Aula kekaisaran kembali sunyi setelah keputusan itu diucapkan.
Namun kesunyian kali ini berbeda.
Bukan tenang.
Tapi seperti badai yang sedang menahan diri sebelum meledak.
---
"Perceraian akan diproses hari ini."
Suara Kaisar Zhou Chengqian berat, tidak memberi ruang untuk penolakan.
---
Zhou Ruyuan hanya tersenyum tipis.
Seolah semuanya tidak penting.
"Kalau itu kehendak Yang Mulia, aku tidak akan menolak."
---
Namun matanya tidak tersenyum.
Dingin.
Penuh tekanan yang tersembunyi.
---
Shen Lanxi berdiri di sisi aula.
Wajahnya tenang, tapi pikirannya bergerak cepat.
---
Selesai satu langkah.
Sekarang masuk langkah kedua.
---
Kaisar melangkah ke meja dekrit.
Tinta dan kertas sudah disiapkan.
---
"Mulai hari ini…"
"Shen Lanxi tidak lagi terikat dengan Pangeran Zhennan."
---
Tangan kaisar bergerak.
Sebuah dekrit resmi ditulis.
---
Saat pena berhenti, semuanya berubah.
---
Status Shen Lanxi di istana Zhennan… resmi putus.
---
Wang Bao menyerahkan dokumen itu.
"Putri Lanxi."
"Ini dekritnya."
---
Shen Lanxi menerimanya dengan kedua tangan.
Gerakannya sopan.
Tapi dingin.
---
"Terima kasih, Yang Mulia."
---
Kaisar menatapnya lama.
"Mulai sekarang, kau bukan lagi bagian dari Zhennan."
"Jaga dirimu."
---
Shen Lanxi menunduk.
"Ya, Yang Mulia."
---
Namun di dalam hatinya…
Ia tahu ini bukan akhir.
Ini awal dari sesuatu yang lebih besar.
---
---
Di sisi lain istana, Zhou Ruyuan sudah berbalik pergi.
Langkahnya tidak terburu-buru.
Namun setiap langkahnya berat oleh amarah yang tidak terlihat.
---
"Shen Lanxi…"
Suara pelan keluar dari bibirnya.
"Hari ini kau memilih jalanmu sendiri."
---
---
Malam itu.
Berita perceraian menyebar ke seluruh ibu kota dalam waktu singkat.
---
Keluarga bangsawan terkejut.
Pejabat berbisik.
Dan pasukan di perbatasan mulai gelisah.
---
Namun yang paling berbahaya bukan perceraian itu sendiri.
---
Melainkan fakta bahwa…
Keluarga Shen masih dalam penyelidikan kasus pengkhianatan.
---
Dan sekarang…
Shen Lanxi sudah tidak lagi memiliki perlindungan dari Pangeran Zhennan.
---
---
Di sebuah ruangan gelap di ibu kota.
Seorang pria berjubah hitam membaca laporan.
Matanya menyipit.
---
"Dia dilepas dari istana Zhennan?"
---
"Ya, Tuan."
---
Pria itu tersenyum tipis.
"Bagus."
---
"Kalau begitu… kita bisa mulai fase kedua."
---
---
Sementara itu, Shen Lanxi berdiri di halaman istana, memegang dekrit di tangannya.
Angin malam meniup rambutnya.
---
"Nu Bai."
Suara dingin terdengar di pikirannya.
---
"Ada pergerakan."
---
Shen Lanxi menatap langit malam.
Matanya tidak lagi seperti pengantin.
---
Tapi seperti seseorang yang sedang mengatur perang.
---
"Biarkan mereka datang."
"Mulai sekarang…"
"Permainan sebenarnya baru dimulai."
