Ficool

Chapter 25 - Bab 25 sesuatu yang di pendam di balik sifat yang dingin

Raida dan Fey kembali ke makas menjelang malam.

Markas tampak sunyi saat mereka masuk, tapi tak lama kemudian pintu terbuka cepat.

"Raida" suara amel terdengar lebih dulu

"Sebaiknya kau menjelaskan padaku, apa yang kau lakukan beberapa hari ini, kenapa kau tidak hadir ke sekolah lagi, kau sudah absen selama beberapa hari. Kau tau beberapa guru sudah mulai mencarimu." ucap amel dengan nada kesal

Sarah rey dan zeks menyusul di belakang

"Sebentar lagi akan ada wisata kelas, aku ingin kau hadir dalam kelas, dan ikut dalam wisata itu" ucap amel

"Wisata kelas...?" balas raida

"Ya... Kelas kita akan melakukan sebuah wisata untuk merayakan tahun baru di kyoto" ucap Sarah

Raida menghela nafas, "jadi kalian ini aku hadir dan ikut dalam wisata itu"

Amel mengangguk

Raida berjalan ke sofa lalu duduk "Aku tak bisa janji... Aku sibuk akhir akhir ini" ucap raida

"Apa yang sedang kau lakukan...?" ujar amel

"Aku dan fey sedang mencari beninggalan peradapan kuno, untuk menemukan jejak kristal kehidupan dan kekuatan raja pertama" balas raida

Amel terdiam beberapa detik setelah penjelasan itu.

Lalu wajahnya berubah.

"Jadi benar," ucapnya pelan. "Kau memang hanya memikirkan tugas."

Raida mengangkat alis sedikit. "Itu tanggung jawabku."

"Tanggung jawab?" suara Amel naik satu tingkat. "Atau alasan?"

Keheningan jatuh.

Fey bersandar ke dinding, menyilangkan tangan, memilih menonton.

Sarah melangkah maju sedikit. "Amel…"

"Tidak, Sarah. Biar aku yang bicara."

Amel menatap Raida lurus. Tidak ada ragu di matanya.

"Kau selalu begitu, Raida. Selalu ada misi. Selalu ada kristal. Selalu ada sesuatu yang lebih penting dari orang-orang di sekitarmu."

Raida tidak langsung menjawab.

"Aku tidak mengabaikan kalian."

"Tapi kau tidak pernah benar-benar hadir," potong Amel cepat.

Rey dan Zeks saling pandang.

Raida berdiri perlahan dari sofa. "Apa maksudmu?"

"Maksudku," Amel melangkah mendekat, "kau selalu mengambil keputusan sendiri. Kau pergi tanpa menjelaskan. Kau kembali tanpa cerita. Dan ketika kami bertanya, kau menjawab seperlunya."

"Itu untuk melindungi kalian."

"Kau bahkan tidak sadar betapa sering kau mengucapkan kalimat itu," balas Amel tajam. "Melindungi. Melindungi. Melindungi. Seolah kami ini beban yang harus kau jaga, bukan rekan."

Raida mengepalkan tangan.

Fey memperhatikan perubahan kecil itu.

"Aku tidak pernah menganggap kalian beban."

"Tapi kau juga tidak memperlakukan kami sebagai setara," Amel menahan napas sejenak.

"Kau keras kepala, Raida."

Kata itu menggantung di udara.

Keras kepala.

Sesuatu di dalam dada Raida bergetar.

"Kau ini selalu begitu, Raida. Kalau sudah memutuskan sesuatu, dunia pun tidak bisa menggesermu."

Suara itu.

Lily.

Ingatan itu muncul tanpa diundang senyum setengah kesal, tatapan yang selalu berani menentangnya.

Raida memejamkan mata sepersekian detik.

Amel masih berbicara.

"Kau memutuskan pergi mencari peninggalan kuno? Kau pergi. Kau memutuskan tidak perlu menjelaskan? Kau diam. Kau memutuskan tidak bisa hadir? Kau tidak hadir. Selesai."

"Aku komandan Divisi 1," jawab Raida pelan namun berat. "Setiap detik yang terbuang bisa berarti kehancuran."

"Dan setiap detik yang kau abaikan di sini juga berarti sesuatu," balas Amel cepat.

Sarah menarik napas dalam. "Kita semua tahu ancamannya nyata. Tapi bukan berarti kau harus menutup diri."

Rey mengangguk. "Kami tidak minta dimanjakan. Kami cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Zeks menambahkan, "Kalau kau terus begini, kapan kami bisa benar-benar siap?"

Raida menatap mereka satu per satu.

"Penjaga yang kami hadapi hari ini," katanya akhirnya, "bukan yang terkuat. Itu hanya lapisan luar. Jika segel benar-benar terbuka, kalian belum siap."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Amel. "Meninggalkan kami sampai semuanya selesai?"

Raida terdiam.

Itu jawaban yang terlalu dekat dengan kebenaran.

Amel tertawa pendek tanpa humor. "Lihat? Bahkan sekarang kau tidak menyangkal."

"Aku tidak akan meninggalkan tanpa alasan."

"Alasanmu selalu sama!" Amel membalas. "Tugas. Ancaman. Kristal. Dunia."

Suaranya mulai bergetar, tapi bukan karena lemah karena menahan.

"Dan kau selalu berdiri sendirian di atas semua itu, seolah hanya kau yang mampu memikulnya."

Raida menatap lantai.

"Kau tidak tahu seperti apa rasanya," katanya keras.

"Apa?"

"Kehilangan karena keputusan sendiri."

Amel terdiam sejenak. "Kau bicara tentang masa lalu?"

"Ketika kau memimpin perang," lanjut Raida, suaranya keras, "setiap pilihan membawa risiko. Kadang kau memilih menyerang lebih dulu. Kadang kau memilih mundur. Dan kadang… keputusan itu membuat seseorang tidak pernah kembali."

"Jadi kau memilih untuk menjauh duluan?" tanya Amel perlahan.

Amel menatapnya tak percaya. "Kau pikir kami ingin komandan yang tidak punya perasaan?"

Rey menelan ludah.

"Kalian belum mengerti," balas Raida.

"Lalu buat kami mengerti!" suara Amel meninggi. "Bukan dengan pergi. Bukan dengan diam!"

Raida menatapnya.

"Kau mengingatkan aku pada seseorang," katanya tiba-tiba.

Amel terdiam.

"Dia juga selalu memanggilku keras kepala."

Raida melanjutkan, lebih pelan, "Dia selalu bilang aku terlalu fokus pada tugas dan misi, lupa pada orang-orang yang berdiri di sampingku."

Suara Lily kembali terngiang di kepalanya.

"Kau ini selalu begitu, Raida."

Tangannya bergetar tipis.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Amel hati-hati.

"Dia tiada dalam perang"

Sunyi.

Angin dari ventilasi terdengar jelas.

Amel mundur satu langkah kecil, napasnya tertahan.

"Dan kau menyalahkan dirimu."

Raida tidak membantah.

"Aku komandan saat itu," katanya. "Keputusan akhir dan arahan ada padaku."

Sarah menunduk.

Rey menggenggam tangannya sendiri.

Zeks tidak berkata apa-apa.

Amel menatap Raida lama sekali.

"Jadi kau pikir dengan menjauh dari kami, kau bisa menghindari rasa itu lagi?"

Raida diam.

"Itu bukan perlindungan," lanjut Amel pelan. "Itu pelarian."

Kalimat itu menghantam lebih keras dari serangan mana pun.

Amel melangkah lebih dekat lagi. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

"orang yang kau bicarakan itu lily kan," katanya lembut, "tapi aku bukan dia, aku bukan masa lalumu."

"Dan aku tidak ingin kau memperlakukanku berdasarkan ketakutanmu."

"lalu kenapa kau pergi waktu itu," kata Amel lagi. "Saat duel."

Raida terkejut sedikit. "Apa?"

"Kau pergi ketika melihatku bertarung."

Sarah menoleh cepat. "Benar…"

"Kau berubah," lanjut Amel. "Wajahmu berubah."

Raida memalingkan wajah.

"Itu hanya kebetulan."

"Jangan bohong."

Suara Amel tidak keras. Tapi tegas.

"Kau melihat sesuatu, kan?"

Raida mengepalkan tangannya

"Kau bilang kau tak ingin ku samakan dengannya bukan"

Amel terdiam "....?"

"Tapi mengapa..."

"Mengapa kau begitu mirip dengannya" raida memegang pundak amel dengan keras dan wajah kesedihan dan penderitaan

Amel kaget karena itu

"Katakan padaku... Ku pikir ini hanya kebetulan sifat dan rupa kalian sama. Tapi bagai mana kau bisa menguasai teknik itu" suaranya bergetar tak tertahan

"Teknik itu seharusnya musnah saat dia tiada, katakan padaku kenapa kau bisa menguasai teknik itu, apa dia bersemayam bada dirimu apa dia yang mengajarimu"

Sarah, Rey, Zeks berusaha menghentikan raida

"Hie, cukup apa yang kau lakukan" ucap Rey

Raida sadar dan melepaskan Amel

Amel mundur beberapa langkah

"Maaf aku tak bisa mengendalikan diri" Ucap nya suaranya merendah.

Dia berbalik lalu berajak pergi, namun saat di depan pintu dia berhenti.

"Baiklah, aku akan handir ke sekolah kalian besok, tapi untuk sekarang biarkan aku sendiri terlebih dahulu" ucapnya lalu keluar

"amel, apa kau baik baik saja" ucap Sarah

"Ya..." jawap Amel singkat

Pada hari itu semua orang yang ada di tempat itu menyadari, bahwa di balik sifat dingin dan tegas raida adalah sosok yang hancur penuh penderitaan dan kesedihan mendalam, dan memikul sebuah beban yang besar di pundaknya

More Chapters