Suasana di dalam perpustakaan megah itu seketika membeku, kehadiran Justin Devano Ardiansyah yang tiba-tiba membawa tekanan udara yang begitu berat hingga pasokan oksigen seolah menipis.
Sepasang mata elangnya menancap lurus pada Evelyn, memancarkan kilat sadis yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut hingga ke titik nadi terendah.
Evelyn, yang beberapa detik lalu tampak begitu angkuh dan berkuasa, kini gemetar hebat.
Tangan yang tadi diangkatnya untuk menampar Kimberly kini turun dengan lemas, bersembunyi di balik gaun mahalnya.
"J-Justin... aku... aku hanya ingin melihat siapa wanita yang membuatmu mengabaikan pertemuan dengan ayahku," suara Evelyn bergetar, kehilangan seluruh nada tingginya yang melengking.
"Gadis desa ini tidak cocok untukmu! Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia kita. Dia hanya akan menjadi kelemahanmu!"
Justin melangkah maju, setiap ketukan pantofelnya di atas lantai kayu ek terdengar seperti hitungan mundur menuju kematian bagi Evelyn.
Pria itu melewati Kimberly begitu saja, namun satu tangannya bergerak protektif, menyembunyikan tubuh kecil Kimberly di balik punggung bidangnya.
"Kelemahanku atau bukan, itu bukan urusanmu, Evelyn," ucap Justin, suaranya begitu rendah, menyerupai geraman serigala di tengah malam.
"Dan yang paling penting, tidak ada seorang pun termasuk ayahmu yang boleh menginjakkan kaki di kediaman pribadiku tanpa izin. Apalagi mengangkat tangan pada wanita yang memakai gelangkku."
Justin menjentikkan jarinya sekali, dua orang pengawal bertubuh tegap berjas hitam langsung muncul di ambang pintu, membungkuk hormat.
"Seret dia keluar. Katakan pada ayahnya, kerja sama di pelabuhan utara dibatalkan. Jika aku melihat putrinya mendekati propertiku lagi, aku sendiri yang akan meratakan bisnis keluarga mereka," titah Justin tanpa belas kasihan.
"Justin! Kau tidak bisa melakukan ini! Ayahku sekutu terbesarmu!" jerit Evelyn histeris saat kedua pengawal mencengkeram lengannya tanpa memedulikan statusnya sebagai putri kartel.
Suara jeritannya perlahan menjauh seiring diseretnya wanita itu keluar dari mansion.
Setelah keheningan kembali menguasai ruangan, Justin membalikkan badannya.
Amarah yang membara di matanya seketika meredup, digantikan oleh tatapan intens yang dipenuhi kecemasan tersembunyi.
Dia mencengkeram kedua bahu Kimberly, memutar tubuh gadis itu ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun.
"Apa dia sempat menyentuhmu? Ada yang sakit?" tanya Justin cepat.
Napasnya agak memburu, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang pemimpin mafia yang terkenal selalu tenang dalam situasi paling kritis sekalipun.
Kimberly menggeleng perlahan.
Dia mendongak, menatap mata hitam Justin yang begitu dekat, keberanian pria ini dalam membelanya memicu getaran aneh di dalam dadanya.
"Tidak, Tuan. Anda datang tepat waktu. Aku tidak apa-apa."
Justin menghela napas berat, lalu sedetik kemudian dia menarik Kimberly ke dalam pelukannya.
Dekapan itu begitu erat, seolah-olah dia sedang berusaha menyatukan tubuh Kimberly ke dalam tubuhnya sendiri. Kimberly tertegun.
Dia bisa merasakan detak jantung Justin yang berdegup kencang di dadanya, pria ini benar-benar takut jika sesuatu terjadi padanya.
"Panggil aku Justin, Kimberly. Sudah kubilang, kau bukan orang asing di sini," bisik Justin di sela-sela rambut hitam Kimberly yang beraroma melati.
"Di luar sana, semua orang menginginkan kepalaku. Mereka akan menggunakan cara apa pun untuk menjatuhkanku, termasuk memanfaatkanmu. Itu sebabnya aku harus mengurungmu di sini. Bukan karena aku ingin menyiksamu, tapi karena hanya di dekatku kau bisa aman."
Kimberly perlahan mengangkat tangannya yang gemetar, memberanikan diri untuk membalas pelukan Justin dengan menepuk-nepuk punggung kekar pria itu.
"Aku mengerti... tapi duniaku sangat berbeda dengan ini. Aku merindukan rumahku, Justin. Aku merindukan bau tanah setelah hujan, bukan aroma mesiu atau ancaman pembunuhan seperti ini."
Justin melepaskan pelukannya, namun tangannya tetap bertumpu di pinggang Kimberly, mengunci pergerakan gadis itu.
Sebuah senyuman tipis yang terlihat tulus tanpa topeng kekejaman muncul di sudut bibirnya.
"Kalau begitu, aku akan membawa desamu ke sini," ucap Justin lugas.
"Hah? Apa maksudmu?" Kimberly mengerutkan keningnya bingung.
Keesokan paginya, Kimberly terbangun bukan karena suara ketukan pintu Bi Minah yang bernada formal, melainkan karena aroma yang sangat akrab di hidungnya.
Bau tanah basah, pupuk alami, dan wangi tanaman herbal, dia segera bangkit dari ranjang, mengenakan jubah tidurnya, dan berjalan menuju balkon kamar utama yang luas.
Begitu membuka pintu kaca besar, mata Kimberly terbelalak tak percaya, mulutnya sedikit terbuka, tangannya membekap bibir menahan pekikan haru.
Halaman belakang mansion yang luas, yang tadinya hanya berupa hamparan rumput hias yang kaku ala Eropa, kini telah berubah total.
Ratusan pot besar berisi tanaman jahe, kunyit, temulawak, dan daun binahong berjejer rapi.
Di sudut lain, sebuah rumah kaca mini telah dibangun semalam suntuk, di dalamnya terdapat berbagai macam bibit tanaman sayur yang biasa ditanam Kimberly di desanya.
Di tengah-tengah kebun buatan itu, Justin berdiri dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.
Di tangannya terdapat sebuah sekop kecil, beberapa anak buahnya yang berjas hitam tampak kikuk memegang gembor penyiram tanaman, mencoba menyiram pucuk-pucuk daun hijau dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan ketat bos mereka.
"Penyiraman di sebelah kanan kurang rata, Marco. Jika tanaman jamunya mati, aku akan memotong bonus bulananmu," terdengar suara dingin Justin memberi instruksi pada tangan kanannya.
Marco, sang pembunuh berdarah dingin yang ditakuti di jalanan kota, tampak berkeringat dingin memegang gembor air.
"B-Baik, Tuan Besar. Akan saya perbaiki."
Kimberly tidak bisa menahan tawanya lagi.
Suara tawa yang renyah dan merdu itu terdengar hingga ke bawah, membuat Justin seketika mendongak.
Melihat gadisnya tersenyum lebar dengan mata yang berbinar bahagia, rasa lelah Justin setelah tidak tidur semalaman suntuk mengatur proyek kilat ini langsung menguap begitu saja.
Justin memberikan isyarat dengan tangannya agar Kimberly turun, tanpa memedulikan etika berjalan yang diajarkan gurunya, Kimberly berlari kecil menuruni tangga dan langsung menuju halaman belakang. Kaki telanjangnya menginjak rumput yang masih berembun.
"Justin! Kamu... kamu melakukan semua ini?" tanya Kimberly dengan mata yang berkaca-kaca, kali ini karena perasaan haru yang membuncah.
"Kau bilang kau merindukan desamu. Aku tidak bisa membawamu kembali ke sana demi keselamatanmu, jadi aku membawa apa yang kau sukai ke rumah ini," jawab Justin tenang, melangkah mendekati Kimberly dan mengusap setetes air mata yang lolos di pipi gadis itu.
"Sekarang, tempat ini adalah rumahmu. Kau bisa membuat jamu sebanyak yang kau mau di sini."
Kimberly menatap hamparan tanaman herbal di depannya, lalu beralih menatap wajah tampan pria di hadapannya.
Pria ini adalah seorang mafia, pembunuh, dan penguasa kegelapan yang ditakuti satu negara.
Namun di depannya, dia hanyalah seorang suami yang rela mengotori tangannya dengan tanah demi mengukir senyuman di wajah istrinya.
Ikatan pernikahan yang awalnya dipaksakan ini perlahan-lahan mulai menumbuhkan benih baru di hati Kimberly.
Pagar pembatas yang dia bangun untuk membentengi dirinya dari sang mafia perlahan retak, runtuh oleh perhatian tak terduga yang diberikan sang pemangsa.
"Terima kasih, Justin," bisik Kimberly tulus.
Untuk pertama kalinya, dia melangkah maju secara sukarela dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Justin, menghirup aroma tubuh pria itu yang kini bercampur dengan bau tanah yang disukainya.
Justin tersenyum penuh kemenangan, memeluk tubuh Kimberly erat-erat, di bawah sinar matahari pagi yang hangat, sang tuan mafia bersumpah di dalam hatinya: siapa pun yang berani merusak kebahagiaan kecil yang baru saja dia bangun ini, akan dia pastikan mendekam di dasar neraka yang paling dalam.
