Ficool

Chapter 6 - CH 04 - Pilihan yang Menentukan

Tian Zi melihat api di tangan Mao Qiao yang terus menyala, itu sungguh adalah api. Lalu ia memutar tangan kecilnya, memeriksa apakah ia juga bisa melakukan seperti itu.

“Ayahmu, Quan Zi, tidak sama seperti apa yang kau pikirkan selama ini. Dunia yang kau tempati, desa yang kau anggap indah dan damai, hanyalah kebohongan yang dibuat olehnya. Kau mungkin tidak akan percaya. Tapi asal kau tahu, aku sudah lama berada di sisinya, jauh sebelum kau dilahirkan. Quan Zi yang aku kenal saat itu, tidak sama seperti apa yang kau lihat biasanya. Dia adalah pembohong besar yang ceroboh, mencoba menanggung....”

“Ayahku bukan pembohong!” Marah Tian Zi, tiba-tiba melempar batu saat Mao Qiao sedang berbicara.

“Kau bocah kecil! Berani melempariku batu!”

Tian Zi hanya menjulurkan lidah ke arahnya.

“Kau...” Mao Qiao mencoba menahan emosinya. “Dasar bocah yang tidak punya sopan santun! Aku sudah menyelamatkanmu, tapi kau...

Grrrr! 

Suara Mao Qiao terhenti saat mendengar bunyi aneh dari arah Tian Zi.

“Kenapa? Kau lapar?” Mulutnya tersenyum. “Jangan harap aku akan memberikanmu makananku!”

Dia menjadi kekanak-kanakan. Tapi saat melihat wajah Tian Zi yang pucat, ia akhirnya menyerah, menaruh buah ke arahnya.

“Aku akan memaafkanmu kali ini! Tapi selanjutnya, aku akan membiarkanmu mati kelaparan!”

Tian Zi tampak tak peduli, menghabiskan buah dalam sekejap. Ia memintanya lagi, dan Mao Qiao dengan berat hati memberinya. Itu terus mereka lakukan sampai hanya tersisa satu buah lagi. Dan semuanya di habiskan oleh Tian Zi.

Mao Qiao menghela napas, merapikan posisinya. Ia lanjut berbicara, “Ayahmu mungkin adalah pembohong... ”

Tian Zi kembali melemparinya, namun kali ini dengan sisa buah yang ia makan. Mao Qiao yang ingin marah hanya bisa menahannya. Dia tidak akan bisa menggoda anak kecil seperti Tian Zi dengan lengkah seperti itu.

“Kau tidak akan menerimanya jika aku menyebut ayahmu seperti itu. Tapi asal kau tahu, semua yang dilakukan ayahmu adalah untuk melindungimu.”

Tian Zi mulai memperhatikan Mao Qiao.

“Ayahmu berasal dari tempat yang jauh, eksistensi menakutkan yang tidak semua orang dapat menggapainya, tapi membuat mereka ingin mencapainya. Karna beberapa hal, ia malah di usir dari tempat yang sudah melahirkannya, di buru selama hampir sepuluh tahun oleh orang-orang yang dulunya dia anggap sebagai keluarga. Hidup dan mati tidak ada yang tahu, hanya keputusasaan dan kesakitan yang terus menghantuinya.”

Mao Qiao berhenti sejenak, mengambil napas.

“Alasan mengapa ayahmu terus berbohong padamu, menjauhkanmu dari kenyataan, bahkan dunia itu sendiri ia sembunyikan, semuanya untuk melindungimu. Dia tidak ingin kau mengalami apa yang pernah di alaminya. Melibatkanmu dalam pertikaian dari musuh-musuhnya. Namun hari ini apa yang telah dibangunnya benar-benar gagal. Semua yang ia takutkan terjadi. Semua orang mati, ibumu bahkan tidak terkecuali. Harapan terakhir hanya ada padamu. Karna itu, ia mengorbankan dirinya agar kau bisa selamat, agar kau dapat berlayar meskipun ia sendiri masih cemas bagaimana kau akan menghadapi dunia yang sesungguhnya. Oleh karna itu, ia mempercayakannya padaku. Berjanji bahwa aku akan melindungimu dan menjaganya tetap aman, agar dia dapat meninggalkan dunia ini dengan tenang.”

Air mata mengalir, membasi pipi Tian Zi perlahan. Ia tidak tahu bahwa ayahnya yang selalu tersenyum setiap hari, sebenarnya pernah mengalami hal mengerikan seperti ini. Ia juga tidak bisa memastikan kebenaran dari ucapan monyet itu, tapi jika dilihat dari wajahnya, dia memang tampak tidak sedang bercanda.

“Aku mengatakan semua ini agar kau tahu kebenarannya. Ayahmu mengorbankan dirinya bukan semata-mata untuk melihat kau seperti ini, meratapi peninggalannya dengan terus menangis. Itu sama sekali tidak akan mengembalikan mereka, malah hanya membuat pengorbanan ayahmu sia-sia. Dia ingin memberikanmu pilihan hidup, menciptakan langkah yang benar-benar dari dirimu. Atau malah kau akan lari, menjadi pengecut yang hanya bisa menangis siang dan malam, lalu mati tanpa melakukan apapun?”

Tian Zi mengusap pipinya yang basah, memberanikan diri untuk berbicara, “Lalu... apa yang harus aku lakukan?”

“Aku tidak akan memaksamu untuk mengikuti keinginanku. Pilihan ada padamu. Tapi jika kau masih ingin hidup, satu-satunya jalan adalah dengan berkultivasi.”

“Kultivasi...?” Tian Zi ragu. Ia tidak pernah melatih ini sebelumnya, bahkan baru pertama kali mendengar namanya.

Semua orang di Desa Hijau, selain ayahnya dan monyet ini, mungkin tidak ada satupun orang yang benar-benar tahu apa arti dari kata tersebut. Atau mungkin mereka mengetahuinya tapi tak begitu mendepankannya. Akhirnya, anak-anak mereka terlahir tanpa pernah membangkitkan energi spiritual.

“Bagaimana aku melakukannya? Aku tidak pernah mempelajarinya?” Tian Zi bertanya dengan nada rendah.

“Karna itu aku ada di sini. Aku akan membantumu melangkah ke jalan tersebut, mengajarimu semua yang aku tahu, menempatkan dirimu di tengah-tengah dunia untuk kau dapat bersaing dengan semua orang. Kepolosanmu hari ini, tidak berguna lagi di hari mendatang. Kau harus membuangnya, mencari jati diri yang benar-benar adalah dirimu.

“Apakah kau bersedia?”

Tian Zi terdiam, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Mao Qiao.

“Tapi... apa yang aku dapatkan dengan melakukan itu semua? Maksudku... itu sama sekali tidak ada gunanya.”

“Itu adalah pemikiran yang wajar untuk orang sepertimu yang tidak tahu apa-apa. Tapi jangan salah, hanya dengan berkultivasi dan menjadi yang terkuat, semua orang akan menghormatimu. Harta, tahta dan wanita, akan datang dengan sendirinya.” Mao Qiao diam sejenak, menenangkan dirinya.

“Dunia memang kejam, tapi juga menyimpan banyak kemisteriusan. Semua orang percaya, setelah mereka mencapai tahap tertentu, mereka akan dapat hidup abadi. Melakukan segalanya yang sebelumnya dianggap mustahil, bahkan membangkitkan kembali mereka yang telah mati bisa menjadi kenyataan.”

“Ayah dan ibu bisa hidup lagi?” Tian Zi terlonjak, menatap Mao Qiao dengan mata cerah.

“Itu bukan hal yang tidak mungkin, tapi bukan berati bisa dipastikan kebenarannya. Tidak ada satu pun orang yang pernah mencapai langkah tersebut.”

Semangat Tian Zi sektika runtuh.

“Tapi, aku bisa memastikan bahwa itu benar-benar nyata. Karna rahasia dunia, aku sendiri bahkan tak berani meragukannya.” Mao Qiao mengeluarkan buah terakhir yang ia simpan, menempatkannya perlahan di depan wajah Tian Zi.

“Pilihan ada di tanganmu. Ini akan menentukan ke mana kau akan melangkah, dan menjadi seperti apa kau di masa depan.”

Tian Zi menatap lama-lama buah yang diberikan Mao Qiao. Ia terdiam, hatinya yang hancur perlahan terisi oleh secercah harapan. Ia masih bersedih, tapi kini ada alasan baru yang lebih besar untuk menghilangkannya dari kesedihan. Ia mengambil buah itu, menggigitnya, dan menatap Mao Qiao dengan tekad yang baru.

Mao Qiao diam-diam tersenyum melihat itu.

“Bagus. Mulai sekarang aku adalah gurumu, dan kau harus mengikuti semua yang aku katakan.”

______________

Api Jingga Mao Qiao: Merupakan Api Bawaan dari makhluk hidup. Memiliki suhu panas, namun hanya dapat membakar tanaman. Tidak cocok dipakai bertarung!

More Chapters