Setelah panasnya gunung berapi, kini kami berada di pesisir Pantai Melankolis. Di depan kami terbentang Samudra Biru Tua, di mana di dasarnya terdapat Segel Keempat sekaligus terakhir: The Gate of Silence.
"Masalahnya," kataku sambil menatap ombak, "Aku adalah koki darat. Aku bisa mengolah ikan, tapi aku tidak bisa menjadi ikan. Bagaimana cara kita turun ke bawah sana tanpa paru-paru kita meledak?"
Elena menatap laut dengan cemas. "Ksatria Suci biasanya memiliki berkah untuk berjalan di atas air, tapi bernapas di dalamnya? Itu di luar kontrak kerjaku."
Lila sudah mulai mencoba membuat kapal selam dari tong bekas dan lem tikus, tapi aku segera menghentikannya sebelum dia menciptakan peti mati terapung bagi kami semua.
"Tenang," suara Seraphina terdengar tenang namun berwibawa. Dia melangkah maju, membiarkan kakinya tersapu ombak. "Aku bisa membantu. Tapi setelah ini, aku berutang penjelasan pada kalian."
Seraphina mengangkat tangannya ke langit. Dia tidak menggumamkan mantra sihir biasa. Dia menyanyikan sebuah lagu dalam bahasa yang terdengar seperti deburan ombak dan siulan lumba-lumba.
Cahaya biru mulai menyelimuti kami. Tiba-tiba, di leher kami muncul tanda kecil berbentuk insang transparan.
[Sistem Alert: Buff "Blessing of the Sea Princess" Aktif.] [Durasi: 24 Jam.] [Efek: Bernapas dalam air, resistensi tekanan laut dalam, dan rambut tidak lepek meskipun basah.]
"Sea Princess?" Aku menoleh ke arah Seraphina. "Tunggu, kau bilang kau putri bangsawan dari Odelia yang kabur."
Seraphina tersenyum tipis. "Odelia hanyalah tempat aku bersembunyi. Nama asliku adalah Seraphina Marina, pewaris takhta Kerajaan Atlantis yang tenggelam. Dan alasan aku mengikuti perjalanan ini adalah karena Segel Keempat dijaga oleh... kakak laki-lakiku yang sudah gila."
"Plot twist yang sangat rapi," gumamku. "Elena, kau tahu ini?"
Elena menggeleng, wajahnya tampak kesal. "Aku hanya tahu dia punya mana yang sangat murni. Tapi menjadi Putri Duyung? Itu menjelaskan kenapa dia tidak pernah mau makan sashimi di depan kita."
Kami menyelam ke dalam kegelapan laut. Berkat buff Seraphina, kami meluncur turun seperti torpedo. Panci hitamku tampak sangat bingung; dia mencoba berenang dengan gaya katak menggunakan gagangnya, membuatku harus memegangnya erat agar tidak terbawa arus.
Di dasar laut, berdirilah Kota Atlantis. Namun, tidak seperti di film-film yang megah, kota ini tampak menyedihkan. Bangunannya tertutup lumut gelap, lampu-lampu kristalnya redup, dan banyak patung yang kepalanya hilang.
"Ini... kenapa Atlantis terlihat seperti kota mati?" tanya Lila melalui sihir komunikasi.
"Korupsi Raja Iblis merembes dari Segel Keempat sepuluh tahun lalu," jawab Seraphina sedih. "Pendudukku berubah menjadi monster laut yang tak berakal. Kakakku, Pangeran Triton, mengurung dirinya di aula segel untuk menahan kebocoran itu, tapi dia sendiri perlahan kehilangan kewarasannya."
Saat kami mendekati gerbang istana, sesosok bayangan raksasa menghalangi jalan. Itu adalah Abyssal Kraken, peliharaan kerajaan yang kini telah terinfeksi energi gelap.
Mata Kraken itu merah menyala, tentakelnya dipenuhi dengan duri-duri tajam berisi racun.
"Elena! Seraphina! Lindungi Lila! Biarkan aku yang memberi makan peliharaan ini!" seruku.
Aku membuka menu Gacha. "Sistem! Beri aku sesuatu yang bisa membuat gurita ini mengantuk!"
[Ding!] [Gacha "Bumbu Penenang" tersedia.] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Bubuk Pala Tidur Siang (Grade S)".] [Deskripsi: Aromanya bisa membuat naga paling ganas sekalipun ingin mematikan alarm dan tidur lagi selama 100 tahun.]
"Panci! Mode Difusi Air!"
Aku memasukkan bubuk pala itu ke dalam panci. Panci itu mulai berputar cepat di dalam air, menciptakan pusaran kecil yang menyebarkan aroma rempah-rempah ke seluruh area gerbang.
Kraken itu, yang tadinya siap mencabik-cabik kami, tiba-tiba berhenti. Tentakelnya melemas. Dia menguap besar, mengeluarkan gelembung udara raksasa, lalu perlahan merosot ke dasar laut dan mulai mendengkur dengan suara yang menggetarkan pasir laut.
"Kerja bagus, Rian," puji Elena sambil menyarungkan pedangnya. "Aku mulai curiga kau bisa menyelesaikan kiamat hanya dengan rak bumbu."
"Itu namanya efisiensi, Nona."
Kami masuk ke Aula Utama. Di sana, di depan sebuah pintu raksasa yang tertutup rapat, duduk seorang pria dengan baju zirah sisik naga biru. Dia memegang trisula emas, tapi tubuhnya diselimuti aura hitam yang pekat.
Itu adalah Pangeran Triton.
"Seraphina..." suara Triton berat dan parau. "Kau membawa 'Wadah' itu ke sini? Kau ingin mempercepat kehancuran?"
"Tidak, Kakak! Kami datang untuk memperbaiki segelnya, seperti yang kami lakukan di utara dan gunung berapi!"
Triton tertawa gila. "Terlambat! Segel ini tidak bisa diperbaiki! Dia membutuhkan jiwa yang murni untuk dikorbankan setiap sepuluh tahun. Dan tebak siapa yang giliran selanjutnya? Kau, Adikku!"
Triton menyerang dengan trisulanya. Elena menangkis dengan pedang besarnya. CLANG! Guncangan energinya menciptakan gelombang kejut di dalam air.
Saat aku mencoba membantu, kepalaku tiba-tiba berdenyut hebat. Tanda es dari Eira dan tanda api dari Ignis di tanganku mulai bersinar bersamaan dengan warna ungu gelap.
[Corruption Meter: 1.80%] [Peringatan: Energi gelap dari Segel Keempat mulai memanggil jati diri asli Anda.] [Suara di kepala: "Ambil trisula itu... hancurkan segelnya... dunia ini berutang padamu..."]
"Diam!" teriakku sambil memegangi kepala.
"Rian! Ada apa?!" Elena menoleh cemas.
"Jangan dekati aku!" balasku. "Energinya... energinya terlalu kuat di sini!"
Panci di tanganku mulai berubah bentuk. Permukaannya yang tadinya halus kini muncul duri-duri kecil dan matanya menyala ungu. Panci itu seolah-olah ingin lepas dan menghancurkan apa pun di depannya.
Triton melihat kondisiku dan menyeringai. "Lihat itu! Wadah itu sudah mulai pecah! Raja Iblis akan bangkit di sini, di rumah kita!"
Triton melompat ke arahku, trisulanya mengarah ke jantungku. Elena mencoba menghalangi, tapi dia terpental oleh ledakan energi air dari Triton.
Di saat kritis itu, tanganku bergerak sendiri. Bukan karena perintahku, tapi karena insting Astaroth yang bangkit. Aku menangkap ujung trisula Triton dengan tangan kosong.
SREEEET!
Telapak tanganku terbakar oleh energi suci trisula, tapi aku tidak merasakan sakit. Aku justru merasa... lapar.
"Beraninya kau..." suaraku berubah menjadi lebih rendah dan bergema. "Menyerang koki pribadiku."
"Rian?" Elena berbisik ngeri.
Aku mengangkat Panci Hitamku. Kali ini, panci itu tidak mengeluarkan aroma masakan. Dia mengeluarkan api hitam yang membara meskipun berada di dalam air.
"Sistem," perintahku (atau Astaroth yang memerintah). "Hapus keberadaan pengganggu ini."
[Skill Aktif: "Void Devourer".]
Panci itu membuka mulutnya lebar-lebar dan mulai menyedot aura gelap yang menyelimuti Pangeran Triton. Bukan hanya auranya, tapi juga energi jahat yang merembes dari Segel Keempat.
"AAAAAARGH!" Triton menjerit saat kegelapan di dalam tubuhnya dicabut paksa.
Hanya dalam hitungan detik, Triton jatuh pingsan, kembali ke wujud manusianya yang normal. Aura hitam di aula itu menghilang, diserap habis oleh panciku.
Aku terengah-engah, jatuh bertumpu pada lutut. Warna mataku kembali normal, dan rasa lapar yang mengerikan itu perlahan surut.
[Corruption Meter: 2.50%] [Peringatan: Anda baru saja menggunakan 1% kekuatan asli Demon Lord. Sinkronisasi kepribadian akan semakin cepat.]
"Rian!" Elena berlari memelukku dari belakang, menahan tubuhku agar tidak jatuh. "Kau baik-baik saja? Kau menakutkan sekali tadi."
"Aku... aku tidak apa-apa," jawabku lemas. "Tapi sepertinya aku baru saja memakan 'kiamat' untuk sarapan."
Seraphina berlari ke arah kakaknya yang pingsan. Dia memeriksa napasnya lalu menangis bahagia. "Dia selamat... kegelapannya sudah hilang."
Lila menunjuk ke arah pintu segel. "Kak Lian! Lihat! Pintu segelnya jadi putih lagi!"
Benar. Karena panciku menyedot habis "polusi" kegelapan di sana, segel itu kembali murni. Kami tidak perlu mengorbankan jiwa siapa pun.
"Tiga segel sudah diperbaiki, satu diserap," gumam Seraphina sambil menatapku dengan tatapan penuh selidik dan ketakutan yang disembunyikan. "Rian, kau benar-benar siapa?"
Aku menatap Panci Hitamku yang sekarang tampak bersendawa mengeluarkan asap ungu. "Aku hanya seorang koki yang salah server, Tuan Putri. Dan aku sangat ingin pulang untuk tidur."
Namun, di dalam hatiku, aku tahu. Setiap kali aku menggunakan kekuatan panci ini untuk menyelamatkan dunia, aku justru semakin mendekati ramalan yang paling kutakuti: Menjadi musuh bebuyutan Elena di masa depan.
[Log Sistem: Arc Segel Selesai.] [Misi Berikutnya: Menuju Ibukota Kekaisaran untuk Penobatan Pahlawan.] [Catatan: Persiapkan dirimu, Koki. Elena mulai meragukan identitasmu.]
Aku melihat Elena yang sedang membantuku berdiri. Dia tersenyum padaku, tapi ada kilatan waspada di matanya. tapi benih-benih keraguan sudah mulai tumbuh di dasar laut yang sunyi ini.
