Ficool

Chapter 3 - Bab 2: Napas Mesin di Balik Kabut

Kereta kuda keluarga Valerius berguncang pelan saat roda-roda besinya menggilas jalanan berbatu yang lembap. Di dalamnya, Evelyn duduk tegak, tangannya yang terbungkus sarung tangan sutra putih memangku sebuah tas kecil bersulam perak. Di balik jendela kaca kereta yang tebal, Oakhaven mulai menampakkan wajah aslinya yang sibuk dan bising.

​Pagi ini, Evelyn memiliki jadwal mengunjungi penjahit di Distrik Pusat sebelum jamuan teh di kediaman Baroness Moore. Perjalanan ini adalah salah satu dari sedikit momen di mana ia bisa mengamati dunia di luar dinding rumahnya yang dingin, meskipun hanya dari balik sekat kaca dan kayu ek.

​"Oakhaven terasa lebih sesak hari ini, bukan begitu, Martha?" tanya Evelyn pelan. Matanya tidak lepas dari pemandangan di luar.

​Martha, yang duduk di hadapannya dengan punggung kaku, hanya melirik sekilas ke luar jendela. "Pembangunan jalur kereta api baru menuju dermaga utara sedang dipercepat, Milady. Lord Duke bilang itu untuk meningkatkan kuota ekspor batu bara ke ibu kota. Kemajuan menuntut ruang, dan ruang selalu berarti kerumunan."

​Evelyn terdiam, meresapi jawaban itu. Kemajuan. Kata itu sering diucapkan oleh ayahnya dan para menteri di meja makan. Bagi mereka, kemajuan adalah angka-angka di atas kertas perkamen dan tumpukan emas di brankas bank. Namun bagi Evelyn, kemajuan terlihat seperti asap hitam yang keluar dari cerobong pabrik raksasa di pinggiran kota—pabrik yang tak pernah berhenti berdenyut, bagaikan jantung raksasa yang terbuat dari besi dan uap.

​Kereta mereka kini memasuki jalan utama Distrik Komersial. Di sini, bau kuda dan kotoran bercampur dengan aroma tajam oli mesin dan uap air yang disemburkan dari pipa-pipa bawah tanah. Gedung-gedung bertingkat empat dengan fasad batu bata merah berdiri angkuh, jendela-jendelanya kecil dan selalu tertutup rapat untuk menghalau jelaga.

​Evelyn melihat kerumunan orang di trotoar. Ada pria-pria dengan topi tinggi dan jas panjang yang berjalan tergesa-gesa sambil memegang surat kabar The Oakhaven Gazette. Di sisi lain, para pekerja kasar dengan pakaian berbahan linen kasar yang bernoda minyak tampak sedang menurunkan peti-peti kayu dari kereta uap mini yang berjalan lambat di atas rel tengah jalan.

​"Lihat itu, Martha," Evelyn menunjuk ke sebuah toko jam di sudut jalan. Di etalasenya, terdapat sebuah prototipe jam mekanik baru yang memiliki lengan-lengan tembaga rumit. "Semuanya kini digerakkan oleh pegas dan uap. Terkadang aku bertanya-tanya, apakah manusia juga akan segera digantikan oleh mesin?"

​"Pertanyaan yang aneh, Milady," sahut Martha dengan nada datar. "Mesin diciptakan untuk melayani kita. Selama kita memiliki kendali atas uap dan batu bara, manusia akan tetap menjadi tuan."

​Evelyn tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh rahasia. Ia pintar untuk menyadari satu hal yang sering dilupakan orang-orang seperti Martha: mesin membutuhkan bahan bakar, dan bahan bakar membutuhkan manusia untuk menggali tanah. Itu adalah lingkaran yang melelahkan.

​Kereta kuda mereka melambat saat melewati jembatan besar yang membelah Sungai Serpentine. Air sungai itu sudah lama kehilangan warna birunya, kini berubah menjadi cokelat keruh dengan lapisan minyak yang berkilau pelangi di permukaannya. Kapal-kapal tongkang yang sarat dengan batangan besi bersandar di dermaga, sementara kuli-kuli pelabuhan berteriak sahut-menyahut di tengah bisingnya peluit uap kapal yang memekakkan telinga.

Evelyn menempelkan telapak tangannya ke kaca jendela. Ia bisa merasakan getaran mesin-mesin di kejauhan merambat melalui roda kereta, ke dalam rangka kayu, dan akhirnya ke ujung jarinya. Dunia ini terasa begitu mekanis, begitu teratur, dan begitu... dapat diprediksi.

​Hukum fisika yang diajarkan Tuan Miller menjelaskan segalanya. Tekanan uap menghasilkan gerak. Gerak menghasilkan produksi. Produksi menghasilkan kekayaan. Tidak ada celah untuk hal-hal yang tidak logis.

​Namun, rasa ingin tahu Evelyn yang mendalam sering kali membuatnya memperhatikan hal-hal kecil yang diabaikan orang lain. Seperti bagaimana bayangan di gang-gang sempit Oakhaven terkadang tampak lebih pekat daripada seharusnya, atau bagaimana beberapa bangunan kuno di distrik tua memiliki arsitektur yang sama sekali tidak masuk akal untuk menampung mesin uap modern.

​"Kita hampir sampai di butik Madame Claire, Milady," suara Martha memutus lamunan Evelyn.

​Kereta berhenti dengan sentakan halus di depan sebuah bangunan dengan kanopi hijau tua yang elegan. Seorang pelayan butik segera berlari keluar untuk membukakan pintu kereta.

​Evelyn turun, menghirup udara Oakhaven yang terasa berat di paru-parunya. Gaun sutranya yang panjang menyapu trotoar yang bersih, menciptakan kontras yang tajam dengan debu jalanan. Ia menatap ke atas, ke arah langit yang tertutup oleh jaring-jaring kabel telegraf yang melintang di antara tiang-tiang besi hitam.

​"Dunia yang sangat sibuk," gumam Evelyn pada dirinya sendiri.

​Ia melangkah masuk ke dalam butik, meninggalkan hiruk pikuk kota di belakangnya. Namun, di dalam benaknya, ia masih membayangkan wajah-wajah pekerja yang ia lihat di jalan tadi—wajah-wajah yang tampak seperti roda gigi dalam mesin besar yang disebut Oakhaven.

​Sebagai seorang putri, ia berada di puncak mesin itu. Namun terkadang, ia merasa dirinya hanyalah komponen hiasan yang tidak memiliki fungsi nyata, hanya duduk diam dan bergerak sesuai irama yang ditentukan oleh protokol dan etiket.

​Sepanjang sesi pengukuran gaun, Evelyn hanya diam mendengarkan Madame Claire yang berceloteh tentang tren kain renda dari ibu kota. Pikirannya melayang kembali ke gudang antik di rumahnya. Ia teringat akan bau debu di sana—bukan debu jelaga pabrik yang tajam, tapi debu waktu yang terasa... kuno.

​"Lady Evelyn? Apakah warnanya terlalu pucat untuk Anda?" tanya Madame Claire sambil memegang gulungan kain satin berwarna lavender.

​Evelyn mengerjapkan mata, kembali ke realitas. "Tidak, Madame. Itu warna yang cantik. Sangat cocok untuk jamuan teh nanti sore."

​"Tentu saja, Milady. Anda selalu memiliki selera yang luar biasa."

​Evelyn hanya tersenyum. Selera. Pilihan. Apakah ia benar-benar memilih warna ini. 

More Chapters