malam itu setelah raida meninggalkan markas, ia pergi ke atap sebuah gedung
"Sial... Kenapa aku tidak bisa menahan diriku tadi" ucap raida sambil memegang kepalanya, "sepertinya aku harus minta maaf lagi besok"
Raida menatap ke langit menatap cahaya bulan "lily, apa yang harus ku lakukan?... Biasanya kau selalu di sisiku saat masa sulit seperti ini, jika saja kau ada di sini semuanya pasti akan lebih baik"
Ke esokan harinya Amel Dan Sarah sudah berada di kelas
"Apa dia akan datang?" kata Sarah
Menghela nafas lalu meletakkan kepalanya di meja. "Entahlah, aku tak tau akan jadi seperti ini."
"Yaa... Kau benar, aku baru tau kalau dia mempunyai sisi seperti itu, kita memang belum mengetahui apa apa tentangya" ujar sarah
"Padahal aku hanya ini dia pergi ke sekolah bersama kita, tak ku sangka malah membuatnya teringat dengan kekasihnya, dan begitu pula kekuatan ku, aku berlatih teknik ku sendiri dan tak ku sangkat teknik ya ku latih sama dengan teknik kekasihnya,"
"Ku rasa ini bukan hanya kebetulan" ujar Sarah
"Maksudmu"
"Aku merasa seperti ada misteri di balik kekuatan kita" ujarnya lagi
Amel mebangkitkan kepalanya "jangan mengada ada, kan raida yang memberikan kekuatanya pada kita"
"Coba pikirkan lagi, sebanyak apa kekuatannya sampai dia mau membaginya dengan kita" ujar sarah
"Bukan kah untuk melindungi bumi" balas amel
"Ku rasa ada alasan lain selain itu" ujar sarah
'Apa mungkin raida memberikan kekuatannya pada kami karena aku memiliki kemiripan dengan kekasihnya' pikir amel
"Untuk sekarang lebih baik kita diam saja tentang ini, situasi sejakaran tidak memungkinkan untuk bertanya hal ini" ujar sarah
Raida memasuki kelas lalu langsung berjalan ke arah meja amel, mereka saling menatap
Sarah yang menyaksikan hal itu. tak berani mengatakan satu kalimat pun
Raida mengeluarkan sekotak coklat dari tasnya. "Ini memang tak seberapa, tapi aku ingin meminta maaf, atas apa yang aku lakukan semalam, bagaimanapun kau pasti tersinggung dengan apa yang aku katakan semalam"
Amel kaget "tidak apa apa, ini juga kesalahan ku karena aku terlalu egois, aku terlalu bertindak semauku"
"Ini bukan kesalahan mu, akulah yang terlalu keras kepala, karena aku masih belum menerima fakta bahwa kekasihku telah tiada, aku jadi melihatnya pada dirimu, tolong maafkan aku
"..."
Amel terdiam sejenak lalu mengambil coklat itu dengan senyuman tulus, "ya.. aku akan menerima permintaan maaf mu, aku juga minta maaf"
"dan juga jangan rubah dirimu karena ku jadilah diri mu sendiri, karena sifatmu itu cocok dengan diri mu." ujar raida
Amel mengangguk dengan wajah sedikit merona
Beberapa saat kemudia rey dan zeks datang
"Helo semua, saksikanlah dua kesatria tampan telah datang" sorak Zeks
"Aku ke tempatku dulu" ujar raida
Amel mengangguk
Zeks dan rey yang melihat hal itu jadi bingung "apa yang terjadi" ujar rey
"Waah amel, kau membawa coklat" ujar zeks
"Kenapa aku membawa coklat hari ini" ujar rey
"Dia tidak membawanya, coklat itu iya dapat dari raida" ujar sarah
"Apa"
"Hey raida kenapa kami tidak dapat juga, mana coklat kami" ujar zeks
"Belilah sendiri" balas raida
Amel memandangi coklat dari raida dengan ekspresi bahagia terpampang di wajahnya
Bel istirahat berbunyi nyaring.
Suasana kelas yang tadinya penuh suara pensil dan buku langsung berubah ramai. Kursi digeser, beberapa siswa berdiri, yang lain mulai mengobrol.
Rey meregangkan tubuhnya. "Akhirnya… aku hampir mati kebosanan di pelajaran tadi."
Zeks mengangguk cepat. "Guru matematika itu benar-benar musuh yang lebih menakutkan daripada monster."
Sarah menutup bukunya dengan rapi. "Kalian berdua berisik sekali."
Amel masih duduk di kursinya. Tangannya memegang kotak cokelat dari Raida. Ia membuka tutupnya perlahan.
Di dalamnya ada beberapa potong cokelat berbentuk sederhana. Tidak terlalu mewah, tapi terlihat dipilih dengan hati-hati.
Rey langsung mencondongkan badan.
"Wah… kelihatannya enak."
Zeks ikut mendekat. "Amel… sebagai teman yang baik… aku bersedia mengorbankan diriku untuk mencicipinya."
Amel menutup kotak itu cepat. "Tidak."
"Keji sekali!" Rey memukul meja dramatis.
Sarah menghela napas kecil.
"Ini pertama kalinya Raida memberi sesuatu pada seseorang. Wajar kalau Amel ingin menyimpannya."
Rey menoleh ke Raida yang sedang duduk di bangkunya sendiri di dekat jendela belakang kelas.
Raida terlihat sedang membaca buku catatan.
"Dia kelihatan normal sekali," gumam Rey.
Zeks mengangguk.
"Padahal semalam dramatis banget."
Sarah berdiri.
"Ayo. Kita ke kantin."
Rey langsung semangat. "Akhirnya makanan!"
Amel menutup kotak cokelat dan memasukkannya ke tas.
Mereka berempat keluar dari kelas menuju kantin sekolah.
Lorong sekolah terasa lebih ramai dari biasanya.
Suara langkah kaki siswa, tawa kecil, dan percakapan bercampur menjadi satu.
Zeks berjalan paling depan sambil meregangkan tangan ke atas.
"Ah… ini baru hidup. Pelajaran pagi itu seperti hukuman."
Rey menyeringai sambil berjalan di sebelahnya.
"Setidaknya kita tidak sedang berlatih lawan Fey. Itu jauh lebih menyakitkan."
Sarah berjalan dengan tenang di belakang mereka bersama Amel.
Amel masih terlihat memikirkan sesuatu.
Sarah meliriknya sebentar.
"Kau masih memikirkan percakapan tadi pagi?"
Amel menghela napas kecil. "Sedikit."
Mereka berbelok ke arah kantin sekolah yang sudah penuh dengan siswa.
Aroma makanan hangat langsung menyambut.
Rey berhenti di depan meja penjual.
Beberapa menit kemudian mereka duduk di meja pojok kantin.
Rey langsung menyendok makanannya.
"Ngomong-ngomong…" katanya sambil mengunyah. "Raida benar-benar datang ke sekolah hari ini."
Sarah mengangkat alis. "Ya. Kami juga melihatnya."
Amel akhirnya tersenyum sedikit. "Kurasa dia berusaha menepati janjinya."
Sarah memotong makanannya pelan.
"Lebih dari itu."
Semua menoleh kepadanya.
Sarah melanjutkan dengan tenang.
"Dia sedang mencoba memperbaiki sesuatu."
Rey berhenti makan. "Karena kejadian semalam?"
Sarah mengangguk. "Ya."
Zeks menggaruk kepalanya. "Jujur saja… aku tidak pernah melihat Raida seperti itu."
Amel menunduk sedikit.
"Aku juga tidak."
Rey bersandar di kursinya.
"Biasanya dia seperti batu. Tidak pernah terlihat goyah."
Sarah menatap Amel.
"Tapi kemarin dia benar-benar kehilangan kendali."
Amel menggenggam sendoknya lebih erat.
"Aku tidak menyangka reaksinya akan seperti itu."
Zeks menghela napas.
"Kalau dipikir-pikir… masuk akal.
Rey mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
Zeks menyandarkan siku di meja.
"Bayangkan saja."
"Orang yang kau cintai mati dalam perang yang kau pimpin."
"Lalu bertahun-tahun kemudian kau melihat seseorang yang sangat mirip dengannya."
Suasana meja mendadak lebih sunyi.
Amel menatap makanannya.
Sarah berbicara pelan.
"Bukan hanya mirip."
Semua menoleh padanya lagi.
"Teknik yang dia gunakan. Itu yang membuat Raida panik."
Rey mengangguk perlahan.
"Benar juga… Raida bilang seperti itu"
Ia menatap Amel dengan lebih serius.
"Amel… kau belajar teknik itu dari mana sebenarnya?"
Amel terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku tidak tahu."
Zeks mengangkat alis.
"Hah?"
Amel menatap tangannya sendiri.
"Aku mulai bisa teknik itu sepanjang aku berlatih padahal aku tidak mempelajari tenik itu."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Setelah itu… tekniknya seperti muncul sendiri. jadi aku mulai mempelajarinya"
Rey menyandarkan punggungnya.
"Itu terdengar aneh."
Sarah langsung menimpali.
"Karena memang aneh. terasa seperti hanya kebetulan saja"
Amel menoleh
Sarah menatapnya dengan serius.
"Kau ingat apa yang kita bicarakan pagi tadi?"
Amel mengangguk pelan. "Tentang misteri di balik kekuatan kita?"
Sarah mengangguk lagi. "Ya."
Rey terlihat semakin bingung. "Kalian berdua bicara apa sebenarnya?"
Zeks ikut mengangguk.
"Iya. Aku merasa ketinggalan informasi."
Sarah menarik napas dalam.
"Aku hanya berpikir…"
Ia berhenti sejenak seolah menimbang kata-kata.
"…kekuatan yang kita miliki mungkin tidak sesederhana yang kita kira."
Rey memiringkan kepalanya.
"Bukankah Raida yang memberi kita kekuatan itu?"
Sarah menjawab cepat.
"Dia yang membangkitkannya. Bukan menciptakannya."
Zeks mengerutkan kening.
"Bedanya apa?"
Sarah menunjuk meja dengan ujung jarinya. "Bayangkan api."
"Raida mungkin hanya menyalakan percikan."
"Artinya… bahan bakarnya sudah ada sejak awal."
Rey terdiam beberapa detik.
"Jadi maksudmu…"
"…kita memang sudah memiliki potensi itu sejak lahir?"
Sarah mengangguk.
"Ya."
Amel menatap Sarah dengan ragu.
"Tapi kenapa?"
Sarah menggeleng pelan.
"Itu yang belum kita tahu."
Zeks menyilangkan tangan.
"Kalau begitu kenapa Raida memilih kita?"
Rey menjawab setengah bercanda.
"Mungkin dia memilih secara acak."
Sarah langsung menggeleng.
"Raida bukan orang yang melakukan sesuatu secara acak."
Amel menatap meja.
"Jadi menurutmu… dia tahu sesuatu tentang kita?"
Sarah tidak langsung menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum ia berbicara lagi. "Mungkin."
Rey menghela napas panjang.
"Kalau benar begitu… berarti masih banyak rahasia."
Zeks tertawa kecil.
"Sudah biasa."
"Sejak kita bertemu Raida hidup kita penuh misteri."
Amel akhirnya ikut tertawa kecil.
"Tampaknya begitu."
Beberapa detik mereka hanya makan dalam diam.
Lalu Rey menoleh ke arah pintu kantin.
"Hei."
Semua mengikuti arah pandangnya, Raida baru saja masuk ke kantin.
Beberapa siswa di sekitar terlihat meliriknya, Raida berjalan tenang seperti biasa.
Namun langkahnya berhenti saat melihat meja mereka.
Zeks melambaikan tangan. "Oi Raida"
Raida berjalan mendekat. "Ada apa?"
Rey menunjuk kursi kosong.
"Duduklah."
Raida sempat ragu sebentar sebelum akhirnya duduk.
Zeks langsung menyeringai.
"Beberapa hari ini kita tidak makan bersama."
Raida melirik makanannya.
"Kalian terlihat santai."
Rey tertawa.
"Kami mencoba menikmati hidup sebelum monster berikutnya muncul."
Sarah menatapnya dengan tenang.
"Bagaimana pencarianmu?"
Raida berhenti sejenak.
'bukan kah aku sudah bicara hal ini semalam,Kami menemukan sesuatu."
Zeks langsung tertarik.
"Apa?"
Raida menjawab. "apa kau tak mendengar apa yang aku bicarakan semalam. Reruntuhan kuno. Dan penjaga."
Ray bersiul pelan.
"Serius?"
Raida menghela nafas. "jadi benar kalian tak mendengar apa yang ku katakan semalam, Sudahlah lagi pula itu sudah dihancurkan."
Amel menatapnya.
"Kau dan Fey?"
"Ya."
Rey tersenyum kagum.
"Kadang aku lupa kalian berdua absurd kuat."
Raida menatap Rey datar.
"Itu bukan hal yang patut dibanggakan."
Sarah bertanya lagi.
"Apa kalian menemukan petunjuk tentang Kristal Kehidupan?"
Raida menatap meja sejenak sebelum menjawab. "Sedikit."
Amel memperhatikannya.
"Sedikit?"
Raida mengangguk. "Cukup untuk tahu bahwa ini akan menjadi lebih rumit."
Rey menghela napas.
"Tidak ada kabar baik ya."
Raida menatap mereka satu per satu.
"Karena itu kalian harus terus berlatih."
Zeks langsung menjawab.
"Tenang saja. Kami tidak berniat berhenti."
Rey tersenyum.
"Apalagi setelah dipermalukan Fey."
Raida hampir tersenyum tipis.
Amel memperhatikan itu.
Untuk pertama kalinya hari itu, suasana terasa lebih ringan.
Beberapa menit berlalu dengan percakapan santai.
Lalu Sarah bertanya lagi.
"Raida."
Raida menoleh.
"Apa?"
Sarah menatapnya serius.
"Kau benar-benar akan ikut wisata kelas itu?"
Rey langsung tertawa.
"Ya, aku juga ingin tahu."
Raida menghela napas kecil.
"Aku sudah bilang… aku akan mencoba."
Amel menatapnya.
"Berarti kau akan datang?"
Raida menatapnya balik.
Beberapa detik hening.
"Aku akan datang."
Senyum kecil muncul di wajah Amel.
Rey menepuk meja. "Baiklah!. Sudah di putuskan kalau raida akan ikut."
Zeks tertawa keras.
"dengan begini semuanya sudah lengkap."
Sarah menggeleng sambil tersenyum kecil.
Namun Raida tidak tertawa.
Ia hanya memperhatikan mereka.
Untuk sesaat, suasana itu terasa damai.
Dan justru karena itu…
Ia tahu kedamaian seperti ini tidak akan bertahan lama.
