Ficool

Chapter 4 - Bab 3: Tamu Tak Terduga di Kediaman Valerius

Lonceng besar di aula utama berdentang lima kali, suaranya bergema melewati langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran plesteran putih. Di luar, hujan rintik-rintik mulai turun, menyatu dengan kabut Oakhaven yang selalu pekat, menciptakan lapisan embun yang buram pada jendela-jendela kaca besar.

​Evelyn baru saja menyelesaikan laporan anggaran rumah tangga bulanan ketika suara deru mesin uap dari kereta pribadi ayahnya terdengar memasuki pelataran depan. Itu adalah suara yang khas—berat, bertenaga, dan menuntut perhatian.

​"Lord Duke telah tiba," Martha mengumumkan sambil merapikan renda pada gaun Evelyn. "Beliau membawa lebih banyak barang bawaan daripada biasanya dari perjalanan ke pesisir selatan."

​Evelyn berdiri, merapikan roknya yang berat, dan berjalan menuju balkon dalam yang menghadap ke aula utama. Di bawah sana, pintu ganda yang masif terbuka lebar. Pelayan-pelayan berseragam rapi berbaris di kedua sisi, menundukkan kepala saat sosok jangkung dengan jubah panjang berwarna hitam masuk ke dalam ruangan.

​Duke Maximilian von Valerius adalah personifikasi dari Oakhaven itu sendiri: kaku, teguh, dan berbau minyak wangi maskulin yang bercampur dengan aroma samar tembakau dan uap mesin. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu bot kulit mengkilap menimbulkan suara ketukan yang tegas di atas lantai marmer obsidian.

​Namun, perhatian Evelyn tidak tertuju pada wajah ayahnya yang lelah, melainkan pada sesuatu yang bergerak-gerak di samping pria itu.

​Seorang pelayan pria tampak kewalahan memegang tali kekang dari kulit tebal. Di ujung tali itu, seekor makhluk berbulu lebat dengan warna keemasan yang mencolok sedang mengendus-endus pilar marmer dengan antusiasme yang tidak terkendali.

​"Evelyn," suara Duke berat, menggema di seluruh aula. Ia mendongak, menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan.

​Evelyn segera menuruni tangga dengan langkah yang anggun namun cepat. Sesampainya di bawah, ia melakukan curtsy yang sempurna. "Selamat datang kembali, Ayah. Saya harap perjalanan Anda ke kementerian pelabuhan membuahkan hasil yang memuaskan."

​"Urusan birokrasi selalu melelahkan, tapi jalur kereta api baru itu akan selesai tepat waktu," jawab Duke sambil melepas sarung tangan kulitnya dan memberikannya kepada pelayan. Ia kemudian melirik ke arah makhluk yang kini sedang berusaha menjilati sepatu botnya. "Aku membawakan ini untukmu. Seorang kolega di wilayah pesisir sedang membiakkan jenis ini. Mereka menyebutnya Golden Retriever."

​Evelyn mengerjapkan mata. Di rumah yang segalanya diatur dengan presisi mesin, kehadiran makhluk hidup yang begitu... organik terasa sangat asing. Anjing itu besar, dengan bulu yang tampak seperti benang sutra emas yang kusut, dan matanya yang cokelat menatap Evelyn dengan binar yang polos dan penuh semangat.

​"Hadiah... untuk saya, Ayah?" Evelyn bertanya, suaranya sedikit ragu.

"Rumah ini terlalu sunyi," Duke berkata singkat, seolah memberikan pembenaran logis atas keputusannya. "Dan aku mendengar dari Tuan Miller bahwa kau menghabiskan terlalu banyak waktu di perpustakaan. Seekor hewan peliharaan mungkin bisa membuatmu lebih sering keluar ke taman belakang."

​Anjing itu, seolah mengerti namanya sedang dibicarakan, mengeluarkan suara rintihan kecil dan mulai mengibas-ngibaskan ekornya yang tebal. Suara ekornya yang menghantam kaki meja kayu jati terdengar seperti pukulan gendang yang tidak beraturan—sebuah suara yang sangat tidak 'Valerius'.

​"Terima kasih, Ayah. Dia... sangat cantik," ucap Evelyn. Ia memberanikan diri mendekat.

​Rasa ingin tahunya yang pintar mulai bekerja. Ia belum pernah melihat hewan sebesar ini dari dekat, apalagi memilikinya. Evelyn berlutut perlahan, mengabaikan tatapan Martha yang seolah mengatakan bahwa gaun sutra mahalnya akan segera dipenuhi bulu anjing.

​Saat tangannya yang kecil menyentuh kepala anjing itu, ia merasakan kehangatan yang nyata. Bukan hangatnya pemanas uap atau api di perapian, melainkan kehangatan dari sesuatu yang bernapas dan berdetak. Anjing itu menjilat telapak tangannya, sebuah sensasi basah dan kasar yang membuat Evelyn tertawa kecil—suara tawa yang sangat jarang terdengar di aula kediaman ini.

​"Siapa namanya?" tanya Evelyn.

​"Dia belum punya nama. Itu tugasmu," jawab Duke sambil mulai melangkah menuju ruang kerjanya. "Pastikan dia tidak merusak permadani di ruang tamu. Martha, beritahu pengurus rumah untuk menyiapkan tempat di area paviliun."

​"Baik, My Lord," jawab Martha dengan nada yang menyiratkan ketidaksetujuan yang tertahan.

​Duke menghilang di balik pintu besar ruang kerjanya, meninggalkan Evelyn sendirian di aula luas itu bersama 'tamu' barunya. Anjing itu kini duduk dengan tenang, menjulurkan lidahnya dan menatap Evelyn seolah sedang menunggu instruksi selanjutnya.

​Evelyn berdiri, menatap kekacauan kecil yang dibuat anjing itu—beberapa helai bulu emas yang tertinggal di lantai marmer yang biasanya mengkilap tanpa noda. Di dunia yang segalanya harus lurus dan dapat diukur, kehadiran anjing ini adalah sebuah anomali. Sesuatu yang tidak bisa diatur oleh logika mesin uap atau hukum ekonomi.

​"Ayo," bisik Evelyn pada anjing itu. "Mari kita lihat seberapa besar kekacauan yang bisa kita buat di taman belakang."

​Evelyn berjalan menuju pintu samping yang menuju taman, diikuti oleh langkah kaki anjing itu yang terdengar berat dan ceria di atas lantai. Saat mereka melewati lorong yang dipenuhi mesin-mesin jam mekanik yang berdetak serentak, anjing itu sempat berhenti sejenak, memiringkan kepalanya seolah mendengar sesuatu yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia biasa.

​Evelyn memperhatikan perilaku itu. Ia pintar untuk tidak menganggapnya sebagai hal biasa, namun ia tidak memiliki penjelasan logis untuk itu. Mungkin anjing itu hanya bingung dengan suara roda gigi yang terus-menerus berputar di rumah ini.

​Di luar, hujan sudah berhenti, meninggalkan aroma tanah basah dan jelaga yang sedikit memudar. Evelyn membiarkan anjing itu berlari di atas rumput hijau yang dipangkas rapi. Ia berdiri di bawah kanopi batu, menatap hewan yang terus berputar-putar mengejar bayangannya sendiri.

Golden Retriever," gumam Evelyn

​Ia memikirkan nama yang cocok, sesuatu yang tidak terdengar seperti nama mesin atau gelar bangsawan. Sesuatu yang terasa hidup. Namun, untuk saat ini, ia hanya menikmati pemandangan makhluk itu yang tampak begitu bebas di tengah dunia yang teratur ini.

​Hari itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, jadwal Evelyn terganggu. Ia melewatkan waktu membaca sorenya hanya untuk memperhatikan anjing itu menggali lubang kecil di sudut taman. Martha berkali-kali datang untuk mengingatkan tentang etiket dan kebersihan, namun Evelyn hanya memberikan senyum polosnya yang khas.

​Malam mulai turun, dan lampu-lampu gas di sepanjang pagar rumah mulai dinyalakan. Evelyn membawa anjing itu masuk kembali, memberinya makan di area paviliun yang sudah disiapkan. Saat ia membelai bulu emas hewan itu untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke kamarnya, Evelyn merasakan ketenangan yang aneh.

Evelyn menaiki tangga menuju kamarnya, langkahnya terasa sedikit lebih ringan. Ia tidak tahu mengapa ayahnya tiba-tiba membawakannya hadiah seekor anjing, namun ia bersyukur. Di dunia yang dipenuhi oleh besi, uap, dan logika, kehadiran seekor anjing emas terasa seperti sebuah keberuntungan yang tidak terduga.

​Sesampainya di kamarnya, ia duduk di depan meja rias, menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk sesaat, ia melihat noda tanah kecil di lengan gaunnya. Alih-alih merasa kesal, Evelyn justru menyentuhnya dengan ujung jari, merasakan tekstur tanah yang kasar—sesuatu yang nyata, sesuatu yang bukan berasal dari pabrik.

​Ia mematikan lampu minyak di mejanya, membiarkan kegelapan malam menyelimuti ruangan. Di luar sana, suara mesin-mesin Oakhaven masih berdenyut, namun malam ini, suara itu terdengar sedikit lebih jauh.

More Chapters