Kehidupan di dalam mansion megah itu perlahan menemukan ritme barunya, setelah runtuhnya kekuasaan Tuan Bramasta, posisi Justin di puncak tertinggi The Ardiansyah Syndicate semakin mutlak.
Tidak ada lagi yang berani berbisik sinis tentang Kimberly, di mata dunia bawah tanah, gadis desa itu kini adalah wilayah terlarang yang dilindungi oleh dinding api setinggi langit.
Pagi itu, suasana kediaman terasa meneduhkan, matahari menyelinap masuk melalui tirai tipis kamar utama, menyinari Kimberly yang tengah merapikan kemeja abu-abu milik Justin.
Gerakan tangannya terampil, mengancingkan satu per satu kancing kemeja suaminya dengan ketelatenan seorang istri.
Justin berdiri diam, membiarkan dirinya diurus, tatapannya tidak lepas dari wajah Kimberly yang tampak merona alami.
"Hari ini aku harus menghadiri rapat dewan direksi di pusat kota, lalu memeriksa pembukaan jalur logistik baru di pelabuhan selatan," kata Justin, tangannya melingkar santai di pinggang ramping Kimberly, menarik tubuh gadis itu agar lebih dekat.
"Mungkin aku akan pulang sedikit larut. Kau tidak perlu menungguku di balkon seperti kemarin."
Kimberly mendongak, tersenyum kecil sambil menepuk dada bidang Justin setelah selesai merapikan kerahnya.
"Aku tidak berjanji. Kebiasaan di desa membuatku sulit tidur jika tahu ada anggota keluarga yang masih berada di luar rumah. Tapi aku berjanji tidak akan kedinginan lagi."
Justin mengecup kening Kimberly lama, menyerap keharuman alami yang selalu berhasil menjinakkan sisi liarnya.
"Marco akan tinggal di sini bersama tim utama. Jika kau butuh sesuatu, katakan padanya."
Setelah kepergian Justin, Kimberly memutuskan untuk menyibukkan diri di kebun herbal belakang.
Proyek rumah kaca mini yang dibangun Justin kini telah membuahkan hasil, daun-daun binahong tumbuh subur, dan tunas-tunas jahe merah mulai menyembul dari balik tanah hitam yang gembur.
Bagi Kimberly, tanah dan tanaman adalah terapi terbaik untuk melupakan kilatan senjata dan bau mesiu yang beberapa hari lalu sempat meneror hidupnya.
Sembari membawa keranjang anyaman, Kimberly memetik beberapa lembar daun sambil bersenandung kecil.
Namun, ketenangannya terganggu ketika dia melihat Marco berjalan tergesa-gesa dari arah pos penjagaan depan dengan raut wajah yang tidak biasa.
Pria bertubuh tegap itu tampak waspada, matanya berpendar memperhatikan sekeliling.
"Nyonya Kimberly," panggil Marco, membungkuk hormat namun suaranya terdengar tegang, Kimberly berdiri, membersihkan sisa tanah di tangannya.
"Ada apa, Marco? Wajahmu tegang sekali. Apa terjadi sesuatu pada Justin?"
"Tuan Besar aman, Nyonya. Sistem komunikasi kami terus memantau pergerakannya," jawab Marco cepat untuk menenangkan sang nyonya.
"Namun... ada tamu di gerbang depan. Seorang wanita tua. Dia datang menggunakan taksi umum dan bersikeras ingin bertemu dengan Anda." Kimberly mengerutkan keningnya.
"Bertemu denganku? Siapa dia? Apakah dari aliansi bisnis lagi?"
"Bukan, Nyonya. Penjaga gerbang memeriksa identitasnya. Dia mengaku bernama Ibu Salmah... dari Desa Sukamaju."
Mendengar nama desa asalnya disebut, jantung Kimberly berdegup kencang, keranjang di tangannya hampir saja terlepas.
Ibu Salmah adalah tetangga sebelah gubuknya, wanita tua sebatang kara yang sudah dianggap Kimberly seperti ibunya sendiri sejak orang tuanya meninggal dunia.
"Ibu Salmah? Bagaimana bisa beliau ada di sini? Tolong, Marco, bawa beliau masuk!" ucap Kimberly panik, langkah kakinya langsung bergegas menuju ke dalam mansion.
"Nyonya, mohon tunggu," Marco menahan langkah Kimberly dengan sopan.
"Prosedur keamanan di rumah ini sangat ketat. Kami harus memastikan wanita itu tidak membawa barang berbahaya atau dimanfaatkan oleh musuh Tuan Besar sebagai umpan."
"Dia hanya seorang wanita tua yang rapuh, Marco! Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia mafia kalian. Dia datang jauh-jauh dari desa pasti karena mengkhawatirkanku," balas Kimberly dengan nada mendesak yang tidak bisa dibantah.
"Biar aku yang menemuinya di ruang tamu depan."
Melihat keteguhan di mata Kimberly, Marco akhirnya mengalah, dia memberi isyarat melalui walkie-talkie miliknya agar penjaga gerbang mengizinkan wanita tua itu masuk dengan pengawalan ketat.
Di ruang tamu utama yang bernuansa marmer putih dan emas, Ibu Salmah duduk dengan tubuh gemetar.
Pakaiannya hanyalah kebaya usang dan kain jarik yang warnanya sudah memudar, sangat kontras dengan kemewahan sofa beludru tempatnya duduk.
Matanya yang rabun menatap sekeliling dengan rasa takut yang amat sangat, terutama pada dua pria berjas hitam yang berdiri tegap di sudut ruangan.
"Ibu!"
Suara pekikan Kimberly memecah ketegangan, gadis itu berlari masuk dan langsung berlutut di depan Ibu Salmah, menggenggam kedua tangan keriput yang terasa dingin tersebut.
Ibu Salmah tersentak, menatap wajah di depannya dengan saksama.
"Kim... Kimberly? Ini benar kamu, Nduk?"
"Iya, Bu. Ini Kim," air mata Kimberly merebak, dia memeluk tubuh ringkih Ibu Salmah dengan erat.
"Kenapa Ibu bisa sampai ke kota? Bagaimana Ibu tahu Kim ada di sini?"
Ibu Salmah melepaskan pelukannya, menatap Kimberly dari atas ke bawah dengan pandangan cemas sekaligus takjub melihat perubahan penampilan gadis yang dulu sering membantunya menumbuk padi itu.
"Seluruh desa gempar, Nduk. Waktu kamu hilang malam itu, kami semua mengira kamu diculik penjahat. Tapi beberapa hari lalu, ada orang-orang berjas hitam datang ke desa. Mereka memberikan uang banyak pada warga, memperbaiki jalan desa, dan bilang kalau kamu sudah menikah dengan orang kaya di kota dan hidup bahagia." Ibu Salmah mengusap air mata di pipi Kimberly.
"Ibu tidak tenang, Kim. Ibu takut kamu dipaksa atau dijual. Jadi Ibu nekat ikut mobil sayur ke kota, lalu mencari alamat yang tidak sengaja Ibu dengar dari orang-orang berjas itu. Apa... apa kamu benar-benar sehat di sini, Nduk? Siapa laki-laki yang membawamu?"
Kimberly tertegun, dia tahu orang-orang berjas hitam yang dimaksud adalah anak buah Justin.
Suaminya ternyata diam-diam menyejahterakan desanya agar kepergian Kimberly tidak meninggalkan kecurigaan atau masalah hukum.
"Kim sehat, Bu. Sangat sehat," Kimberly berusaha meyakinkan wanita tua itu dengan senyum terbaiknya.
Dia mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan gelang berlian yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pria yang membawa Kim... dia memperlakukan Kim dengan sangat baik. Dia suamiku sekarang, namanya Justin."
"Tapi tempat ini... orang-orang dengan pistol itu..." Ibu Salmah melirik ketakutan pada para penjaga.
"Tempat ini seperti sarang orang-orang berbahaya, Kim."
Sebelum Kimberly sempat menjelaskan lebih lanjut, terdengar suara langkah kaki yang tegas dari arah pintu masuk utama.
Suara pantofel yang berketuk ritmis di atas lantai marmer seketika mengubah suasana ruangan menjadi dingin dan berwibawa.
Justin telah kembali.
Dia pulang lebih awal karena firasatnya yang tidak tenang sejak siang tadi, melihat sosok bertubuh jangkung dengan aura dominan yang mencekam masuk, Ibu Salmah langsung menciut, refleks bersembunyi di balik bahu Kimberly.
Namun, Justin tidak menampilkan wajah membunuh seperti biasanya, dia menatap wanita tua itu dengan pandangan menyelidik yang tenang, lalu beralih pada Kimberly yang menatapnya dengan pandangan memohon.
Justin melepaskan jas hitamnya, menyerahkannya pada Marco yang berdiri di belakangnya.
Dia melangkah mendekat, lalu dengan gerakan yang mengejutkan Kimberly maupun para pengawal, Justin ikut merendahkan tubuhnya, berlutut dengan satu kaki di depan Ibu Salmah sebuah posisi tunduk yang belum pernah dilakukan oleh seorang pemimpin tertinggi The Syndicate kepada siapa pun.
"Anda pasti Ibu Salmah," ucap Justin, suaranya berat, dalam, namun terdengar sangat sopan.
"Kimberly sering menceritakan tentang kebaikan Anda selama dia tinggal di desa."
Ibu Salmah menelan ludah dengan gugup.
"A-Apakah Nak Justin yang menjadi suami Kimberly?"
"Benar, Ibu," Justin meraih tangan Kimberly, menggenggamnya di depan wanita tua itu.
"Saya tahu cara saya membawa Kimberly dari desa tidaklah benar. Namun, saya bersumpah demi nyawa saya sendiri, wanita ini adalah istri saya yang sah, ratu di rumah ini, dan saya tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitinya. Kehadiran para penjaga di sini hanya untuk memastikan keselamatannya dari persaingan bisnis saya di kota."
Mendengar ketulusan dan ketegasan dalam suara Justin, ketakutan di wajah Ibu Salmah perlahan memudar.
Sebagai wanita yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, dia bisa melihat kilat perlindungan dan kepemilikan yang murni di mata Justin untuk Kimberly.
"Nak Justin..." Ibu Salmah menghela napas lega, tangannya yang gemetar perlahan menyentuh bahu kekar Justin.
"Kimberly ini anak yang baik, tidak pernah punya musuh. Dia terbiasa dengan kesederhanaan. Tolong... jangan biarkan kemewahan kota atau bahaya di luar sana merusak hatinya yang bersih."
"Saya berjanji, Ibu," jawab Justin tegas.
Sore itu, atas perintah Justin, sebuah jamuan makan malam yang hangat namun kali ini berisi menu masakan rumahan khas desa yang sengaja dimasak oleh pelayan atas panduan Kimberly tersaji di meja makan.
Ibu Salmah tampak lebih santai, menceritakan kisah-kisah masa kecil Kimberly yang membuat Justin sesekali menyunggingkan senyum tipis, sesuatu yang membuat Marco dan para pelayan di ruangan itu terkesima.
Sang monster kota benar-benar telah dijinakkan oleh kehangatan sebuah keluarga kecil.
Malam harinya, Justin memerintahkan Marco untuk mengantar Ibu Salmah menginap di hotel bintang lima terdekat milik keluarga Ardiansyah dengan pengawalan terbaik, sebelum besok pagi diantar kembali ke desa menggunakan mobil pribadi yang nyaman.
Di dalam kamar tidur utama, keheningan kembali merayap, namun kali ini terasa begitu damai.
Kimberly berdiri di balkon, menatap langit malam kota yang bersih dari awan hitam.
Justin berjalan dari belakang, melingkarkan kedua lengan kokohnya di perut Kimberly, menumpukan dagunya di bahu sang istri.
"Terima kasih, Justin," bisik Kimberly lembut, menyandarkan punggungnya sepenuhnya pada dada bidang suaminya.
"Terima kasih karena tidak mengusirnya, dan terima kasih karena telah menghormatinya."
"Dia adalah bagian dari masa lalumu yang membentukmu menjadi wanita seperti sekarang, Kim," balas Justin pelan, kecupan lembut mendarat di pelipis Kimberly.
"Menghormatinya berarti menghormatimu. Aku mungkin seorang pembunuh di luar sana, tapi di depan orang yang menyayangimu, aku hanya seorang pria yang ingin membuktikan bahwa aku layak memilikimu."
Kimberly berbalik dalam dekapan Justin, menatap mata hitam pekat yang kini tidak lagi memancarkan kedinginan, melainkan kehangatan cinta yang membara, dia mengalungkan lengannya di leher Justin.
"Kamu lebih dari layak, Tuan Mafia. Kamu adalah suamiku."
Di bawah kesaksian bintang-bintang kota, Justin menunduk dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang mendalam, penuh komitmen dan janji suci yang tidak terucapkan.
Bayang-bayang masa lalu dari desa tidak membawa perpecahan, melainkan justru memperkokoh fondasi rumah tangga yang mereka bangun di atas fondasi dunia bawah tanah yang kejam.
