Ficool

Chapter 36 - Chapter 36 — Dunia Sibuk Mencari BSP

Kota itu tetap hidup tanpa peduli siapa yang sedang jatuh, siapa yang sedang bangkit, atau siapa yang diam-diam sedang mengubah masa depan bangsa dari balik bayangan.

Lampu kendaraan masih memenuhi jalan Sudirman sejak pagi. Kereta MRT masih melintas membawa ribuan orang yang sibuk mengejar hidup mereka masing-masing. Pedagang kopi di trotoar masih berteriak menawarkan dagangannya.

Namun tidak ada yang sadar—

bahwa di balik wajah normal ibu kota itu…

negara sedang bergerak diam-diam.

Dan pusat seluruh pergerakan itu…

adalah satu nama misterius yang kini mulai menjadi pembicaraan banyak negara.

BSP.

Nama itu tidak pernah muncul resmi di televisi.

Tidak pernah diumumkan pemerintah.

Tidak pernah diakui keberadaannya.

Namun justru karena itulah—

semua orang mulai takut.

Media nasional mulai kehilangan arah.

Dulu mereka masih bisa mengejar kendaraan keluarga Doni.

Masih bisa menangkap gambar Julio.

Masih bisa membaca pola keluar masuk kendaraan GWM.

Namun sekarang…

semuanya seperti lenyap.

B 2777 GWM menghilang dari jalur publik hampir total.

B 234 GWM hanya muncul sesekali dengan pengawalan ketat.

B 2888 GWM milik Prof Arief mulai lebih sering masuk kawasan pemerintahan melalui akses terbatas.

Sedangkan B 2999 GWM…

bahkan sudah tidak bisa lagi dilacak media.

Semakin mereka mencoba mencari—

semakin BSP terasa seperti bayangan.

Dan itu justru membuat semua orang yakin…

negara benar-benar sedang melindungi seseorang.

Di ruang redaksi salah satu media terbesar nasional, layar besar CCTV jalan tol diputar berulang-ulang sejak pagi.

Frame demi frame diperbesar.

Nomor kendaraan dicocokkan.

Jalur perpindahan dianalisis.

Namun hasilnya tetap nihil.

“Mereka terlalu rapi…”

gumam seorang wartawan senior sambil melepas kacamatanya pelan.

“Ini bukan pengamanan perusahaan lagi…”

Wartawan lain menatap layar diam.

Tatapannya perlahan berubah serius.

“Ini pengamanan negara.”

Ruangan langsung hening.

Karena semua orang mulai sadar—

semakin besar Project GARUDA berkembang…

semakin BSP dijaga seperti aset strategis nasional.

Dan itu berarti—

apa yang sedang dibangun Indonesia sekarang jauh lebih besar daripada sekadar bisnis EV.

RUMAH DONI — SATU-SATUNYA TEMPAT BSP MENJADI “PAPA”

Berbeda jauh dari dunia luar yang sibuk memburu identitas BSP…

rumah Doni justru perlahan kembali hidup.

Hangat.

Tenang.

Manusiawi.

Pagi itu hujan turun pelan di halaman rumah. Aroma teh hangat memenuhi ruang keluarga. Televisi menyala kecil menampilkan berita perkembangan energi terbarukan nasional.

Namun di sofa ruang keluarga—

tidak ada BSP.

Tidak ada tokoh besar negara.

Yang ada hanya seorang ayah…

yang masih berusaha pulih.

Doni duduk sambil memegang dada kirinya pelan. Sesekali wajahnya masih terlihat menahan nyeri sisa serangan jantung yang hampir merenggut nyawanya beberapa minggu lalu.

Sri memperhatikannya diam-diam sejak tadi.

Tatapan wanita itu berubah jauh akhir-akhir ini.

Lebih lembut.

Namun juga lebih takut.

Karena sejak malam monitor jantung Doni sempat garis lurus itu—

ia sadar satu hal.

Suaminya tidak sekuat yang dunia pikirkan.

Di lantai depan sofa, Julio sedang memainkan miniatur kendaraan MAUNG Tangguh hitam doff miliknya.

Dengan penuh semangat bocah itu membuat suara mesin sendiri.

“Brrrrmmmm…”

Miniatur kecil itu melaju di atas karpet seolah sedang menerobos medan perang sungguhan.

Lalu tiba-tiba—

Julio berhenti.

Bocah itu menoleh ke arah Doni.

“Papa…”

“Hm?”

“Ini bener Papa yang desain?”

Doni tersenyum kecil.

“Papa bantu bikin.”

Mata Julio langsung berbinar besar.

“Berarti Papa keren banget…”

Ia mendekat cepat.

“…kayak pahlawan!”

Doni tertawa kecil sambil mengusap kepala anak bungsunya.

Namun beberapa detik kemudian—

wajah Julio perlahan berubah.

Ekspresi cerianya memudar pelan.

“Papa…”

“Hm?”

“Nanti jangan sakit lagi ya…”

Suara kecil itu langsung membuat ruang keluarga terasa sunyi.

Julio menunduk.

“Aku takut waktu Papa nggak bangun…”

Bocah itu menggigit bibirnya sendiri menahan tangis.

“Aku panggil Papa terus…”

Air matanya mulai jatuh.

“…tapi Papa diem aja…”

Dan seketika—

sesuatu di dada Doni terasa runtuh.

Karena di luar sana…

dunia memanggilnya BSP.

Namun di rumah ini—

ia hanya seorang ayah…

yang hampir membuat anak kecilnya kehilangan dunianya.

Doni langsung menarik Julio ke pelukannya erat.

“Papa di sini…”

suara Doni serak.

“Papa belum pergi.”

Julio langsung memeluk leher ayahnya kuat-kuat.

“Janji?”

Doni memejamkan mata pelan.

“…janji.”

Namun jauh di dalam hatinya…

ia sendiri tidak yakin bisa memenuhi janji itu.

GEDUNG PELNI — GARUDA MULAI MENGAKAR KE NEGARA

Di sisi lain Jakarta…

Project GARUDA berkembang jauh lebih cepat daripada perkiraan siapa pun.

Lantai-lantai tertentu Gedung PELNI kini berubah seperti pusat komando rahasia.

Server tambahan berdatangan hampir setiap malam.

Teknisi Enernova bekerja bersama tim GWM tanpa mengenal waktu.

Layar-layar besar menampilkan simulasi jaringan energi Jawa Barat secara real-time.

EV Charging mulai aktif satu demi satu.

Smart Grid mulai diuji.

AI monitoring system berjalan.

Dan seluruh sistem mulai terhubung dalam satu nama besar.

GARUDA.

Namun pagi itu…

sesuatu yang jauh lebih mengejutkan terjadi.

Pintu ruang meeting utama terbuka perlahan.

Dan beberapa pria berseragam loreng masuk dengan langkah tenang namun disiplin.

Ruangan langsung hening.

Karena di dada mereka…

terpasang emblem Batalyon ARMED Purwakarta.

Prof Arief berdiri menyambut mereka.

Sedangkan Mr. Leo dari Enernova terlihat sedikit terkejut.

“Selamat datang.”

Komandan batalyon itu mengangguk hormat kecil.

“Kami datang membawa persetujuan.”

Ia meletakkan map hitam tebal di atas meja.

“Markas ARMED Purwakarta resmi menjadi lokasi pilot project EV Charging militer pertama.”

Ruangan langsung diam total.

Bahkan beberapa staf GWM sampai saling pandang tidak percaya.

Karena ini bukan proyek sipil biasa lagi.

Ini berarti—

Project GARUDA resmi masuk lingkungan strategis pertahanan.

Komandan ARMED itu melanjutkan dengan suara berat.

“Pak Doni pernah bilang…”

Ia menatap seluruh ruangan perlahan.

“…kalau tentara Indonesia tidak boleh tertinggal teknologi.”

Tatapan Prof Arief langsung berubah dalam.

Karena ia tahu kalimat itu.

Doni pernah mengatakannya bertahun-tahun lalu.

Dan sekarang…

kalimat itu mulai menjadi kenyataan.

PURWAKARTA — SAAT GARUDA MENYENTUH TANAH PARA PRAJURIT

Sore harinya…

iring-iringan kendaraan GWM memasuki kawasan markas ARMED Purwakarta.

B 2777 GWM berada di depan.

B 2888 GWM mengikuti di belakang.

Sedangkan beberapa kendaraan pengamanan bergerak senyap di titik tertentu.

Namun perhatian semua orang langsung tertuju pada sesuatu yang lain.

Dua unit MAUNG Tangguh hitam doff ikut masuk bersama konvoi.

Prajurit-prajurit yang berjaga otomatis berdiri tegak.

Dan ketika Doni turun perlahan dari kendaraan—

suasana mendadak berubah hening.

Beberapa prajurit muda saling pandang.

Karena mereka tahu…

pria sederhana di depan mereka bukan orang biasa.

Komandan batalyon berjalan mendekat.

Lalu tanpa banyak bicara—

memberi hormat penuh kepada Doni.

Dan seluruh area markas…

ikut berdiri tegak bersamaan.

Mr. Leo sampai menatap pemandangan itu cukup lama.

“Who exactly is he…”

gumamnya pelan.

Prof Arief tersenyum tipis.

Namun ada kebanggaan besar di matanya.

“He’s the reason many systems in this country still stand.”

MOMEN YANG TIDAK DILIHAT MEDIA

Di belakang area instalasi EV Charging pertama ARMED…

Julio berdiri memegang tangan Doni erat.

Bocah itu melihat kendaraan MAUNG besar yang berjajar di area markas dengan mata kagum.

“Papa…”

“Hm?”

“Dulu Papa bikin semua ini sendirian?”

Doni terdiam beberapa detik.

Tatapannya melihat para prajurit yang sedang membantu pemasangan sistem charging bersama teknisi GWM dan Enernova.

Lalu perlahan ia tersenyum kecil.

“Nggak.”

“Papa cuma bantu mulai.”

Julio menatap ayahnya lama sekali.

Dan untuk pertama kalinya—

bocah itu mulai benar-benar mengerti.

Papanya…

ternyata bukan hanya penting bagi keluarga mereka.

Namun juga bagi negara.

Dan saat matahari sore mulai tenggelam di langit Purwakarta…

lampu EV Charging pertama di markas ARMED akhirnya menyala hijau.

Satu lampu kecil.

Namun cukup untuk membuat semua orang di sana sadar—

masa depan Indonesia…

akhirnya benar-benar dimulai.

LAST LINE

Kadang…

revolusi terbesar sebuah bangsa—

tidak dimulai dari pidato.

Namun dari satu orang lelah…

yang diam-diam tidak pernah berhenti mencintai negaranya.

More Chapters