Ficool

Chapter 38 - Chapter 38 — Nama Yang Tidak Boleh Disebut

YON ARMED 9 — STATUS MERAH

Langit Purwakarta semakin gelap.

Awan hitam mulai menggantung rendah di atas kawasan Markas YON ARMED 9, membuat suasana siang itu terasa semakin berat dan menyesakkan. Udara dingin berhembus pelan melewati lapangan utama markas, namun tidak ada satu pun orang yang benar-benar memperhatikan cuaca.

Karena sejak statement Doni beberapa menit lalu…

situasi berubah total.

Kalimat itu masih menggema di kepala semua orang.

“Jangan pertanyakan apa yang negara berikan…”“…tapi pertanyakan apa yang sudah kita berikan kepada negara dan bangsa.”

Terlalu familiar.

Terlalu kuat.

Dan terlalu menyerupai seseorang yang namanya bahkan mulai membuat banyak perwira senior merinding.

Di sisi lapangan…

beberapa personel elite TNI AD mulai bergerak cepat tanpa banyak bicara.

Komunikasi radio terdengar semakin intens.

“Status merah.”

“Ulangi. Status merah.”

“Objek BSP segera dipindahkan.”

DEG.

Kalimat itu langsung membuat beberapa personel YON ARMED 9 saling pandang.

Karena istilah “Objek BSP” baru pertama kali mereka dengar dipakai langsung dalam komunikasi lapangan militer.

Dan nada suaranya…

bukan nada pengamanan biasa.

Melainkan pengamanan level ancaman nasional.

TIM SENYAP 08 MULAI MUNCUL

Di tengah area markas…

beberapa pria berpakaian hitam perlahan mulai terlihat keluar dari berbagai titik yang sebelumnya tidak disadari siapa pun.

Mereka tidak memakai atribut satuan.

Tidak memakai nama.

Tidak memakai pangkat.

Namun aura mereka…

langsung membuat suasana berubah dingin.

Tatapan tajam.

Gerakan senyap.

Dan disiplin yang terlalu rapi.

Bahkan beberapa prajurit YON ARMED 9 refleks menyingkir memberi jalan ketika kelompok itu berjalan melewati area lapangan.

Karena naluri militer mereka langsung membaca satu hal—

orang-orang ini sangat berbahaya.

Salah satu prajurit muda bahkan berbisik pelan kepada rekannya.

“Siapa mereka…”

Rekannya menggeleng pelan.

Namun wajahnya terlihat tegang.

“Gue nggak tahu…”

“…tapi mereka bukan pengawal biasa.”

Dan mereka memang bukan pengawal biasa.

Mereka adalah TIM SENYAP 08.

Unit yang bahkan keberadaannya tidak pernah benar-benar diakui negara.

PASUKAN ELIT TNI AD TURUN LANGSUNG

Suasana semakin berubah ketika beberapa kendaraan taktis tambahan mulai memasuki kawasan dalam markas.

MAUNG Tangguh hijau militer bergerak perlahan membentuk pola pengawalan berlapis.

Di belakangnya…

beberapa personel elite TNI AD turun dengan perlengkapan tempur lengkap.

Helm tactical.

Vest anti peluru.

Senjata serbu modern.

Gerakan mereka cepat.

Terukur.

Dan tanpa suara.

Para wartawan yang berada di luar pagar pengamanan langsung heboh.

Kamera-kamera mulai merekam panik.

“Kenapa pengamanan berubah jadi seperti ini?!”

“Ada ancaman apa?!”

“Siapa sebenarnya BSP?!”

Namun tidak ada jawaban.

Karena saat itu—

bahkan pihak militer mulai sadar.

Mereka mungkin sedang mengawal seseorang yang bukan hanya penting bagi negara…

namun juga penting bagi sejarah republik ini sendiri.

DONI MENYADARI — DUNIA SUDAH MULAI CURIGA

Di tengah seluruh pengamanan itu…

Doni berdiri diam memandang langit Purwakarta.

Wajahnya tetap tenang.

Namun matanya perlahan berubah sendu.

Karena ia tahu—

hari yang selama ini coba dihindari…

akhirnya mulai datang.

Prof Arief berjalan cepat mendekatinya.

“Pak…”

suara beliau pelan namun serius.

“Kita harus bergerak sekarang.”

Doni tersenyum kecil.

Senyum lelah.

“Sudah separah itu ya…”

Prof Arief tidak langsung menjawab.

Namun tatapan matanya sudah cukup menjelaskan semuanya.

Dan itu membuat Doni perlahan menutup matanya sejenak.

Karena jauh di dalam hatinya—

ia sebenarnya tidak pernah ingin kembali masuk ke pusaran besar itu lagi.

Ia hanya ingin hidup tenang.

Membangun bangsa diam-diam.

Melihat Indonesia maju tanpa harus membawa masa lalu keluarganya kembali ke permukaan.

Namun sekarang…

dunia mulai mencium jejak BSP.

Dan ketika dunia mulai sadar siapa dirinya sebenarnya…

maka semuanya tidak akan pernah sama lagi.

“AMANKAN BSP!”

Tiba-tiba—

suara keras terdengar dari radio komunikasi.

“Tim Alfa bergerak!”“Tim Bravo sterilkan jalur!”“Objek BSP diamankan sekarang!”

Dalam hitungan detik—

seluruh area markas berubah total.

Pasukan elite TNI AD langsung membentuk perimeter berlapis mengelilingi Doni.

TIM SENYAP 08 bergerak jauh lebih cepat.

Mereka membentuk lingkaran pengamanan dalam dengan gerakan yang hampir tidak terlihat.

Presisi.

Senyap.

Dan menyeramkan.

Bahkan beberapa wartawan sampai refleks mundur ketika melihat perubahan formasi itu.

Karena baru kali ini mereka melihat pengamanan seperti di film operasi intelijen tingkat tinggi.

Dua unit MAUNG Tangguh hijau militer langsung bergerak ke depan.

Mesinnya meraung berat.

SUUUUMMMM…

Suara mesin tactical menggema di seluruh kawasan YON ARMED 9.

Sedangkan B 2777 GWM dan B 234 GWM sudah bersiap di tengah formasi pengawalan.

Komandan YON ARMED 9 sendiri langsung berdiri di sisi Doni.

Tatapannya tajam ke seluruh perimeter luar.

Dan untuk pertama kalinya…

beberapa prajurit muda mulai benar-benar merasakan ketakutan.

Karena mereka sadar—

orang yang sedang mereka kawal sekarang…

bukan lagi sekadar tokoh penting negara.

Namun kemungkinan besar—

sosok yang keberadaannya bisa mengguncang republik.

WARTAWAN MULAI PANIK

Di luar pagar markas…

situasi semakin liar.

Para wartawan mulai berteriak mencoba mengejar informasi.

“Pak Prof Arief!”

“Apakah benar BSP terkait keluarga besar Soekarno?!”

“Kenapa pengamanan setingkat ini?!”

“Kenapa TIM khusus negara turun langsung?!”

Namun setiap pertanyaan itu justru membuat suasana semakin tegang.

Karena tidak ada bantahan.

Tidak ada klarifikasi.

Dan dalam dunia jurnalistik—

diam adalah jawaban paling menakutkan.

Salah satu wartawan senior bahkan sampai menurunkan kameranya perlahan.

Wajahnya pucat.

Tatapannya masih melihat formasi pengawalan super ketat yang mengelilingi Doni.

Lalu dengan suara pelan…

ia berbisik kepada rekannya.

“Kalau negara sampai menurunkan pengamanan seperti ini…”

“…berarti BSP memang bukan orang biasa.”

KONVOI BERGERAK — INDONESIA MULAI GEMETAR

Pintu B 234 GWM akhirnya terbuka.

Doni masuk perlahan ke dalam kendaraan.

Namun bahkan sebelum pintu tertutup sempurna—

formasi pengawalan sudah bergerak penuh.

Dua unit MAUNG Tangguh hijau militer berada paling depan.

Pasukan elite TNI AD membentuk lapisan pengawalan luar.

TIM SENYAP 08 berada di kendaraan pengawal tanpa identitas.

Sedangkan beberapa kendaraan tactical tambahan bergerak menutup seluruh sisi konvoi.

Suara sirine pendek mulai terdengar.

Gerbang utama YON ARMED 9 perlahan dibuka penuh.

Dan ketika konvoi BSP akhirnya keluar dari kawasan markas—

seluruh wartawan hanya bisa berdiri diam.

Karena untuk pertama kalinya…

mereka melihat negara bergerak ketakutan terhadap satu nama.

BSP.

LAST LINE

Hari itu…

di bawah langit gelap Purwakarta—

Project GARUDA tidak lagi sekadar proyek energi nasional.

Namun telah berubah…

menjadi pusat rahasia terbesar republik ini.

More Chapters