Ficool

Chapter 14 - CH 12 - Kota Ming

Setelah melewati wilayah keluarga Kerajaan, Tian Zi melanjutkan perjalanannya jauh ke pedalaman Negara Qinghe. Hari yang awalnya gelap telah berubah menjadi pagi cerah yang menyejukkan.

Tak lama kemudian, Tian Zi akhirnya sampai di Kota Ming. Tak ada yang mengejutkan dari kota ini, dari segi penampilannya saja dari atas itu tampak sederhana tanpa sesuatu yang dapat menarik perhatian seseorang. Jika ada kultivator yang melewati wilayah ini, mungkin mereka enggan untuk turun.

Mao Qiao memerintahkan Tian Zi untuk mendarat sebelum sampai di gerbang kota. Dengan keterampilan pedang terbang yang tidak semua kultivator dapat melakukannya, itu akan menarik perhatian orang-orang di kota itu.

Saat memasuki gerbang kota yang tanpa penjaga, Tian Zi langsung disambut oleh hiruk pikuk pasar yang ramai. Udara yang segar jadi agak terasa tipis karna dipenuhi dengan kehidupan yang bergelora. Tidak ada kemegahan seperti istana kerajaan Qinghe, tapi juga tidak terlihat kumuh. Para pedagang berteriak menawarkan barang dagangan mereka dengan lantang, sementara warga lokal sibuk dengan urusan masing-masing.

Tian Zi melangkah pelan, matanya menyapu barang-barang yang dijual di gerobak-gerobak kayu. Kebanyakan adalah artefak dan ramuan tingkat rendah, seperti pil pemulihan Qi biasa, talisman sederhana, dan senjata besi biasa.

Bagi seorang ahli seperti dirinya, benda-benda itu tidak bernilai, tapi ia bisa melihat betapa berharganya barang-barang itu bagi para warga biasa yang masih berjuang di Ranah Pengumpul Qi. 

Tian Zi berjalan lebih dalam, hampir sampai di pusat kota. Di sini, bangunan-bangunan terlihat lebih kokoh, beberapa bahkan bertingkat dua dengan plakat nama keluarga yang terpampang jelas. Area ini adalah rumah bagi keluarga-keluarga berpengaruh di Kota Ming, tempat harta benda yang lebih baik disimpan.

Tian Zi tidak tertarik untuk masuk. Ia hanya ingin mengenal kota ini, terlebih lagi tujuannya adalah Sekte Longyun.

Tiba-tiba, langkahnya terhenti saat sebuah keributan menarik perhatiannya.

Di alun-alun, seorang wanita muda berusia sekitar lima belas tahun berdiri gemetar. Pakaiannya sederhana namun bersih, terbuat dari kain katun berkualitas menengah. Rambutnya diikat dengan simpul sederhana, namun kecantikan wajahnya tidak bisa disembunyikan meski dalam ketakutan. 

Di depan gadis itu, sekelompok preman berjumlah lima orang mengelilinginya seperti serigala mengelilingi mangsa. Tawa mereka kasar dan mengancam.

Yang paling mencolok dari mereka adalah Pemimpinnya yang merupakan seorang anak muda berusia tujuh belas tahun dengan aura sombong yang memancar dari setiap gerak tubuhnya. Ia memakai jubah merah tua, wajahnya agak tampan, penampilannya seperti seorang praktisi bela diri muda, dengan otot-otot yang terbentuk dari latihan keras.

“Ayolah, gadis manis,” kata pemimpin preman itu dengan seringai licik, matanya menyapu tubuh gadis itu dengan penuh nafsu. “Jangan jual mahal. Ikut denganku, dan aku jamin kau tidak akan menyesal.”

Gadis itu mencoba menghindar saat tangan pria itu berusaha menyentuh pipinya. “Dasar binatang! Pergi kalian!” bentaknya dengan suara bergetar namun tegas.

Pemimpin itu tak marah, malah semakin terpancing. “Aku suka dengan gadis keras sepertimu,” katanya sambil tertawa rendah.

Dari kerumunan orang yang lalu lalang di pusat kota, tak ada satu pun yang berhenti untuk membantu. Beberapa hanya melirik sekilas lalu bergegas pergi dengan pandangan kosong.

“Dia lagi. Ayo-ayo, cepat pergi. Jangan terlibat dengan mereka!”

Melihat satu persatu wajah mereka yang menyembunyikan ketakutan, Tian Zi agak bingung, sebelum suara Mao Qiao terdengar lembut dari dalam. “Jangan terlibat dengan mereka.”

Tian Zi hanya menggeleng pahit. “Masih pagi, sudah ada saja orang yang berbuat seperti itu. Entah seperti apa Kota Ming ini sebenarnya.” lalu pergi mengikuti kerumunan, tak ingin terlibat.

Pria bernama Hong Shen itu kembali mengulurkan tangannya, tapi di halang oleh seorang kakek tua yang sebelumnya berdiri di samping gadis itu. Dengan wajah panik dan pakaian compang-camping, kakek itu membungkuk dalam-dalam.

“Tuan yang terhormat, mohon untuk melepaskan putri saya. Perlakuan putri saya sebelumnya, saya pasti akan mendisiplinkannya.”

Melihat kehadiran kakek tua yang kumuh dan renta, ekspresi pria itu menjadi gelap. Tanpa kata-kata, ia langsung menampar kakek itu dengan keras hingga tubuh ringkih itu terjengkang ke tanah.

“Minggir! Aku tidak ada urusan denganmu!” bentaknya dengan suara menggelegar. “Wanita yang aku inginkan, tidak ada seorangpun yang boleh menolaknya. Kau harusnya merasa beruntung karena putrimu akan tidur dengan aku yang merupakan Tuan Muda keluarga Hong!"

Gadis itu menjerit histeris, air mata akhirnya tumpah dari matanya yang besar dan indah. “Kakek! Kamu tidak apa-apa?” tanyanya dengan suara serak.

Kakek itu batuk-batuk, dia menggeleng dengan senyum pahit. “Xiao Yu... kakek tidak apa-apa. Jangan khawatirkan kakek."

Hong Shen kembali menarik tangan gadis itu dengan kasar, membawanya tepat ke hadapan wajahnya.

“Apa yang ingin kau lakukan? Lepaskan aku! Dasar binatang rendahan!” teriak Xiao Yu sambil meronta-ronta, mencoba lepas dari cengkramannya yang sekuat baja.

Hong Shen tak peduli, senyum lebar terbentuk di wajahnya saat ia berkata, “Ayolah, hanya satu hari saja. Setelah melakukannya, aku pasti akan memberikanmu uang yang banyak. Cukup untuk membiayai hidupmu dan kakek tuamu itu.”

Melihat putrinya yang tersiksa, kakek itu berusaha untuk bangkit dengan susah payah. Merangkak pada kaki Hong Shen dengan sikap memohon yang memilukan. “Jangan apa-apakan putriku. Aku mohon Tuan, lepaskan dia! Ambil nyawaku jika perlu, tapi biarkan dia pergi!”

“Pergilah!” Bentak Hong Shen, menendang perut kakek itu dengan brutal.

Kakek itu meringis kesakitan, tersungkur beberapa meter dari jaraknya.

“Berani menyentuh pakaianku dengan tangan kotormu itu, kau memang sudah puas hidup! Habisi dia!”

Lima preman di belakangnya segera mendekat dengan senyum lebar di wajahnya, memukuli kakek itu dengan tinju dan tendangan tanpa belas kasihan.

“Kakek! Hentikan!” Gadis itu berteriak histeris melihat kakeknya di pukuli tanpa henti. “Siapapun itu, tolong!”

Namun, tidak ada satupun orang yang datang membantu. Mereka seperti tak peduli, meskipun daru lubuk hati mereka yang jauh, mereka ingin sekali membantu.

Dalam keputusasaan, gadis itu menggigit tangan Hong Shen dengan sekuat tenaga, bergegas menghampiri kakeknya yang sudah babak belur, memeluk tubuh ringkih itu dengan air mata bercucuran.

“Kakek! Kamu tidak apa-apa? Kakek!”

Hong Shen menghapus darah di tangannya dengan wajah marah. Dia menghampiri gadis itu, tiba-tiba menendang perutnya dengan keras hingga terpelanting, dan darah segar di muntahkan dari mulutnya.

“Xiao Yu...” Kakek itu menjerit dengan suara serak, tak kuasa melihat putrinya yang terluka.

“T-Tuan. Aku mohon... jangan apa-apa kan putriku...”

Saat Hong Shen menghampiri Xiao Yu lagi, dan menarik rambutnya dengan keras untuk memaksa agar dia menatap wajahnya, kakek itu berusaha untuk bangkit, namun terhalang oleh rasa sakitnya di tubuhnya yang mengakibatkannya memuntahkan darah.

Hong Shen tak peduli dengan tangisan kakek tua itu. Ia menatap gadis di hadapannya yang hampir sudah kehilangan kesadaran. “Dasar gadis miskin yang tidak tahu diuntung! Karena kamu begitu tak tahu malu, maka mati saja!”

Hong Shen mengangkat tangan sebelahnya, qi merah bangkit dan menyelimuti tinjunya. Di balik matanya yang di penuhi dengan niat membunuh, sesaat akan bertindak, terdengar tawa keras dari preman-preman di belakangnya.

“Xiao Yu...”

Hanya tinggal sepersekian detik lagi tinju itu mengenainya, bayangan hijau pucat melesat bagaikan angin, melewati para preman dan kakek tua itu tanpa di sadari oleh mereka. Itu menahan tinju merah yang seketika menciptakan ledakan.

Bang! 

Ledakan yang tak begitu besar terjadi, tapi kabut energi mampu menyelimuti area Xiao Yu berada.

Tawa para preman semakin keras, begitu juga dengan banyak orang di pinggir yang hanya bisa menggeleng dengan kepasrahan. Namun, tak lama kemudian, Hong Shen tiba-tiba di muntahkan dari mulut kabut tepat di hadapan banyak orang yang terkejut.

“Apa yang terjadi?”

“Tuan Muda, Anda tidak apa-apa?”

Hong Shen terbatuk-batuk dan wajahnya pucat pasi. Tatapannya tajam ke arah kabut energi yang mulai menghilang, dan sesaat kemudian suara muncul dari sana.

“Saudara, bukankah tindakanmu ini terlalu berlebihan? Menggunakan spiritual pada orang yang tidak berdaya, sikap seperti itu sama sekali tidak layak untuk seorang kultivator.”

_______________

Hong Shen: Putra kedua Keluarga Hong. Salah satu keluarga teratas dari dua keluarga lainnya yang ada di Kota Ming!

More Chapters