Luo Tian masuk kedalam kobaran api yang semakin besar akibat angin aneh di hutan beast ini. Dalam waktu yang sangat singkat ini, ia telah menghabisi semua serigala yang ada didalam kobaran api itu.
Ketika Luo Tian keluar dari kobaran api itu, seluruh pakaiannya terbakar oleh api, bahkan seluruh pakaian yang berada di tubuhnya terbakar tidak tersisa.
Pinggang dan kedua tangan Luo Tian mengalami luka bakar akibat ia memaksakan diri untuk masuk kedalam kobaran api itu.
Namun Luo Tian tidak meringis ataupun berekspresi kesakitan maupun melolong kesakitan, ekspresi masih sama seperti sebelumnya.
Baginya luka-luka seperti ini hanya luka kecil dan tidak ada waktu baginya untuk merasakan hal remeh seperti rasa sakit.
Setelah itu, Luo Tian mengeluarkan sebuah kertas jimat kosong tanpa tulisan apapun di kertasnya.
Ia mengalirkan Qi spritual berwarna biru ke jari-jari tangan kanannya, lalu ia seperti menulis sebuah mantra di jimat itu yang bertuliskan air sungai deras.
Setelah menuliskan mantra terakhir pada jimat itu, selembar kertas tipis tersebut bergetar halus. Cahaya perlahan merambat di permukaannya, berubah menjadi biru laut yang dalam, seolah menyimpan samudra di dalamnya. Tanpa ragu, ia menyalurkan sedikit Qi ke dalam jimat itu.
Dalam sekejap, jimat tersebut memancarkan cahaya biru terang yang menyilaukan. Ia melemparkannya ke udara, tepat di atas kobaran api yang melahap segalanya.
Boom!
Jimat itu meledak, namun bukan api yang keluar, melainkan gelombang air sepanjang tiga meter yang jatuh deras seperti hujan badai.
Air itu menghantam kobaran api dengan kekuatan dahsyat, memadamkan nyala yang membakar serigala itu, sekaligus menyapu api yang menjalar di pohon-pohon dan tanaman di sekitarnya.
Asap putih mengepul ke udara, sementara suara desis api yang padam bergema di hutan yang perlahan kembali tenang.
Ketika api sudah mulai padam, ia mulai mendekati mayat serigala yang sudah tampak kaku, ada beberapa dari mereka yang terbakar, ada yang hanya setengah dari tubuh mereka yang terbakar, ada juga yang tidak terbakar sama sekali.
Luo Tian mengangkat pisaunya yang sudah berlumuran darah para serigala. Menurunkan tubuhnya dan menusuk tepat ke arah leher serigala itu.
Ia melakukan ini untuk melihat dan mengetahui apakah serigala itu masih hidup atau sudah mati. Walau serigala itu sudah tidak bergerak namun ia tetap harus berhati-hati, bisa saja serigala itu tiba-tiba bangun dan menyerangnya.
Ia kemudian menarik pisaunya dari leher serigala itu dengan satu gerakan halus. Ujung bilangnya masih menyisakan moda darah merah gelap yang kemudian menetes ke tanah.
Ia berlutut tepat disamping bangkai serigala tersebut. Serigala yang tampak tidak ada sama sekali luka bakar di seluruh tubuhnya.
Tatapannya tenang, namun penuh perhitungan, tujuannya jelas ,yaitu inti beast yang tersembunyi yang ada didalam tubuh serigala tersebut.
Ia perlahan menusuk tubuh serigala itu, lalu dengan presisi membelah dada serigala tersebut.
Namun sebelum Luo Tian menyelesaikannya. Luo Tian merasakan niat membunuhmu dari samping kanannya.
Benar saja. Taring baja berukuran lengan mengarah kepada Luo Tian dengan laju yang sangat cepat.
Itu adalah taring serigala yang memiliki kultivasi Qi condensation tahap delapan.
Dengan reflek yang sangat cepat dan berkat pengalamannya selama ribuan tahun. Luo Tian menghindar kesamping dalam sekejap, dengan gerakan yang lincah dan presisi. tubuhnya bergerak lincah seolah menyatu dengan angin, sebelum angin tepat menyentuh tanah ia bergerak dan berlari dengan laju yang sangat cepat ke arah serigala itu
Ia memegang pisaunya yang sudah berlumuran darah para serigala dengan erat lalu menargetkan tepat ke arah leher serigala itu.
Namun serigala itu bereaksi jauh lebih cepat dari yang diduga. Tepat saat serangan Luo Tian mengarah kepadanya, tubuh serigala itu sudah bergerak dan melompat ke arah kiri Luo Tian dengan kecepatan yang nyaris tidak terlihat di mata.
Kaki serigala itu menghantam tanah dengan ringan namun bertenaga, menciptakan dorongan yang membuatnya melesat seperti bayangan. Bulu hitamnya berterbangan kemana-mana. Matanya memancarkan aura pembunuh yang kuat, namun berbeda dari serigala lain, aura pembunuh itu mampu ia kendalikan dengan sesuka hati, berbeda dengan serigala lain yang Luo Tian bunuh.
Dalam satu gerakan halus, serigala itu yang tadi dalam posisi menghindar menyerang balik Luo Tian bahkan sebelum Luo Tian sempat bereaksi.
Luo Tian yang melihat serigala itu sudah berada tepat beberapa centi disampingnya langsung menghindari dengan memiringkan tubuhnya ke arah kiri dengan gerakan yang tampak goyah akibat serangan mengejutkan dari serigala itu.
Namun Luo Tian telat beberapa Mili detik saja sehingga cakar putih yang tercampur dengan tanah menggores pipi Luo Tian.
Luo Tian tidak menampakkan ekspresi kesakitan ataupun melolong kesakitan, tatapannya masih tajam ke arah serigala itu.
Tangan kirinya memegang pisau dengan erat lalu mengarahkan pisau itu tepat ke arah leher serigala itu.
Serigala itu merasakan bahaya dari tangan kiri Luo Tian, ia mengangkat tangan kanannya dan menepis pisau yang ada di tangan kiri Luo Tian yang membuat pisau itu melayang jauh.
Luo Tian melihat kesempatan ini, ia mengangkat kakinya dan menendang ke arah kepala serigala itu dengan mengeluarkan seluruh kekuatannya.
Namun sialnya, serigala itu tidak terpental, bahkan tidak merasakan sedikitpun rasa pusing.
Mata Luo Tian sedikit menyipit, ia menyadari kalau tubuh ini terlalu lemah, bahkan hanya melakukan beberapa pertarungan seperti ini, tubuhnya sudah mencapai batasnya.
Dalam waktu sepersekian detik itu, Luo Tian memutarkan tubuhnya hampir sembilan puluh derajat. Dengan gerakan yang halus dan tampak mustahil, ia menendang kepala serigala itu dengan presisi yang lebih mematikan.
Namun targetnya yang sebenarnya bukan kepala serigala itu, melainkan mata kirinya.
Mata kiri serigala itu berdarah, cairan merah pekat mengalir perlahan membasahi kepalanya. Darah itu merembes turun melewati moncongnya, lalu menetes satu per satu ke tanah.
Serigala itu melolong kesakitan. Namun Luo Tian tidak ingin membuang kesempatan emas ini, ia bergerak dengan kecepatan yang sangat cepat ke arah kiri. Tepat ke arah titik buta serigala itu.
Menggengam pisaunya yang tampak berlumuran darah berwarna hitam dengan erat.
Namun serigala itu tampak menyadari apa yang direncakan Luo Tian. Serigala itu mengangkat tangan kanannya tepat ketika Luo Tian sangat dekat dengannya, hanya berbeda beberapa centi dari tubuh Luo Tian.
Cakar putih bercampur tanah itu mengarah tepat ke arah tubuh Luo Tian.
Luo Tian tidak sempat menghindar, gerakan tangan serigala itu tampak jauh lebih cepat dari sebelumnya.
Cakar setajam pisau menghujam tubuh Luo Tian. Serangan itu mendarat telak menyayat dalam dari bagian atas dadanya lalu meluncur luruk ke ulu hati hingga berakhir ke titik pusarnya.
Namun ekspresi Luo Tian tidak berubah sama sekali, pandangan tepat kearah leher serigala itu, ia mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin, lalu mengarahkan pisaunya tepat ke arah leher serigala.
Ketika pisau itu menusuk leher serigala itu. Serigala itu melolong kesakitan. Luo Tian dengan gerakan yang sangat cepat dan penuh presisi menarik pisaunya yang tertancap di leher serigala itu kebawah.
Darah muncrat kemana-mana dari leher serigala itu. Serigala itu menatap Luo Tian beberapa saat, namun tidak bisa berbuat apa-apa kemudian ia pun terjatuh ke tanah.
Akhirnya serigala itu mati juga. Pikir Luo Tian dengan tubuh yang terluka parah, ia terjatuh lemas ke tanah, bahkan jika Luo Tian memaksa tubuhnya untuk berdiri, tubuh ini mungkin tidak mampu bergerak lagi akibat banyaknya luka ditubuh ini.
