Kehadiran kebun herbal di halaman belakang mansion membawa perubahan besar pada rutinitas Kimberly.
Dia tidak lagi merasa seperti tahanan di dalam sangkar emas, setiap pagi, setelah Justin berangkat ke kantor atau mengurus bisnisnya, Kimberly menghabiskan waktu dengan merawat tanaman, menumbuk bahan-bahan alami, dan merebus jamu.
Bau aroma terapi herbal kini sering kali menyelimuti dapur megah mansion, menggantikan aroma maskulin yang kaku, namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Sore itu, Justin pulang lebih awal dari biasanya, wajahnya tampak sedikit tegang, meskipun dia berusaha menyembunyikannya saat melihat Kimberly yang sedang menyaring air rebusan kunyit asam di dapur.
"Kimberly," panggil Justin lembut, berjalan mendekat dan mengecup sekilas puncak kepala istrinya yang wangi melati.
"Eh, Justin? Kamu sudah pulang? Mau kubuatkan teh hangat?" tanya Kimberly dengan senyum manis yang kini selalu menyambut kedatangan sang mafia, Justin menahan tangan Kimberly, menatap matanya dalam-dalam.
"Simpan dulu ramuanmu. Malam ini, kita harus menghadiri jamuan makan malam resmi. Ini adalah pertemuan tahunan The Syndicate dengan para petinggi aliansi bisnis kota." jantung Kimberly seketika mencelos.
"Aku? Ikut? Tapi Justin, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan orang-orang penting seperti mereka. Bagaimana jika aku mempermalukanmu?"
Justin membingkai wajah Kimberly dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Kau tidak akan mempermalukanku. Kau adalah Nyonya Ardiansyah. Cukup berdiri di sampingku, angkat dagumu, dan biarkan aku yang menangani sisanya. Aku ingin seluruh dunia tahu siapa wanita yang memegang kendali atas hidupku."
Meskipun hatinya diliputi kecemasan yang luar biasa, Kimberly tidak bisa menolak tatapan penuh keyakinan dari Justin, dia mengangguk pelan.
Dua jam kemudian, transformasi Kimberly selesai, berkat bantuan tim penata rias profesional yang dipanggil Justin, Kimberly menjelma menjadi sosok yang sangat anggun tanpa kehilangan identitas aslinya.
Dia mengenakan gaun malam beludru berwarna hijau zamrud yang elegan, mengekspos leher jenjangnya yang kini dihiasi kalung berlian minimalis.
Rambut hitamnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya yang dipulas riasan natural.
Di pergelangan tangannya, gelang berlian pemberian Justin berkilau indah, saat Kimberly turun menuruni tangga mewah, Justin yang sudah menunggunya di bawah dalam balutan setelan tuksedo hitam pekat tampak terpaku.
Selama beberapa detik, sang penguasa kegelapan itu kehilangan kata-kata.
"Kamu... sangat cantik, Kimberly," bisik Justin dengan suara serak, mengulurkan tangannya untuk disambut oleh Kimberly.
"Terima kasih. Aku merasa sangat gugup," aku Kimberly jujur, menggenggam erat lengan kekar Justin yang terasa seperti batu karang yang kokoh baginya.
"Jangan takut. Aku ada di sampingmu," janji Justin tegas.
Jamuan makan malam diadakan di ballroom sebuah hotel bintang lima milik keluarga Ardiansyah.
Suasana di dalam aula begitu megah sekaligus sarat akan ketegangan politik, orang-orang yang hadir di sana bukanlah pengusaha biasa, melainkan para pemimpin kartel, penyelundup kelas atas, hingga pejabat korup yang beraliansi dengan The Syndicate.
Begitu pintu besar ballroom terbuka dan nama Justin Devano Ardiansyah diumumkan, seluruh ruangan seketika hening.
Ratusan pasang mata tertuju pada pasangan yang baru masuk tersebut. Bisik-bisik mulai terdengar, terutama ketika mereka melihat sosok wanita yang menggandeng tangan sang Tuan Besar.
"Jadi itu gadis desa yang dirumorkan?"
"Cantik, tapi sangat polos. Bagaimana bisa Justin memilih wanita seperti itu?"
"Evelyn didepak hanya karena gadis kampung ini?"
Kimberly mendengar samar-samar cemoohan tersebut, jemarinya yang menggandeng lengan Justin tanpa sadar meremas lebih kuat.
Merasa kegelisahan istrinya, Justin melirik tajam ke sekeliling ruangan, tatapan matanya yang sedingin es langsung membungkam bisik-bisik sinis para tamu.
Mereka berjalan menuju meja utama, di sana, sudah duduk beberapa tetua organisasi, termasuk Tuan Bramasta, seorang pria tua berwajah licik yang merupakan sekutu lama ayah Justin sekaligus ayah dari Evelyn.
Wajah Bramasta tampak mengeras melihat kehadiran Kimberly, makan malam dimulai dengan suasana yang menegangkan.
Kimberly berusaha keras mengingat semua pelajaran etika yang diajarkan di mansion.
Dia memotong daging steaknya dengan perlahan, menggunakan garpu dan pisau dengan benar, mencoba tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun.
"Jadi, Tuan Besar Justin," Bramasta membuka suara dengan nada meremehkan, memecah keheningan di meja utama.
"Anda mengorbankan kerja sama pelabuhan utara yang bernilai triliunan hanya demi melindungi seorang... gadis desa? Apakah standar pemimpin The Ardiansyah Syndicate sekarang sudah menurun begitu drastis?"
Suasana di meja makan langsung mencekam, Marco yang berdiri di belakang Justin sudah memegang gagang pistol di balik jasnya, bersiap bertindak.
Namun, Justin tetap tenang, dia menyesap anggur merahnya perlahan sebelum menatap Bramasta dengan senyum dingin.
"Standarku tidak pernah turun, Tuan Bramasta. Justru aku menaikkannya dengan menyingkirkan orang-orang yang tidak tahu cara menghormati milikku," jawab Justin, suaranya terdengar santai namun mengandung ancaman pembunuhan yang nyata.
"Putrimu melewati batas, dan kau tahu apa konsekuensinya dalam hukumku."
Bramasta mengepalkan tangannya di bawah meja, wajahnya memerah menahan amarah, dia kemudian mengalihkan pandangan liciknya pada Kimberly.
"Nyonya Ardiansyah yang terhormat," sapa Bramasta dengan nada menyindir.
"Di dunia kami, seorang wanita harus bisa memberikan kontribusi politik atau bisnis. Menjadi pajangan cantik saja tidak akan bertahan lama di lingkungan yang penuh darah ini. Apa yang bisa kau berikan untuk mendukung posisi suamimu?"
Kimberly tertegun, pertanyaan itu menohok langsung ke dalam rasa tidak percaya dirinya yang terdalam.
Dia melirik Justin yang bersiap memotong pembicaraan Bramasta dengan kasar, namun Kimberly menahannya dengan menyentuh lembut punggung tangan Justin.
Kimberly menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya, dia mendongak, menatap langsung ke mata tua Bramasta yang penuh intimidasi.
"Tuan Bramasta," ucap Kimberly, suaranya terdengar lembut namun tegas dan bergema jelas di meja tersebut.
"Saya mungkin tidak tahu tentang strategi bisnis gelap atau penyelundupan di pelabuhan. Namun, saya tahu satu hal yang pasti. Di desa, ketika sebatang pohon diserang oleh hama dari luar, dia tidak membutuhkan hiasan baru di rantingnya. Dia membutuhkan akar yang kuat dan obat yang tepat untuk menyembuhkan lukanya dari dalam."
Kimberly melirik Justin dengan tatapan penuh kehangatan sebelum kembali menatap Bramasta.
"Saya di sini bukan untuk menjadi senjata luar bagi Justin. Saya di sini untuk menjadi rumah dan ketenangan yang menyembuhkan lukanya ketika dia selesai berperang di dunia Anda. Dan bagi seorang pemimpin, ketenangan pikiran adalah modal terbesar untuk mengambil keputusan yang tepat. Bukankah begitu?"
Mendengar jawaban yang begitu filosofis dan berani dari seorang gadis yang mereka anggap remeh, beberapa tetua organisasi yang duduk di meja tersebut tampak terkesima.
Mereka tidak menyangka gadis desa ini memiliki pemikiran yang begitu dewasa dan tidak gentar di bawah tekanan.
Tuan Bramasta bungkam, tidak mampu membalas argumen Kimberly, sementara itu, Justin menatap Kimberly dengan tatapan yang dipenuhi rasa kagum dan cinta yang semakin mendalam.
Ego posesifnya berteriak puas, gadis desanya baru saja membuktikan bahwa dia pantas menjadi ratu di samping sang raja kegelapan.
Justin menggenggam tangan Kimberly di atas meja, mengangkatnya, lalu mengecup punggung tangan istrinya di hadapan semua orang, menegaskan dominasi dan kepemilikannya yang mutlak.
Ujian pertama telah dilewati, dan Kimberly telah memenangkannya dengan anggun.
