Kunjungan Ibu Salmah meninggalkan kehangatan yang bertahan lama di sudut-sudut mansion yang dulunya dingin.
Hubungan antara sang gadis desa dan tuan mafia kini mengalir lebih alami, Kimberly mulai menerima perannya, bukan lagi sebagai tawanan yang terlempar ke dunia asing, melainkan sebagai seorang istri yang memegang jangkar waras dari seorang pria paling berbahaya di ibu kota.
Pagi itu, hujan gerimis membungkus kota. Justin sudah berangkat sejak subuh karena ada gejolak kecil di wilayah pelabuhan timur beberapa kapal penyelundup dari kartel saingan mencoba menembus blokade The Ardiansyah Syndicate.
Sebelum pergi, seperti biasa, Justin menyempatkan diri mengecup kening Kimberly yang masih setengah tertidur, membisikkan kata-kata posesif yang kini terdengar seperti melodi pengantar pagi bagi Kimberly.
Sekitar pukul sepuluh pagi, Kimberly berniat membersihkan ruang kerja pribadi Justin, biasanya, ruang itu adalah area terlarang bagi siapa pun, termasuk para pelayan senior seperti Bi Minah.
Namun, dua hari lalu, Justin sendiri yang menyerahkan sebuah kunci perak kecil kepada Kimberly.
"Kau boleh memasuki ruangan itu kapan saja, Kim. Di rumah ini, tidak ada pintu yang tertutup untuk istriku," ucap Justin malam itu sambil mengelus rambutnya.
Dengan membawa kemoceng kecil dan kain lap bersih, Kimberly memutar knop pintu kayu jati yang tebal.
Aroma maskulin khas Justin campuran tembakau premium, kayu cendana, dan wangi maskulin yang pekat langsung menyambut indra penciumannya.
Ruangan itu sangat maskulin dengan dominasi warna hitam, abu-abu gelap, dan dinding yang dipenuhi rak buku-buku hukum serta bisnis internasional.
Kimberly mulai mengelap meja kerja besar suaminya dengan hati-hati, dia merapikan beberapa tumpukan berkas yang telah ditandai dengan stempel merah berlogo naga.
Saat tangannya bergerak ke sisi kanan meja, jemarinya tidak sengaja menyenggol sebuah laci kecil di bagian bawah.
Klik.
Laci itu rupanya tidak tertutup rapat, akibat senggolan kecil Kimberly, laci tersebut bergeser terbuka, memperlihatkan isinya.
Rasa penasaran yang manusiawi tiba-tiba merayapi benak Kimberly, dia tahu dia harus menjaga privasi suaminya, namun ada satu benda di dalam laci itu yang menarik perhatiannya sebuah kotak kayu usang yang tampak sangat tidak selaras dengan kemewahan ruangan ini.
Kotak itu terlihat mirip dengan kotak-kotak penyimpanan di desa, dengan tangan sedikit gemetar, Kimberly mengangkat kotak kayu tersebut.
Di dalamnya, tidak ada dokumen rahasia negara atau daftar nama musuh yang harus dieksekusi.
Hanya ada dua barang, barang pertama adalah selembar foto lama yang sudah agak menguning di bagian sudutnya.
Di dalam foto itu, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun dengan tatapan mata yang dingin namun terluka, berdiri di samping seorang wanita cantik yang tersenyum lembut namun tampak sangat pucat.
Anak laki-laki itu jelas adalah Justin saat masih kecil, dan wanita di sampingnya memiliki garis wajah yang sangat mirip dengan Justin.
Barang kedua membuat napas Kimberly tercekat, Itu adalah sebuah selendang kain batik usang berwarna cokelat tanah, jenis kain yang biasa digunakan oleh para ibu di desa untuk menggendong anak atau dipakai saat memasak di dapur.
Kain itu bersih, wangi lemari tua, dan dirawat dengan sangat baik seolah-olah itu adalah barang paling berharga di dunia.
"Apa yang sedang kau lakukan di sana, Kimberly?"
Sebuah suara berat dan dingin tiba-tiba menggelegar dari arah pintu, Kimberly tersentak hebat, hampir saja menjatuhkan kotak kayu di tangannya.
Dia menoleh dengan cepat dan menemukan Justin sudah berdiri di ambang pintu, pria itu tampaknya baru saja kembali, mantel hitamnya yang basah oleh sisa gerimis masih melekat di tubuhnya.
Wajah Justin tampak mengeras, dan sepasang mata elangnya menatap lurus pada kotak kayu yang dipegang Kimberly. Atmosfer ruangan seketika berubah menjadi tegang.
Kimberly menelan ludah gugup, dia menyadari bahwa dia mungkin telah melewati batas yang paling sensitif dalam hidup suaminya.
"J-Justin... maafkan aku. Laci ini tadi tidak terkunci rapat, dan aku tidak sengaja..."
Justin melangkah maju dengan cepat, langkah kakinya terasa begitu intimidatif hingga Kimberly refleks mundur satu langkah sampai punggungnya membentur pinggiran meja kerja.
Justin merebut kotak kayu itu dari tangan Kimberly dengan gerakan cepat, namun anehnya, dia menyimpannya kembali ke dalam laci dengan sangat hati-hati, seolah takut merusak barang di dalamnya.
Setelah menutup laci itu dengan rapat dan menguncinya, Justin berbalik menghadapi Kimberly.
Wajahnya sedatar papan tulis, tidak memancarkan emosi apa pun, namun rahangnya yang mengeras menandakan ada badai yang sedang dia tekan di dalam dadanya.
"Aku memercayaimu untuk memegang kunci ruangan ini, Kim. Tapi bukan berarti kau bebas membongkar masa laluku," ucap Justin, suaranya terdengar rendah dan bergetar karena emosi yang tertahan.
Kimberly menatap mata Justin.
Dia tidak melihat amarah seorang pembunuh di sana, melainkan luka mendalam yang disembunyikan di balik topeng arogansi seorang mafia.
Rasa takut Kimberly seketika menguap, digantikan oleh rasa empati yang besar, Kimberly memberanikan diri melangkah mendekat, meraih kedua tangan Justin yang mengepal erat di sisi tubuhnya.
"Aku tidak bermaksud membongkarnya, Justin. Tapi... wanita di foto itu, dia ibumu, bukan? Dan kain batik itu... itu miliknya?"
Justin mencoba menarik tangannya dari genggaman Kimberly, namun Kimberly menahannya dengan lembut namun teguh.
Justin mengalihkan pandangannya ke jendela yang basah oleh hujan, napasnya terasa berat.
"Dia meninggal saat aku berusia dua belas tahun," suara Justin akhirnya keluar, terdengar sangat asing dan rapuh, jauh dari citra Tuan Besar yang ditakuti seluruh kota.
"Ibuku... dia juga seorang wanita sederhana dari pinggiran kota. Ayahku, sang pemimpin The Syndicate sebelumku, membawanya paksa ke dunia ini, persis seperti apa yang kulakukan padamu." Justin kembali menatap Kimberly, matanya tampak menggelap oleh kenangan buruk.
"Dunia ini perlahan membunuh ibuku. Dia tidak bisa menahan tekanan, ketakutan, dan intrik berdarah di sekeliling ayahku. Dia sakit-sakitan dan akhirnya pergi meninggalkanku sendirian di sarang serigala ini. Sebelum meninggal, dia memberikan kain itu padaku, memintaku untuk tidak kehilangan seluruh kemanusiaanku."
Justin mencengkeram bahu Kimberly, tatapannya mendadak berubah menjadi posesif dan penuh kecemasan yang mendalam.
"Itu sebabnya aku panik saat kau melihatnya, Kim! Setiap kali aku melihatmu merawat tanaman jamumu, setiap kali aku melihat kesederhanaanmu, aku selalu dihantui ketakutan bahwa duniaku yang kotor ini juga akan membunuhmu perlahan-lahan, seperti apa yang terjadi pada ibuku."
Mendengar pengakuan yang begitu jujur dan menyakitkan dari lubuk hati suaminya, air mata Kimberly menetes tanpa bisa dibendung.
Pagar pertahanan yang selama ini dibangun Justin ternyata adalah bentuk dari trauma masa kecilnya.
Dia menculik Kimberly bukan hanya karena obsesi egois, melainkan karena jiwanya yang sekarat mengenali secercah cahaya murni yang mirip dengan ibunya, dan dia bertekad untuk melindunginya dengan cara apa pun, bahkan jika cara itu terkesan kejam.
Kimberly maju satu langkah dan langsung memeluk tubuh kekar Justin, dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya, mendekap pria itu dengan seluruh kekuatan yang dia miliki.
"Aku bukan ibumu, Justin," bisik Kimberly dengan nada yang sangat tegap di sela tangisnya.
"Aku tidak akan membiarkan dunia ini membunuhku, dan aku tidak akan membiarkan duniaku hilang. Aku lebih kuat dari yang kamu kira. Jika ibumu memberikan kain itu agar kamu tidak kehilangan kemanusiaanmu, maka aku di sini untuk memastikan bahwa janji itu tetap hidup."
Kimberly mendongak, menatap lurus ke dalam netra hitam Justin, mengusap setitik air mata yang tanpa sadar mengalir di sudut mata sang mafia.
"Jangan pernah takut kehilanganku karena dunia ini. Aku istrimu, Justin Devano Ardiansyah. Aku memilih untuk tinggal di sampingmu, bukan karena aku terpaksa lagi, tapi karena aku tahu di balik monster yang ditakuti kota ini, ada seorang anak laki-laki yang membutuhkan rumah untuk pulang."
Kata-kata Kimberly menghantam dada Justin dengan telak, ketakutan, trauma, dan rasa bersalah yang selama belasan tahun menggerogoti jiwanya seolah mencair seketika oleh pelukan hangat dan keteguhan gadis desa ini.
Justin tidak berbicara lagi, dia menundukkan kepalanya, merengkuh pinggang Kimberly dengan erat, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang tidak lagi dipenuhi oleh dominasi kasar, melainkan oleh rasa syukur yang teramat dalam dan kepasrahan seorang pria yang akhirnya menemukan belahan jiwanya yang sejati.
Di dalam ruang kerja yang sakral itu, rahasia di balik laci terkunci tidak lagi menjadi sekat pemisah, melainkan menjadi jembatan yang menyatukan hati dua insan dari dunia yang berbeda dalam sebuah ikatan rumah tangga yang kini takkan tergoyahkan oleh badai apa pun.
