Ficool

Chapter 5 - Bab 2.2

Melihat pisaunya terhempas, Luo Tian langsung melompat dan mundur beberapa langkah kebelakang. Matanya menoleh tajam ke arah kanan.

Di arah kanannya terlihat seorang pria tua baya yang berpenampilan seperti umur 50an dengan rambut yang sudah memutih dengan jubah panjang berwarna hitam yang dibelakangnya bertuliskan Luo yang membara.

Pria paru baya itu ialah Luo Tei, seorang tetua hukum yang berada di ranah pembangunan fondasi tahap awal sekaligus sepupu dari kepala keluarga saat ini.

"Hentikan"suaranya pelan, suaranya tidak keras, namun mengandung Qi dan menekan Luo Tian ke tanah.

Udara di sekitar Luo Tian mendadak seberat timah. Luo Tei , sang Tetua, belum melayangkan satu pukulan pun, namun gelombang Qi yang dilepaskannya terasa seperti gunung yang runtuh menimpa pundak pemuda itu

Ini jelas kalau ia menargetkan Luo Tian. Karena hanya Luo Tian saja yang mengalami penekanan, sedangkan kedua penjaga itu tidak mengalami penekanan ini.

Kedua penjaga yang tadinya menyerang Luo Tian langsung menundukkan kepala mereka dan memberi hormat kepada pria baya itu.

"Salam tetua hukum"

Luo Tei melirik ke arah Luo Tian, tatapannya tajam dan dingin, namun tidak dipenuhi dengan niat membunuh "dasar bocah nakal, kau sudah diusir dari kediaman utama, bukannya memperbaiki dan meningkatkan diri malah membuat kekacauan seperti ini, seharusnya waktu itu kepala keluarga mengusirmu saja dari klan Luo" ia berteriak ke arah Luo Tian.

Luo Tian tidak panik dan tidak marah menghadapi situasi yang tidak adil seperti ini, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.

Di dunia ini jika ingin dihormati maka harus mempunyai kekuatan dan kekuasaan.

Tanpa salah satu dari dua hal itu, kau hanyalah seonggok sampah.

Luo Tian mencoba mengangkat kapalanya, ia berbicara dengan tenang, tanpa emosi "tetua hukum, bukankah kau seharusnya menghukum kedua penjaga itu?, kedua penjaga itu telah melanggar aturan yang ditetapkan oleh klan"

Menurut ingatan dan pemikiran Luo Tian yang telah ia asah selama ribuan tahun, hanya ada satu cara untuk lolos dari situasi ini.

Yaitu menggunakan aturan yang telah ditetapkan lama oleh klan.

Luo Tei melirik ke arah Luo Tian, Qi spritual berkeliling di tubuhnya, penekanan bertambah dua kali lipat dari sebelumnya, membuat tubuh Luo Tian jatuh ke tanah.

Tanah di bawah kaki Luo Tian tidak lagi mampu menahan beban. Retakan-retakan menjalar seperti jaring laba-laba, hancur menjadi debu di bawah pijakannya. Tekanan itu begitu murni dan tajam, jubah kain yang dikenakan Luo Tian mulai koyak berserakan, seolah-olah ribuan pisau tak kasat mata sedang menyayat tubuhnya secara bersamaan.

"Menurut apa yang kulihat tadi, kau yang melanggar aturan dengan mencoba untuk membunuh sesama anggota klan" Ucap Luo Tei.

Luo Tei melanjutkan, ucapannya pelan namun menekan "aturan klan Luo, nomor 3, seseorang yang mencoba mencelakai sesama anggota klan Luo harus dihukum cambuk" Luo Tei menatap dingin dan tajam ke arah Luo Tian, tatapannya seolah sebuah pisau besar menancap ke arah leher Luo Tian "Jadi Luo Tian, bersiaplah menerima hukumanmu"

Luo Tei menggangkat tangannya dan menyuruh kedua penjaga gerbang itu "penjaga, bawa sampah itu ke aula hukum"

Kedua penjaga itu tidak bisa menyembunyikan kesenangannya, mereka dengan buru-buru segera ke arah Luo Tian

Luo Tian tetap tenang, ia sudah menduga situasi ini ketika ia memutuskan untuk memanfaatkan aturan klan, namun bukan berarti ia tidak mempunyai cara, menurut ingatan tubuh ini, Luo Tian yang dulu adalah seorang yang bahkan menghafal seluruh aturan klan diluar kepalanya.

Luo Tian melirik tajam ke arah kedua penjaga itu,"aturan klan nomor 9, Setiap anggota klan yang menuduh seseorang hingga dijatuhi hukuman, namun terbukti bahwa tuduhan tersebut tidak benar, maka hukuman itu akan dibalik dan dilipatgandakan sepuluh kali kepada penuduh"

Luo Tian tersenyum lebar, senyuman yang seolah mengejek kedua penjaga itu "aku sedikit penasaran, jika tuduhan kalian ternyata salah dan tidak terbukti benar, kalian semua akan menerima beberapa cambukan ya?" Suara itu pelan, namun menggetarkan hati dan membuat kedua penjaga itu ragu.

Kedua penjaga itu berhenti seketika ketika mendengar apa yang dibicarakan Luo Tian. Dalam hati mereka, apa yang dibicarakan oleh Luo Tian hampir sepenuhnya benar, jadi jika mereka menangkap Luo Tian dan mereka ketahuan melakukan tuduhan palsu, mereka semua pasti akan menerima hukuman dari klan.

Melihat kedua penjaga itu tiba-tiba berhenti, Luo Tei berteriak, "apa yang sedang kalian lakukan hah? Segera tangkap bajingan kecil itu, urusan hukum atau yang lainnya biar aku yang urus"

Benar juga, ada tetua hukum disini. Pikir salah satu penjaga itu. Kilat licik melintas di mata kedua penjaga itu. Dengan adanya otoritas klan disini, mereka merasa berada di atas angin untuk menekan pemuda yang mereka anggap sebagai sampah di dalam klan.

Melihat Luo Tian yang masih berdiri tegak padahal beberapa bagian tubuhnya sudah penuh luka dan beberapa organnya sudah patah akibat tekanan dari tetua. Kedua penjaga itu tanpa ragu lari kearah Luo Tian. Kedua penjaga itu mengcenkeram kedua tangan Luo Tian dan memelintirnya kebelakang.

Krak

Suara sendi yang bergema pelan, namun tidak ada rintihan yang keluar dari mulutnya. Meskipun wajahnya sepucat kertas namun tatapan matanya tetap tajam sedingin es yang tidak tersentuh matahari. Ia membiarkan dirinya dibawah oleh kedua penjaga itu ke aula hukum.

Luo Tian tidak melawan sama sekali, ia tau di dunia ini kekuatan dan kekuasaan di atas segalanya, berbicara hanya akan menghabiskan kekuatan, lagipula ia masih memgetahui cara untuk lolos dari situasi ini.

Di aula hukum.

Pintu besi setinggi tiga meter itu terbuka dengan suara berdenyit pelan, memperlihat ruangan besar yang dipenuhi obor yang menyala terang. Di pinggir ruangan banyak tetua hukum yang hadir di sini, itu karena yang dihukum adalah mantan dari kediaman dalam sekaligus anak dari kepala keluarga sekerang, jadi tentu saja banyak tetua yang ingin melihat anak ini hancur.

Di ujung ruangan duduk seorang pria paru baya yang duduk di kursi besar dengan banyak tengkorak dikursi itu. Pria tua itu adalah kepala hukum klan Luo, Luo Shin , seorang ahli pembangunan fondasi puncak.

Ia menggengam palu kayu di tangan kanannya, memukulnya ke meja dengan pelan namun suara palu itu menggengam ke seluruh ruangan ini. "Sidang dimulai"

"Luo Tian, anak ketiga dari kepala keluarga Luo namun diasingkan dari kediaman utama" ucapan itu tenang namun mencekam, "menurut laporan dari tetua hukum Luo Tei, kau melanggar hukum aturan klan nomor 3, apakah itu benar"

Luo Tian memandangi tajam ke arah Luo Shin, lalu perlahan ia berbicara "itu hanya pembelaan diri, mereka menyerang aku duluan, aku membela diri, bukankah itu wajar?"

Luo Tian melanjutkan pembicaraannya "lagipula di aturan klan nomor 4, seseorang yang diserang oleh orang lain lalu melukai ataupun membunuh mereka itu tidak akan dihukum oleh klan, apakah aku benar tetua hukum?"

Luo Shin menghadap ke arah dua penjaga itu, "apakah ucapan dari tersangka Luo Tian benar?"

Kedua penjaga itu bergetar dan saling memandang, mereka tidak berani menatap langsung ke mata Luo Shin, seolah tatapan mata Luo Shin seperti elang yang mampu melihat segalanya.

Luo Tian sedikit tersenyum, ia sudah menunggu reaksi ini, karena dari ingatan tubuh ini, Luo Shin adalah salah satu orang di klan yang paling jujur dan tidak memihak faksi manapun, bahkan dengan kultivasinya yang hanya di tahap pembangunan fondasi puncak, ia memegang kekuasaan cukup tinggi di klan dan tidak ada seorang pun yang mau menyinggungnya.

Tetua Tei yang sedari tadi hanya duduk diam di kursi langsung bangun dari tempat dudukku, ia menakupkan kedua tangannya dan memberi gestur hormat ke Luo Shin "lapor kepala tetua hukum, saya sendiri melihat kalau Luo Tian menyerang kedua penjaga ini"

More Chapters