Ficool

Zero-Sum Protocol

AdominFr
7
chs / week
The average realized release rate over the past 30 days is 7 chs / week.
--
NOT RATINGS
46
Views
Synopsis
ALER/PENTING Pace cerita ini kebanyakan lambat karena style saya begitu sejak dulu. Dipaksa cepat bakal aneh. Maklumkan authornya suka yapping. Bagi penikmat cerita pacing cepat mungkin bakal kurang terbiasa Note: Kalau ada typo, mohon beritahukan Apa elemen utama cerita favorit kalian? Romance berlebihan? Isekai/dunia lain? Tentang raja iblis? Yah, sayang, kalian bakal jarang nemuin itu di ceritaku; Di dunia di mana manusia hidup berdampingan dengan spirit, dua bersaudara mencoba menjalani hidup yang, sebisa mungkin, normal. Menjalani hidup sebagai Tracer-yaitu detektif tidak resmi yang menangangi kasus-kasus aneh & supranatural-Raka & Rina bertahan hidup dengan menerima pekerjaan dari mereka yang putus asa...ataupun mereka yg mampu membayar. Raka, sang kakak yang condong analitis & perhatian, selalu berusaha mencari pola di balik sebab-akibat yg ada. Lalu Rina, sang adik yg lebih ekspresif serta emosional dan lebih ceroboh. Meski begitu, ia kadang tak ragu mengambil keputusan yg langsung nan efektif ketika terdesak. Bersama dua spirit kontrak mereka, Eizo & Piko, mereka menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri. Dan,sure, mereka bukan yg terbaik. Kadang efisien, kadang berantakan, dan entah bagaimana hampir selalu berhasil. Di tengah pekerjaan yg tak benar-benar sepi, mereka tetap harus menghadapi hal-hal sederhana yg selalu bermunculan; kekurangan uang, debat receh, rebutan guling, dan fakta bahwa kehidupan tak semudah yg mereka kira. ...Namun, akhir-akhir ini, hari-hari terasa sedikit berbeda. Pola-pola yang ditinggalkan kasus-kasus terdahulu, anomali yang suka muncul di tengah kota. Hampir terasa seperti mengulang tape video lama. Mungkin hanya kebetulan... Tanpa mereka sadari, langkah kecil yg mereka di setiap pekerjaan terus membawa mereka maju, sedikit demi sedikit, menuju sesuatu di ambang cakrawala yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.
VIEW MORE

Chapter 1 - Overpriced Bargain

"...Terkadang, kita lupa bahwa segala sesuatu di sekitar kita lahir dari ketidakpastian—Laba-laba yang membangun sarangnya hanya bisa berharap tak ada tetesan air yang merobohkannya."

 "Burung maleo yang mengubur telurnya di pasir vulkanik yang panas, lalu pergi dan tak pernah kembali, menyerahkan nasib anaknya pada suhu bumi yang tak selalu beraturan."

 "Rintikan hujan deras yang menghancurkan harapan seorang petani di lereng bukit, mungkin saja memberikan nafas kehidupan baru bagi petani lain di lembah yang sepi."

 "Hal-hal di atas merupakan contoh akar yang bercabang dari satu konsep dasar; Ketidakpastian.

 Satu pertanyaan kemudian muncul di benak kita, sebagai makhluk berakal: "Ke mana sebenarnya arah semua ini?"

 "...Puluhan abad lamanya kita mencoba mencari jawabannya, mengamati dari pola-pola sejarah yang telah lalu, sebelum rangkaian pemikiran itu berbuah pada satu kesimpulan;

...

 Kekecewaan, atau harapan.

 Kekecewaan, yang mengarah pada kehancuran, atau harapan yang menuntun pada perkembangan."

 

"Kejam, bukan? Yah, aku tau itu...Lagipula, aku yang menjabarkan ini padamu panjang lebar."

 "...Oleh karena itu...Aku penasaran dengan pemikiran orang 'luar' seperti mu. Coba jawab; ke mana arah 'ketidakpastian' milikmu? Tidak apa jika belum punya jawabannya...Aku akan menunggu."

....

....

Ding-dong!

Lonceng digital berdenting pendek saat pintu otomatis terbuka lebar, diikuti dengan langkah-langkah pengunjung yang melangkah masuk...

NeoMart, 4th District.

 Sebuah medan perang bagi pemburu diskon. Tidak mudah mendapatkannya; terlebih ketika manusia harus lebih cepat dari tangan panjang para makhluk halus yang dapat merasakan potongan harga dari lorong sebelah.

 Bunyi bip pendek scanner dapat terdengar samar-samar, nyaris tenggelam di antara riuh rendah para pengunjung yang ramai. Spirit-spirit jahil berlarian ke sana ke mari, pemandangan yang cukup aneh...Hingga kamu sadar, keanehan itu justru telah menjadi bagian dari peradaban kita.

 "Totalnya jadi 16.500, sudah termasuk pajak ya, Kak. Bisa dibayar menggunakan cash atau kartu kredit." Senyuman ramah terukir di wajah si kasir, menunjuk harga yang terpampang di monitor.

 

 Raka mengerutkan kening, menatap setiap digit angka itu, tak percaya bahwa perhitungan harganya akan meleset cukup jauh. Hah? 16.500? Buat minuman? Padahal tadi di tag harganya cuma 15.000! Lalu...Pajak? Sejak kapan barang kek ginian kena pajak...? Baru kemarin kubeli ga ada pajak! Ia menelan ludah gentir.

 "Eh, iya, pakai kredit aja bayarnya...Tapi, anu, eh...Maaf, pajak apa ya, Mbak? Bukannya barang di bawah 20.000 ga ada pajak, ya?"

 Sang kasir mengangkat alisnya, tersenyum tipis pada ketidaktahuan Raka. "Oh iya, kak, sekarang ada aturan baru dari pusat karena banyak spirit loophole yang manfaatin harga net. Untuk barang di bawah 20.000, sekarang dikenai pajak sebanyak 10% ya, kak. Bisa dicek kembali di Panduan Pembeli kami,"

 Untuk sesaat, ia bisa melihat spirit kecil yang tertawa, bersanding di atas mesin kasir; jelas mengejek situasinya yang tak begitu beruntung ini.

 Helaan nafas panjang lolos dari mulutnya. Punggungnya sedikit membungkuk, membiarkan lapisan jaketnya mengendur mengikuti bahunya yang jatuh lunglai. Nasib, nasib, pajak lagi pajak lagi...Kondisi bokek gini malah kena pajak...

 Tangannya menggantung bimbang, seolah saku celananya mendadak berubah menjadi lubang yang terlalu dalam untuk dijangkau. Namun, perlahan tapi pasti, jemarinya mulai merayap masuk — terpaksa menyerah pada tagihan yang tidak mau berkompromi.

 Raka akhirnya menyerahkan kartu kredit dari dompetnya dengan berat hati. Iahanya bisa memalingkan wajah saat mesin kasir mengeluarkan bunyi bip, menandakan saldonya baru saja terkuras untuk sebotol minuman dan pajak yang tidak masuk akal.

 Rasa enggannya semakin memuncak selama menunggu sang kasir memproses data dirinya berbarengan dengan terkurasnya saldo kreditnya. Namun, di sela-sela momen yang tegang itu, sebuah suara, dingin dan antipati, merebak di dalam batinnya.

 Tsk, tsk, tsk...Begitu mudah kau menyerah pada perhitungan mesin kasir? Memalukan. Kalau aku jadi dirimu, kan ku pastikan cuma bayar 15.000...1.500 itu pencurian. Manusia seperti mu harusnya sudah tahu itu.

 Di saat itu juga, sepasang mata spiritual terbuka di bayangannya sendiri, menatap Raka dengan tanda-tanda kekecewaan. Tak salah lagi, Eizo. Spiritnya yang...agak rewel soal kompleksitas hidup manusia. Sifatnya yang sok tau terkadang terasa seperti kerikil dalam sepatu yang mengganggunya begitu ia muncul.

 Raka mengedarkan matanya, menatap langit-langit toko, merasakan buih-buih kekesalan mendidih di dalam dirinya. Hadeh, bisa diam? Bukan duit mu juga, toh. Ngatur kali ah...

Huh...Ya, ya, ya. Terserah mu,'tuan'. Sekedar mengingatkan...Kamu kira aku tak tau seberapa tipis saldo mu akhir-akhir ini?

 Raka menggeretakkan gigi. Hampir saja ia akan menyemburkan balasan pedas pada bayangannya sendiri jika saja-

 BZTTTT! BZTT!!

 Getaran keras di saku jaket Raka menginterupsi, menarik perhatiannya bagai tali yang ditarik kencang. Ia merogoh ponselnya dengan kasar, bermaksud mematikan alarm atau apapun itu, namun nama 'Rina' yang berkedip di layar membuat jantungnya mencelos. Tanpa berpikir sedetik pun, Raka menggeser tombol hijau.

 "Yo, kenapa, Rin-"

 "KAKAKKKK!! ADA...ADA SPIRIT LIAR LAGIII!! BURUAN BALIK! PIKO LAGI BURNT-OUT!"

 Suara pekikan Rina menembus speaker ponsel, cukup melengking hingga Raka dengan refleks menjauhkan perangkat itu dari telinganya. Bunyi barang berjatuhan dan gemuruh samar dapat terdengar cukup jelas saat sang adik berbicara, seolah berebut panggung, menenggelamkan suaranya yang parau. Itu sudah cukup untuk menjadi bukti kalau ucapannya kali ini bukan sekedar iseng semata.

 Raka berdiri mematung. Matanya melebar, pandangannya terbagi pada struk belanjaan yang hendak tercetak dan ponselnya seakan-akan sedang memilih apakah harus memprioritaskan belanjaan agar uangnya tak sia-sia atau ikuti perkataan Rina.

 "Halo?! KAK?! ABANG?! JAWAB DONGGG ABANGGG!!!" Suara Rina meledak dari speaker ponsel.

"Daritadi udah kebelet pengen nge-kontak Outpost S.E.A. tapi nanti reputasi kita ancurr!! TAU SENDIRI KAN GIMANA SINISNYA MEREKA?! Masa kita nyerahin spirit buruan kita ke mereka?! YANG ADA JADI BANGKRUTTT!! RINA GA TERIMAAA!!" Semprot Rina dari seberang telepon, setiap kata yang dilontarkan hampir tak terasa delay-nya.

 "Haduh!! I-iya, yaudah tahan dulu bentar! Ini abang otw!!" seru Raka, masa bodog terhadap tatapan aneh dari kasir dan orang-orang sekitar. Baginya, tak ada waktu lagi untuk peduli terhadap apa yang mereka pikirkan.

 Tubuh Raka bergerak tanpa keraguan; tangannya menyambar kartu kredit dan botol minuman yang ada di meja kasir, lalu memompa langkahnya menuju pintu toko, keluar dari bangunan itu dengan banyak mata tertuju padanya.

 Sang kasir menatap kosong, pandangannya tertuju pada pintu toko yang perlahan menutup dirinya sendiri. Keheningan di dalam pikirannya semakin terasa nyaring begitu ia menatap data ID pelanggan yang baru saja ia layani;

"...Tracer...?"

---

MetroStreet, 4th District, Blok 4

 Trotoar di 4th District adalah sebuah simfoni kekacauan yang terorganisir. Langkah kaki manusia bukan satu-satunya yang menyelimuti trotoar—robot penertib lalu lintas, spirit yang berlalu lalang, mereka semua ambil bagian dalam membuat kota ini menjadi hidup.

 Raka melesat bagaikan anak panah, membelah jalanan yang padat di hadapannya. Biasanya, dalam keadaan seperti ini, Eizo akan segera membantu tanpa disuruh, namun berbeda dengan kali ini. Eizo hanya diam, seolah ownernya tidak sedang panik menerobos jalan. Raka mengutuk dalam hatinya, tahu betul itu karena beberapa hari ini ia mengabaikan saran Eizo terlalu banyak Cihh, baguss...Keknya harus dibujuk dulu nih anak, baru bisa kerja sama...

 Raka mengalihkan fokusnya pada hal lain, yaitu jalan yang akan ia pilih; pikirannya berputar kencang, menghitung rute tercepat ke apartemennya di Blok 7. Jalan biasa? Macet parahh. Gang belakang? Bisa ketemu preman atau...yang lebih parah lagi spirit territorial liar. Aduhhh...

"Ahh, serah lah! Ambil resiko," gumamnya pada dirinya sendiri, sebelum mencoba sesi tawar-menawarnya dengan Eizo. "Oii, Eizo, bantu gw, nanti tak kasih soda cuka favorit lu," godanya, mengharapkan reapons yang positif dari tawaran yang ia buat, jelas tak akan menerima penolakan untuk keadaan seperti ini.

 ...Soda cuka? Tau saja...Heh, kalian manusia memang hebat dalam hal begini ini, ya...?

...Empat botol soda cuka premium atau tidak sama sekali.

 Raka hampir tercekik ludahnya sendiri. Matanya berkedip tak beraturan, merasakan keningnya mengerut, baru saja menyadari bahwa tawaran yang ia buat merupakan pedang bermata dua. Empat botol soda cuka premium...Itu setara dengan jatah kopi saset dia dan Rina selama seminggu, tagihan listrik mereka selama setengah bulan ketika lagi stabil, dan biaya transportasi umum sehari-hari buat satu bulan kedepan.

 Memberi imbalan sebesar itu cuma biar dia mau kerja sama? Hah...Dia sudah tahu dia akan menyesali perkataannya yang tadi.

 "C-ciihh...Perhitungan kali kau..."

Keluh Raka, ragu-ragu dengan persetujuan yang akan ia buat dengan makhluk ini. "Fine, deal! Yang penting bantu gw sekarang! Kerja cepat ama ikutin perintah gw!" cetusnya, mengetahui tidak ada cara lain yang lebih efektif untuk sampai lebih cepat tanpa mengorbankan setiap detik yang terus layu bersamaan dengan setiap langkah yang ia ambil.

 Penawaran yang standar, tapi dealnya diterima. Kusarankan naikkan penawarannya. Bagaimanapun, kuterima untuk sekarang...

"...Huff, appreciated..."

 Raka menyelipkan botol minumannya ke dalam saku jaket, melindunginya dari kemungkinan benturan. Lalu, tangannya meraih dan menyambar sesuatu dari pinggangnya—Modulator Portable seukuran kotak korek api, dengan permukaan yang memancarkan cahaya biru redup, dan indikator merah kecil di ujungnya. Sebuah device yang dapat dianggap sebagai "penyambung lidah", alat bantu yang akan mempermudah koordinasi antara dirinya dan Eizo ketika diperlukan.

 "...Baiklah, mari mulai..."