Ficool

Chapter 5 - Bab 4: Cahaya di Balik Jendela Berembun

Pagi di Oakhaven biasanya dimulai dengan suara yang seragam: peluit uap dari pabrik tekstil di kejauhan, dentang kereta kuda di jalanan berbatu, dan detak ribuan jam mekanik yang menghiasi dinding-dinding kediaman Valerius. Namun, pagi ini, sebuah suara baru memecah keheningan yang sakral itu.

​Guk!

​Evelyn von Valerius terbangun bukan karena ketukan lembut Martha di pintunya, melainkan karena suara napas yang berat dan deru ekor yang menghantam kaki tempat tidur kayunya. Ia membuka mata perlahan, menemukan sepasang mata cokelat besar yang menatapnya dengan antusiasme yang murni.

​"Sunny," gumam Evelyn, suaranya masih serak karena kantuk.

​Nama itu terasa tepat. Di kota yang didominasi oleh warna abu-abu jelaga dan hitamnya besi, bulu keemasan anjing itu adalah satu-satunya hal yang mengingatkan Evelyn pada sinar matahari yang jarang menembus kabut Oakhaven.

​Sunny menjawab panggilan itu dengan meletakkan dagunya di atas seprai sutra Evelyn, meninggalkan sedikit jejak lembap yang pastinya akan membuat Martha menghela napas panjang saat merapikan tempat tidur nanti. Evelyn hanya tersenyum polos, jemarinya terkubur di dalam bulu leher Sunny yang hangat dan tebal.

​"Kau bangun terlalu pagi untuk ukuran seekor anjing bangsawan," bisik Evelyn sambil beranjak dari tempat tidurnya.

​Biasanya, jam pertama setelah bangun adalah waktu bagi Evelyn untuk duduk diam di kursi malas, membiarkan pikirannya bersiap menghadapi jadwal yang padat. Namun kini, ia mendapati dirinya sibuk mencari sandal rumahnya karena Sunny terus-menerus menarik ujung gaun tidurnya, mendesaknya untuk segera keluar.

​"Milady, Anda sudah bangun?" Suara Martha terdengar di balik pintu, diikuti oleh ketukan yang teratur.

​"Masuklah, Martha."

​Pintu terbuka, dan pelayan senior itu masuk membawa baki berisi air hangat dan handuk bersih. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Sunny yang sedang berusaha mengejar bayangan ekornya sendiri di tengah kamar yang biasanya rapi tanpa cela. Martha meletakkan baki itu dengan presisi, matanya melirik ke arah noda lembap di seprai.

​"Tampaknya tamu baru ini tidak mengenal konsep etiket pagi hari, Milady," komentar Martha datar.

​"Dia hanya bersemangat, Martha. Lagipula, udara pagi di taman belakang kabarnya bagus untuk kesehatan," sahut Evelyn sambil membiarkan Martha membantu mengenakan gaun pagi berbahan katun yang lebih ringan dari biasanya.

​Setelah ritual berpakaian yang panjang, Evelyn membawa Sunny turun menuju taman belakang. Di Oakhaven, taman pribadi seperti milik keluarga Valerius adalah kemewahan yang langka. Sementara sebagian besar kota tertutup oleh beton dan rel besi, di sini masih ada hamparan rumput hijau yang dikelilingi oleh pagar besi tempa yang tinggi, dengan beberapa pohon ek tua yang daunnya selalu tampak sedikit kusam oleh debu pabrik.

​Sunny langsung berlari begitu kakinya menyentuh rumput. Ia melompat-lompat, mengendus setiap sudut pot bunga batu, dan sesekali menggonggong pada burung-burung pipit yang bertengger di dahan pohon.

Evelyn berjalan pelan di jalan setapak berbatu, memperhatikan setiap gerakan Sunny. Ia pintar dalam mengobservasi, dan ia menyadari betapa berbedanya cara makhluk hidup bergerak dibandingkan dengan mesin. Mesin bergerak dalam garis lurus, berulang, dan dapat dihitung. Sunny bergerak dalam pola yang kacau, penuh kejutan, dan didorong oleh keinginan yang tidak selalu masuk akal.

​"Ke mari, Sunny!" panggil Evelyn.

​Ia melemparkan sebuah bola kayu kecil yang biasanya digunakan untuk latihan ketangkasan tangan. Sunny berlari secepat kilat, telinganya yang lebar terbang tertiup angin, dan dengan satu lompatan lincah, ia menangkap bola itu sebelum menyentuh tanah.

​Evelyn merasakan kepuasan yang aneh. Menonton Sunny bermain membuatnya merasa seolah-olah beban kaku di pundaknya sedikit terangkat. Untuk sesaat, ia bukan lagi Lady Evelyn yang harus memikirkan anggaran rumah tangga atau korespondensi politik. Ia hanyalah seorang gadis yang sedang bermain di taman.

Di balik pagar taman, asap hitam dari kereta uap yang melintas di jalur atas mulai menutupi langit, mengubah cahaya pagi yang pucat menjadi temaram yang muram. Suara peluit pabrik berbunyi, menandakan pergantian shift pekerja. Bunyi itu begitu tajam hingga Sunny berhenti bermain, memiringkan kepalanya, dan mengeluarkan geraman rendah yang tidak biasa.

​Evelyn mendekati anjingnya, mengelus punggungnya yang tegang. "Hanya suara mesin, Sunny. Dunia ini penuh dengan suara itu."

​Sunny menatap ke arah sumber suara, matanya tidak berkedip. Ia tidak tampak takut, melainkan waspada, seolah-olah ia sedang mendeteksi sesuatu di dalam frekuensi suara mesin itu yang tidak bisa ditangkap oleh telinga manusia.

​Evelyn memperhatikan reaksi itu dengan saksama. Ia tahu anjing memiliki indra yang lebih tajam, namun ekspresi Sunny tampak terlalu... sadar. Seolah-olah anjing itu sedang mencoba memahami mekanisme di balik suara tersebut.

​"Ayo, sudah waktunya sarapan," ajak Evelyn, mencoba mengalihkan perhatiannya sendiri dari pikiran-pikiran yang mulai melantur.

​Sisa pagi itu dihabiskan Evelyn di ruang baca, namun kali ini ia tidak sendirian. Sunny berbaring di bawah kakinya, kepalanya bersandar di atas sepatu sutra Evelyn. Detak napas anjing itu yang teratur memberikan irama baru bagi Evelyn saat ia membaca buku tentang Teori Nilai Tukar Komoditas.

​Tuan Miller datang pukul sepuluh tepat. Sang tutor tua itu tampak sedikit terkejut melihat kehadiran seekor anjing besar di ruang belajar, namun ia terlalu sopan untuk memprotes keputusan Duke.

​"Pelajaran hari ini adalah tentang sejarah perkembangan mesin tenun uap di wilayah utara, Lady Evelyn," ucap Tuan Miller sambil membuka bukunya.

​Evelyn mendengarkan, namun sesekali matanya melirik ke arah Sunny. Anjing itu sesekali mendengkur halus dalam tidurnya, sesekali telinganya bergerak mengikuti suara ketukan penggaris Tuan Miller di atas peta. Ada kontras yang nyata di ruangan itu: suara Tuan Miller yang kering menceritakan tentang besi dan uap, sementara di bawah meja, ada kehangatan dari makhluk hidup yang bernapas.

​Siang harinya, Evelyn membawa Sunny jalan-jalan di sekitar area paviliun dalam. Ia mengajari Sunny beberapa perintah dasar—duduk, diam, dan berjalan di sampingnya. Evelyn melakukannya dengan kesabaran seorang ilmuwan yang sedang melakukan eksperimen. Ia menyukai proses di mana komunikasi terjalin tanpa perlu kata-kata yang rumit.

​"Kau sangat pintar, bukan?" puji Evelyn saat Sunny berhasil duduk dengan sempurna setelah ia memberikan isyarat tangan.

​Sunny menggoyangkan ekornya, memberikan pandangan yang seolah-olah berkata bahwa ia melakukan ini hanya untuk menyenangkan Evelyn.

​Saat sore mulai turun dan kabut Oakhaven kembali menebal, Evelyn duduk di balkon kamarnya, memperhatikan lampu-lampu gas yang mulai menyala satu per satu di sepanjang jalan. Sunny duduk di sampingnya, kepalanya bersandar di pagar balkon, menatap ke arah kota yang mulai berpendar redup.

​Dunia di luar sana tetap sama. Dingin, kaku, dan penuh dengan asap. Namun, di dalam kamarnya, Evelyn merasakan kehadiran Sunny sebagai sebuah anomali yang menyenangkan. Kehadiran anjing ini memberikan warna baru pada rutinitasnya yang monokrom.

​Evelyn mengambil sebuah sikat rambut dan mulai menyisir bulu keemasan Sunny. Ia melakukannya dengan perlahan, menikmati tekstur bulu yang lembut di sela jarinya. Di dalam keheningan malam yang mulai menyelimuti kediaman Valerius, Evelyn merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ayahnya benar. Rumah ini memang terlalu sunyi sebelumnya.

​Ia menatap ke arah langit yang gelap, di mana bintang-bintang tersembunyi di balik lapisan polusi udara. Oakhaven mungkin adalah kota mesin, tapi malam ini, Evelyn merasa lebih hidup daripada mesin mana pun yang pernah ia lihat.

More Chapters