Setelah berhasil "membersihkan" Atlantis dan menyelamatkan kakak Seraphina, kami kembali ke permukaan. Namun, bukannya disambut dengan tepuk tangan, kami disambut oleh rombongan ksatria berbaju zirah emas yang dipimpin oleh seorang pria berkumis klimis dengan wajah yang seolah-olah baru saja mencium bau sampah.
"Atas nama Kaisar Odelia VI, kami diperintahkan untuk menjemput Sang Pahlawan Elena dan rombongannya," ucap pria itu dengan nada sombong. "Termasuk... koki liar yang membawa peralatan dapur mencurigakan itu."
Aku melirik Panci Hitamku. Panci itu sepertinya juga tersinggung; dia sedikit mengeluarkan uap panas ke arah sepatu bot pria itu.
"woi, namaku Rian," kataku. "Dan ini bukan peralatan mencurigakan. Ini adalah asisten koki tingkat dewa."
"Terserahlah," pria itu melambaikan tangan. "Kalian harus segera ke Ibukota Lumina. Perayaan penobatan pahlawan akan dilakukan, dan kaisar ingin bertemu langsung dengan 'Wadah' yang telah mengumpulkan semua kunci segel."
Elena memegang gagang pedangnya, matanya waspada. "Rian, aku tidak suka ini. Ibukota adalah sarang ular berbaju sutra."
"Sama, Nona. Tapi kita butuh logistik dan mungkin gacha gratis dari perbendaharaan kaisar," bisikku sambil membayangkan tumpukan tiket gacha emas.
Perjalanan ke Ibukota memakan waktu tiga hari menggunakan kereta kuda kerajaan yang sangat mewah tapi sangat membosankan. Di dalam kereta, Seraphina yang kini sudah kembali menjadi "Putri Bangsawan" memaksaku untuk belajar etiket bangsawan.
"Rian, jangan gunakan tanganmu untuk memakan ayam kalkun," tegur Seraphina sambil memukul tanganku dengan kipas lipat.
"Tapi pakai tangan itu lebih efisien secara mekanis, Putri!" protesku.
"Gunakan garpu perak ini. Dan saat berbicara dengan kaisar, jangan sebut dia 'Om' atau 'Bos'. Panggil dia 'Yang Mulia yang Agung'."
Lila tertawa melihatku tersiksa. "Kak Lian kayak mulyet (monyet) pakai baju tuxedo!"
"Diam kau, bocah peledak!"
Elena hanya duduk diam di sudut kereta, menatap keluar jendela. Sejak kejadian di dasar laut di mana aku hampir berubah menjadi Astaroth, dia menjadi lebih pendiam. Aku tahu dia sedang menghitung hari. Di dalam hatinya, dia mungkin sedang bertanya: Kapan aku harus menghunuskan pedang ini ke leher pria yang memberiku roti setiap pagi ini?
Kami tiba di Lumina, kota cahaya yang sangat megah hingga membuat mataku sakit. Marmer putih di mana-mana, air mancur emas, dan orang-orang yang berpakaian seolah-olah mereka sedang ikut karnaval setiap hari.
Malam itu, kami langsung diundang ke sebuah jamuan makan malam privat bersama Kaisar.
Aku dipaksa mengenakan setelan jas hitam yang sangat sempit di bagian ketiak. Panci hitamku? Mereka mencoba menyitanya di depan pintu aula, tapi panci itu mengeluarkan aura gelap yang membuat para penjaga lari ketakutan. Akhirnya, aku diizinkan membawanya dengan syarat panci itu harus "dibungkus kain beludru" agar tidak merusak estetika ruangan.
"Selamat datang, Pahlawan Elena," suara berat bergema dari singgasana.
Kaisar Odelia VI adalah pria tua dengan mata yang sangat tajam. Dia tidak melihat ke arah Elena, tapi matanya langsung tertuju padaku. Lebih tepatnya, pada punggung tanganku yang memiliki tanda Es dan Api.
"Dan kau... Rian. Sang Wadah yang memegang kunci dunia," kaisar tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. "Aku mendengar kau sangat berbakat dalam memasak. Bagaimana kalau kau membuktikannya malam ini? Koki istanaku sedang sakit, dan aku ingin mencicipi masakan yang bisa menjinakkan dua Ratu Segel."
Ini adalah jebakan. Aku bisa merasakannya. Jika masakanku biasa saja, dia punya alasan untuk menghinaku. Jika terlalu enak, dia akan curiga pada kekuatan gelap di dalamnya.
"Dengan senang hati, Yang Mulia Om... eh, Yang Mulia yang Agung," jawabku sambil membungkuk kaku.
Aku berjalan menuju dapur terbuka di sisi aula. Seluruh bangsawan menonton. Aku membuka kain beludru yang membungkus panciku.
"Oke, Panci. Ini panggung kita. Jangan malu-malu."
[Sistem: Inisialisasi Menu "Etika Bangsawan yang Hancur".] [Gacha Bahan Terbatas: Digunakan.] [Selamat! Anda mendapatkan Item: "Bawang Putih dari Surga" dan "Garam Kristal Air Mata Dewa".]
Aku mulai memasak. Gerakanku sangat cepat, hampir seperti bayangan. Panci hitamku berputar-putar di udara, mengeluarkan aroma yang begitu harum hingga beberapa bangsawan mulai meneteskan air liur di atas baju mahal mereka.
Namun, di tengah proses memasak, Corruption Meter-ku berdenyut lagi.
[Corruption Meter: 2.55%]
Energi ungu tipis merembes ke dalam sup yang sedang kubuat. Aku mencoba menahannya, tapi energi itu seolah-olah ingin ikut "mencicipi" masakan itu.
"Sajikan!" perintah Kaisar.
Aku menyajikan semangkuk "Sup Bening Kaldu Kedamaian" di depan kaisar. Penampilannya sangat sederhana, hampir transparan.
Kaisar mencicipi sesendok.
Hening. Seluruh ruangan menahan napas.
Tiba-tiba, Kaisar menjatuhkan sendok peraknya. Matanya melotot. Wajahnya yang tadinya kaku perlahan-lahan melembut. Dia mulai menangis sesenggukan di depan semua orang.
"Ini... ini rasa masa kecilku..." isak Kaisar. "Rasa saat aku belum menjadi penguasa yang haus kekuasaan... rasa saat ibuku membuatkan sup rumput laut di gubuk tua..."
Para bangsawan bingung. Elena dan Seraphina saling berpandangan.
"Rian! Apa yang kau masukkan ke dalam sup itu?!" bisik Elena panik.
"Hanya bawang putih dan... sedikit emosi," jawabku jujur (walaupun emosi itu berasal dari sisa-sisa memori Astaroth yang ternyata juga punya rasa rindu pada rumah).
Kaisar berdiri, menghapus air matanya. "Luar biasa! Rian, kau bukan sekadar wadah. Kau adalah seniman! Mulai hari ini, kau diangkat menjadi Koki Agung Kekaisaran!"
Namun, saat suasana sedang haru, seorang penasihat kaisar yang tampak mencurigakan mendekat ke telinga Kaisar dan membisikkan sesuatu.
Wajah Kaisar kembali mengeras. "Namun... aku juga diingatkan oleh ramalan. Bahwa Wadah yang memiliki bakat sebesar ini adalah ancaman terbesar bagi umat manusia. Elena!"
Elena tersentak. "Ya, Yang Mulia?"
"Setelah penobatan besok, kau diperintahkan untuk membawa Rian ke Menara Penjara Putih. Dia akan 'dilindungi' di sana selamanya agar Raja Iblis tidak bisa bangkit."
Darahku mendidih. Dilindungi? Itu bahasa halus untuk dipenjara dan dijadikan eksperimen.
Elena mengepalkan tangannya. "Yang Mulia, Rian telah membantu kami menyelamatkan dunia! Tanpa dia, segel-segel itu sudah pecah!"
"Justru karena itu dia berbahaya, Pahlawan! Dia memiliki kunci-kuncinya!"
Suasana aula berubah mencekam. Panci hitam di sampingku mulai mengeluarkan geraman rendah yang terdengar seperti logam bergesekan.
"Sistem," bisikku. "Sepertinya kita harus melakukan rencana pelarian lagi."
[Sistem: Disarankan. Menara Penjara Putih memiliki rating bintang 1 di Tripadvisor. Makanannya hambar.]
"Rian," Elena menatapku. Matanya penuh konflik. Perintah Kaisar adalah hukum mutlak bagi seorang Ksatria Suci. "Jangan melakukan hal bodoh."
Aku tersenyum tipis, sambil memegang gagang panciku yang mulai terasa hangat. "Nona, sejak kapan aku tidak melakukan hal bodoh?"
