Ficool

Chapter 5 - CH 03 - Kenyataan Dalam Ilusi

Matahari naik, menyingkirkan kegelapan secara bertahap. Daun-daun berguguran seolah menari, dan hewan-hewan herbivora mulai keluar dari persembunyian, mencari makanan di antara bebatuan.

Suasana di hutan perlahan kembali normal, seolah badai pertempuran yang mengoyak langit hanyalah ilusi.

Di dalam gua yang gelap, Mao Qiao menembus pintu penghalang, membawa banyak buah di tangannya. Pandangannya pertama kali tertuju pada anak kecil berambut perak yang tertidur di atas batu besar.

“Sudah tiga hari tapi masih belum bangun juga?" Napasnya terdengar lembut saat ia menghela napas. Ia melompat ke arah batu besar di lawan arah, mulai memakan buah dengan tenang.

Dalam keheningan yang menyelimuti, perlahan kelopak mata Tian Zi bergerak, napasnya berdesah, sebelum akhirnya terbuka.

Kepalanya terasa nyeri, mengakibatkan pandangannya kabur sesaat. Ketika penglihatannya pulih, hal pertama yang ia lihat adalah lantai air yang jernih, memantulkan bayangan dirinya dengan sempurna.

Ia terkejut, sempat panik akan tenggelam. Namun, nyatanya pakaiannya pun tidak basah meskipun terciprat air.

Tian Zi merasa heran, tapi tak memiliki waktu untuk berpikir. Pandangannya berkeliling, menemukan keputihan yang tanpa batas. Tidak ada langit, tidak ada bumi, tidak ada makhluk hidup, bahkan tidak ada satu pun suara. Semuanya benar-benar kosong, hanya menyisakan dirinya di tengah-tengah kehampaan yang sunyi.

Dunia serba putih, dengan lantai air jernih di bawah kakinya, seolah menjebaknya dalam lukisan yang tak berujung.

“Di mana ini?” bisiknya. Kakinya mulai melangkah dengan hati-hati, mencoba mengawasi setiap sudut. Ia merasa hampa dan takut.

Sepanjang hidupnya, Tian Zi tak pernah merasakan kesendirian. Selalu ada ayah dan ibunya yang menemaninya, ada teman-temannya yang akan mengajaknya mendaki gunung. Tian Zi bahkan tidak pernah makan atau tidur sendirian. Namun, di tempat ini, hanya ada dirinya.

Rasa takut itu semakin dalam, membekapnya seperti kabut dingin.

“Ayah! Ibu!” suara Tian Zi kecil bergetar. Tak ada jawaban apapun kecuali suara pantulan dirinya, seolah menertawakan kesendiriannya.

Langkah Tian Zi semakin cepat, berlari sekencang-kencangnya. Hatinya gelisah, dipenuhi harapan semu bahwa di ujung keputihan ini, ia akan menemukan seseorang.

Tak lama, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi lantai air jernih di bawahnya. Isakan pilunya menjadi satu-satunya suara di kehampaan itu. Ia memeluk lututnya, meringkuk di tengah dunia putih yang dingin dan tak berujung.

“Ayah... Ibu… kalian di mana?”

Ia menyerah, sudah berlari sejauh mungkin tapi masih berada di titik yang sama. Ia tak tahu harus bagaimana lagi, sudah memanggil teman-temannya, bahkan sampai kepala desa sekalipun.

Dalam kekosongan yang menyedihkan ini, ia berharap seseorang datang menyelamatkannya.

Jauh dari dalam ingatannya, ia teringat satu sosok yang belum pernah di panggilnya. Meskipun berbeda dari yang lain, dan ia tidak begitu akrab dengannya apalagi sebelum pertempuran itu, sama sekali tak menyadari bahwa ada hewan yang dapat berbicara layaknya manusia, tapi ia teringat dengan dirinya yang di dalam goa bersama monyet itu.

“Monyet aneh... kau di mana?”

Masih tidak ada jawaban dalam waktu singkat. Sebelum kemudian, tiba-tiba...

“Zi'er... ”

Suara rendah itu membangunkannya. Ini adalah suara yang tak asing, selalu mendengarnya setiap hari, memberikan kenyamanan yang tak terukur sekarang.

Ia mencari asal suara itu, hatinya bergetar saat jatuh pada dua siluet di kejauhan. Ayah dan ibunya... mereka di sana.

“Zi'er, kemarilah.”

Wajah Tian Zi berseri, itu benar-benar adalah mereka. Mereka baik-baik saja. Namun, setiap langkah yang ia ambil untuk mendekati kedua orang tuanya, justru itu malah semakin menjauh.

“Ayah! Ibu! Tunggu! Kalian mau ke mana?”

Perlahan kepanikan menyergapnya. Tian Zi berlari secepat mungkin. Dunia serba putih di sekelilingnya perlahan runtuh, di gantikan dengan kegelapan aneh yang sehitam tinta. Pada saat itu, ayah dan ibunya tertelan hingga lenyap, meninggalkan dirinya dalam kegelapan yang pekat.

“Ayah!” Tian Zi berteriak, suaranya pecah, sampai tiba-tiba terbangun mendadak, membuat Mao Qiao yang sedang menelan makanan terperanjat kaget.

“Apa yang sedang kau lakukan, bocah! Jangan tiba-tiba mengagetkanku!” bentaknya, marah.

Wajah Tian Zi pucat, nafasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia menoleh ke arah Mao Qiao yang marah, sedang duduk tenang dengan banyak buah di sekelilingnya. Sesaat kemudian, ia tiba-tiba meringkuk, kembali menangis.

“Ada apa? Kau bermimpi tentang keluargamu?”

Tian Zi hanya mengabaikannya. Ia sadar itu adalah mimpi, mimpi buruk yang tidak pernah di alaminya, dan tak ingin kembali mengalaminya.

Mao Qiao mengambil napas ringan, sebelum berbicara, “Kau bisa menganggap itu adalah mimpi biasa, tapi terkadang mimpi juga adalah bagian dari memori. Keluargamu sudah tidak ada, teman-temanmu mati, desamu hancur. Kamu harus bisa menerima kenyataan itu sekarang.”

Tian Zi tak kunjung membaik, namun Mao Qiao juga tak menyerah. Ia merapikan posisi duduknya, sejenak menghilangkan kebiasaan spesiesnya.

”Setiap orang akan merasakan kedamaian, tapi ada kalanya penderitaan dan kesepian datang tanpa di undang. Kau sudah mengalami semuanya sekarang, tapi jangan berpikir hanya kau sendiri yang pernah merasakannya. Dunia sangat luas, jauh melebihi apa yang pernah kau lihat. Setiap orang pernah merasakan keputusasaan yang sama, bahkan ayahmu juga, yang kau anggap pahlawan terkuat, tidak bisa mengelak dari hal itu. Dunia misterius, ada begitu banyak hal yang tidak diketahui. Meski begitu, semua orang berbondong-bondong untuk menembus sebuah kemustahilan.”

“Bocah. Gunung yang selama ini kau anggap tinggi, besar dan kuat, seseorang dapat menghancurkannya hanya dengan telapak tangan. Sihir bukanlah dongeng yang selalu kau dengar setiap malam. Ada seseorang yang dapat mengeluarkan api dari tangan mereka, menarik guntur dari langit, menciptakan badai, bahkan mereka dapat berendam di api yang panas sekalipun dalam jangka waktu yang lama.”

Perlahan, Tian Zi mengangkat kepalanya dari persembunyian, menatap Mao Qiao dengan kebingungan. Saat melihat api bangkit dari tangan kecilnya, ia terkejut dan panik. Di lanjut dengan jantungnya yang bergetar saat suara guntur meledak tepat di atasnya. Tak lama kemudian, angin kencang tiba-tiba datang, mengibarkan rambut dan pakaiannya yang kotor.

Keanehan ini membuatnya menjadi bingung, tapi semuanya terjadi setelah monyet itu mengucapkannya.

Melihat Tian Zi yang membatu, seperti baru saja melihat keajaiban di depan matanya, Mao Qiao lanjut bicara,

“Ini adalah sesuatu yang bahkan ayahmu tidak pernah menceritakannya padamu, tapi bukan berarti keberadaannya tidak ada. Kau melihatnya beberapa hari yang lalu bukan? Orang-orang terbang di langit-langit, menghancurkan gunung, membakar hutan dalam satu tindakan. Bahkan ayahmu dan aku tidak terkecuali. Saat itu kau mungkin berpikir itu hal aneh, tidak masuk akal, mustahil, tapi memang begitulah kebenarannya. Karna di dunia ini ada yang namanya energi spiritual.”

“Energi spiritual...?” bisik Tian Zi, ragu-ragu.

Mao Qiao melanjutkan, “Setiap orang dianugrahi energi spiritual, layaknya udara yang dapat dihirup oleh siapapun. Setelah dibangkitkan, bahkan jika itu adalah kamu sendiri—anak yang cengeng, penakut, manja, akan bisa melakukan seperti mereka. Ini adalah salah satu dari jutaan rahasia langit dan bumi!”

Tian Zi tercengang, matanya melebar. Meskipun banyak hal yang tidak ia mengerti dari ucapan barusan, tapi pengetahuan ini baru pertama kali ia mendengarnya. Dan untuk anak-anak sepertinya yang masih polos, jelas ini adalah sesuatu yang menarik.

More Chapters