Ficool

Chapter 33 - Chapter 33 — Pilot Project Pertama

RSPAD — PAGI YANG AKHIRNYA MEMBUAT SEMUA ORANG BISA MENANGIS LEGA

Sudah hampir satu minggu sejak malam ketika monitor jantung Doni sempat menunjukkan garis lurus panjang yang membuat seluruh keluarga seperti kehilangan dunia mereka dalam satu detik.

Dan pagi itu…

akhirnya ada sesuatu yang berubah.

Lorong lantai khusus RSPAD Gatot Soebroto yang selama beberapa hari terakhir dipenuhi langkah cepat dokter, suara komunikasi pengamanan, serta wajah-wajah tegang para ajudan kini terasa sedikit lebih tenang. Tidak sepenuhnya tenang—karena pengamanan tetap ketat seperti markas militer—tetapi cukup untuk membuat orang-orang yang berjaga di sana bisa bernapas lebih panjang.

Matahari Jakarta masuk perlahan dari balik jendela besar lorong rumah sakit, memantulkan cahaya hangat ke lantai putih yang sejak beberapa hari lalu terasa terlalu dingin bagi keluarga Doni.

Sri masih duduk di kursi dekat ruang perawatan dengan mata sembab dan rambut yang mulai berantakan karena hampir tidak pernah tidur dengan benar. Tangannya menggenggam tasbih kecil sejak subuh sambil terus melirik pintu ruang observasi.

Di sampingnya, Korin duduk sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Wajahnya pucat. Sedangkan Ika berdiri lebih jauh dekat jendela sambil sesekali memijat pelipisnya karena kepalanya terasa berat sejak semalam.

Dan ketika dokter akhirnya keluar sambil membuka masker perlahan—

semua orang langsung berdiri bersamaan.

“Kondisi jantung Pak Doni mulai stabil.”

Kalimat itu sederhana.

Pendek.

Namun seolah menghantam seluruh lorong dengan rasa lega yang luar biasa besar.

Korin langsung menutup wajahnya sambil menangis kecil.

Sri memejamkan mata cukup lama sambil mengucap syukur lirih.

Sedangkan Ika langsung membuang napas panjang seperti baru saja menahan beban ribuan kilo dari dadanya sendiri.

“Alhamdulillah…”

bisik Sri dengan suara yang mulai pecah.

Dokter itu lalu melanjutkan dengan nada serius.

“Tapi beliau tidak boleh terlalu banyak tekanan pikiran lagi.”

Dan seketika—

suasana kembali diam.

Karena semua orang tahu…

hal paling sulit bagi Doni bukan melawan penyakitnya.

Melainkan berhenti memikirkan negara ini.

JULIO — ANAK BUNGSU YANG PALING TAKUT KEHILANGAN PAPANYA

Di tengah suasana haru itu, suara sandal kecil tiba-tiba terdengar cepat dari ujung lorong.

“Mah! Papa wes sadar tenan toh?!”

Julio muncul sambil membawa susu kotak coklat dan roti yang bahkan belum habis dimakannya. Rambutnya masih acak-acakan. Seragam sekolahnya belum dipakai sempurna karena tadi pagi ia ngambek tidak mau berangkat sebelum memastikan kondisi Doni membaik.

Sri langsung menoleh.

“Iya… Papa sudah lebih baik.”

Belum selesai kalimat itu keluar—

Julio langsung berlari kecil menuju ruangan.

Dan seperti biasa…

tidak ada satu pun pengawal yang menghentikannya.

Karena semua orang di sana tahu—

anak kecil itu adalah satu-satunya orang yang bisa masuk seenaknya bahkan ketika pengamanan negara sedang level tertinggi.

Begitu masuk ke ruangan, Julio langsung berhenti di depan ranjang Doni.

Wajah bocah itu yang biasanya cerewet mendadak diam beberapa detik ketika melihat ayahnya masih pucat dengan selang infus di tangan.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

mata Julio terlihat benar-benar takut.

“Papa…”

Suara kecil itu membuat Doni perlahan membuka mata.

Lalu pria itu tersenyum lemah.

“Lho… jagoan Papa belum sekolah?”

Julio langsung manyun.

“Sekolah terus sekolah terus…”

Ia mendekat sambil berkacak pinggang kecil.

“Papa ki loh…”

Nada medok Jawanya langsung keluar semakin kental ketika emosinya muncul.

“Sakit jantung kok masih kerja terus.”

Doni tertawa kecil pelan.

Namun Julio belum selesai.

“Julio takut tau…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Polos.

Namun justru membuat seluruh ruangan langsung diam.

Bocah delapan tahun itu menunduk pelan.

Tangannya menggenggam ujung selimut Doni.

“Aku kira…”

suaranya mulai mengecil.

“…Papa mau tinggalin Julio…”

Dan seketika—

Sri langsung menutup mulutnya sendiri menahan tangis.

Ika memalingkan wajah.

Korin bahkan langsung menangis lagi.

Karena tidak ada satu pun yang siap mendengar ketakutan paling jujur dari anak kecil itu.

Doni memandang Julio cukup lama.

Lalu perlahan mengangkat tangan lemahnya dan mengusap kepala anak bungsunya itu.

“Papa nggak ke mana-mana…”

suara Doni serak.

“Papa masih di sini.”

Julio langsung memeluk tubuh Doni hati-hati sambil menangis diam-diam.

Dan untuk pertama kalinya sejak Doni dirawat—

pria itu sendiri akhirnya ikut menitikkan air mata.

PEMERINTAH — SAAT MIMPI BESAR MULAI MENJADI NYATA

Sementara keluarga Doni berjuang dengan emosi mereka sendiri di RSPAD, di luar sana Indonesia ternyata sedang bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya.

Program percepatan energi terbarukan yang selama ini hanya terdengar seperti wacana elite perlahan mulai berubah menjadi gerakan nyata.

Nama PT Gita Wahana Mandiri dan Enernova kini memenuhi hampir seluruh rapat strategis nasional terkait EV dan transisi energi.

Dan pagi itu—

secara resmi—

Jawa Barat dipilih menjadi pilot project pertama integrasi energi terbarukan dan transportasi listrik nasional.

Berita itu langsung meledak di media.

“JAWA BARAT RESMI MENJADI PROYEK PERCONTOHAN EKOSISTEM EV TERPADU INDONESIA.”

Namun yang membuat banyak orang merinding bukan hanya proyeknya.

Melainkan fakta bahwa sebagian besar blueprint awal sistem tersebut…

ternyata sudah disusun diam-diam bertahun-tahun oleh Doni.

Di ruang rapat besar Pemerintah Provinsi Jawa Barat, layar raksasa menampilkan simulasi kota masa depan.

EV Charging Station tersebar di titik publik.

Solar panel terintegrasi di gedung pemerintahan dan fasilitas umum.

Transportasi rakyat berbasis listrik.

Sistem monitoring energi digital.

Dan proyek paling ambisius—

angkot listrik pintar.

“Pak Doni selalu bilang…”

ucap Prof Arief dalam rapat nasional melalui video conference.

“…kalau teknologi jangan cuma dinikmati orang kaya.”

Ruangan langsung hening.

“Beliau ingin rakyat kecil juga menikmati masa depan.”

Arief lalu menjelaskan bagaimana konsep angkot listrik GWM tetap menggunakan sopir seperti sistem Jaklingko agar masyarakat tidak kehilangan pekerjaan.

Namun teknologinya jauh lebih modern.

Tidak ada lagi ngetem liar.

Tidak ada lagi kendaraan tua berasap hitam.

Semua terhubung digital.

Monitoring keamanan real-time.

Pembayaran cashless.

Jadwal pintar berbasis AI.

Dan semua terintegrasi dengan sistem charging dan energi terbarukan.

“Pak Doni tidak membangun proyek…”

Arief berhenti cukup lama.

“…beliau membangun sistem kehidupan baru.”

Dan untuk pertama kalinya—

beberapa pejabat yang hadir benar-benar terdiam.

Karena mereka sadar—

yang sedang dibangun bukan sekadar bisnis.

Tapi masa depan Indonesia.

ENERNOVA — MR. LEO DAN KEYAKINAN TERHADAP INDONESIA

Di ballroom utama Hotel Kempinski Jakarta, suasana pertemuan strategis Enernova berlangsung sangat serius.

Pengamanan berlapis membuat wartawan hanya bisa menunggu dari luar.

Namun satu nama terus menjadi pembicaraan:

Mr. Leo.

Direktur Sales Global Enernova yang masih sangat muda itu benar-benar membuat banyak pejabat Indonesia terkejut.

Karena di usia awal tiga puluhan…

cara berpikirnya terasa terlalu jauh.

Pria muda itu berdiri di depan layar besar sambil menjelaskan roadmap pengembangan EV Indonesia.

Tatapannya tajam.

Cara bicaranya cepat.

Namun sangat tenang.

“Indonesia terlalu besar untuk hanya menjadi pasar teknologi.”

Kalimat itu langsung membuat ruangan sunyi.

“Kalian punya sumber daya.”

“Kalian punya pasar.”

“Kalian punya populasi.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan sekarang…”

tatapannya perlahan mengarah ke tim GWM.

“…kalian punya visi.”

Mr. Leo lalu menampilkan simulasi jaringan energi Jawa Barat yang akan dibangun bersama.

“Enernova tidak datang hanya untuk menjual EV Charging.”

“Kami datang untuk membangun ekosistem.”

Ia menatap seluruh ruangan.

“Pak Doni membuat kami percaya…”

Suasana langsung semakin hening.

“…bahwa Indonesia bisa menjadi pusat energi baru Asia.”

Dan kalimat itu—

membuat beberapa orang merinding sendiri.

Karena untuk pertama kalinya—

negara lain mulai percaya Indonesia bisa memimpin.

GWM — PARA KARYAWAN YANG AKHIRNYA TAHU SEBERAPA BESAR BEBAN DONI

Di Gedung PELNI Kemayoran, suasana kantor PT Gita Wahana Mandiri berubah sangat emosional sejak kabar kondisi Doni mulai stabil tersebar.

Banyak karyawan bahkan menangis lega diam-diam.

Karena bagi mereka—

Doni bukan sekadar pemilik perusahaan.

Ia terlalu dekat.

Terlalu manusiawi.

“Pak Doni tuh kalau malam suka muter sendiri ngecek ruangan…”

ujar salah satu staf lama dengan mata merah.

“Kadang jam dua pagi masih nanya progres server.”

Yang lain tertawa kecil sambil mengusap mata.

“Kalau kita belum makan malah dimarahin…”

Suasana kantor perlahan berubah haru.

Mereka baru sadar sekarang—

pria yang selama ini terlihat sederhana itu ternyata sedang membawa mimpi sebesar negara sendirian.

Bahkan para security dan teknisi gedung yang bukan bagian GWM ikut merasa bangga.

“Pantes aja…”

gumam salah satu security.

“Pak Doni tuh beda auranya…”

MALAM — AYAH DAN ANAK YANG SAMA-SAMA TAKUT KEHILANGAN

Malam itu, suasana ruang rawat Doni jauh lebih tenang.

Lampu diredupkan.

Suara monitor jantung terdengar stabil.

Julio yang sejak tadi menolak pulang akhirnya tertidur di sofa kecil sambil memeluk tas sekolahnya.

Doni memandang anak bungsunya itu cukup lama.

Matanya perlahan berkaca.

Sri yang duduk di samping ranjang menyadari tatapan itu.

“Kenapa…”

Doni tersenyum kecil.

“Julio masih kecil…”

Suara pria itu sangat pelan.

“Aku takut belum sempat nemenin dia besar.”

Dan kalimat itu—

langsung membuat Sri menangis lagi.

Karena untuk pertama kalinya—

Doni tidak bicara tentang negara.

Tidak bicara tentang proyek.

Tidak bicara tentang BSP.

Ia bicara sebagai seorang ayah.

Sebagai pria tua yang diam-diam takut meninggalkan anak kecilnya terlalu cepat.

Sri menggenggam tangan Doni erat.

“Kamu nggak boleh ngomong begitu lagi…”

Doni hanya tersenyum lemah.

Lalu menatap kembali Julio yang tidur pulas.

Dan malam itu—

di tengah semua tekanan dunia—

yang paling ditakuti Doni ternyata bukan kehilangan proyeknya.

Melainkan kehilangan waktu bersama anak bungsunya sendiri.

LAST LINE

Karena sebesar apa pun mimpi seseorang untuk bangsanya—

di dalam hatinya…

ia tetap hanya seorang ayah—

yang takut anaknya tumbuh tanpa dirinya.

More Chapters