Meninggalkan Benua Utara terasa seperti keluar dari kulkas dan langsung masuk ke dalam panggangan roti. Setelah menumpang kapal dagang Penguin (dengan biaya tambahan "pajak minyak angin" dari Pak Ping), kami akhirnya tiba di perbatasan Wilayah Ignis, sebuah tanah gersang yang didominasi oleh tanah merah, uap belerang, dan gunung berapi yang hobi batuk-batuk mengeluarkan lava.
"Panasnya... gila," keluhku sambil melepas mantel bulu Yeti yang sekarang terasa seperti kostum sauna. "Aku merasa seperti ayam yang sedang di-slow roast."
Elena, yang biasanya tampak perkasa, kini terlihat lesu. Zirah Mithril miliknya menyerap panas matahari dengan sangat efisien. "Rian... jika aku pingsan karena dehidrasi, tolong kuburkan aku di tempat yang teduh. Dan jangan biarkan pancimu memakan pedangku."
"Tahan sedikit lagi, Nona. Ada kota di depan," sahutku sambil melihat peta (yang sebenarnya lebih mirip coretan abstrak buatan Lila).
Kami tiba di Kota Ashfall, sebuah kota yang dibangun di kaki Volcano of Ash. Kota ini terkenal dengan penambangan batu bara sihir dan... pemandian air panasnya. Namun, masalah utama kami bukanlah panas, melainkan ekonomi.
"Gold kita habis," lapor Seraphina setelah memeriksa kantong uangnya. "Sisa uang kita hanya cukup untuk beli tiga tusuk sate kadal gurun dan satu gelas air mineral dibagi empat."
"Sistem! Beri aku gacha uang! Aku butuh modal!" seruku dalam hati.
[Ding!] [Gacha "Cari Cuan Instan" tersedia.] [Harga: 1 Tiket Gacha Biasa.] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Brosur MLM (Multi Level Magic) Kerajaan Kegelapan".] [Deskripsi: Sebuah kertas promosi yang menjanjikan kekayaan dengan cara mengajak 10 orang teman untuk menyembah Iblis. Tidak laku di kota religius.]
"Sistem, kau benar-benar tidak membantu!"
Karena lapar dan lelah, kami memutuskan untuk mencari pekerjaan sampingan. Elena mencoba menjadi instruktur bela diri, tapi semua muridnya kabur di menit pertama karena dia terlalu galak. Seraphina mencoba menjadi pustakawan, tapi kota ini lebih banyak orang yang bisa memukul daripada membaca. Lila? Dia hampir ditangkap karena mencoba "memperbaiki" sistem irigasi kota dengan dinamit.
Akhirnya, aku kembali ke satu-satunya tempat di mana bakatku dihargai: Dapur.
Aku menyewa sebuah gerobak makanan bobrok di pinggir jalan. Modalku adalah bumbu-bumbu sisa dari petualangan sebelumnya dan panci hitamku yang kini tampak sedang menikmati suhu panas kota ini.
"Dengar semuanya! Ini adalah 'Mie Lava Gacha'!" teriakku pada kerumunan penambang yang lewat. "Pedasnya nendang, rasanya bikin melayang, dan harganya cuma 10 keping perak!"
Aku memasukkan mi buatanku ke dalam panci. Panci itu mulai berputar sendiri, mengaduk dengan kecepatan tinggi. Energi listrik hantu yang tersimpan di dalamnya kini berubah menjadi energi panas kinetik.
SRENGGG!
Aroma pedas gurih menyebar ke seluruh jalan. Para penambang yang kehausan dan kelaparan mulai berkerumun.
"Beri aku satu porsi!" "Aku juga! Tambah cabai yang banyak!"
Dalam dua jam, gerobakku ludes. Kami mendapatkan cukup uang untuk menginap di penginapan terbaik di kota, yang memiliki fasilitas Onsen (pemandian air panas) pribadi.
Malam harinya, setelah perut kenyang dan dompet terisi, kami memutuskan untuk beristirahat di pemandian air panas.
"Ahhh... ini baru hidup," gumamku sambil berendam di kolam air panas bagian pria. Hanya ada aku di sini, karena penginapan ini cukup sepi. Panci hitamku duduk manis di pinggir kolam, sesekali mencelupkan gagangnya ke air seolah sedang mengetes suhu.
Tiba-tiba, suara dinding kayu yang membatasi pemandian pria dan wanita berderit.
"Rian? Kau di sana?" Itu suara Elena dari sebelah.
"Iya, Nona. Ada apa?"
"Tolong... bisa kau ambilkan handuk cadangan di keranjang dekat pintu masuk? Seraphina lupa membawanya untuk Lila."
Aku mendesah. "Baiklah, tunggu sebentar."
Aku keluar dari kolam, memakai handuk pendek, dan berjalan menuju keranjang. Namun, saat aku baru saja mengambil handuk, lantai kayu yang licin karena uap belerang berkhianat.
"Waaa!" GUBRAK!
Aku menabrak dinding kayu pemisah dengan kekuatan penuh. Mengingat dinding itu sudah tua dan lapuk karena uap panas...
KRAAAKKK! BYURRR!
Dinding itu jebol. Aku terjatuh ke depan, masuk ke kolam sebelah... tepat di depan Elena yang sedang bersandar di pinggir kolam.
Hening. Uap air yang tebal membuat suasana terasa sangat dramatis.
Elena menatapku. Aku menatap Elena. Matanya yang biru membelalak, lalu perlahan menyipit dengan aura membunuh yang sangat kukenal.
"Rian..." suaranya rendah dan bergetar. "Apakah ini bagian dari 'Rencana Pahlawan' milikmu?"
"T-tunggu! Ini murni kecelakaan gravitasi! Lantainya licin! Sumpah!"
Seraphina yang sedang mengikat rambut Lila hanya bisa menghela napas. "Rian, kau benar-benar punya bakat untuk berada di situasi klise pada waktu yang salah."
"KYAAA! KAK LIAN TELANJANG DADA!" teriak Lila sambil tertawa-tawa.
Elena berdiri perlahan. Air menetes dari rambutnya. Dia tidak berteriak malu seperti gadis normal. Dia justru mengepalkan tinjunya hingga terdengar suara tulang yang berderak.
"Satu menit," kata Elena dingin. "Aku memberimu waktu satu menit untuk lari sebelum aku menjadikanmu bahan sup di pancimu sendiri."
Aku tidak perlu disuruh dua kali. Aku melompat bangun, tapi dalam kepanikanku, aku lupa handukku tersangkut di puing dinding.
"Sial!"
Aku menyambar Panci Hitamku untuk menutupi bagian depanku dan lari kencang keluar dari pemandian. "AMPUN, NONA! AKU TIDAK MELIHAT APA-APA! HANYA MELIHAT BAHU!"
"MATI KAU, MESUM!"
Elena melompat keluar dari kolam (tentu saja sudah memakai jubah mandi dengan kecepatan kilat ksatria) dan mengejarku keliling penginapan.
Namun, di tengah aksi kejar-kejaran itu, Panci di tanganku tiba-tiba bergetar hebat. Mata merah di pantatnya terbuka lebar dan menatap ke arah atap penginapan.
TING!
Sebuah anak panah hitam melesat dari kegelapan atap, mengincar tenggorokanku. Refleks, aku mengangkat Panci.
KLANG!
Anak panah itu terpental.
Elena berhenti mengejarku. Wajahnya langsung berubah serius, mode tempur aktif. Dia menarikku ke belakang punggungnya. "Ada pembunuh bayaran."
Di atas atap, tiga sosok berjubah abu-abu muncul. Mereka memakai topeng berbentuk wajah kadal.
"Rian si Tukang Masak," ucap salah satu dari mereka dengan suara mendesis. "Kepalamu dihargai mahal oleh 'Kreditur' dari Gunung Berapi. Bayar hutang tuanmu, atau bayar dengan nyawamu."
Aku mengintip dari balik bahu Elena. "Hutang?! Baru sampai kota sudah ditagih?! Berapa hutangnya?!"
Si pembunuh bayaran mengeluarkan gulungan kertas. "Hutang judi Raja Iblis Astaroth seribu tahun lalu: 100.000 keping emas. Ditambah bunga selama sepuluh abad... totalnya adalah 15 Triliun Gold."
Aku hampir pingsan mendengar angkanya. "Lima belas triliun?! Bahkan jika aku menjual seluruh ginjal penduduk benua ini pun tidak akan cukup!"
"Kalau begitu, matilah!"
Ketiga pembunuh itu melompat turun. Mereka bukan pembunuh biasa; gerakan mereka meninggalkan jejak bara api. Mereka adalah The Ash-Walkers, unit elit dari Dragon Knights yang korup.
"Elena! Seraphina!" teriakku.
"Lindungi Lila!" balas Elena sambil menerjang salah satu pembunuh.
Aku berdiri di tengah kekacauan, masih hanya memakai handuk (yang kini dijepit oleh Panci agar tidak lepas). Situasi ini sangat tidak menguntungkan. Aku tidak punya senjata, hanya punya panci yang sekarang malah mengeluarkan aroma Mie Lava karena tadi belum dicuci.
[Ding!] [Quest Darurat: "Debt Collector dari Neraka".] [Tujuan: Kalahkan pembunuh atau bayar hutang (Hanya punya 200 Gold).] [Saran: Gunakan teknik 'Gali Lubang Tutup Lubang'.]
"Teknik apa itu?!"
Aku melihat ke arah Panci. "Oke, Sobat. Jika mereka mau menagih hutang, mari kita beri mereka 'pembayaran' yang tidak akan mereka lupakan."
Aku memasukkan tanganku ke dalam inventaris, mencari sisa minyak angin Cap Naga Sembur dan cabai bubuk ekstra pedas. Aku mencampurnya di dalam panci yang masih panas membara.
"Hoi, Kadal-kadal jelek!" teriakku. "Ini cicilan pertamaku!"
Aku mengayunkan panci itu, mengeluarkan awan uap yang dicampur dengan minyak angin dan cabai bubuk, sebuah gas air mata versi sihir yang sangat mematikan.
"Gas Beracun?!" teriak salah satu pembunuh.
"Bukan! Ini Molecular Aromatherapy!"
Saat para pembunuh itu mulai terbatuk-batuk dan matanya perih, Elena menyelesaikan tugasnya dengan satu tebasan kuat.
Tapi pertempuran baru saja dimulai. Dari kejauhan, terdengar suara terompet perang. Tanah bergetar. Naga-naga kecil mulai terbang di atas langit kota.
"Gawat," gumam Seraphina. "Sepertinya 'Kreditur' itu mengirim seluruh pasukannya untuk menagih hutang judi Astaroth."
Aku menatap langit dengan pasrah. "Sistem... bisakah aku menyatakan bangkrut?"
[Sistem: Kebangkrutan hanya bisa dideklarasikan jika Anda menyerahkan Panci Anda.]
Aku memeluk Panci itu erat-erat. "Lebih baik aku dikejar hutang 15 triliun daripada kehilangan panci ini!"
Perjalanan ke Gunung Berapi resmi menjadi misi pelarian dari penagih hutang paling berbahaya di dunia.
