Ficool

Female General and Eldest Princess [FGEP] - Terjemahan Indonesia

GijichouID
14
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 14 chs / week.
--
NOT RATINGS
320
Views
Synopsis
[Latar cerita ini terinspirasi dari budaya Dinasti Han dan Tang, tapi tetap fiksi sejarah] Demi bertahan hidup di dunia yang kacau ini, membalaskan dendam keluarganya, dan menuntut keadilan untuk seluruh desanya—seratus delapan belas nyawa yang direnggut begitu saja—Lin Wanyue mengambil identitas saudara kembar laki-lakinya, Lin Feixing, lalu menyamar untuk masuk ke militer. Ia bersumpah, tak akan ada satu pun Hun yang lolos dari pedangnya. Sang Permaisuri telah wafat, meninggalkan Putri Sulung yang baru berusia enam belas tahun dan Putra Mahkota delapan tahun yang kini hanya punya satu sama lain untuk bertahan. Sementara itu, para bangsawan lain yang lebih tua dari Putra Mahkota menatap takhta dengan rakus. Posisi kedua saudara ini pun jadi sangat rapuh, seolah bisa runtuh kapan saja. Seorang jenderal yang hidup dalam penyamaran, dan seorang Putri Sulung yang tajam, cerdas, dan penuh perhitungan—kisah ini penuh drama, slow burn, romansa, perang, intrik istana, permainan siasat, balas dendam… tapi tetap dengan akhir yang bahagia.
VIEW MORE

Chapter 1 - Bab 1: Wanyue Menjadi Feixing

Darah mewarnai tanah di bawah kakinya. Aliran sungai kecil di desa itu pun berubah merah.

 

Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Pada setiap tubuh, ada wajah yang dikenalnya—kini ternoda merah darah segar, membeku dalam ekspresi yang terdistorsi. Tembok-tembok di sekitar desa telah runtuh. Separuh desa telah berubah menjadi tanah hangus, dan udara dipenuhi bau logam tajam dari darah.

 

Lin Wanyue menemukan jasad ayahnya. Tangan sang ayah masih menggenggam erat pikulan air yang biasa dipakai untuk mengambil air dari sungai. Genggamannya begitu kuat hingga Lin Wanyue yang baru berusia empat belas tahun tidak mampu melepaskannya, bahkan dengan seluruh tenaganya. Pada akhirnya, ia harus menguburkan ayahnya bersama pikulan itu—bersama ibunya dan adik laki-lakinya.

 

Ibunya? Ia menemukan jasad ibunya di jalan tanah di luar desa. Ibunya memeluk erat adiknya yang juga berusia empat belas tahun. Namun tubuh mereka telah tertembus—tombak itu menembus keduanya sekaligus.

 

Pertama kali Lin Wanyue mendengar suara senjata yang ditarik dari daging manusia adalah ketika ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut tombak dari tubuh ibunya dan adiknya…

 

"Ah!" Lin Wanyue terengah kasar saat ia terbangun dan langsung duduk di atas ranjang kayu. Dengkur naik turun terdengar dari segala arah. Hanya Lin Yu yang tidur di sampingnya yang terbangun oleh teriakannya. Ia mengucek matanya dengan mengantuk. "Xing-ge… mimpi buruk lagi?" gumamnya. Setelah menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, ia berbalik dan kembali tidur seolah hal itu sudah biasa terjadi.

 

Lin Wanyue masih terengah-engah. Tangannya mencengkeram pakaian kasar yang basah oleh keringat. Namun ia sama sekali tidak berniat melepasnya. Dua tahun telah berlalu. Ayah, ibu, dan adik laki-lakinya telah dibunuh oleh bangsa Hun dua tahun yang lalu. Namun dari waktu ke waktu, ia masih memimpikan hari itu. Mimpi itu begitu jelas—begitu nyata—terus berulang lagi dan lagi. Namun selain terbangun dengan tubuh basah oleh keringat setiap kali mimpi itu datang, ia tidak pernah membencinya. Sebaliknya, setiap malam menjelang, ia bahkan sedikit menantikannya. Karena hanya di sanalah ia bisa bertemu kembali dengan orang tua dan adiknya.

 

Lin Wanyue menghembuskan napas berat, lalu bangkit dari papan kayu keras yang dijadikan tempat tidur. Ia berjalan keluar dari tenda militer yang dihuni lima belas orang itu.

 

"Siapa di sana!?"

 

Begitu ia keluar dari tenda, seorang penjaga langsung menyadarinya. Di masa perang seperti ini, setiap suara bisa berarti bahaya. Tidak ada yang boleh lengah.

 

"Lapor! Prajurit infanteri dari Kamp Yi, Unit Ketiga—Lin Feixing!"

 

Lin Wanyue melapor dengan suara mantap yang sudah terlatih.

 

Prajurit patroli di hadapannya menghela napas lega. Dengan membawa halberd dan perisai, ia memeriksa papan nama Lin Wanyue dengan saksama, lalu berbalik dan pergi.

 

Lin Wanyue mendongak, di langit malam yang kosong, bulan purnama bersinar terang. Cahaya pucatnya menyelimuti seluruh perkemahan militer.

 

Bertahun-tahun peperangan telah membuat wilayah ini tak lagi layak dihuni. Kerajaan Li dan bangsa Hun telah bertempur di perbatasan panjang ini hampir tiga tahun lamanya. Kemenangan dan kekalahan silih berganti di kedua pihak.

 

Tanah ini telah berubah menjadi tanah tandus akibat perebutan antara Hun dan Kerajaan Li. Bahkan rumput liar yang paling keras kepala pun tak mampu menembus tanah yang telah dilumuri darah segar dan dipadatkan oleh derap kaki kuda.

 

Di sini tidak ada dengung serangga seperti yang dulu akrab bagi Lin Wanyue saat kecil. Tidak ada suara apa pun, selain dengkur samar yang menyebar dari seluruh perkemahan.

 

Lin Wanyue menatap bulan dalam diam. Pikirannya kembali melayang ke tempat dalam mimpinya.

 

Di perbatasan Kerajaan Li, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Chanjuan. Di desa itu hidup sebuah keluarga beranggotakan empat orang.

 

Ayah mereka adalah satu-satunya guru di desa, sehingga ia menjadi orang paling dihormati setelah kepala desa dan kepala penjaga. Ibu mereka adalah perempuan yang lembut dan berhati baik. Mereka memiliki sepasang anak kembar—seorang putra dan seorang putri. Kakak perempuan bernama Lin Wanyue, sedangkan adik laki-laki bernama Lin Feixing. Keduanya anak yang cerdas dan menggemaskan; namun semua itu berakhir dua tahun lalu. Lin Wanyue ceria dan penuh semangat, sedangkan adiknya, Lin Feixing, jauh lebih pendiam. Saat berusia empat belas tahun, Lin Wanyue diam-diam kabur ke gunung sekali lagi. Ia berniat mencari beberapa tanaman obat yang beberapa hari sebelumnya diajarkan oleh tabib tua yang tinggal di sebelah timur desa.

 

Namun ketika ia kembali ke desa saat matahari telah tenggelam di balik gunung barat—ia mendapati seluruh desa telah dibantai oleh bangsa Hun. Tidak ada seorang pun yang selamat selain dirinya.

 

Lin Wanyue menguburkan orang tuanya dan adiknya sendiri. Lalu ia menghadapi seluruh desa yang dipenuhi mayat-mayat yang mati dengan cara mengerikan. Ia mengangkat mereka satu per satu. Pada akhirnya, bahkan ketika banyak mayat sudah mulai membusuk dan dipenuhi belatung, Lin Wanyue masih belum selesai menguburkan semuanya.

 

Akhirnya, ia tidak punya pilihan selain membakar seluruh desa. Berlutut di pintu masuk desa, ia membenturkan kepalanya ke tanah tiga kali dengan keras. "Paman, bibi… Wanyue masih muda dan lemah. Aku benar-benar tidak punya tenaga untuk menguburkan kalian satu per satu. Yang bisa kulakukan hanyalah menyalakan api ini agar kalian tidak membusuk begitu saja di alam liar. Sekarang setelah semuanya kembali menjadi debu, biarlah dendam ini dipikul oleh orang yang masih hidup."

 

Perempuan tidak diperbolehkan menjadi prajurit, karena itu, Lin Wanyue mengambil identitas adiknya untuk terus hidup.

 

Ia menempuh perjalanan ratusan li seorang diri. Ketika lapar, ia meminta makanan. Jika tidak mendapatkannya, ia mencari sayuran liar dan kulit kayu untuk mengganjal perut. Ia juga harus selalu waspada terhadap orang-orang yang tampak baik hati—karena bisa saja mereka sebenarnya pedagang manusia. Sepanjang perjalanan itu, Lin Wanyue merasa seolah dirinya yang dulu telah mati bersama orang tua dan adiknya di Desa Chanjuan.

 

Akhirnya ia tiba di perkemahan militer yang dipimpin oleh jenderal terkenal Kerajaan Li—Jenderal Li Mu. Ia mendaftar menggunakan nama Lin Feixing. Namun keluarganya bukan keluarga militer. Di Kerajaan Li, lima golongan pekerjaan—pejabat, militer, petani, pekerja, dan pedagang—dipisahkan dengan jelas. Profesi keluarga jarang berubah dari generasi ke generasi. Tanpa izin istana, rakyat biasa yang bukan berasal dari keluarga militer tidak boleh bergabung dengan tentara.

 

Melihat harapan terakhir yang membuatnya tetap hidup hampir padam, Lin Wanyue berlutut di tanah. Ia bersujud di depan petugas pencatat nama. "Tuan… aku mohon. Tolong izinkan aku masuk tentara!"

 

Petugas itu masih muda—belum lebih dari dua puluh lima atau dua puluh enam tahun. Bagaimana mungkin ia bisa tetap tenang melihat seorang remaja berlutut di depannya? Ia buru-buru melempar kuas di tangannya lalu membantu Lin Wanyue berdiri. "Anak ini… kau membuatku serba salah. Kau bukan dari keluarga militer, jadi aku tidak bisa mengambil keputusan itu. Mengubah status bukan perkara besar, tapi juga bukan perkara kecil. Aku hanya jadi juru tulis karena bisa membaca sedikit huruf. Aku tidak punya wewenang seperti itu!"

 

"Tuan, aku mohon. Aku mohon! Seluruh desa tempatku tinggal telah dibunuh oleh bangsa Hun. Ayahku, ibuku, kakak... kakak perempuanku… semuanya sudah mati. Kalau saja hari itu aku tidak naik ke gunung untuk bermain, aku pun tidak akan hidup sampai sekarang. Dari seratus delapan belas orang di desa kami, hanya aku yang selamat. Desa Chanjuan penuh dengan mayat. Banyak yang sudah mulai membusuk. Tidak ada yang bisa membantuku menguburkan mereka, jadi aku membakar desa itu. Aku berjalan sejauh ini hanya untuk bergabung dengan tentara. Tuan… aku mohon!"

 

Suara Lin Wanyue penuh kesedihan dan duka, namun ia tidak menangis. Ia hanya berlutut di sana dengan tegak, seolah-olah paku yang tertancap di tanah, membiarkan petugas itu menariknya tanpa berhasil.

 

Petugas itu pernah mendengar tentang tragedi Desa Chanjuan. Ia melihat pakaian Lin Wanyue yang compang-camping dan kotor. Wajahnya dipenuhi kesedihan, tetapi tekadnya begitu kuat. Lalu ia memperhatikan kaki Lin Wanyue. Salah satunya masih memakai sepatu yang solnya sudah habis. Sepatu yang lain telah hilang, digantikan oleh kaki telanjang yang tertutup tanah hitam kemerahan. Melihat itu, hati petugas tersebut pun luluh.

 

Ia menatap remaja itu lama sekali.

 

Akhirnya ia menggertakkan gigi. "Baiklah… kurasa aku memang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Aku akan menemui Panglima sekarang. Tapi berhasil atau tidaknya tergantung kehendak langit. Kita sepakati dulu—kalau tidak berhasil, jangan terus memaksaku!"

 

Lin Wanyue tidak menjawab. Ia hanya membenturkan kepalanya ke tanah sekali lagi sebagai jawaban.

 

Beberapa saat kemudian, petugas itu kembali dan membawa Lin Wanyue ke tenda utama. Ketika Jenderal Agung Li Mu melihatnya, ia hanya mengucapkan beberapa kata penghiburan sederhana, lalu memerintahkan ajudannya untuk mengubah status keluarga Lin Wanyue dari petani menjadi militer. Sejak saat itu, Lin Wanyue mengambil nama adik kandungnya—Lin Feixing—untuk hidup di dunia ini sebagai seorang prajurit.

 

Dua tahun telah berlalu sejak hari itu...

 

Bagi seorang perempuan untuk menyamar sebagai laki-laki demi masuk tentara, dan bahkan menggunakan identitas palsu—keduanya adalah kejahatan besar di Kerajaan Li. Jika digabungkan, hukuman mati dengan pemenggalan kepala pun tidak berlebihan. Namun Lin Wanyue tidak peduli. Apa yang harus ia takutkan? Seluruh keluarganya telah mati. Ia hidup hanya untuk menuntut keadilan bagi orang tuanya, bagi adiknya, dan bagi seratus delapan belas nyawa di Desa Chanjuan!

 

***

 

T/N:

Lin Wanyue (林挽月) — Wanyue secara harfiah berarti "menarik/menyibak bulan".

Lin Feixing (林飞星) — Feixing berarti "bintang yang terbang".

Desa Chanjuan (婵娟村) — Chanjuan adalah kata dalam sastra Tiongkok klasik yang sering digunakan untuk menggambarkan keindahan bulan, atau keanggunan/kecantikan seorang wanita.