Perjalanan menuju Lembah Keheningan terasa seperti berjalan menuju mulut monster yang sedang tertidur. Varg dan kawanan serigalanya hanya berani mengantar hingga punggung bukit terakhir yang menghadap ke lembah tersebut. Di bawah sana, kabut ungu yang kental merayap di antara tulang-belulang naga kuno yang ukurannya sebesar bukit.
"Sampai di sini keberanian kami berakhir, Koki Agung," Varg menundukkan kepalanya, telinganya merata ke belakang sebagai tanda takut. "Lembah itu... udaranya mengandung racun jiwa. Para pemuja Cult of the Fallen tidak pernah tidur. Mereka hanya berdoa dan mengasah pedang mereka dengan darah."
"Terima kasih, Varg. Kau sudah membantu banyak," Rian memberikan satu kantong kecil berisi bumbu rahasia sebagai bekal terakhir untuk sang serigala.
Varg dan kawanannya menghilang dalam kegelapan Wasteland secepat bayangan. Kini, Rian, Elena, Seraphina, dan Lila berdiri di tepi jurang, menatap ke arah struktur bangunan yang menyerupai katedral hitam di tengah lembah.
"Aura di bawah sana... sangat pekat dengan kegelapan," Seraphina menggenggam tongkat sihirnya erat-erat, wajahnya pucat. "Bahkan sihir pemurnianku terasa tertekan. Rian, kau yakin jamurnya ada di sana?"
"Varg bilang jamur itu tumbuh di titik di mana energi kehidupan dan kematian bertemu. Itu artinya tepat di jantung lembah ini," jawab Rian. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup tidak stabil. Garis hitam di tangannya berdenyut, seolah-olah beresonansi dengan sesuatu di bawah sana.
Mereka mulai menuruni lereng yang curam. Suasana sangat sunyi sesuai namanya, Lembah Keheningan. Tidak ada suara burung, bahkan angin pun seolah enggan bertiup di sini. Hanya ada suara langkah kaki mereka yang menginjak tanah yang retak dan kering.
Tiba-tiba, Elena berhenti dan merentangkan tangannya, memberi isyarat agar mereka berhenti. "Sembunyi!" bisiknya tajam.
Mereka berlindung di balik rusuk naga kuno yang raksasa. Tak jauh dari sana, sekelompok sosok berjubah hitam legam dengan topeng perak berbentuk tengkorak sedang melakukan patroli. Mereka tidak berjalan, melainkan melayang beberapa inci di atas tanah. Di tengah kelompok itu, ada seorang pria dengan zirah berat berwarna hitam yang memancarkan api ungu dingin.
[Sistem Alert: Boss Area Terdeteksi.] [Nama: Mordred, Sang Ksatria Penunggu Gerbang.] [Level: 85 (Kelas Paladin Hitam).] [Status: Fanatik murni, memiliki indra penciuman terhadap energi cahaya.]
"Mereka menciumku," Elena berbisik panik. Sebagai Ksatria Suci, keberadaannya di sini seperti lampu mercusuar di tengah kegelapan.
"Siapa yang berani mengotori kesunyian makam raja kami?" suara Mordred bergema, dingin dan tanpa emosi. Dia menghunuskan pedang besarnya yang bergerigi. "Bau busuk cahaya kekaisaran... Pahlawan, kau datang untuk mati?"
Tanpa menunggu jawaban, Mordred mengayunkan pedangnya. Gelombang api ungu melesat menghancurkan tulang naga tempat mereka bersembunyi. BOOM!
Elena melompat keluar, menangkis serangan itu dengan pedang sucinya. Cahaya putih dan api ungu beradu, menciptakan ledakan energi yang membuat tanah bergetar. "Rian, bawa Seraphina dan Lila pergi! Aku akan menahannya!"
"Tidak, Elena! Kau tidak bisa melawan mereka semua sendirian!" seru Rian. Dia melihat puluhan anggota Cult lainnya mulai mengepung Elena.
Elena terdesak. Kekuatan Mordred luar biasa kuat di wilayah yang penuh energi negatif ini. Pedang suci Elena meredup, sementara Mordred terus menghujamkan serangan tanpa henti.
"Berlututlah, Cahaya Palsu!" Mordred mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, bersiap untuk serangan pamungkas yang akan membelah Elena menjadi dua.
Rian melihat itu, dan sesuatu di dalam dirinya sesuatu yang selama ini dia kunci rapat-rapat mendobrak keluar. Amarahnya memicu detak jantung yang mengerikan. Dunia di mata Rian tiba-tiba berubah warna menjadi kemerahan.
"Jangan... sentuh... dia," desis Rian.
[Corruption Meter: 3.10%] [Status: Otoritas Raja Iblis Terpicu (Sesaat).]
Rian berjalan keluar dari bayang-bayang. Dia tidak berlari, dia hanya melangkah. Tapi setiap langkah yang dia ambil membuat tanah di bawahnya retak dan menghitam. Panci Hitam di tangannya tidak lagi bergetar takut; sebaliknya, panci itu mengeluarkan aura hitam yang begitu pekat hingga cahaya di sekitar Rian seolah terserap masuk.
Mordred menghentikan serangannya. Dia menoleh ke arah Rian. Topeng peraknya tampak bergetar.
"Tekanan ini... aura yang menyesakkan ini..." Mordred bergumam, suaranya gemetar. "Siapa kau, manusia rendahan?"
Rian mengangkat wajahnya. Matanya yang biasanya ramah kini bersinar dengan cahaya ungu yang dingin dan sombong. Dia mengangkat tangannya, dan garis hitam di lengannya bersinar terang.
"Kau bertanya siapa aku di rumahku sendiri?" suara Rian bukan lagi suaranya. Itu adalah suara yang terdengar seperti ribuan jiwa yang menjerit secara bersamaan. "Berlutut, anjing penjaga."
Sebuah gelombang tekanan gravitasi yang luar biasa meledak dari tubuh Rian.
BRAKKKK!
Seluruh anggota Cult, termasuk Mordred yang perkasa, terhempas ke tanah seolah-olah ada tangan raksasa yang menekan pundak mereka. Mereka tidak bisa bergerak. Mereka bahkan tidak bisa mengangkat kepala untuk menatap Rian.
"O-otoritas ini... Aura Kedaulatan..." Mordred terengah-engah, wajahnya mencium tanah. "T-Tuanku? Apakah itu Anda?"
Elena menatap Rian dengan tatapan ngeri. Dia belum pernah melihat Rian seperti ini. Rian berdiri di sana, dikelilingi oleh asap hitam, tampak seperti dewa kehancuran yang baru saja turun dari takhtanya.
"Rian...?" panggil Elena lirih.
Mendengar suara Elena, Rian tersentak. Cahaya ungu di matanya memudar secepat ia muncul. Tekanan gravitasi yang menindih anggota Cult menghilang. Rian terhuyung-huyung, hampir jatuh jika tidak segera bertumpu pada Panci Hitamnya.
[Sistem: Peringatan! Sinkronisasi Jiwa mencapai batas kritis. Otoritas diputus secara paksa untuk mencegah kebangkitan dini.]
Mordred dan para pengikutnya masih bingung dan gemetar. Mereka melihat Rian yang sekarang tampak lemah dan pucat kembali.
"Cepat! Selagi mereka bingung!" Rian berteriak dengan suaranya yang asli, suaranya parau dan penuh kelelahan.
Elena, meskipun masih diliputi keraguan dan rasa takut, segera menyambar lengan Rian. Seraphina melemparkan bom asap sihir untuk menutupi pelarian mereka. Mereka berlari masuk lebih dalam ke arah jantung naga kuno, meninggalkan Mordred yang masih bersujud sambil bergumam tidak jelas tentang "Sang Raja yang Kembali".
Mereka berhasil mencapai sebuah gua di bawah tengkorak naga yang membeku. Di sana, di tengah-tengah kegelapan, tumbuh sekelompok jamur berwarna biru transparan yang berdetak seperti jantung manusia.
[Chronos-Fungus Ditemukan.]
Rian segera memetik jamur itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya tanpa dimasak. Rasa pahit yang luar biasa menyebar di lidahnya, tapi seketika itu juga, denyut panas di tangannya mereda. Garis-garis hitam yang tadinya sudah mencapai siku, kini perlahan menyusut kembali ke pergelangan tangan.
[Corruption Meter: 2.85% (Menurun dan Terkunci sementara).]
Rian jatuh terduduk, napasnya memburu. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Hening kembali menyelimuti mereka. Tapi kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Elena berdiri beberapa langkah di depan Rian, tangannya masih memegang pedang, meski tidak mengarahkannya pada Rian.
"Apa itu tadi, Rian?" tanya Elena. Suaranya datar, tanpa emosi, yang justru lebih menakutkan bagi Rian daripada amarahnya.
Rian menatap tangannya yang gemetar. "Itu adalah bagian dari diriku yang tidak ingin kau lihat, Elena."
"Mereka memanggilmu 'Tuan'. Dan kau... kau memerintah mereka seolah-olah kau benar-benar memiliki dunia ini," lanjut Elena. Dia berbalik, menatap mata Rian. "Aku berjanji akan membunuhmu jika kau berubah. Tapi tadi... untuk sesaat, aku merasa kau sudah tidak ada di sana."
"Aku masih di sini, Elena," bisik Rian. "Aku masih koki yang membuatkanmu roti. Aku bersumpah."
Seraphina mendekat, mencoba menengahi. "Elena, dia melakukan itu untuk menyelamatkanmu. Jika bukan karena 'tekanan' itu, Mordred sudah membunuhmu."
"Aku tahu!" teriak Elena tiba-tiba, membuat Lila tersentak bangun dari persembunyiannya. "Aku tahu dia menyelamatkanku! Tapi sampai kapan, Seraphina? Sampai kapan dia bisa menggunakan kekuatan itu tanpa kehilangan jiwanya? Setiap kali dia menyelamatkan kita, dia semakin mendekati kehancurannya sendiri!"
Elena menyarungkan pedangnya dengan kasar dan berjalan menuju mulut gua, membelakangi mereka semua. "Ambil jamur itu sebanyak mungkin. Kita harus segera pergi dari lembah terkutuk ini sebelum mereka sadar bahwa 'Raja' mereka hanyalah seorang koki yang sedang ketakutan."
Rian hanya bisa terdiam. Kemenangannya kali ini terasa lebih pahit daripada jamur yang ia makan. Dia telah mendapatkan waktunya kembali, tapi dia mulai kehilangan kepercayaan dari orang yang paling ingin dia lindungi.
Di sudut gua, Panci Hitam Rian memantulkan cahaya biru dari jamur-jamur tersebut, tampak dingin dan misterius, seolah-olah ia adalah satu-satunya saksi bisu yang tahu bahwa takdir tidak akan bisa ditunda selamanya, hanya bisa diperlambat dengan harga yang sangat mahal.
