Ficool

Chapter 20 - Chapter 20

Kota Ashfall sudah bukan lagi tempat yang aman untuk sekadar berendam. Dengan statusku sebagai "Daftar Hitam Kreditur Terbesar di Dunia," kami harus segera hengkang sebelum kavaleri naga mengubah kami menjadi kerupuk panggang.

"Kita tidak bisa lari lewat jalur darat," bisik Seraphina sambil mengintip dari balik jendela penginapan. "Gerbang kota dijaga ketat oleh Dragon Knights. Mereka memegang selebaran berisi lukisan wajahmu, Rian."

Aku melihat selebaran itu. "Kenapa lukisannya mirip sekali dengan monster laut yang sedang sembelit?! Ini penghinaan!"

"Syukuri saja wajahmu di sana jelek," sahut Elena sambil mengasah pedangnya dengan gusar. "Jadi mereka tidak akan menyangka kalau kau yang asli punya wajah yang... yah, sedikit lebih mendingan."

"Sedikit saja, Nona?"

"Diamlah! Kita butuh rencana!"

Lila mengangkat tangannya. "Aku punya ide! Kita menyamal (menyamar) jadi pelayan di Dragon Gala! Itu pesta besar di istana naga malam ini. Semua orang pakai topeng, dan mereka butuh banyak koki!"

Strategi Lila masuk akal. Istana naga terletak tepat di lereng Volcano of Ash, tempat Segel Ketiga berada. Masuk sebagai penyusup itu sulit, tapi masuk sebagai tenaga kerja kasar? Itu keahlianku.

Dua jam kemudian, kami sudah berada di belakang gerbang samping istana. Aku memakai seragam koki putih dengan topi tinggi yang menyembunyikan rambutku. Elena dan Seraphina menyamar sebagai pelayan pembawa minuman dengan gaun yang membuat Elena terus-menerus menggerutu karena "terlalu ketat untuk mengayunkan pedang." Lila? Dia menyelinap di dalam keranjang cucian sebagai "asisten mekanik rahasia."

"Ingat," bisikku pada Elena. "Jangan memukul tamu meskipun mereka genit. Kita di sini untuk mencari informasi tentang Segel, bukan untuk tawuran."

"Akan kucoba," jawab Elena sambil meremas nampan perak hingga penyok. "Tapi jika ada yang menyentuh pinggangku, nampan ini akan bersarang di tengkorak mereka."

Kami masuk ke aula utama yang megah. Istana ini dibangun di atas danau lava yang ditutupi kaca kristal tahan panas. Di tengah ruangan, terdapat meja judi raksasa. Inilah Kasino Magma, tempat para elit Dragon Knights membuang-buang uang hasil rampasan mereka.

[Sistem Alert: Bos Wilayah Terdeteksi.] [Nama: Duke Ignis, Sang Kolektor Hutang.] [Hobi: Menghitung bunga pinjaman dan koleksi sisik naga emas.] [Status: Sedang menang banyak di meja Roulette.]

Duke Ignis adalah pria tinggi besar dengan kulit kemerahan dan tanduk naga yang melengkung di kepalanya. Dia duduk di takhta yang terbuat dari koin emas yang dilelehkan.

"Beri aku minuman lagi!" teriak Ignis.

Elena maju dengan nampannya, wajahnya tertutup topeng setengah wajah. Saat dia menuangkan minuman, Ignis menatapnya dengan pandangan menyelidiki.

"Kau pelayan baru? Aku belum pernah melihat ksatria... eh, maksudku pelayan dengan otot lengan sepertimu."

Elena membeku. "Saya... sering angkat jemuran, Tuan."

"Hmph. Bagus. Sekarang, di mana koki yang katanya bisa membuat 'Makanan Surga' itu?"

Itu adalah isyaratku. Aku maju membawa sebuah nampan besar. Di atasnya ada menu andalanku yang sudah dimodifikasi: "Steak Naga KW Super dengan Saus Lava Pedas Manis".

Sebenarnya itu hanya daging sapi biasa, tapi aku memasaknya menggunakan panas dari Panci Hitamku yang sudah menyerap energi lava dari luar tadi.

Ignis memotong daging itu dan mencicipinya. Matanya melebar. "Rasa ini... sensasi terbakar yang elegan ini... Aku hanya pernah merasakannya sekali dulu, saat makan malam bersama si brengsek Astaroth!"

Dia berdiri, menghantam meja judi hingga pecah. "Hoi, Koki! Dari mana kau belajar bumbu ini?!"

Aku berkeringat dingin di balik topi kokiku. "Ini... resep turun-temurun dari nenek saya yang tinggal di gua, Tuan."

"Bohong! Astaroth selalu memakai saus rahasia yang sama saat dia memenangkan taruhan judi melawanku seribu tahun lalu! Dan sekarang, kau muncul dengan rasa yang sama saat aku sedang melacak wadah jiwanya?!"

Ignis menarik topiku dengan kasar.

SRET!

Penyamaranku terbongkar. Wajahku (yang mirip monster sembelit di selebaran) terpampang nyata.

"DAPAT KAU!" Ignis tertawa jahat. "Rian si Wadah Iblis! Kau berani masuk ke sarang penagih hutangmu sendiri?!"

"Tunggu, Duke!" seruku sambil mengangkat Panci sebagai perisai. "Mari kita bicarakan ini secara kekeluargaan! Bagaimana kalau cicilan bunga bulan ini diganti dengan resep steak ini?"

"Lima belas triliun gold tidak bisa diganti dengan steak, Dasar Miskin!" Ignis mencabut pedang besarnya yang terbuat dari tulang naga. "Pengawal! Tangkap mereka! Jangan biarkan sepeser pun lari!"

Pertempuran pecah di tengah kasino. Elena tidak lagi menahan diri; dia melemparkan nampan peraknya ke wajah seorang pengawal, lalu menarik pedang besarnya dari balik gaun pelayannya (jangan tanya bagaimana itu muat).

"LILA! SEKARANG!" teriakku.

Lila muncul dari keranjang cucian di sudut ruangan. "OKE! BOM ASAP RASA BELERANG, LUNCUL (LUNCUR)!"

DUARRR!

Asap kuning pekat memenuhi ruangan. Di tengah kekacauan, aku melihat Duke Ignis tidak mengejar kami. Dia justru berlari menuju sebuah brankas besar di belakang takhtanya.

"Segelnya!" bisik Seraphina. "Segel Ketiga bukan di gunung berapi, tapi di dalam brankas Duke Ignis!"

"Kenapa ada di sana?!"

"Karena Ignis menjadikannya jaminan hutang!" jawab Seraphina frustrasi. "Dia tidak akan melepaskan Segel itu sampai hutang Astaroth lunas!"

Kami mengejar Ignis melalui lorong rahasia yang menuju ke jantung istana. Di sana, di sebuah ruangan yang dikelilingi lava cair, terdapat Segel Ketiga.

Bentuknya berbeda dari pintu es Eira. Segel Ketiga adalah sebuah Mesin Slot Raksasa yang terbuat dari batu obsidian.

"Selamat datang di Segel Ketiga," ucap Ignis sambil terengah-engah. "Nama aslinya adalah The Seal of Greed. Dan cara membukanya hanya satu: Kau harus memenangkan Jackpot di mesin ini menggunakan keberuntunganmu."

Aku menatap mesin slot itu. "Jadi, nasib dunia ditentukan oleh judi?"

"Tepat! Astaroth dulu menyegel kekuatannya di sini dengan taruhan: siapapun yang bisa mendapatkan tiga gambar tengkorak emas akan mendapatkan kunci Segel. Tapi selama seribu tahun, tidak ada yang pernah menang!"

Ignis menyeringai. "Jika kau kalah, jiwamu akan disedot ke dalam mesin ini sebagai pembayaran bunga hutangmu."

Elena memegang bahuku. "Rian, jangan lakukan. Ini jebakan. Kita bisa menghancurkan mesin ini!"

"Tidak bisa, Nona," sahut Lila sambil memeriksa mesin itu. "Ini sihil (sihir) kausalitas. Kalau dihancul (dihancurkan) pakai kekuatan, gunung belapi ini akan meledak seketika."

Aku melangkah maju. Tanganku gemetar. Aku tidak pernah menang undian apa pun seumur hidupku. Jangankan jackpot, dapat hadiah deterjen di bawah tutup botol saja aku belum pernah.

"Sistem..." bisikku. "Punya item 'Koin Keberuntungan'?"

[Ding!] [Gacha "Keberuntungan Penjudi Putus Asa" tersedia.] [Harga: 5 Tiket Gacha (Semua tiketmu yang tersisa).] [Peringatan: Jika gagal, sistem akan menghapus folder 'Resep Rahasia' milikmu.]

"Taruhannya besar sekali!"

Aku menekan tombol gacha di pikiranku.

[Memutar...] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Koin Kuno yang Sedikit Peyang".] [Deskripsi: Koin ini milik seorang pengemis yang selalu menang main kelereng. Memberikan bonus keberuntungan +99% untuk satu kali putaran, tapi menyebabkan pengguna merasa ingin makan kerupuk kaleng setelahnya.]

Aku memasukkan koin itu ke dalam mesin slot raksasa tersebut.

"Semuanya... mundur," kataku dengan gaya sok keren, padahal lututku lemas.

Aku menarik tuas mesin slot itu sekuat tenaga.

KLING! KLING! KLING!

Gambar di layar mulai berputar dengan kecepatan cahaya. Suara musik kasino yang berisik bergema di seluruh ruangan. Duke Ignis menonton dengan mata melotot. Elena menahan napas. Panci Hitamku bergetar karena antusiasme.

Layar pertama berhenti: TENGKORAK EMAS.

Ignis tersentak. "Mustahil! Itu gambar yang hanya muncul seratus tahun sekali!"

Layar kedua berhenti: TENGKORAK EMAS.

"TIDAK MUNGKIN!" teriak Ignis. "KAU CURANG!"

Layar ketiga mulai melambat...

Tik... Tik... Tik...

Gambar Tengkorak Emas muncul setengah... lalu mulai bergeser ke gambar 'Pisang'.

"TIDAK! JANGAN PISANG!" teriakku histeris.

Tiba-tiba, Panci Hitam di pinggangku melompat keluar. Dia menghantam sisi mesin slot itu dengan bunyi KRETAK yang keras, tepat saat gambar itu hampir lewat.

JEDUG!

Guncangan dari Panci membuat gambar itu berhenti paksa.

Layar ketiga: TENGKORAK EMAS.

[JACKPOT!!!!!!!!]

Suara terompet kemenangan yang memekakkan telinga meledak. Jutaan koin emas imitasi menyembur keluar dari mesin, menimbun Duke Ignis yang berteriak frustrasi.

Di tengah mesin, sebuah laci kecil terbuka, mengeluarkan sebuah kunci berbentuk api yang menyala-nyala.

[Segel Ketiga: Berhasil Dibuka.] [Status: Hutang Judi Astaroth dinyatakan LUNAS melalui kemenangan Jackpot.]

Aku jatuh terduduk, lemas. "Aku... aku kaya?"

[Sistem: Tidak. Koin emas itu adalah koin sihir yang hilang dalam 10 detik. Tapi hutangmu lunas.]

"Yah, setidaknya aku tidak dikejar penagih hutang lagi."

Namun, kemenangan kami tidak bertahan lama. Saat kunci api itu kuambil, seluruh ruangan mulai bergetar hebat. Lava di bawah kami mulai meluap.

"Rian! Lihat!" teriak Seraphina.

Mesin slot itu retak, dan dari dalamnya keluar sebuah bayangan hitam besar yang berbentuk seperti naga tanpa sayap. Itu adalah The Eternal Hunger yang mulai termanifestasi kembali karena Segelnya sudah diambil.

"Lari!" perintah Elena.

Kami berlari keluar dari istana yang mulai runtuh. Duke Ignis terkubur di bawah tumpukan koin emasnya sendiri, masih meratapi bunga hutang yang hilang.

Saat kami mencapai luar, kami melihat pemandangan yang mengerikan. Langit berubah menjadi merah darah. Di kejauhan, Segel Keempat di dasar laut mulai bersinar.

"Tiga sudah, sisa satu," gumamku sambil memegang kunci api yang panas.

Elena menatapku, lalu melihat ke arah tanganku yang sekarang memiliki dua tanda (Es dan Api). "Rian... kau menyadari sesuatu tidak?"

"Apa?"

"Corruption Meter-mu."

Aku melihat jendela statusku.

[Corruption Meter: 1.50%] [Peringatan: Kepribadian 'Astaroth' mulai sinkron dengan hobi judimu.]

"Hah?! Jadi kalau aku judi, aku makin jadi iblis?!"

"Sepertinya begitu," sahut Seraphina prihatin.

Aku menatap Panci Hitamku. "Sobat, jangan biarkan aku main slot lagi ya."

Panci itu hanya mengeluarkan suara ting pelan, yang entah kenapa terdengar seperti suara mesin jackpot.

More Chapters