Ficool

Chapter 7 - Bab 6: Resonansi di Antara Debu dan Cahaya

Hujan di Oakhaven sore ini membawa aroma sulfur yang lebih tajam dari biasanya, merayap masuk melalui celah ventilasi kediaman Valerius. Di dalam perpustakaan yang luas, cahaya lampu gas berpendar temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di antara deretan buku sejarah dan teori mekanika.

​Evelyn von Valerius duduk di ceruk jendela yang dingin. Di pangkuannya, sebuah buku tua bersampul kulit kusam terbuka di halaman yang seharusnya tidak ada dalam kurikulum Tuan Miller. Buku itu berisi catatan fragmentaris tentang 'Penyihir'—makhluk-makhluk yang menurut sejarah modern hanyalah personifikasi dari ketidaktahuan manusia purba.

​“Mereka tidak meminjam kekuatan dari alam,” Evelyn membaca baris kalimat yang tintanya hampir pudar itu. “Mereka adalah wadah bagi Otoritas yang jatuh dari langit yang tak terlihat.”

​Evelyn berhenti sejenak. Ia menyentuh permukaan kertas yang kasar itu, dan tiba-tiba saja, rasa rindu yang menyesakkan dada muncul tanpa alasan. Ia merasa asing di rumahnya sendiri, asing di kota yang bising oleh mesin ini. Ada sebuah kekosongan di dalam dirinya yang tidak bisa diisi oleh angka-angka anggaran atau etiket bangsawan. Sebuah rasa ingin tahu yang begitu tajam hingga terasa menyakitkan.

​Apakah dunia ini benar-benar hanya berisi besi dan uap? batinnya.

​Di sampingnya, Sunny yang biasanya sibuk mengejar bayangan atau mencari remah roti, tampak sangat tenang. Anjing emas itu duduk tegak, matanya yang cokelat tidak lagi terlihat manja. Ada kilatan emas redup di dalam manik matanya yang seolah-olah memantulkan cahaya dari dimensi lain.

​Sunny menatap Evelyn. Bukan tatapan seekor hewan pada majikannya, melainkan tatapan seorang saksi kuno yang sedang menimbang sebuah jiwa.

​"Sunny?" bisik Evelyn. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. "Ada apa?"

​Suara detak jam besar di aula luar tiba-tiba terdengar sangat lambat... tek... tek... tek... hingga akhirnya berhenti sepenuhnya.

​Suara hujan yang menghantam kaca jendela membeku di udara. Dunia di luar jendela seolah kehilangan warnanya, berubah menjadi abu-abu statis. Di dalam perpustakaan, partikel debu yang biasanya menari di udara kini berhenti melayang, seolah-olah waktu itu sendiri telah ditarik keluar dari ruang ini.

​Evelyn ingin bergerak, namun tubuhnya terasa seberat timah. Satu-satunya hal yang masih memiliki "kehidupan" di ruangan itu adalah Sunny.

​Anjing itu berdiri perlahan. Langkah kakinya tidak menimbulkan suara di atas lantai kayu. Ia mendekati Evelyn yang terperangkap dalam keheningan absolut. Cahaya keemasan di bulu Sunny mulai berpendar, bukan seperti pantulan lampu gas, melainkan cahaya yang berasal dari dalam sel-sel tubuhnya sendiri.

​Sunny menaiki ceruk jendela, memperpendek jarak di antara mereka.

​Evelyn menatap mata Sunny. Di sana, ia tidak lagi melihat pantulan dirinya sendiri. Ia melihat hamparan kabut abu-abu yang tak berujung dan sebuah istana yang melayang di atas ketiadaan. Rasa takut dan takjub berperang di dalam dadanya, namun rasa ingin tahunya yang pintar justru membuatnya tidak berpaling.

​Lalu, Sunny melakukan sesuatu yang tidak terduga.

​Ia tidak menggonggong. Ia tidak menjilat. Dengan gerakan yang penuh keagungan dan kepastian, Sunny mencondongkan kepalanya dan menempelkan dahinya tepat di tengah dahi Evelyn.

​BZZZT!

​Dunia Evelyn meledak dalam keheningan yang memekakkan telinga.

​Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik dingin yang merayap masuk ke dalam sumsum tulang belakangnya. Sebuah visi kilat melintas: singgasana batu kuno, tumpukan kartu yang melayang, dan sosok misterius yang menopang dagu di balik kabut.

​“...Terpilih.”

​Sebuah suara tanpa wujud bergema di dalam kesadaran Evelyn, sangat dalam dan berwibawa.

​Evelyn terengah, matanya membelalak lebar. Saat itu juga, rasa rindu yang tadi ia rasakan berubah menjadi sebuah saluran yang terbuka lebar. Ia merasa seolah-olah ada sesuatu yang 'terhubung' di dalam kepalanya—sebuah pintu rahasia yang kuncinya baru saja diputar oleh anjing di depannya.

​Detik berikutnya, waktu kembali berputar.

​Teng! Lonceng katedral berbunyi di kejauhan. Suara hujan kembali menghantam kaca jendela dengan keras. Cahaya lampu gas kembali normal, kuning dan hangat.

​Sunny menarik kepalanya kembali, lalu menguap lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali menjadi anjing yang manja, merebahkan tubuhnya di kaki Evelyn dan mulai menjilat kakinya sendiri.

​Evelyn tetap mematung. Tangannya gemetar saat ia menyentuh dahinya sendiri, tempat di mana Sunny baru saja menempelkan kepalanya. Kulitnya terasa dingin, namun di balik tulang tengkoraknya, ia bisa merasakan sesuatu yang baru.

​Sebuah koordinat. Sebuah panggilan.

​Ia menatap buku dongeng di pangkuannya, lalu menatap Sunny yang kini tertidur lelap dengan ekor yang sesekali bergerak pelan. Evelyn bukan lagi gadis pintar yang hanya bertanya-tanya tentang sejarah yang hilang.

​Ia baru saja menyadari bahwa Sunny bukan sekadar hadiah dari ayahnya. Dan ia, Evelyn von Valerius, baru saja menyeberangi garis yang tidak akan pernah bisa ia lalui kembali.

More Chapters