Ficool

Chapter 2 - Bab 1: Debu di Atas Obsidian

Oakhaven selalu terbangun dengan aroma yang sama: campuran uap batu bara yang lembap dan logam yang teroksidasi.

​Evelyn von Valerius menyesuaikan posisi duduknya di depan meja rias kayu jati yang kokoh. Di cermin perak yang sedikit buram oleh embun pagi, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Wajah yang tenang, kulit pucat yang jarang tersentuh matahari langsung, dan mata biru yang menatap tanpa banyak ekspresi.

​"Korsetnya terlalu kencang hari ini, Martha," ucap Evelyn pelan. Suaranya datar, tertelan oleh suara gemuruh mesin uap dari pabrik tekstil yang letaknya beberapa blok dari kediaman Duke.

​"Ini tren terbaru dari ibu kota, Milady. Pinggang yang ramping adalah tanda kedisiplinan seorang bangsawan," jawab Martha sambil terus menarik tali-tali di punggung Evelyn. Pelayan tua itu bekerja dengan efisiensi mekanis, seolah tangannya sendiri adalah bagian dari roda gigi yang menggerakkan rumah ini.

​Evelyn hanya bisa menarik napas pendek. Ia membiarkan Martha menyisir rambut pirangnya, mengikatnya menjadi sanggul rendah yang sempurna tanpa satu pun helai yang mencuat.

​Setelah selesai, Evelyn berdiri. Berat gaun sutra berlapis-lapis itu terasa seperti beban fisik yang harus ia tanggung setiap hari. Ia melangkah menuju jendela, menyapu lapisan tipis jelaga hitam yang menempel di birai kayu dengan ujung jarinya.

​Di bawah sana, jalanan Oakhaven mulai sibuk. Kereta kuda pengangkut barang melintas di atas jalan berbatu yang basah. Para pekerja pabrik dengan pakaian abu-abu kusam berjalan beriringan menuju pelabuhan, sementara lampu-lampu gas kota baru saja dipadamkan oleh petugas patroli pagi.

​Dunia ini sangat bising, namun terasa mati.

​"Apakah jadwal hari ini sudah keluar?" tanya Evelyn tanpa menoleh.

​"Pukul sepuluh, Tuan Miller akan tiba untuk sesi Sejarah Modern dan Ekonomi Politik. Pukul satu siang, Anda diundang ke jamuan teh di kediaman Baroness Moore. Dan pukul empat sore, Lord Duke meminta Anda menemuinya di ruang kerja untuk membahas anggaran rumah tangga bulan depan."

​Evelyn mengangguk kecil. Sebuah jadwal yang presisi. Tidak ada ruang untuk kesalahan, tidak ada ruang untuk kejutan.

​Ia meninggalkan kamarnya, berjalan menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan potret leluhurnya. Setiap wajah di dinding itu menatapnya dengan pandangan yang sama: kaku dan penuh tanggung jawab. Duke Valerius pertama, kedua, hingga ayahnya yang sekarang—semuanya adalah orang-orang yang membangun kekayaan melalui tambang batu bara dan jalur kereta api.

​Saat menuruni tangga, langkah Evelyn melambat sejenak ketika ia melewati pintu gudang di bawah tangga yang terkunci rapat. Itu adalah tempat penyimpanan arsip lama dan barang-barang yang tidak lagi digunakan. Ia teringat ayahnya pernah menyebutkan bahwa di sana tersimpan beberapa catatan kusam dari kakek buyutnya yang merupakan seorang penjelajah gagal.

Namun, Evelyn tidak berhenti. Rasa ingin tahunya yang pintar selalu ia tekan di bawah etiket yang sempurna. Ia terus berjalan menuju ruang makan, di mana aroma roti panggang dan kopi hitam sudah menunggunya.

​Pagi di Oakhaven berjalan persis seperti pagi kemarin, dan kemungkinan besar akan sama dengan pagi esok. Sebuah dunia yang berjalan di atas rel besi yang pasti, tanpa celah untuk hal-hal yang tidak masuk akal.

​Evelyn duduk di kursinya, meraih pisau perak untuk mengoleskan mentega ke rotinya. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan pisau yang mengkilap, bertanya-tanya sampai kapan rutinitas yang sempurna ini akan terus berlanjut.

More Chapters