Waktu seolah membeku di Aula Kristal. Bukan karena sihir es Ratu Eira, tapi karena ketegangan momen di mana wajah sang Ratu Kuno itu perlahan mendekat ke wajahku. Bibirnya yang pucat namun menggoda itu hanya berjarak lima sentimeter dari hidungku. Matanya terpejam, menanti ciuman reuni setelah seribu tahun penantian.
Di balik dinding es transparan, Elena sedang memukuli penghalang itu dengan gagang pedangnya sambil berteriak-teriak tanpa suara. Wajahnya merah padam, campuran antara kemarahan dan kepanikan murni. Seraphina menutup mata Lila, sementara Lila mencoba mengintip dari celah jari.
"Ayo, Darling..." bisik Eira, napasnya sedingin mint. "Berikan aku kehangatanmu."
Aku berkeringat dingin. Otakku memutar seribu skenario. Jika aku menolaknya, aku jadi patung es. Jika aku menciumnya, Elena mungkin akan memotong leherku nanti.
"Sistem! Bantuan darurat! Apa ada item 'Bibir Palsu' atau semacamnya?!"
[Sistem: Tidak ada. Nikmati saja. Jarang-jarang jomblo sepertimu dicium Ratu Kuno.] [Saran: Jangan pakai lidah, nanti lengket seperti menjilat tiang es.]
"Sistem sialan!"
Eira memajukan wajahnya untuk final approach. Aku memejamkan mata pasrah, menahan napas.
Namun, di saat bibir kami hampir bersentuhan, aku merasakan pergerakan di pinggangku. Bukan, bukan pergerakan yang itu. Tapi panci hitam yang tadi jatuh pingsan di lantai.
Tiba-tiba, benda itu melompat.
WHUSH!
Dengan kecepatan yang menandingi refleks ksatria, panci hitam itu melayang naik dan menyusup tepat di antara wajahku dan wajah Eira.
CUP.
Suara kecupan itu terdengar nyaring di aula yang sunyi.
Eira tidak mencium bibirku. Dia mencium pantat panci yang hitam, gosong, dan berlumuran sisa jelaga serta sedikit bau amis cumi-cumi dari masakan kemarin.
Hening.
Dunia berhenti berputar selama tiga detik.
Eira membuka matanya perlahan. Di depannya, bukan wajah tampan "Astaroth", melainkan permukaan logam hitam yang dingin dan kotor. Lidahnya sedikit mengecap rasa pahit arang dan sisa Saus Tiram Neraka.
"Huekkk..."
Eira mundur terhuyung-huyung, memegang mulutnya. Wajah cantiknya berubah hijau. "A-apa ini?! Rasanya... pahit! Asin! Dan... kenapa ada rasa bawang putih?!"
Panci itu melayang di udara, berkacak pinggang (kalau dia punya pinggang), dan menggoyangkan gagangnya ke kiri dan ke kanan seolah berkata: "Jangan sentuh tuanku, Pelakor!"
"PANCI SIALAN!" teriak Eira murka. Aura dingin meledak dari tubuhnya.
Ledakan emosi itu membuat konsentrasinya pada dinding es pecah. PRANGGG! Dinding es yang memisahkan kami hancur berkeping-keping.
"RIAN!"
Elena melesat masuk bagaikan peluru perak. Dia tidak membuang waktu. Dia langsung melompat ke depanku, mengayunkan pedang besarnya untuk menangkis gelombang es yang Eira lepaskan karena marah.
"Jauhkan bibir dinginmu dari kokiku!" bentak Elena.
Eira menatap Elena dengan tatapan membunuh, lalu beralih menatapku dan panci yang kini bersembunyi di belakang punggungku.
"Kau..." Eira menunjukku dengan jari gemetar. "Kau bukan Astaroth."
Aku menyembulkan kepala dari balik bahu Elena. "Sudah kubilang dari tadi, Tante! Aku Rian! Astaroth cuma numpang!"
"Astaroth tidak bisa memasak!" teriak Eira histeris, air mata mulai mengalir di pipinya yang beku. "Dia adalah Dewa Kehancuran! Segala yang dia sentuh menjadi debu, bukan menjadi Cumi Saus Tiram! Dia bahkan tidak tahu bedanya garam dan gula! Rasa panci itu... itu rasa kerja keras seorang koki! Itu bukan rasa tangan Astaroth!"
Aku terdiam. Jadi penyamaranku terbongkar karena... Astaroth tidak bisa masak? Ternyata skill memasakku lebih berguna daripada skill bertarung.
Eira jatuh terduduk di lantai es. Tangisannya semakin keras, menciptakan badai salju mini di dalam ruangan. "Dia benar-benar tidak kembali... Dia benar-benar sudah mati... Huwaaaaaa!"
Suara tangisannya begitu memilukan hingga membuat atap istana bergetar.
Elena menurunkan pedangnya, bingung. Musuh yang tadi terlihat mematikan kini menangis seperti remaja putus cinta. Ksatria wanita itu menoleh padaku. "Rian, lakukan sesuatu. Kau yang membuatnya menangis."
"Aku?! Panci yang menciumnya, bukan aku!"
"Sama saja! Itu pancimu! Hibur dia atau kita semua mati tertimbun salju tangisan ini!"
Aku menghela napas panjang."laki laki memang serba salah" Aku melangkah maju, melewati Elena, dan mendekati Ratu Es yang sedang meraung-raung. Aku berjongkok di depannya, lalu mengeluarkan satu-satunya hal yang kupikir bisa menenangkan situasi.
Sebatang cokelat.
Yah, sebenarnya itu bukan cokelat batang biasa. Itu adalah "Cokelat Permintaan Maaf" yang kudapat dari gacha level rendah minggu lalu. Deskripsinya bilang: "Dapat meredakan amarah wanita hingga 50%, tapi menyebabkan jerawat."
"Eira," panggilku lembut.
Eira mendongak, matanya merah dan sembab. "Apa?!"
"Makan ini. Astaroth mungkin sudah tidak ada. Tapi jiwanya yang ada di dalamku... bilang kalau dia ingin kau berhenti menangis. Nanti makeup-mu luntur."
Eira mengambil cokelat itu ragu-ragu, lalu menggigitnya. Dia mengunyah pelan. Rasa manis cokelat (dan efek sihir item itu) mulai bekerja. Isak tangisnya mereda. Badai salju di ruangan itu perlahan berhenti.
"Enak..." gumamnya. "Astaroth tidak pernah memberiku cokelat. Dia cuma memberiku kepala musuh yang dipenggal."
"Nah, itu tanda toxic relationship," kataku bijak. "Kau pantas mendapatkan yang lebih baik. Seperti... hmmm... penguin di toko pelabuhan itu? Dia kaya lho."
Eira mendengus, menghapus air matanya. Dia berdiri, kembali memasang wajah angkuh, meski matanya masih bengkak. "Baiklah. Aku terima kenyataan ini. Kau bukan dia. Kau hanya Wadah yang menyedihkan dengan bakat memasak yang lumayan."
Dia berjalan kembali ke takhtanya. "Kalian datang untuk Segel Kedua, bukan?"
"Benar, Yang Mulia," Elena membungkuk hormat, kembali ke mode profesional. "Kami mendeteksi ketidakstabilan."
Eira tertawa miris. Dia melambaikan tangannya. Takhta es itu bergeser, memperlihatkan apa yang ada di belakangnya.
Di dinding belakang takhta, terdapat sebuah pintu logam kuno yang tertutup rapat. Namun, di tengah pintu itu, ada sebuah retakan besar yang ditambal dengan... lakban?
Bukan, itu bukan lakban. Itu adalah lapisan es sihir yang sangat tebal, yang dibentuk menyerupai plester luka.
"Segelnya sudah pecah sepuluh tahun lalu," aku Eira santai.
"APA?!" Kami semua berteriak.
"Waktu Astaroth mati di kehidupan sebelumnya, guncangan energinya meretakkan segel ini," jelas Eira sambil menggigit sisa cokelat. "Isi segel ini adalah The Eternal Hunger (Kelaparan Abadi). Kalau dia lepas, dia akan memakan seluruh benua ini."
"Lalu... kenapa belum lepas?" tanya Seraphina ngeri.
"Karena aku membekukannya. Aku menggunakan energiku sendiri untuk menambal retakan itu selama sepuluh tahun ini. Itulah kenapa aku tidak bisa meninggalkan istana ini. Aku bukan mengurung diri karena patah hati (yah, itu juga sih), tapi karena aku sedang jadi tukang tambal ban bagi dunia ini."
Aku menatap Eira dengan rasa hormat baru. Dia bukan sekadar Yandere gila. Dia adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menahan kiamat sendirian sambil galau.
"Tapi energiku mulai habis," lanjut Eira. "Aku butuh 'baterai' baru. Atau seseorang yang bisa memperbaiki segel ini secara permanen."
Lila tiba-tiba maju. Dia mengeluarkan kunci inggris emas dari tasnya. "Kak Ratu! Aku bisa lihat stluktul (struktur) segelnya! Itu bukan lusak palah, cuma 'engsel'-nya kendor!"
Eira menatap gadis kecil itu. "Kau yakin, bocah?"
"Yakin! Tapi aku butuh api yang sangat panas untuk melelehkan Mithril pelapisnya sebental, lalu aku pukul pakai palu!"
Semua mata tertuju padaku. Atau lebih tepatnya, pada panciku.
"Api panas?" tanyaku.
"Pancimu," kata Elena. "Dia memakan petir hijau kemarin. Energinya masih tersimpan di sana, kan?"
Aku mengangkat panci hitamku. Mata merah di pantatnya berkedip.
[Status Panci: Baterai 98% (Tipe: Listrik Hantu).] [Mode: Las Listrik tersedia.]
"Baiklah," kataku. "Operasi Tambal Panci... eh, Tambal Segel dimulai."
Prosesnya kacau balau. Aku memegang panci yang menembakkan sinar laser listrik dari gagangnya (jangan tanya logikanya), sementara Lila memukuli pintu segel itu dengan palu raksasa sambil tertawa-tawa. Eira menjaga suhu ruangan agar tidak terlalu panas, dan Elena... Elena berdoa komat-kamit agar kami tidak meledakkan benua ini.
Satu jam kemudian.
KLIK.
Suara engsel terkunci terdengar memuaskan. Retakan di pintu itu tertutup rapat, menyatu kembali seolah baru.
"Selesai!" sorak Lila. "Gampang banget! Ternyata yang buat segel ini dulu lupa pasang baut."
Eira menatap pintu itu tak percaya. Dia menyentuhnya. Kokoh. Tidak ada kebocoran energi jahat lagi. "Kalian... kalian benar-benar memperbaikinya. Masalah sepuluh tahunku selesai dalam satu jam oleh tukang masak dan... anak kecil?"
"Jangan remehkan kekuatan Kerja Kelompok," kataku sambil mengelap keringat.
Eira berbalik menatap kami. Senyum tulus pertama muncul di wajahnya. "Terima kasih. Sebagai hadiahnya..."
Dia berjalan mendekatiku. Elena langsung siaga lagi. "Jangan cium-cium lagi!" ancam Elena.
"Tidak, tenang saja," Eira terkekeh. Dia meraih tangan kananku. Tepatnya, punggung tanganku. Dia mencium punggung tanganku sekilas.
Dingin yang menyengat merasuk ke kulitku. Saat dia melepaskannya, sebuah tanda berbentuk kristal salju biru terukir di punggung tanganku.
[Ding! Anda mendapatkan "Mark of the Ice Queen".] [Efek: Resistensi Es +50%. Anda bisa memanggil "Eira's Blizzard" sekali sehari (Durasi 1 menit). Dan... Eira bisa melacak lokasi Anda 24 jam nonstop (GPS Yandere Aktif).]
"GPS?!" batinku panik.
"Itu tanda terima kasihku," bisik Eira di telingaku. "Jika kau bertemu wanita lain di perjalananmu... ingatlah bahwa aku sedang mengawasi. Dan jika Astaroth di dalammu bangkit dan mencoba nakal... tanda itu akan membekukan darahmu seketika. Anggap saja itu... asuransi."
Aku menelan ludah. Hadiah ini lebih terasa seperti ancaman.
"Sekarang pergilah," Eira kembali duduk di takhtanya, terlihat jauh lebih rileks. "Segel Ketiga ada di Volcano of Ash. Dan penjaganya di sana... dia tidak seramah aku. Dia benar-benar membenci Astaroth karena alasan hutang piutang."
"Hutang?!" teriakku. "Dewa Kehancuran macam apa yang punya hutang?!"
"Hutang judi," jawab Eira santai. "Selamat jalan!"
Dia menjentikkan jari, dan angin salju mendorong kami keluar dari istana, meluncur menuruni bukit es seperti main perosotan raksasa.
"WAAAAAAA!!!!"
Kami mendarat di tumpukan salju di kaki gunung. Elena bangkit, membersihkan salju dari rambutnya. Dia melihat tanda di tanganku, lalu mendengus. "GPS Yandere, hah? Baguslah. Setidaknya kalau kau hilang, aku tahu harus tanya siapa."
"Jangan senang dulu, Nona," kataku sambil menggigil (meski sudah punya resistensi es, trauma psikologis tetap ada). "Kita harus ke Gunung Berapi selanjutnya. Dari kulkas ke oven."
Lila menyembul dari dalam salju. "Gunung belapi? Asyik! Kita bisa bakar marshmallow!"
Seraphina menatap ke arah selatan. Wajahnya serius. "Volcano of Ash... itu wilayah kekuasaan Dragon Knights. Kita butuh persiapan lebih matang."
Aku melihat panci di pinggangku. Dia tampak puas. Dia sudah mencium ratu, memakan petir, dan menjadi alat las listrik. "Sobat," bisikku pada panci. "Apa lagi yang bisa kau lakukan di chapter depan?"
Panci itu tidak menjawab, tapi dia mengeluarkan bunyi klontang pelan yang terdengar seperti tawa jahat.
Perjalanan kami masih panjang. Segel Kedua aman (untuk saat ini). Tapi hutang judi Raja Iblis menunggu di Segel Ketiga.
[Corruption Meter: 0.65% (Tertahan oleh Tanda Es Eira).]
