumam Raida pelan.
Amel tersenyum tipis tanpa menoleh. "Kau ingin buru-buru pergi?"
Raida menggeleng. "Tidak juga… hanya terasa berbeda saja."
"Berbeda itu tidak selalu buruk" jawab Amel ringan.
Beberapa anak berlari melewati mereka, tertawa tanpa beban. Raida memperhatikan sejenak, lalu menunduk sedikit. "…aku hampir lupa rasanya seperti ini," katanya tiba tiba.
Amel menoleh. "Seperti apa?"
Raida terdiam sebentar, mencari kata yang tepat.
"Tenang… tanpa harus berpikir tentang hal besar yang menunggu."
Amel menatapnya lebih lama dari sebelumnya. "Kalau begitu… ingat saja momen ini."
Raida tersenyum kecil. "Kau terdengar seperti seseorang yang yakin aku akan lupa."
Amel menggeleng pelan. "Bukan lupa… hanya… terkadang kau terlalu fokus ke depan sampai tidak melihat apa yang ada sekarang."
Raida tidak langsung menjawab. Ia hanya menghembuskan napas pelan, lalu menatap langit yang semakin gelap.
"…Mungkin kau benar."
Hening kembali turun, tapi kali ini terasa lebih hangat.
Beberapa menit kemudian, Amel berdiri perlahan.
"Ayo."
Raida mendongak. "Tempat berikutnya?"
Amel mengangguk. "Iya"
Raida ikut berdiri, merapikan pakaiannya. "Aku mulai penasaran sekarang."
Amel hanya tersenyum tanpa menjawab.
Mereka berjalan keluar taman, melewati jalan yang mulai diterangi lampu-lampu kota.
Suasana berubah lebih sunyi, tapi tidak sepi.
Langkah mereka akhirnya berhenti di sebuah tempat yang lebih tinggi dari sekitarnya.
Sebuah bukit kecil… dengan pemandangan kota yang mulai berkelap-kelip di bawah.
Raida mengangkat alis sedikit. "…Aku tidak menyangka."
Amel berjalan sedikit lebih maju, lalu berhenti di tepi pembatas. Angin di tempat itu terasa lebih kuat, meniup rambutnya perlahan.
"Ini tempat yang sering kudatangi," katanya.
Raida mendekat, berdiri di sampingnya.
"Sendirian?"
Amel mengangguk. "Kadang."
Raida menatap ke depan. Lampu-lampu kota seperti bintang yang jatuh ke bumi.
"…Tempat yang bagus,"kata Raida pelan, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
Amel tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang ke depan, ke arah cahaya-cahaya kota yang berkelip seperti sesuatu yang jauh… tapi tetap nyata.
Amel mengeluarkan sesuatu dari kantong belanja kecil yang ia bawa sejak tadi.
Sebuah gelang.
Raida langsung mengenalinya. "…Itu yang tadi"
Amel mengangguk pelan. "Iya."
Ia melangkah sedikit lebih dekat. "Berikan tanganmu."
Raida sedikit terdiam, tapi tetap mengulurkan tangannya.
Amel memegang pergelangan tangan Raida dengan lembut, lalu memasangkan gelang itu.
Gerakannya pelan… hati-hati.
Setelah selesai, ia tidak langsung melepaskan tangannya.
Raida tidak menarik tangannya.
Untuk beberapa detik… mereka hanya diam seperti itu.
Angin terus berhembus, membawa dingin malam yang mulai terasa namun genggaman Amel justru hangat.
"…Kenapa?" tanya Raida pelan, matanya tertuju pada gelang di pergelangan tangannya.
Amel masih memegangnya, ibu jarinya bergerak sedikit, seolah memastikan gelang itu benar-benar terpasang dengan baik.
"Supaya kau tidak lupa," jawabnya singkat.
Raida mengangkat alis sedikit. "Aku baru saja bilang aku tidak akan lupa."
Amel tersenyum tipis, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda di baliknya.
"Ini bukan untuk mengingat… orang, Ini untuk mengingat… perasaan." katanya
Raida terdiam.
Perlahan, Amel melepaskan tangannya… tapi jarak di antara mereka tetap dekat.
Raida mengangkat pergelangan tangannya, memperhatikan gelang itu di bawah cahaya redup kota.
Amel tidak langsung menjawab.
Ia hanya memperhatikan Raida lebih lama dari biasanya.
Seolah mencoba mengukir momen itu dalam ingatannya sendiri.
"... Jadi perasaan mu pada ku masih tak berubah, ya..." ucap Raida
Amel mengangguk, "iya, jadi apa jawabanmu sekarang"
Raida terdiam sejenak, suasana sunyi hanya ada angin malam
"... Jawaban ku tetap sama" ucapnya
Amel menunduk karena itu meremas bajunya
"Tapi... Kali ini aku akan memberimu kesampatan" kata raida
Amel menatap raida "kesempatan?"
Raida mengangguk "jadilah lebih kuat dari sekarang dan mungkin pada saat itu aku memberimu jawaban yang berbeda"
Mendengar hal itu mata amel berbinar
"Benarkah?" ujarnya
"Iya" balas raida
Amel mengacungkan jari kelingkingnya "berjanjilah padaku, kalau ini bukan hanya kata kata saja"
Raida juga mengacungkan jari kelingkingnya dan menghubungkannya dengan kelingking Amel "iya aku berjanji, buktikan padaku kalau cinta mu padaku itu bukan sebatas perasaan tapi juga tekad"
Amel mengangguk "iya"
Jari kelingking mereka masih terhubung beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan.
Angin malam berhembus pelan, membawa dingin yang samar… tapi tidak sampai memutus kehangatan yang ada di antara mereka.
Perlahan, Amel menurunkan tangannya terlebih dahulu
"Hari sudah semakin larut ayo kita kembali ke markas dulu" kata Amel
"Kau benar... Rey dan Zeks pasti sedang menunggu oleh oleh mereka" balas Raida
"Kalau begitu ayo berlomba... Siapa yang sampai dulu dia dapat bagian makan paling banyak" kata Amel lalu langsung berlari tampa aba aba
"Hei itu curang" ujar raida
Raida masih tak bergerak dan menatap gelangnya, "bukankah dia gadis yang unik Lily, dia sangat cerewet dan keras kepala sama sepertimu" gumamnya
Bayangan lily muncul sesaat di belakang Raida lalu menghilang
Raida tersenyum lembut, "terima kasih Lily, tunggulah aku di sana" gumannya lagi lalu berlari menyusul Amel
Dan pada saat itu juga dunia raida bukan lagi seperti sebelumnya, dunianya sekarang menjadi lebih berwarna
