KegelapanMalam itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan murka sang penguasa kegelapan.
Hujan deras turun membasahi bumi, disertai kilatan petir yang sesekali menerangi ruang kerja Justin yang temaram.
Aroma cerutu yang pekat berpadu dengan ketegangan yang mencekam, di balik meja kayu ek besarnya, Justin duduk dengan tatapan mata yang kosong namun mematikan.
Di depannya, sebilah pisau taktis dan sebuah pistol perak tergeletak, Marco berdiri di sudut ruangan dengan perban menempel di rahangnya, menunggu perintah final.
"Semua jalur pelarian Bramasta sudah ditutup, Tuan Besar," lapor Marco dengan suara rendah.
"Dia bersembunyi di gudang kontainer tua dekat pelabuhan barat bersama sisa-sisa pengawal setianya. Dia tahu Anda akan memburunya." Justin menyesap cerutunya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan.
"Dia mengira bisa menyentuh milikku dan tetap bernapas? Pria tua itu sudah pikun rupanya. Siapkan seluruh tim pemukul. Aku sendiri yang akan memimpin malam ini."
"Tapi Tuan, luka di bahu Anda belum pulih total akibat insiden di desa kemarin—"
"Aku tidak peduli," potong Justin dingin, nadanya mutlak, dia bangkit berdiri, menyarungkan pistolnya ke dalam balik jas hitamnya.
"Siapa pun yang berani mengarahkan senjatanya pada Kimberly, tidak berhak melihat matahari terbit besok pagi."
Tepat saat Justin hendak melangkah menuju pintu, daun pintu ruang kerja tersebut terbuka perlahan.
Kimberly berdiri di sana, dia mengenakan gaun tidur putih panjang, rambutnya digerai, dan sepasang mata bulatnya menatap Justin dengan pandangan yang sulit diartikan ada kecemasan, ketakutan, namun juga keteguhan.
Marco yang mengerti situasi segera membungkuk hormat dan menyelinap keluar, meninggalkan pasangan suami istri itu dalam keheningan yang berat.
Justin menghela napas, aura membunuhnya seketika melunak saat menatap istrinya, dia berjalan mendekat.
"Kenapa belum tidur, Kim? Ini sudah lewat tengah malam." Kimberly menatap pakaian Justin yang sudah rapi dengan jas hitam penembak jitu.
"Kamu mau pergi membunuh, bukan?"
Pertanyaan yang begitu blak-blakan membuat Justin tertegun, dia tidak ingin membohongi gadis ini, tapi dia juga tidak ingin Kimberly ketakutan melihat sisi monster dalam dirinya.
"Aku harus menyelesaikan kekacauan ini, Kim. Bramasta adalah ancaman. Selama dia masih bernapas, kau tidak akan pernah aman di rumah ini."
Kimberly melangkah maju, meraih tangan kanan Justin yang kasar, jemari kecilnya mengelus punggung tangan pria itu yang dipenuhi guratan urat.
"Aku tahu. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi orang suci yang memaafkan musuhmu, Justin. Aku sadar di mana aku berdiri sekarang. Tapi... berjanjilah padaku satu hal." Justin menunduk, menatap wajah polos istrinya.
"Apa?"
"Kembalilah dalam keadaan hidup. Jangan biarkan darah mereka mengotori hatimu hingga kamu melupakan jalan pulang ke kamar ini," bisik Kimberly, sebutir air mata lolos dari sudut matanya.
"Aku menunggumu di sini."
Mendengar ucapan Kimberly, pertahanan keras di hati Justin runtuh, dia menarik Kimberly ke dalam pelukannya yang erat, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh perasaan.
Janji seorang gadis desa yang menunggunya pulang adalah hal termewah yang pernah dia dengar seumur hidupnya.
"Aku pasti pulang, Kim. Aku berjanji," bisik Justin di telinga Kimberly sebelum akhirnya melepaskan pelukan dan melangkah pergi menembus kegelapan malam.
Gudang kontainer di pelabuhan barat tampak sunyi di bawah guyuran hujan lebat, namun, di dalam bangunan tua tersebut, ketegangan berada di titik jenuh.
Tuan Bramasta duduk di atas kursi besi dengan napas memburu, dikelilingi oleh dua puluh pria bersenjata lengkap.
Brak!
Pintu besi gudang hancur berantakan, terlempar ke dalam akibat ledakan kecil, belum sempat para penjaga bereaksi, rentetan tembakan beruntum dari senapan bersuara peredam menggema.
Satu per satu anak buah Bramasta tumbang ke lantai dengan darah yang mengalir bercampur air hujan.
Justin melangkah masuk di tengah kepulan asap mesiu, mantel hitamnya berkibar ditiup angin malam.
Di kedua tangannya, sepasang pistol perak berbunyi secara ritmis, menembak mati setiap orang yang mencoba mengarahkan senjata ke arahnya dengan akurasi yang mengerikan.
Dia bergerak seperti malaikat maut yang tidak memiliki rasa takut, bahunya yang belum sembuh total seolah tidak menjadi halangan saat dia menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh ruangan dipenuhi oleh jasad anak buah Bramasta.
Kini, hanya tersisa pria tua itu yang terduduk lemas di kursinya, menatap Justin dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetar hebat.
Justin berjalan mendekat, ujung sepatunya yang basah meninggalkan jejak darah di lantai tanah.
Dia berhenti tepat di depan Bramasta, menodongkan moncong pistolnya yang masih panas langsung ke dahi pria tua itu.
"J-Justin... tolong... kita bisa bicarakan ini... aku punya saham di pelabuhan... aku bisa memberikan semuanya padamu!" ratap Bramasta dengan suara serak, air mata ketakutan mengalir di pipinya yang keriput.
"Kau bisa memberikan sahammu pada iblis di neraka, Bramasta," ucap Justin dingin, matanya menatap kosong tanpa secercah belas kasihan.
"Kesalahan terbesarmu bukan mencoba merebut kekuasaanku. Kesalahan terbesarmu adalah mencoba menyentuh Kimberly."
Klik.
"Tunggu, Justin!"
Sebuah suara teriakan wanita menggema dari sudut gudang, Evelyn berlari keluar dari balik tumpukan kontainer dengan pakaian yang berantakan dan wajah sembab, dia berlutut di dekat kaki Justin, menangis histeris.
"Jangan bunuh ayahku! Aku mohon! Aku yang merencanakan semuanya! Aku yang menyuruh kurir itu membawa bom karena aku membenci gadis desa itu! Bunuh saja aku, jangan ayahku!" Justin melirik Evelyn dengan tatapan jijik.
"Kau pikir aku akan melepaskanmu? Kau dan ayahmu akan pergi ke tempat yang sama malam ini."
Justin bersiap menarik pelatuknya, namun, di tengah kilatan amarahnya, wajah Kimberly yang menangis sambil meminta dirinya untuk 'ingat jalan pulang' tiba-tiba terlintas di benaknya.
Kata-kata Kimberly yang menginginkannya kembali tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya menahan jari Justin di atas pelatuk.
Justin menurunkan senjatanya perlahan, membuat Bramasta dan Evelyn mengembuskan napas lega yang singkat.
"Marco," panggil Justin tanpa menoleh.
"Ya, Tuan Besar?" Marco muncul dari balik bayangan.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku lebih lanjut malam ini. Patahkan kaki mereka, ambil seluruh aset keluarga mereka hingga tidak tersisa sepeser pun, lalu buang mereka ke pulau terpencil di ujung negeri. Biarkan mereka hidup sebagai pengemis seumur hidup mereka tanpa bisa kembali ke kota ini," perintah Justin kejam, namun setidaknya dia tidak mencabut nyawa mereka secara langsung.
"Baik, Tuan. Akan segera dilaksanakan." Justin berbalik, berjalan meninggalkan gudang yang penuh darah tersebut tanpa menoleh lagi.
Tugasnya selesai, sekarang, satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah kembali ke mansion dan memeluk gadisnya.
Jam menunjukkan pukul empat pagi ketika limosin Justin kembali memasuki pekarangan mansion.
Justin melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang basah kuyup oleh air hujan dan aroma mesiu yang masih menempel di mantelnya.
Dia menaiki tangga dengan perlahan, merasa lelah yang luar biasa melanda tubuhnya.
Begitu dia membuka pintu kamar tidur utama, dia menemukan Kimberly tidak sedang tidur di ranjang.
Gadis itu duduk di lantai balkon, berselimutkan kain tebal, menatap rintik hujan yang mulai mereda sambil memeluk lututnya.
Dia benar-benar tidak tidur semalaman demi menunggunya, mendengar suara pintu, Kimberly menoleh.
Matanya berbinar saat melihat sosok suaminya berdiri di ambang pintu dalam keadaan utuh.
Dia langsung bangkit dan berlari kecil, menghambur ke dalam pelukan Justin.
"Justin!"
Kimberly memeluk leher Justin erat-erat, tidak memedulikan baju suaminya yang basah dan dingin.
Justin membalas pelukan itu dengan menyembunyikan wajahnya di leher Kimberly, menghirup dalam-dalam wangi melati yang selalu menenangkannya.
"Aku pulang, Kim. Aku memenuhi janjiku," bisik Justin lirih, membiarkan kehangatan tubuh Kimberly mengusir hawa dingin dari tubuhnya.
Kimberly melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah Justin yang tampak lelah, dia menyentuh bahu kanan Justin dengan hati-hati.
"Apa lukamu terbuka lagi? Ayo, ganti bajumu. Aku sudah siapkan air hangat dan teh jahe untukmu."
Justin menatap istrinya dengan tatapan yang dipenuhi rasa cinta yang begitu dalam, sebuah perasaan yang kini telah berakar kuat di hatinya.
Gadis desa yang awalnya dia bawa paksa sebagai tawanan posesifnya, kini telah berubah menjadi pelabuhan terakhir tempat jiwanya yang penuh dosa bisa bersandar dengan damai.
"Terima kasih, Kimberly," ucap Justin tulus, mengecup bibir manis istrinya dengan kelembutan yang hanya dia tunjukkan pada satu-satunya wanita yang memiliki hatinya sepenuhnya.
Di balik tirai kegelapan dunia mafia, badai malam itu akhirnya berlalu, menyisakan kedamaian baru di dalam rumah tangga mereka yang kini semakin kokoh oleh ujian darah dan kesetiaan.
