Ficool

Chapter 4 - CH 02 - Di Balik Kegelapan

Alam Yin-Yang, bagian Timur.

Waktu seolah membeku di dalam goa yang remang dan dingin. Entah berapa lama telah berlalu, namun hari ini, keheningan goa hanya dipecah oleh suara angin yang berbisik pilu di antara dedaunan di luar, dan kepalan tangan kecil yang tanpa lelah menghantam dinding batu.

Tian Zi, bocah dengan mata sembab dan pipi berlumuran debu, terus menerus berusaha menembus penghalang gaib yang menghalanginya. Ia memukul, menendang, bahkan menggigit penghalang itu, berharap bisa menghancurkannya.

“Ayah!” teriaknya berulang kali, suaranya serak dan putus asa. “Lepaskan aku! Aku harus kembali! Ayah menungguku!”

Di sudut goa yang gelap, monyet kecil berbulu keemasan hanya mengamati perjuangan sia-sia bocah itu.

“Hentikan!” Suara Mao Qiao memecah keheningan goa, menggema bagai guntur.

“Aku harus kembali! Ayah bilang dia akan kembali!”

Mao Qiao mendengus sinis. “Bodoh! Apa kau masih tidak mengerti juga? Ayahmu sudah pergi! Dia tidak akan pernah kembali!”

Mata Tian Zi membelalak, seolah dunia di sekelilingnya runtuh seketika. Namun, setitik keteguhan kembali terpancar dari matanya yang merah.

“Tidak... tidak mungkin! Ayah tidak akan meninggalkanku! Dia masih hidup! Aku harus segera ke sana!”

Mao Qiao hanya bisa menghela napas panjang. Ia tak tahu bagaimana cara membuat anak itu menerima kenyataan pahit ini. Ia hanya bisa membiarkannya terus mencoba, hingga tenaganya habis terkuras.

Setelah berjam-jam Tian Zi menabrakkan tubuhnya ke penghalang, menendang dan memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya kelelahan mulai merayapinya. Namun semangatnya tak kunjung padam. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, keputusasaan mulai membanjiri hatinya.

Dengan sisa kekuatan terakhir, ia mencoba bangkit sekali lagi, sebelum akhirnya benar-benar jatuh, tergeletak tak berdaya dalam keheningan.

“Dia sebenarnya bisa bertahan sejauh ini...” gumam Mao Qiao, setelah memastikan bahwa Tian Zi benar-benar pingsan. “Tenaganya lumayan untuk anak seusianya yang belum membangkitkan energi spiritual.”

Jauh dari tempat mereka berada, di langit malam yang kelam, lebih dari selusin ahli dari Sekte Phoenix Emas melesat bagai bintang jatuh.

Para ahli itu berhenti sejenak di atas sebuah desa yang ramai. Dari dalam kantung penyimpanan, seorang ahli mengeluarkan sebuah harta langit yang berharga, sebuah cakram giok kuno dengan lingkaran-lingkaran konsentris yang berputar perlahan. Cakram itu bukan terbuat dari batu biasa, melainkan dari giok yang telah mengeras selama ratusan tahun, memancarkan aura mistis yang kuat. Di sekelilingnya, terdapat delapan kristal yang memancarkan cahaya redup.

Dengan sentuhan energi spiritual, kristal-kristal itu menyala dengan terang, dan garis-garis cahaya mulai menari-nari di atas permukaannya, membentuk pola-pola rumit yang sulit dipahami.

Setelah menunggu lama, cakram itu tak kunjung memberikan tanda-tanda keberadaan target mereka. Orang itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepala dengan pahit. Semua orang yang mengerti bahwa target mereka tidak berada di desa itu segera bergegas pergi menuju tempat lain.

Dua hari berlalu. Kini, para ahli itu tiba di sebuah hutan lebat di dekat sebuah gunung yang menjulang tinggi. Suara air mengalir deras dari arah barat, dan lolongan keras hewan buas yang bertarung di timur, terdengar jelas di telinga mereka.

Sekali lagi, orang itu mengaktifkan cakram gioknya. Kali ini, tiga titik cahaya muncul secara bersamaan: lokasi mereka saat ini, arah timur laut, dan barat laut.

Karena tidak mungkin mendatangi ketiga lokasi itu secara bersamaan, mereka memutuskan untuk membagi kelompok. Setiap pemimpin kelompok memiliki harta yang sama, karena memang itu adalah harta sekte mereka yang sangat berharga.

Kelompok pertama turun ke dalam hutan tanpa menghiraukan bahaya apa pun yang mungkin akan mereka hadapi di dalamnya.

Mereka menelusuri hutan, mengikuti arah yang ditunjukkan oleh cakram giok. Mereka tak peduli dengan lolongan hewan buas dari gunung, dan sepasang mata tajam yang terus mengintai mereka dari balik semak-semak. Semuanya hanya dianggap sebagai angin lewat.

Di salah satu pohon terdekat, siluet bayangan sesosok kecil tampak bersembunyi, mengamati setiap gerakan mereka dengan seksama.

“Hampir sejam lebih kita berputar di sini, kenapa masih belum sampai juga?” kata salah seorang ahli, mulai merasakan keanehan.

“Titik pada cakram ini juga mulai berkedip,” jawab sang pemimpin, melihat cahaya pada cakram yang meredup, seolah akan segera menghilang.

“Apa mungkin... benda ini rusak?”

“Tidak mungkin! Ini adalah harta berharga dari sekte kita. Meskipun hanya salinan dari yang asli, tapi keakuratannya masih bisa dipertimbangkan.”

“Lalu bagaimana? Entah kenapa semakin lama berada di sini, aku merasakan hutan ini semakin aneh.”

Yang lain mengangguk setuju. “Tidak bisakah kita pergi saja? Mustahil bagi mereka bersembunyi di tempat seperti ini.”

“Berhenti merengek!” bentak pemimpin kelompok dengan keras. “Ini adalah perintah dari ketua sekte dan pangeran agung. Apa kalian ingin memberontak?!”

Hati mereka bergetar mendengar ancaman itu, buru-buru menggeleng dan terdiam.

“Teruskan mencari!”

Angin bersiul lembut, sebelum tiba-tiba berhembus kencang, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

Tak lama kemudian, bayangan sesosok makhluk gelap mulai mendekat, mencuri satu per satu dari mereka. Awalnya, itu hanya bisikan yang tertelan angin, kemudian napas yang tiba-tiba berhenti.

Seorang ahli yang berada di paling belakang tiba-tiba jatuh ke tanah tanpa suara. Tubuhnya kaku, dan matanya terbuka lebar, menatap kosong ke langit. Teman di depannya bahkan tak menyadari kepergiannya. Mereka terus berjalan, menganggap jumlah mereka masih utuh.

Lima menit kemudian, sebuah batu besar jatuh dari atas, menghantam seorang ahli hingga terlempar ke jurang yang dalam. Kawan-kawannya berhenti sejenak, melihat ke bawah dengan kaget.

“Apa itu tadi?” teriak salah seorang ahli dengan panik.

Namun, sebelum mereka sempat berpikir lebih jauh, sebuah ranting besar merambat cepat dari pepohonan, melilit leher ahli lain. Dalam sekejap, tubuhnya ditarik ke atas, menghilang di antara rimbunnya dedaunan.

“Ada yang tidak beres!” Pemimpin kelompok segera memperingatkan rekan-rekannya. Namun, ia terkejut saat menyadari jumlah anggotanya yang tersisa kurang dari dua puluh orang.

“Kenapa hanya segini? Ke mana yang lain?”

Yang lain juga ikut terkejut. Mereka sama sekali tidak menyadari adanya pergerakan yang menyebabkan rekan-rekan mereka menghilang secara misterius.

Saat ketakutan mulai memenuhi wajah mereka, terlihat bayangan sesosok kecil di atas pohon. Bayangan itu berdiri tegak, memancarkan aura dingin yang mematikan.

Perlahan, cahaya bulan menerobos masuk melalui celah-celah pepohonan. Bulu emasnya yang cemerlang dan lembut kini terlihat jelas. Mata berkilat seperti permata merah delima, dan ekornya yang panjang dan halus meliuk-liuk di udara seperti cambuk.

Melihat sosok yang tak asing itu, seorang ahli berteriak histeris, “Itu dia! Monyet itu! Mereka ada di sini!”

Yang lain terkejut, mengunci tatapan pada seekor monyet emas seukuran vas bunga, atau bahkan lebih kecil.

“Hanya butuh waktu dua hari untuk menemukanku, kalian pasti memiliki sesuatu, 'kan?” kata Mao Qiao gelap, sebelum tatapannya yang tajam tertuju pada sebuah cakram giok.

“Cepat, kirim sinyal!” perintah pemimpin kelompok dengan segera.

Mereka mengeluarkan sepotong giok dari balik jubah mereka. Giok itu berwarna merah menyala, menyerupai tetesan darah yang mengkristal. Mao Qiao hanya tersenyum sinis saat mereka menghancurkan giok itu.

Sesaat kemudian, cahaya terang bangkit bagaikan pilar air, namun tidak sempat menembus langit, karena lebih dulu menghilang di ketinggian pepohonan.

Setelah menunggu hampir setengah menit, masih tidak ada tanda-tanda bantuan akan datang. Mereka bingung, dan yang lain mencoba melakukannya sekali lagi. Namun, lagi-lagi, pilar cahaya itu menghilang sebelum mencapai langit.

Senyum Mao Qiao menjadi dingin. “Percuma saja. Tidak ada satu pun dari mereka yang akan datang.”

Mengetahui bahwa ini adalah ulah monyet kecil itu, pemimpin kelompok menjadi marah. “Apa yang sudah kau lakukan, Monyet sialan?!”

“Tentu saja aku sudah memasang formasi di tempat ini. Jika tidak, bagaimana mungkin aku rela menampakkan diri pada musuh yang ingin membunuhku.”

Wajah mereka semua menjadi pucat pasi. Jimat giok mereka adalah harta langsung dari Sekte Phoenix Emas. Dari segi kualitas, itu tak dapat dibandingkan dengan jimat biasa pada umumnya. Kecuali seseorang dengan penguasaan formasi tingkat tinggi, mereka akan dapat mematahkannya. Dan sekarang, monyet kecil ini mampu melakukannya. Dia bukan sekadar hewan spiritual biasa.

“Selalu memandang rendah yang kecil dan merasa paling tinggi, keberadaan kalian memang seharusnya dilenyapkan dari dunia!” Dengan tatapan tajam yang dipenuhi aura membunuh, Mao Qiao mengulurkan tangan kecilnya. Sesaat kemudian, ia berteriak, “Tongkat Suci, datanglah!”

Segera, sebuah tongkat abu-abu pucat muncul dan mendarat di tangannya. Dan di tengah-tengah hutan yang sunyi, tepat di bawah bayang-bayang pepohonan yang gelap, ia mulai beraksi. Teriakan-teriakan menyedihkan memenuhi malam.

______________

★ Ilustrasi Cakram Langit (2) 

More Chapters