Ficool

Chapter 6 - Bab 5: Musim yang Bergulir di Balik Kabut

Waktu di Oakhaven sering kali terasa statis, diukur bukan oleh pergantian musim yang alami, melainkan oleh kuota produksi pabrik dan jadwal kereta uap yang tak pernah meleset. Namun, bagi Evelyn von Valerius, bulan-bulan yang berlalu sejak kedatangan Sunny membawa ritme baru yang jauh lebih hangat dan hidup.

​Salju tipis mulai turun di bulan Desember, menutupi jelaga hitam di atap-atap gedung dengan lapisan putih yang rapuh. Di dalam perpustakaan pribadi keluarga Valerius yang hangat oleh perapian batu bara, Evelyn duduk di kursi. 

Puk.

​Sebuah hidung basah dan dingin menyentuh pergelangan tangan Evelyn, mendorong buku berat itu hingga hampir terjatuh dari pangkuannya. Evelyn menunduk dan mendapati Sunny sedang menatapnya dengan telinga yang layu dan mata cokelat yang memelas—senjata andalannya untuk mendapatkan perhatian.

​"Sunny, aku baru membaca lima halaman," bisik Evelyn lembut, mencoba bersuara tegas meski tangannya sudah otomatis bergerak mengelus kepala emas anjing itu.

​Sunny tidak menyerah. Ia mengeluarkan suara rintihan kecil yang manja, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuh besarnya di atas kaki Evelyn, menjadikannya bantal yang empuk. Sifat manjanya telah menjadi rahasia umum di kediaman ini; seekor anjing pemburu yang seharusnya gagah, namun justru lebih suka meringkuk di bawah gaun sutra majikannya.

​Evelyn menghela napas, menutup bukunya, dan menyerah pada keinginan Sunny. "Baiklah, kau menang. Kau memang makhluk paling keras kepala di rumah ini."

​Sunny segera berdiri, ekornya mengibas dengan semangat hingga memukul tumpukan majalah di meja samping. Kepribadiannya yang menggemaskan telah meluluhkan banyak hati, bahkan Martha yang paling kaku sekalipun kini sering terlihat diam-diam memberikan potongan daging sisa panggang ke mangkuk makan Sunny.

​Selama berbulan-bulan ini, Evelyn menyadari bahwa Sunny bukan sekadar hewan peliharaan. Anjing itu memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi—mungkin setara dengan Evelyn sendiri. Setiap kali Evelyn mempelajari sesuatu yang baru, Sunny akan duduk di sampingnya, memiringkan kepala seolah sedang menimbang-nimbang teori ekonomi yang sedang dibahas.

​Siang itu, Evelyn memutuskan untuk membawa Sunny berjalan-jalan di koridor lantai dua yang jarang dilewati. Ini adalah area koleksi benda antik milik ayahnya yang lebih luas.

​"Jangan menyentuh apa pun dengan ekormu, Sunny," peringat Evelyn saat mereka melewati deretan guci keramik kuno dan replika mesin uap mini yang rumit.

​Sunny berjalan dengan langkah yang sangat jinak, hidungnya sibuk mengendus udara. Namun, rasa ingin tahunya sering kali membuatnya berhenti di depan benda-benda yang tampak membosankan bagi orang lain. Ia sempat berhenti lama di depan sebuah potret leluhur Valerius yang matanya tampak mengikuti siapa pun yang lewat. Sunny menatap lukisan itu, mengeluarkan suara dengusan kecil, lalu kembali mengikuti Evelyn.

​"Kau juga merasakannya, bukan? Tatapan yang tidak menyenangkan itu," gumam Evelyn polos.

​Kehadiran Sunny telah mengubah cara Evelyn melihat rumahnya sendiri. Dulu, lorong-lorong ini hanya terasa seperti lorong. Sekarang, dengan Sunny yang selalu mengeksplorasi setiap celah, Evelyn mulai memperhatikan detail-detail kecil: bagaimana cahaya lampu gas memantul di lantai marmer, atau bagaimana suara angin bersiul di celah jendela tua yang mulai longgar.

​Sore harinya, mereka berada di taman belakang yang kini tertutup salju tipis. Sunny sangat menyukai salju. Ia akan melompat ke tumpukan salju, lalu muncul kembali dengan hidung yang tertutup butiran putih, membuat Evelyn tertawa lepas.

​Bulan-bulan ini adalah masa di mana Evelyn merasa paling "pintar" bukan karena buku, tapi karena ia belajar memahami bahasa tanpa kata dari Sunny. Ia tahu kapan Sunny merasa bosan, kapan ia ingin bermanja, dan kapan ia merasa terusik oleh suara mesin uap yang terlalu bising dari luar pagar.

​"Ke mari, Sunny!"

​Evelyn berlutut di atas salju, merentangkan tangannya. Sunny berlari kencang, lalu menjatuhkan dirinya ke pelukan Evelyn, membuat mereka berdua terguling di atas rumput yang membeku. Evelyn tertawa, sebuah suara yang murni dan jernih, kontras dengan suara peluit pabrik yang baru saja berbunyi di kejauhan.

​Bagi dunia luar, Evelyn tetaplah putri Duke yang sempurna, polos, dan patuh pada etiket. Namun di dalam ruang pribadinya bersama Sunny, ia adalah seorang gadis yang penuh rasa ingin tahu, yang mulai mempertanyakan mengapa dunia yang begitu canggih ini terasa begitu kosong tanpa kehadiran kehangatan seperti yang diberikan Sunny.

​Waktu terus berjalan, hari demi hari, bulan demi bulan. Evelyn semakin terbiasa dengan rutinitasnya yang kini selalu melibatkan Sunny. Ia tidak lagi merasa kesepian di meja makan yang luas atau di perpustakaan yang sunyi. 

​Malam itu, setelah hari yang panjang dengan pelajaran sejarah yang melelahkan, Evelyn duduk di depan perapian kamarnya. Sunny meringkuk di dekat kakinya, napasnya yang teratur memberikan rasa tenang yang tak terlukiskan.

​Evelyn menatap api yang menari-nari di perapian. Ia memikirkan bagaimana hidupnya telah berubah perlahan. Oakhaven masih kota yang sama—berasap, bising, dan mekanis. Ayahnya masih pria yang sama—dingin dan sibuk. Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang mulai tumbuh, sebuah bibit yang disiram oleh keceriaan Sunny dan rasa ingin tahunya sendiri yang semakin dalam.

​Dunia ini sangat logis, pikir Evelyn. Tapi Sunny tidak logis. Kasih sayangnya tidak bisa dihitung dengan rumus fisika, dan kegembiraannya tidak bisa dihasilkan oleh mesin uap mana pun.

​Evelyn memejamkan mata, tangannya masih mengelus bulu Sunny yang hangat. Ia belum tahu bahwa kedamaian ini hanyalah tenang sebelum badai, dan bahwa rasa ingin tahu Sunny yang tinggi suatu saat nanti akan membawanya ke sebuah pintu yang tidak seharusnya dibuka oleh seorang lady biasa.

​Untuk saat ini, Evelyn hanya ingin menikmati momen ini. Momen di mana ia bukan hanya seorang putri bangsawan, melainkan seorang sahabat bagi makhluk emas yang kini tertidur lelap di kakinya.

​Lonceng katedral Oakhaven berdentang di kejauhan, menandakan pergantian hari. Satu bulan lagi telah berlalu, dan di balik kabut tebal yang menyelimuti kota, takdir yang lebih besar mulai merajut benang-benangnya, perlahan namun pasti.

More Chapters