BayanganKeberhasilan Kimberly membungkam Tuan Bramasta di jamuan makan malam menjadi buah bibir di kalangan internal The Ardiansyah Syndicate.
Gadis desa yang awalnya dianggap sebagai kelemahan Justin, kini mulai dipandang sebagai sosok yang memiliki keteguhan hati yang langka.
Namun, di dunia yang dipenuhi oleh intrik dan perebutan kekuasaan, pengakuan sering kali berjalan beriringan dengan bertambahnya musuh.
Sekembalinya dari acara tersebut, suasana di dalam mansion terasa sedikit lebih hangat.
Kimberly melepaskan sepatu hak tingginya dengan napas lega begitu memasuki kamar tidur utama.
Justin, yang berjalan di belakangnya, langsung melonggarkan dasi tuksedonya dan menanggalkan jas hitamnya.
Pria itu menatap Kimberly yang kini tengah menghapus riasan wajahnya di depan cermin besar.
"Kau luar biasa malam ini, Nyonya Ardiansyah," ucap Justin, berjalan mendekat dan meletakkan kedua tangannya di bahu Kimberly, menatap pantulan wajah istrinya dari cermin, Kimberly tersenyum tipis melalui cermin.
"Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, Justin. Aku sangat takut tangan Tuan Bramasta tiba-tiba mengeluarkan pistol di bawah meja tadi." Justin terkekeh rendah, kecupan lembut mendarat di leher samping Kimberly.
"Dia tidak akan berani. Di hotel itu, ada tiga puluh penembak jitu milikku yang mengawasi setiap gerakannya. Jika dia bergerak satu senti saja untuk mengancammu, kepalanya sudah bolong sebelum dia sempat menarik pelatuk."
Kimberly berbalik, menatap suaminya dengan ekspresi serius.
"Apakah hidupmu akan selalu seperti ini? Terus-menerus mengawasi dan diawasi? Apakah tidak ada sedetik pun waktu di mana kamu bisa benar-benar melepaskan senjatamu?"
Pertanyaan Kimberly membuat Justin terdiam beberapa saat, mata hitamnya yang biasanya sedingin es menatap lurus ke dalam manik mata Kimberly, mencari sesuatu yang mungkin hilang dari dirinya sendiri sejak lama.
"Duniaku adalah rantai makanan, Kim. Jika aku berhenti menjadi pemangsa, maka aku yang akan menjadi mangsa," jawab Justin datar namun jujur.
Dia menarik Kimberly ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Tapi di kamar ini, saat aku bersamamu, aku tidak perlu memikirkan itu semua. Kau adalah satu-satunya tempat di mana aku bisa menurunkan senjataku."
Mendengar pengakuan jujur itu, hati Kimberly berdenyut aneh, rasa iba dan kasih sayang bercampur menjadi satu.
Dia membalas pelukan kekar Justin, mengusap punggung suaminya dengan lembut, mencoba menyalurkan kehangatan dan ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh sang penguasa kegelapan.
Keesokan harinya, Justin harus pergi ke pelabuhan utama untuk memeriksa pengiriman logistik baru yang sempat tertunda akibat sabotase minggu lalu.
Dia meninggalkan mansion dengan pengawalan berlapis, menyisakan Marco untuk memimpin penjagaan di sekitar rumah.
Kimberly memanfaatkan waktu luangnya untuk kembali ke kebun herbal di halaman belakang.
Dia berniat membuat ramuan teh herbal baru yang bisa membantu Justin tidur lebih nyenyak tanpa bantuan obat penenang kimia yang sering dia lihat di laci kerja suaminya.
Saat sedang asyik memetik daun binahong dan jahe merah, perhatian Kimberly teralihkan oleh keributan kecil di dekat pos penjagaan samping mansion.
Dia melihat Bi Minah sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam kurir pengirim barang.
"Ada apa, Bi?" tanya Kimberly, melangkah mendekati mereka sambil membawa keranjang kecilnya, Bi Minah menunduk hormat.
"Ini, Nyonya. Ada kiriman paket khusus yang dialamatkan langsung untuk Nyonya Kimberly. Kurir ini bersikeras bahwa paket ini harus diterima langsung oleh Nyonya sendiri, tidak boleh diwakilkan."
Pria berseragam kurir itu menunduk dalam, menolak menatap mata Kimberly secara langsung.
Dia menyodorkan sebuah kotak kayu berukuran sedang yang diikat dengan pita sutra hitam.
"Surat perintah dari pengirim mengatakan ini adalah hadiah penyambutan untuk Nyonya Ardiansyah dari aliansi dagang selatan." Kimberly mengernyitkan dahi. Perasaannya mendadak tidak enak.
"Aliansi selatan? Siapa pengirimnya?"
"Saya hanya kurir, Nyonya. Saya tidak tahu detailnya," jawab pria itu gugup.
Tepat saat Kimberly hendak mengulurkan tangan untuk menerima kotak tersebut, sebuah tangan kekar bersarung kulit hitam menyambar kotak itu dengan kasar dari samping, Marco telah tiba dengan wajah yang sangat tegang.
"Mundur, Nyonya!" bentak Marco tegas, menarik Kimberly ke belakang tubuhnya sementara tiga anak buahnya yang lain langsung menodongkan pistol ke arah kurir tersebut.
"M-Marco? Ada apa?" Kimberly terkejut melihat reaksi defensif yang begitu ekstrem.
"Kotak ini berbau belerang dan mendesis pelan, Nyonya. Ini bukan hadiah," ucap Marco dingin.
Dia meletakkan kotak itu di tanah dengan sangat hati-hati, lalu menggunakan pisau taktisnya untuk mengintip bagian bawah kotak.
Benar saja, sebuah kabel merah tipis terhubung dengan alat pemicu kecil yang menempel pada dinding kayu bagian dalam.
Itu adalah bom rakitan dengan sensor tekanan, jika Kimberly membuka penutup kotak secara manual tanpa prosedur penjinakan, ledakan radius lima meter akan langsung menghancurkan tubuhnya, kurir itu langsung berlutut, menangis histeris.
"Ampun! Saya tidak tahu! Saya dipaksa! Anak istri saya disandera oleh orang-orang Tuan Bramasta jika saya tidak mengantarkan kotak ini!" wajah Marco mengeras, dia memberi isyarat pada anak buahnya.
"Bawa kurir ini ke ruang bawah tanah untuk diinterogasi. Amankan area halaman belakang, panggil tim penjinak bom segera!"
Kimberly berdiri terpaku di tempatnya, kakinya terasa lemas, keranjang berisi daun herbal yang dipetiknya jatuh berserakan.
Kenyataan pahit tentang dunia Justin kembali menghantamnya dengan keras, ancaman kematian tidak lagi berada di luar pagar, melainkan sudah berhasil mengetuk pintu rumahnya sendiri.
Tiga jam kemudian, Justin tiba di mansion dengan kecepatan tinggi, pintu utama terbuka dengan hantaman keras.
Langkah kaki Justin yang lebar dan tergesa-gesa terdengar menggema di seluruh koridor menuju ruang keluarga.
Wajahnya dipenuhi amarah yang begitu pekat, matanya merah menyala seolah siap membakar siapa saja yang menghalangi jalannya.
Dia melihat Kimberly duduk di sofa ruang keluarga, sedang memegang secangkir teh hangat dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ditemani oleh Bi Minah.
"Kimberly!"
Justin langsung menerjang maju, berlutut di depan Kimberly dan merengkuh kedua tangan istrinya.
Dia memeriksa seluruh tubuh Kimberly dengan tatapan panik yang luar biasa.
"Kau terluka? Katakan padaku, ada yang terluka?!" Kimberly menggeleng pelan, mencoba tersenyum meskipun bibirnya pucat.
"Aku tidak apa-apa, Justin. Marco datang tepat waktu. Bomnya sudah dijinakkan di halaman belakang."
Justin tidak bisa menahan emosinya lagi, dia berdiri dan berbalik menatap Marco yang berdiri menunduk di dekat pintu.
Bugh!
Satu pukulan mentah dari kepalan tangan Justin bersarang telak di rahang Marco, membuat tangan kanannya itu terhuyung ke belakang hingga sudut bibirnya berdarah.
"Bagaimana bisa sistem keamanan yang kupimpin kecolongan seperti ini, Marco?!" raung Justin seperti singa yang murka.
"Aku membayarmu untuk memastikan tidak ada satu tikus pun yang bisa mendekati istriku! Jika hari ini dia menyentuh kotak itu, kau tahu apa yang akan kulakukan pada seluruh keluargamu?!"
"Maafkan kelalaian saya, Tuan Besar. Saya siap menerima hukuman apa pun," ucap Marco tanpa membantah, kembali berdiri tegak dengan kepala menunduk.
"Justin, hentikan!" Kimberly bangkit dari sofa, berlari menahan lengan Justin yang sudah siap melayangkan pukulan kedua pada Marco.
"Ini bukan salah Marco! Dia yang menyelamatkanku! Jika bukan karena ketelitiannya, aku sudah tidak ada di sini sekarang. Jangan hukum orang yang telah melindungiku!"
Tatapan memohon dari Kimberly, dengan mata bulatnya yang berkaca-kaca, perlahan-lahan meredakan badai amarah di dada Justin, napas Justin memburu, dia menatap Marco dengan dingin.
"Pergi dari hadapanku. Cari tahu di mana Bramasta menyembunyikan sisa anak buahnya. Malam ini, aku ingin seluruh garis keturunan Bramasta dihapus dari kota ini."
"Baik, Tuan Besar," Marco membungkuk, lalu segera mundur dari ruangan.
Setelah suasana mereda, Justin berbalik menghadapi Kimberly, dia menarik gadis itu ke dalam dekapan eratnya, menenggelamkan wajahnya di rambut Kimberly.
Tubuh kekar sang mafia itu bergetar hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Justin Devano Ardiansyah merasakan ketakutan yang begitu melumpuhkan ketakutan kehilangan wanita yang kini telah menjadi belahan jiwanya.
"Maafkan aku, Kim... maafkan aku," bisik Justin berulang kali dengan suara yang serak dan penuh penyesalan.
"Aku berjanji akan melindungimu, tapi duniaku yang kotor ini selalu menyeretmu ke dalam bahaya." Kimberly memeluk leher Justin erat-erat, air matanya akhirnya menetes.
"Aku tidak takut pada bahayanya, Justin. Aku hanya takut jika suatu hari nanti, bahaya itu memisahkan kita sebelum aku sempat menunjukkan kepadamu bagaimana rasanya dicintai dengan tulus tanpa rasa takut."
Di tengah ruang keluarga yang megah itu, di balik bayang-bayang pengkhianatan yang baru saja terjadi, sebuah pengakuan cinta yang murni dari sang gadis desa mengikat hati sang tuan mafia semakin erat, mengubah hubungan yang awalnya dipaksakan menjadi sebuah perjuangan hidup mati demi mempertahankan cinta di dalam rumah tangga mereka.
