Namaku Dea.
Keputusan itu akhirnya datang pada suatu pagi.
Jam menunjukkan pukul 04.30 Hari Minggu ketika aku bangun. Saat aku keluar kamar keadaan rumah masih gelap dan sunyi, sepertinya orang tuaku belum bangun, aku cepat-cepat cuci muka dan buru-buru menyiapkan tas ranselku yang aku isi air minum, roti, jas hujan, senter, dan jaket gunung. karena pendakian kali ini hanya akan tektok akupun hanya menyiapkan keperluan yang tidak terlalu banyak.
Sebelum keluar rumah aku mengirim pesan ke sahabatku, Nisa.
"Kalau orang rumah nanyain, bilang aja aku lagi ada tugas kampus ya."
Itu Nisa sahabatku kami satu kampus tapi beda jurusan aku jurusan sastra inggris dia jurusan manageman bisnis kami berteman baik sejak sma dan dia tahu rencanaku saat ini . Dia sebenarnya tidak terlalu setuju, tapi dia juga tahu
kalau aku sudah membuat keputusan seperti ini, biasanya sulit diubah.
Oh iya, aku tinggal di Ujung Berung, Bandung. Dari rumahku, jika cuaca cerah,
kadang puncak-puncak gunung di arah selatan terlihat samar di kejauhan. Sejak SMA
aku selalu tertarik pada gunung, Rasanya berbeda dibanding tempat lain. Di gunung,
semuanya terasa lebih jujur: udara, lelah, bahkan rasa takut.
Orang tuaku tidak pernah benar-benar setuju dengan hobiku ini. Mereka selalu khawatir.
Bagi mereka gunung adalah tempat yang jauh, berbahaya, dan sulit dijangkau jika
terjadi sesuatu. Tapi bagiku, gunung justru tempat untuk memahami
diriku sendiri.mungkin kalian yang memiliki hobi yang sama pastinya paham rasanya.
Sebenarnya beberapa bulan lalu aku pernah mendaki Gunung Gede Pangrango bersama beberapa teman kampus anak pecinta alam. Kami hanya
sampai Kandang Badak karena cuaca buruk. Kabut turun cepat dan hujan tidak berhenti, ahirnya dimas sebagai ketua dalam grup kala itu memutuskan untuk turun karna tentu keselamatan Bersama lebih penting.dan entah kenapa Saat itu aku merasa seperti meninggalkan sesuatu yang belum selesai. Sejak hari itu aku sering berpikir untuk kembali.
