Ficool

Chapter 28 - Bab 28 hari yang terasa lebih hangat

beberapa menit telah berlalu, sekarang mereka sedang membersihkan kekacauan yang mereka buat

Raida mengepel lantai yang basah karena air dan tampa sengaja melirik amel mengepel bagaian lain lalu menghampirinya

"Butuh bantuan?, aku sudah selesai dengan bagian ku" tanya raida

Amel menggelengkan kepalanya

"Tidak perlu aku sebentar lagi selesai" kata amel lalu melanjutkan mengepel

Raida bersandar ke dinding sambil memperhatikan amel

"Syukurlah!" kata raida

"Kenapa?" tanya amel

"Karena, aku senang kau tidak merubah prilakumu padaku, karena aku bilang kau mirip dengan lily" balas raida

"Karena aku adalah aku, dan lily adalah lily kami adalah dua orang yang berbedan dan kebetulan wajah dan prilaku saja yang sama" kata amel

Raida tersenyum tipis "kau benar"

Setuasi menjadi hening

"Kau bilang tadi akan menemaniku mencari barang dan mempersiapkannya kan, kita akan pergi jam berapa" ucap raida

Amel menghentikan gerakan pelnya sejanak, lalu menoleh ke arah raida

"Pagi saja, kalau siang biasanya tempatnya sudah ramai" kata amel

Raida mengangguk "jam berapa?"

Amel berpikir sejenak "sekitar jam delapan... Terlalu pagi?"

"Tidak... Itu bagus" jawab raida singkat

Amel kembali mengepel, tapi kali ini gerakannya sedikit lebih lambat

"Kalau kau bangun kesiangan, aku tak akan menunggu" katanya, setengah bercanda

Raida tersenyum tipis "aku bukan zeks"

Dari kejauhan, suara zeks langsung terdengar "HEI! AKU DENGAR ITU!"

Rey tertawa keras "fakta tak bisa di sangkal"

"KAU JUGA SAMA SAJA!"balas Zeks

Sarah menghela nafas panjang "kalian berdua benar benar tidak ada harapan..."

Amel tersenyum kecil mendengar keributan itu, lalu kembali fokus pada lantai yang hampir bersih

Raida masih bersandar, memperhatikan Amel tanpa banyak bicara

"Raida…" panggil Amel pelan tanpa menoleh

"Hmm?"

"Besok… kita pergi berdua saja, ya."

Raida sedikit terdiam. "Yang lain tidak ikut?"

Amel menggeleng. "Kalau mereka ikut, kita tidak akan pernah selesai belanja."

Raida terkekeh kecil. "Itu juga benar."

Amel akhirnya selesai, lalu berdiri tegak sambil menyandarkan pel ke dinding. "Kalau begitu, jangan terlambat."

"Aku akan datang tepat waktu" jawab Raida

Amel menatapnya sebentar, seolah ingin mengatakan sesuatu… tapi akhirnya hanya mengangguk kecil. "Bagus."

Dari arah ruang tengah, Rey kembali berteriak.

"HEY! KALIAN LAMA BANGET! AKU MAU KELUAR MENCARI MAKAN!"

Zeks menimpali. "AKU MAU YANG PEDAS!"

Sarah langsung menyela. "Kau kemarin sakit perut karena pedas, ingat tidak?!"

"Sekali-kali tidak apa-apa!"

Raida menghela napas, lalu berjalan menjauh dari dinding. "Sepertinya kita dipanggil."

Amel mengangguk. "Iya."

Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang tengah

Keesokan harinya…

Sinar matahari pagi masuk perlahan melalui jendela markas, suasana terasa lebih tenang dari biasanya. Tidak ada suara teriakan, tidak ada keributan hanya keheningan yang jarang terjadi

Raida sudah berdiri di depan pintu, mengenakan pakaian kasual sederhana. Tangannya dimasukkan ke saku, sesekali ia melihat ke arah jam

"Masih jam tujuh lewat…" gumamnya pelan

Pintu di belakangnya terbuka perlahan

"Lebih cepat dari yang aku kira."

Raida menoleh

Amel berdiri di sana, mengenakan pakaian santai yang rapi, rambutnya diikat sederhana. Penampilannya terlihat berbeda dari biasanya lebih ringan

"Kau juga," jawab Raida singkat.

Amel berjalan mendekat. "Aku tidak mau terlambat."

Raida tersenyum tipis. "Bagus."

Beberapa detik mereka hanya berdiri diam.

Lalu dari dalam

Pintu terbuka

"PAGI SEMUA" teriak Zeks dengan suara serak, lalu berhenti saat melihat mereka berdua di depan pintu

Rey muncul di belakangnya, masih setengah mengantuk. "…kalian serius pergi sepagi ini?"

Sarah juga keluar sambil melipat tangan.

"Dan berdua saja lagi."

Amel langsung memalingkan wajah sedikit.

"Kita hanya ingin cepat selesai."

Rey menyeringai. "Iya, 'cepat selesai' ya…"

Raida menghela napas. "Kalian jangan mulai."

Zeks menyilangkan tangan. "Tenang saja, kami tidak akan mengganggu 'kencan' kalian."

"Ini bukan kencan" jawab raida datar.

"Ya ya, apapun itu namanya" balas rey santai.

Sarah kemudian mendekat ke Amel, merapikan sedikit kerah bajunya. "Hati-hati di jalan."

Amel mengangguk kecil.

"Iya."

"Kalau begitu, kami pergi dulu." kata raida

"Jangan lupa oleh-oleh!" teriak zeks

"Kalau kalian kembali tanpa makanan, jangan harap bisa masuk," tambah Rey

Raida hanya mengangkat tangan tanpa menoleh. "Iya, iya…"

Amel mengikuti di sampingnya.

Di luar, udara pagi terasa sejuk. Jalanan ramai dengan orang orang yang melakukan aktivitas pagi mereka

Mereka berjalan berdampingan, tanpa terburu-buru.

"Tempat pertama?" tanya raida

Amel menunjuk ke arah jalan depan. "Kita ke toko perlengkapan dulu. Setelah itu baru yang lain."

Raida mengangguk "Baik"

Beberapa langkah mereka berjalan dalam diam, Namun kali ini, keheningan itu terasa… nyaman

"Aneh juga,"ucap raida tiba-tiba

"Apa?" tanya amel

"Biasanya kita selalu dikelilingi keributan mereka." balas raida

Amel tersenyum kecil. "Sesekali seperti ini tidak buruk, kan?"

Raida menatap ke depan "Tidak buruk."

Mereka terus berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai dengan orang. Pedagang kaki lima membuka lapak, aroma makanan hangat menyebar di udara, dan suara kendaraan bercampur dengan percakapan orang-orang yang memulai hari

Raida sesekali melirik ke sekitar, memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya tidak ia pedulikan

"Aku hampir lupa… suasana seperti ini" ucapnya pelan

Amel menoleh sedikit "Karena terlalu sering bertarung"

"Bukan hanya itu, kadang kita terlalu fokus pada tujuan… sampai lupa bagaimana rasanya hidup biasa" jawab raida

Amel tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan beberapa langkah, lalu berkata "Kalau begitu… anggap saja hari ini sebagai istirahat"

Raida tersenyum tipis "Kesepakatan yang bagus."

Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah toko perlengkapan. Bangunannya sederhana, tapi terlihat lengkap dari luar

Amel berhenti di depan pintu "Ini tempatnya."

Raida melihat papan nama di atas. "Kau sering ke sini?"

"Beberapa kali, tempat ini menjual banyak hal yang kita butuhkan" jawab amel

Mereka masuk ke dalam

Suasana toko cukup tenang, hanya ada beberapa orang yang berbelanja. Rak-rak dipenuhi berbagai barang dari perlengkapan perjalanan, pakaian, hingga peralatan sederhana

Amel langsung berjalan ke salah satu rak, mengambil beberapa barang tanpa ragu

Raida mengikuti di belakang "Kau sudah tahu apa saja yang harus dibeli?"

Amel mengangguk. "Kurang lebih"

Ia mengambil tas kecil, lalu memeriksa kualitasnya. "Kalau kita akan pergi ke beberapa tempat, tas seperti ini lebih praktis"

Raida mengambil satu juga, mencoba mengangkatnya "Ringan dan kuat"

Raida memperhatikan Amel yang tampak fokus memilih barang. Gerakannya tenang, teratur, seolah ia sudah terbiasa melakukan hal seperti ini

"Amel" panggil Raida

Amel menoleh. "Ya?"

"Kau terlihat… berbeda hari ini"

Amel mengangkat alis sedikit "Berbeda?"

"Lebih santai" jawab Raida.

Amel terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil.

"Mungkin karena hari ini adalah hari santaiku"

Raida tertawa kecil. "Masuk akal"

Mereka melanjutkan berbelanja. Amel memilih beberapa pakaian ringan, sementara Raida membantu membawa barang-barang yang sudah dipilih

Di salah satu sudut toko, Raida berhenti di depan rak yang berisi aksesoris sederhana

Ia mengambil sebuah gelang kecil

Amel memperhatikannya "Kau mau beli itu?"

Raida memutar gelang itu di tangannya "Tidak… hanya melihat."

Amel mendekat sedikit. "Kalau kau suka, beli saja."

Raida menggeleng "Tidak terlalu penting"

Amel menatapnya sebentar, lalu mengambil gelang itu dari tangan raida

"Kadang hal yang tidak penting… justru yang paling berarti" katanya pelan

Raida sedikit terdiam

Amel kemudian meletakkan gelang itu ke keranjang belanja mereka

Raida tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya sedikit berubah

Setelah beberapa waktu, mereka selesai memilih barang

Saat berjalan ke kasir, Raida berkata,

"Kau cukup cepat."

Amel tersenyum kecil "Aku bilang kan, kalau mereka ikut kita tidak akan selesai"

Raida mengangguk setuju

Setelah membayar, mereka keluar dari toko dengan beberapa kantong di tangan.

Udara di luar terasa sedikit lebih hangat sekarang.

"Selanjutnya?"tanya Raida

Amel berpikir sejenak "Kita cari tempat makan dulu"

Raida langsung setuju "Aku juga mulai lapar"

Mereka berjalan lagi, kali ini lebih santai

Di pinggir jalan, mereka menemukan sebuah restoran sederhana yang terlihat cukup ramai

Amel menunjuk ke sana "Bagaimana kalau di situ?"

Raida melihat sekilas "Sepertinya bagus"

Mereka duduk di salah satu meja.

Tak lama, seorang pelayan datang dan mencatat pesanan mereka

Setelah itu, suasana kembali tenang.

Raida menyandarkan punggungnya ke kursi "Aneh juga… duduk seperti ini tanpa harus waspada"

Amel menatapnya "Kau masih waspada?"

"Sedikit Kebiasaan." jawab raida

Amel tersenyum. "Kalau begitu, coba santai sedikit"

Raida menghela napas "Aku akan mencoba"

Beberapa saat kemudian, makanan mereka datang.

Aroma hangat langsung memenuhi meja

Amel mulai makan dengan tenang, sementara Raida masih memperhatikan sekitarnya sebelum akhirnya ikut makan.

"Enak" kata Raida setelah beberapa suapan

Amel mengangguk "iya"

Mereka makan dalam suasana yang nyaman.

"Setelah ini… kita ke mana?" tanya Raida

Amel berpikir sejenak. "Mungkin ke toko pakaian lagi, lalu tempat hiburan kecil"

Raida mengangkat alis "Tempat hiburan?"

Amel mengangguk. "Sekali-kali mencoba hal biasa"

Raida tersenyum tipis.

"Baik"

Setelah selesai makan, mereka membayar dan melanjutkan perjalanan

Kali ini, langkah mereka lebih ringan.

Mereka melewati berbagai tempat toko, taman, dan jalanan yang semakin ramai.

Di sebuah persimpangan, Amel tiba-tiba berhenti.

"Ada apa?" tanya Raida.

Amel menunjuk ke arah depan "Lihat itu"

Raida mengikuti arah pandangannya.

Di sana, ada sebuah tempat permainan sederhana tidak terlalu besar, tapi cukup ramai dengan orang-orang yang tertawa dan bermain.

Raida menatapnya beberapa detik "Kau ingin ke sana?"

Amel mengangguk kecil. "Iya"

Raida tersenyum. "Baiklah"

Mereka masuk ke dalam

Suasana di dalam penuh dengan suara tawa dan kegembiraan

Amel terlihat sedikit penasaran, melihat berbagai permainan yang ada

Raida memperhatikan ekspresinya

"Kau seperti anak kecil" katanya santai

Amel langsung menatapnya "Apa itu masalah?"

Raida menggeleng "Tidak. Justru… bagus"

Amel tersenyum kecil

Mereka mencoba beberapa permainan sederhana lempar bola, menembak target, dan hal-hal ringan lainnya

Beberapa kali Amel gagal, tapi ia hanya tertawa kecil.

Raida juga ikut bermain, meski tidak terlalu serius.

"Ini lebih sulit dari yang terlihat" kata Raida setelah gagal mengenai target

Amel tertawa pelan. "Akhirnya kau menemukan sesuatu yang tidak bisa kau kuasai dengan mudah"

Raida tersenyum. "Mungkin"

Waktu berlalu tanpa terasa.

Matahari mulai naik lebih tinggi, Setelah cukup lama, mereka keluar dari tempat itu.

"Capek?"tanya Raida.

Amel menggeleng "Tidak."

Raida melihat ke arah langit "Hari masih panjang."

Amel mengikuti pandangannya "Iya…"

Beberapa detik mereka berdiri diam

Lalu Amel berkata pelan "raida…"

"Ya?" jawab raida

"Kalau suatu saat… semua ini berakhir…"

Raida menoleh

Amel melanjutkan "…kau akan tetap seperti ini?"

Raida terdiam sejenak "Seperti ini… maksudmu?"

Amel menatapnya "Hidup normal… tanpa pertarungan"

Raida tidak langsung menjawab.

Ia melihat ke sekitar orang-orang yang berjalan, suara tawa, kehidupan yang sederhana

Lalu ia kembali menatap Amel "…Aku tidak tahu. Tapi…"

Amel menunggu

Raida tersenyum tipis. "…kalau aku bisa memilih, mungkin aku tidak akan keberatan"

Amel terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil

"Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi ke tempat lain" kata amel sambil menarik lengan raida dengan senyum lebar

More Chapters